
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja saja, Em. Pikirkan kandungan kamu yang kian hari kian membesar. fokuslah pada perkembangan anak kita yang mungkin lima bulan lagi akan lahir," ucap Tristan sambil menyetir.
"Kan baru empat bulan, honey. Nanti saja ambil cutinya saat berusia 8 bulan," jawab Emily sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Tidak perlu cuti, berhenti sajalah! Aku masih sanggup kalau hanya untuk membiayai kamu dan anak kita nanti asalkan kamunya tidak boros-boros."
"Itu dia masalahnya, keperluan ku banyak, untuk ke salon kecantikan, belanja barang-barang branded, belum lagi untuk isi dapur dan kamar mandi, belum lagi untuk tagihan listrik, belum lagi untuk arisan ibu-ibu sosialita. Sedangkan gaji kamu hanya 25 juta perbulan tidak akan cukup untuk membiayai kehidupanku yang harus super wah dan belum lagi untuk biaya lahiran dan biaya anak nanti."
"Aku tidak akan berhenti bekerja karena semua itu butuh biaya terkecuali kalau cuti sekitar tiga bulan dan itu saat kandunganku sudah memasuki delapan bulan baru aku mau."
Tristan membuang nafasnya secara kasar, sifat Emily dan Naya sungguh berbeda jauh. Naya tidak pernah sedikitpun mengeluh walau di kasih uang hanya 15 juta itupun hanya kurun waktu dua bulan malahan selalu masih banyak sisa dan di perlihatkan lagi sisanya. Namun, setelah kembali bersama Emily, Naya hanya di kasih jatah bulanan sekitar 6 juta saja, Emily 11 juta dan sisanya ia yang pegang untuk keperluan sehari-hari.
Entah bodoh, atau di butakan karena cinta, Tristan sampai rela memenuhi setiap keinginan kekasihnya meski ia sudah memiliki istri. Dan sekarang perlahan ia mulai jengah dengan kelakuan Emily yang sulit sekali di atur, boros, banyak melawan, dan tidak pernah melayaninya dalam hal kecil seperti memasak, atau menyiapkan baju.
"Nay, aku merindukan perlakukan lembut dan pelayanan mu," batin Tristan termenung tiba-tiba saja ia rindu setiap perlakukan Naya yang lembut, sabar, perhatian, dan tak pernah melawan.
*********
Dering telepon terus berbunyi tanpa henti sehingga membuat sepasang pengantin baru yang baru saja merasakan lagi surga dua terganggu lebih tepatnya Andrian yang terbangun.
Satu tangannya mendekat sang istri yang masih terlelap dalam pelukannya dan satu tangannya meraba-raba nakas yang ada di sebelah ranjangnya kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
"Aldo, kenapa kamu yang jawab? Naya mana?"
Aldo mengernyit dan membuka lebar-lebar matanya untuk melihat siapa yang sudah menelpon mengganggu mereka.
"Ayah Marko," batinnya.
"Naya sedang tidur, Papa mertua."
"Ini udah jam 11 siang dan Naya masih tidur? tidak biasanya anak itu bangun siang?"
"Papa macam tidak tahu saja, kita itu pengantin baru jadi tahulah apa yang membuatnya kelelahan?"
__ADS_1
"Dasar bos semprul, kamu bangunkan dia karena ada sesuatu yang harus saya tunjukan kepadanya sekarang juga dan suruh Naya menemui saya sekarang juga!"
Tuuuut...
Sambungan dimatikan secara sepihak, Andrian menggeleng. Dia menyimpan handphone nya kemudian memperhatikan wajah cantik istri yang ada di dekapannya.
Tangannya terulur mengusap lembut pipi putih yang sudah tak berjerawat lagi memperhatikan setiap lekukan sempurna wajah istrinya.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku, tak akan ku biarkan kamu menangis karena kesedihan dan akan ku pastikan kamu akan menangis karena bahagia," gumamnya mengecup dalam kening istrinya kemudian memeluk erat tubuh istri kecilnya.
Naya merasa terganggu dengan dekapan erat itu yang membuatnya merasa sesak. "Al, pengap."
"Eh, sayang, maaf maaf, kekencengan ya?" Andrian mengendurkan pelukannya dan Naya mengangguk.
"Oh, iya, tadi Papa Marko menelpon dan bilang supaya kamu datang menemuinya sekarang juga."
Naya mengernyit heran. "Ada apa ya?"
Andrian mengecup singkat bibir istrinya, dan ia menyibakkan selimutnya dan langsung membopong Naya yang masih belum sadar sempurna kemudian berjalan ke kamar mandi.
"Aaaaaaaaa, Al! Apa yang kaku lakukan?" Naya menjerit memeluk leher Andrian dan menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher sang suami sebab ia merasa malu karena keduanya tidak mengenakan pakaian.
**********
Kediaman Marko
"Ada apa, Pah?" tanya Naya sudah duduk berdampingan dengan Andrian.
Marko memperhatikan Andrian yang sepertinya terlihat berbeda jauh lebih ceria dan memancarkan aura yang bagus.
"Ada apa Papa mertua? aku tahu kalau menantumu ini tampan dan yang pasti Naya juga sudah terjerat pesonanya Andrian Geraldo," ucapnya percaya diri.
"Dasar semprul, jam segini kalian baru bangun? habis berapa ronde sampai banyak tanda merah di leher anakku?" sindirnya mencebikkan bibir.
Naya melotot meraba lehernya dan menoleh ke arah suaminya yang terlihat santai merasa tak bersalah.
__ADS_1
"Aldo, jadi ini alasan kamu tidak memperbolehkanku melihat cermin dan membantuku berpakaian sampai menyisirkan rambut?" tanyanya kesal melotot ke arah suaminya.
"Biar semua orang tahu kalau kamu ada yang punya," jawabnya santai.
"Iiisshhhh, tapi aku malu. Kalau sampai mereka bilang yang tidak-tidak bagaimana?" ujarnya merajuk cemberut.
"Akan ku lempar surat pernikahan kita ke mukanya."
"Sudah-sudah, nanti saja bahas masalah kalian mah. Sekarang kita bahas rencana Papa untuk mengajak kamu ke pabrik pembuatan kosmetik PT BEAUTY CARE."
Naya menoleh. "Kenapa mengajakku?"
"Karena Papa akan menyerahkan semuanya sama kamu karena itu memang untuk kamu dan kamu yang akan mengelola semuanya."
*********
Marko, Andrian, dan Naya sudah sampai di sebuah gedung bertuliskan PT BEAUTY CARE. Naya terbengong melihat gedung megah berlantai rmpat namun terlihat begitu luas.
"Pah, ini?"
"Ini semua milikmu, pabrik yang Papa bangun untuk putri Papa jiga suatu saat nanti bertemu kembali dan jika tidak bertemu, Papa menyerahkan sebagian uangnya untuk keperluan mereka yang membutuhkan."
Marko merangkul pundak Naya dari sebelah samping kiri, dan Andrian menggandeng tangan Istrinya dari sebelah kanan. Mereka melangkah masuk ke dalam.
"Pak Marko," sapa karyawan yang sudah di beri tahu bahwa akan kedatangan pemilik pabrik kosmetik beserta anak dan menantunya.
"Lho, kamu?" Naya terbelalak melihat orang yang datang bersama Jenni.
"Dia James, manager di sini sekaligus tunangan Jenni dan saat ini dia Papa tugaskan untuk mengerjakan proyek pembangunan di kota B." Ucap Marko memperkenalkan siapa James.
"Dan dia Lintang yang akan menjadi asisten kamu," lanjutnya memperkenalkan wanita yang ada di samping James.
Marko memperkenalkan Naya beserta suaminya keseluruh karyawan dia dan Marko juga membawa Naya untuk melihat bagaimana proses pembuatan kosmetik dari mulai pengolahan, pencampuran, sampai pengemasan dan pengepakan.
Naya sampai di buat terkagum dan dia tidak menyangka kalau hidupnya semakin berubah. Bertemu orangtua kandungnya, bertemu suami barunya, dan sekarang ia mendadak kaya menjadi seorang pengusaha kosmetik dan seorang istri pengusaha mall.
__ADS_1
"Tapi, Pah. Bagaimana dengan Tristan? bukankah dia juga anak Papa dan aku tidak mau Tristan beranggapan kalau aku merebut semua bagiannya?" Naya bingung akan hal itu dan ia takut Tristan akan marah besar padanya.
Bersambung....