SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Memberitahukan


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau Tristan adalah ayahnya Ariel. Sungguh sulit di percaya, dan dunia terasa sempit kalau anak kecil itu anak dari orang yang kita kenal," ucap Naya sambil mengunyah mie goreng di kantin rumah sakit.


Claudia menceritakan perihal siapa ayahnya Ariel. Bagaimana dia bisa kenal dengannya, sampai menjalin kasih dan berakhir dengan kesedihan di tinggal pada saat hamil karena adanya orang ketiga.


"Yang ku bingungkan kenapa sifat Tristan jauh berbeda dengan Papa Marko dan Mama Jihan. Justru yang ku perhatikan sifat kamu sangat dominan dengan Mama Jihan, lembut, pendiam, pemaaf namun jika sudah marah besar menakutkan," kata Andrian. Tangannya terulur mengusap bibir istrinya yang belepotan akibat saus mie.


"Apa kamu lupa kalau aku anak kandung mereka? dan itu artinya Tristan bukan anak kandung Mama dan Papa jadi sifat mereka kemungkinan akan berbeda dan tak ada satupun yang turun kepada Tristan."


"Iya juga sih. Oh, iya, mumpung kita masih di rumah sakit, kita periksa kandungan kamu yuk."


"Ngapain di periksa lagi? baru kemarin lusa di periksa dan kata dokter satu bulan sekali di periksanya," ujar Naya mengernyit lalu meneguk teh hangat.


"Aku hanya ingin kamu dan calon anak kita baik-baik saja. Kita periksa lagi ya!" Andrian kekeh ingin istrinya di periksa sebab ia khawatir Naya kecapean akibat mengurusi pernikahan Jenni.


"Tidak usah, sayang. Mending kita tengok Emily saja, yuk." Balas Naya menggenggam tangan suaminya yang berada di atas meja saling berhadapan.


"Enggak ah, males. Daripada nengok Emily maunya nengokin dede bayi," bisiknya sedikit mencondongkan wajah tersenyum seraya mengkerlingkan mata dan menaik nurunkan alisnya.


Naya menunduk tersenyum malu di goda seperti itu. Namun ia tak urung mengangguk dan Andrian semakin melebarkan senyumannya.


"Eh, tapi ini di rumah sakit?" ucap Naya mendongak.


"Kamu tidak usah pikirkan itu, yang penting dede bayi bisa di tengok ayahnya." Andrian berdiri menggandeng tangan istrinya membawa kesuatu tempat.


************


"Kenapa kamu membawaku ke ruangan VVIP? siapa yang akan menghuni ruangan ini?" tanya Naya kebingungan.


Andrian hanya tersenyum dan ia mengunci ruangan tersebut supaya tidak ada yang mengganggu aktivitas keduanya. Dia memojokan istrinya ke tembok merangkul pinggang sang istri mendekapnya sampai tak ada jarak di antara keduanya.


"Kita yang akan menghuninya, sayang." Bisiknya di telinga Naya mengecup lembut bagian sensitifnya memberikan rangsangan terhadap sang istri.


Naya menggigit bibirnya memejamkan mata di saat nafas hangat suaminya menerpa telinga dan ceruk lehernya. Andrian menjauhkan wajahnya mengangkat dagu Naya menatap lekat-lekat wajah cantik sang istri.


Naya masih terpejam dan berjinjit mensejajarkan tingginya bersiap menerima kecupan dari suami.


"Kamu mau ngapain memejamkan mata dan berjinjit? pasti kamu sedang berharap ya?" goda Andrian tersenyum jahil. Naya membuka mata lebar-lebar merasa malu sudah berharap.


Naya cemberut melepaskan tangan Andrian menunduk malu. "Aku kira kamu mau menciumku, ternyata aku salah. Hanya aku yang berharap. Aku mau keluar."

__ADS_1


Andrian tersenyum, dia membawa Naya kedalam pelukannya.


"Jangan cemberut gitu, sayang. Aku hanya bercanda," ucapnya dan tiba-tiba membopong tubuh Naya.


"Al...!!!" cup...


"Panggil yang sopan!" kata Andrian setelah melepaskan pangutannya.


"Maaf, Bee."


Andrian membaringkan tubuh istrinya di ranjang yang ada di sana. Dia ikut berbaring mengukung tubuh Naya memangut lembut bibir istrinya. Tangannya terulur mengusap lembut bagian-bagian yang ingin ia gapai.


Andrian menarik selimut menutupi tubuh keduanya melepaskan pakaian yang tersemat di tubuh mereka dan melakukannya secara lembut takut menyakiti calon anak mereka.


*************


Lain halnya di ruangan yang berbeda.


Tristan kian mulai tersadar dari tidur panjangnya. Ia mengedarkan pandangannya meneliti sekitar.


"Rumah sakit?" gumamnya pelan. Matanya kembali memperhatikan pintu yang terbuka. Nampaklah Jihan dengan wajah menunduk masam.


"Tristan, kamu sudah sadar, Nak." Jihan sedikit berlari menghampiri Tristan.


"Aku sedikit baik, Mah. Tapi, kepala dan...." Tristan merasa malu mengucapkannya.


"Dan apa?" tanya Jihan penasaran. "Katakanlah, biar Mama panggilkan dokter," desaknya menatap serius dan terlihat raut kecemasan tersemat di wajahnya.


"Kepalaku sakit dan juga....hmmmm senjataku sakit," lirihnya pelan malu juga.


Jihan mematung, ia bingung harus memulai bicara dari mana. Dia harus memberitahukan semuanya agar Tristan tidak syok ketika nanti berbuhungan badan.


"Tristan, kecelakaan yang kamu alami membuat kepalamu terbentur dan itulah yang menyebabkan kepalamu sakit atau pusing. Sedangkan senjatamu, karena benturan keras di bagian tulang belakang menyebabkan urat syarafnya terputus sehingga mengakibatkan senjatamu sakit dan dokter bilang kemungkinan kamu impoten dan juga sulit untuk mendapatkan momongan lagi." Jelas Jihan mau tak mau harus memberitahukan segalanya.


Deg....


"I impoten?! su sulit mendapatkan momongan?!" bibirnya bergetar tak percaya dan Jihan mengangguk.


Mata Tristan terpejam menahan sesak, emosi, kecewa dengan apa yang terjadi. Tangannya terkepal kuat ingin marah namun bingung harus marah pada siapa.

__ADS_1


"Hahaha aku impoten dan mandul." Tristan tertawa lirih menertawakan dirinya sendiri. Namun, satu tetes air mata menetes di sudut matanya. Hal yang paling di banggakannya kini telah tiada. Padahal senjatanya yang paling ia banggakan karena bisa memuaskan pasangannya.


Ceklek....


Jihan menoleh ke arah pintu dan Markolah yang masuk.


"Apa Tristan sudah siuman?" tanyanya mendekati mereka dan Jihan mengangguk menoleh ke arah Tristan dan Marko pun ikut meliriknya.


"Mama sudah memberitahukan semuanya sama Tristan."


Marko menghelakan nafas. Dia ikut sedih melihat keadaan sang Putra.


"Tan, Papa harap kamu bisa menerima semuanya dengan berlapang dada. Tapi, penyakit kamu masih bisa di sembuhkan dengan pengobatan yang tepat."


"Percuma, Pah. Percuma aku melakukan pengobatan kalau pada akhirnya aku tak bisa memberikan keturunan," sergah Tristan meninggi.


"Tapi setidaknya senjatamu kembali berdiri. Soal keturunan, kamu bisa mengadopsi anak di panti asuhan dan itu adalah hal yang paling mulia."


"Tidak, Pah. Aku tidak mau mengadopsi anak. Aku hanya ingin anak kandung, meskipun ku mandul tapi ku masih memiliki keturunan dari Emily. Ya, Emily. Aku tidak akan menceraikannya karena masih ada anak."


Marko dan Jihan saling lirik saling mengkode untuk memberitahukan perihal Emily. Jihan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara kasar.


"Emily keguguran, dia mengalami kecelakaan dan janinnya terpaksa di angkat begitupun dengan rahimnya," tutur Jihan memberitahukan.


Deg....


Tristan mematung terkejut, kejutan apa lagi ini? kenapa semuanya secara tiba-tiba dan kebetulan?


"Mama jangan ngaco deh, anakku tidak mungkin tiada? Emily baik-baik saja saat ku tinggalkan sendirian di parkiran hotel," lirih Tristan takut Emily dan anaknya kenapa-kenapa.


"Justru di saat kau pergi dengan selingkuhanmu, Emily melamun menangis berjalan tak tentu arah sampai tanpa sadar ada motor ngebut menghantam tubuhnya dan anakmu yang menjadi korbannya," jawab Marko menatap kecewa pada Tristan.


Deg....


"Dua kali kau mengulangi hal yang sama, Tristan. Pertama, kau penyebab Naya kehilangan anaknya demi selingkuhan. Kedua, kau penyebab Emily kehilangan anaknya demi selingkuhan juga. Tanpa sadar kaulah penyebabnya semuanya. Seandainya kamu bisa menahan nafsumu untuk tidak egois, seandainya sifat bejat ayahmu tidak menurun padamu," Marko terpejam merasa gagal mendidik Tristan.


Tristan termenung, "Emily, anakku," lirihnya meneteskan air mata. Semuanya sudah terjadi, kini ia hanya bisa menyesali perbuatannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2