
Bruukkk...
Emily menghempaskan tubuhnya ke sofa, badannya terasa lelah hampir seharian jalan-jalan mengelilingi mall untuk bekerja.
"Sialaaan, setelah gue tinggalin Andrian, sekarang dia malah semakin tampan nan mempesona. Dulu waktu sama gue ber jenggot, berkumis tapi sekarang, seperti bukan Andrian yang dulu gue kenal. Tampan sih, tapi sayang, kere."
"Lidiaaaa, kemari kau pijitin kaki ku!" Emily berteriak memanggil ART nya.
"Lidiaaa..."
"Kemana tuh pembantu, di panggil tak nyaut nyaut juga." Emily beranjak mencari keberadaan pembantunya cuman ia tak bisa menemukan. Dia kembali lagi ke ruangan depan mendengar motor berhenti di depan.
Emily melihat siapa yang datang, rupanya orang yang ia cari. Dia bersidekap menatap tajam ke arah Claudia.
"Habis darimana keluyuran enggak jelas begitu? kau di sini bekerja bukan tuan rumah yang seenaknya main sana main sini. Kerja yang bener kalau ingin masih di sini."
"Maaf nyonya, tadi saya ada urusan penting sebentar," ucapnya merasa bersalah. Tapi dalam hati, mengumpat kesal.
"Halaaah, orang miskin sepertimu mana punya urusan penting. Paling kau bermain-main dengan pria di sana. Diam-diam kau mengobral tubuhmu untuk mendapatkan uang, saya yakin itu," ucapnya pedas menatap sinis Claudia.
"Kau benar, Emily. Saya memang sering mengobral tubuh saya pada pria tapi itu adalah suamimu sendiri," gumamnya dalam hati tersenyum sinis.
"Saya tidak seperti itu nyonya. Tadi beneran ada urusan di luar." Ujarnya memelas menunduk sedih.
"Ada apa ini?" suara bariton mengalihkan mereka.
"Tuan..."
"Honey."
Emily menghampiri suaminya merangkul lengan Tristan.
"Ada apa? kenapa kau memarahi Lidia, Em?"
"Dia pergi keluyuran bareng pria dan baru pulang barusan. Dia itu bekerja disini seharusnya dia bisa menjaga wibawa kita supaya tidak mencoreng keluarga kita, honey."
"Maaf Tuan, saya tidak minta izin karena ada urusan darurat yang harus saya urus. Tapi saya beneran tidak seperti yang Nyonya bicarakan Tuan, sumpah." jawabnya membela diri.
"Sudahlah, Em. Tidak mungkin Lidia macam-macam. Kau memang suka berpikiran macam-macam sama orang. Sudahlah aku capek." Tristan melepaskan rangkulan Emily.
__ADS_1
"Kenapa kau malah membelanya, Tristan? seharusnya aku yang kau bela. Bisa jadi dia itu memang keluyuran bareng pria kehotel dan berhubungan, diakan emang kegatelan. Sama kamu saja suka cari perhatian."
Tristan mengepalkan tangannya, hatinya tak terima Claudia jalan bareng pria lain karena setahunya hanya dia pria yang dekat dengan Claudia.
"Aku bilang sudah! Jangan bahas yang lain, aku lagi capek. Seharusnya kau menyiapkan makanan, air untuk mandi, baju ganti atau apapun itu untuk membuatku senang bukan malah nuduh orang macam-macam!" pekiknya kesal.
"Tristan..! Lagi-lagi kau membentakmu hanya karena dia. Dan satu lagi, aku bukan pembantu yang bisa kau suruh-suruh!"
"Kau memang bukan pembantuku tapi sekarang kau itu istriku. Dan, tugas seorang istri melayani suaminya lalu apa yang kamu lakukan selama ini? kamu hanya bisanya berfoya-foya ngabisin duit saja. Lama-lama uangku bisa habis karena kamu terlalu boros," sentaknya membalikan badan menatap Emily.
"Kok kamu bilang gitu? wajar dong kalau istrimu yang menghabiskan uang. Siapa lagi kalau bukan aku, masa selingkuhanmu yang ngabisin."
Deg...
Claudia merasa tersindir, dia juga memang mendapatkan uang dari Tristan tapi itu ia gunakan untuk keperluan anaknya bukan untuk dia sendiri.
Tristan melirik Claudia. "Ya, tapi aku tidak suka wanita boros, kau harus seperti Naya yang bisa mengatur keuangannya meski ku hanya memberikan 6 juta perbulan."
"Naya, Naya, Naya lagi! Pikiranmu cuman Naya dan Naya. Aku Emily bukan Naya, kita jauh berbeda. Dan aku tidak suka kau bandingkan dengan mantan istrimu itu!" pekiknya memegang telinga malas mendengar nama Naya.
"Kalau kau tidak bisa seperti Naya setidaknya kau bisa menghargai sedikit usaha suaminya untuk tidak terlalu boros!" jawabnya pergi meninggalkan Emily.
"Nyonya, kalau suamimu berubah, itu tandanya dia sedang selingkuh. Soalnya saya pernah berada di posisi Nyonya," celetuk Claudia santai.
Deg...
Emily langsung menoleh terkejut.
"Jangan kompor kamu."
"Beneran Nyonya. Saya akan sedikit cerita mengenai seseorang yang sedang selingkuh." Claudia duduk di karpet dan Emily yang penasaran ikut duduk di karpet.
"Biasanya ciri-ciri pria berselingkuh itu suka telat pulang kerja, suka marah-marah gak jelas, jarang perhatian lagi, suka banyak alasan jika di ajak jalan, kadang lama kalau balas chat, kalau di telpon suka lama mengangkatnya, dan yang paling dominan itu suka banding-bandingkan dengan masalalunya dan ia sedang mencari yang baru."
"Seperti masa lalu? apa Kanaya?"
"Kanaya siapa?" Claudia tidak tahu mengenai Kanaya. Dia mengernyit bingung dan penasaran juga.
"Mantan istrinya. Tapi, dia sudah menikah lagi."
__ADS_1
"Oh, belum tentu Tuan selingkuh dengan Mantan istrinya, siapa tahu dia sedang dekat dengan orang sekitarnya dan mencari yang seperti mantan istrinya." Claudia menyeringai memanas-manasi Emily.
"Apa jangan-jangan orang kantor atau... tidak, di mall kan banyak wanita-wanita cantik dan sexy, apa Tristan..?" pikiran Emily curiga jiga suaminya memiliki wanita idaman lain di kantor.
"Ini tidak bisa dibiarkan." Emily beranjak dari duduknya melangkah menuju kamar. Sedangkan Claudia tersenyum puas bisa mengompori Emily.
"Akulah sang pelakor itu. Tristan sedang dekat denganku dan akan ku pastikan kau merasakan apa yang ku rasakan dulu. Kita akan hancur sama-sama," gumamnya menyeringai.
"Tristan..." pekik Emily terpancing emosi terpengaruh dengan omongan Claudia.
"Tidak usah teriak-teriak, aku masih bisa dengar," jawabnya sambil menggosok rambut basahnya.
"Jujur padaku kau selingkuh dengan siapa?"
Deg...
Tristan terkejut, ia mendongak. "Apa Emily tahu mengenai hubunganku dengan Claudia?"
"Siapa yang selingkuh? aku tidak selingkuh, kau jangan ngawur, Em." jawabnya memalingkan wajah menghindari tatapan Emily.
"Kamu tidak mungkin berubah kalau tidak ada wanita idaman lain di luaran sana. Kamu pasti selingkuh kan? jawab, Tristan?" desaknya.
Tristan menghelakan nafas, ia sudah muak dengan Emily yang tidak sopan padanya.
"Kalau aku selingkuh itu bukan urusanmu, aku berhak memiliki wanita idaman lain di saat kau tidak mampu menyenangkan diriku."
Deg...
"Tristan... kauu...!!!" bibirnya tercekat, dia menyimpulkan kalau Tristan memiliki selingkuhan.
"Jadi selama ini kau selingkuh? jadi sikapmu yang berubah ini karena memang ada wanita idaman lain?" pekik Emily murka.
"Kalau iya kenapa? aku sudah muak dengan kamu, selama ini ku menyesal telah menceraikan Kanaya demi kamu. Kamu emang jauh berbeda dengan Naya yang jauh lebih baik darimu." Ungkap Tristan tak bisa lagi menutupi kebohongannya kalau ia memang menyesal menceraikan Naya.
Tristan berjalan keluar kamar.
"Dan satu lagi, kalau kamu berpikir aku selingkuh dengan Naya, pikiranmu salah karena bukan Naya yang menjadi selingkuhanku."
Duarrrrrr....
__ADS_1
Bersambung....