SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Kau Selingkuh Aku Mendua


__ADS_3

"Ambillah! Siapa tahu kamu membutuhkan ini."


Tanpa melihat siapa orangnya, Naya mengambil saputangan yang di sodorkan seseorang menghapus air matanya dan membuang ingusnya di saputangannya


Wajah pria itu kecut saputangannya di jadikan lap ingus.


"Terima kasih..." lirih Naya parau menyodorkan benda yang ia pegang kepada orang yang masih berdiri di hadapannya.


"Cuci dulu saputangannya baru kau kembalikan padaku! Saya tidak mau ingus dan kuman-kumannya menempel di situ. Nanti kalau saya terkena virus flu bagaimana? kalau saya terkena virus abicron bagaimana?"


Naya mendongak terheran dengan pria yang ada di hadapannya, ia merasa tersinggung.


"Kamu pikir saya ini penyakit menular begitu? seenaknya saja tuh mulut bicara. Kalau kamu tidak ikhlas meminjamkannya tidak usah sok-sok'an meminjamkankan."


"Saya meminjamkankan karena saya tidak tega lihat kamu menangis meraung-raung di jalan macam orang gila. Dan kamu belum bayar saya," jawab prianya.


Naya berdiri menggerutu. "Bayar apaan? saya tidak pernah punya utang sama kamu, lagian ya, saya tidak kenal sama kamu."


"Hei Nona, apa kau tidak ingat dengan tukang ojek yang kau pakai jasanya untuk kemari?"


Naya mengernyit, kemudian terbelalak mengingat bahwa ia telah meninggalkan tukang ojeg. "Jadi..."


"Saya tukang ojeknya, mana ongkosnya!" pria itu menamprakan tangannya. Dia menatap wajah Naya, matanya sudah sembab hidung mancungnya pun merah.


Batinnya berkata, "Setidaknya kamu tidak sesedih tadi."


Naya perlahan mengambil uang terakhir yang ada di dalam sakunya. "Aku hanya punya uang segini lagi, bisa tidak kamu anterin aku pulang?!"


Kanaya menunduk sedih, dan pria itu tak tega apalagi melihat Kanaya menangis seperti tadi membuatnya ingin melindungi.


"Kamu tidak usah membayarnya, anggap saja sebagai bentuk simpati saya terhadap kamu. Sekarang saya anterin pulang!"


Naya kembali mendongak menatap heran pria tampan nan keren yang ia sangka tukang ojek.


"Ayo naik! Malah bengong di situ. Saya tidak akan menculikmu, kamu tenang saja karena saya orang baik. Ini sudah sore, lho," ujarnya sudah berada di atas motor.


Kanaya yang awalnya ragu perlahan mendekati motor dan naik. Meski ia tidak mengenal pria itu namun saat ini yang ia pikirkan hanyalah ingin segera pulang.


*******


Tristan bangun dari rebahannya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Honey, aku mau pulang dulu. Kamu tak apa kan ku tinggal sendirian di sini?" ucap Tristan memasang bajunya.

__ADS_1


Emily yang sedang duduk di tepi ranjang berdiri memeluk Tristan dari belakang. "Aku tidak mau kamu tinggal sendiri, honey. Kan istrimu juga sudah tahu tentang kita lalu kenapa kamu pulang?"


Tristan terdiam tak mengerti dengan hatinya yang terus gelisah ingin segera pulang dan ingin memastikan istrinya baik-baik saja.


"Kalau aku tidak pulang Mama dan Papa akan curiga. Aku belum siap kalau sampai mereka murka dan mengetahui hubungan kita meski Mama sudah tahu aku selingkuh tapi tetap saja mereka tidak tahu wajah kamu."


"Tapi sampai kapan? aku sudah resmi bercerai dari Andrian dan tinggal menunggu kamu menikahiku."


"Secepatnya dan aku harap kamu bersabar, ya!" jawabnya melepaskan pelukan Emily kemudian mengambil ponselnya.


"Aku pergi dulu, honey."


********


"Kita mampir dulu di sini, saya lapar belum makan," katanya memarkirkan motornya di dekat warung pecel ayam.


Naya mengikutinya, dia juga memang terasa lapar tapi ia tak berani memesan makanan mengingat yang yang di pegang tinggal lima puluh ribu.


"Kamu mau pesan apa?" tanya pria itu duduk di salah satu kursi yang ada di pojok.


"Aku tidak lapar, kau saja yang pesan," jawab Naya menyender ke tembok.


"Mas pesen dua ya, kumplit." ucap sang pria ke penjual pecel ayam.


"Kanaya..."


"Nama yang bagus sebagus wajahmu," pujinya dengan jujur.


"Aku tahu wajahku jelek banyak jerawatnya, tapi tidak usah menghina seperti itu," jawab Naya membenarkan letak kacamatanya.


"Saya bicara apa adanya, Nay. Setiap orang pasti pernah berjerawat emang salah ya? lagian apa yang saya bicarakan dari dalam hati saya, wajahmu memang bagus cantik dan manis."


"Ini mas, mbak, makanannya. Silahkan di nikmati!" ujar pemilik warung menghidangkan pesanan Aldo.


"Terima kasih, Mas." Jawab Aldo ramah.


Aldo mulai menyantap makanannya, ia melirik ke arah Naya yang hanya terdiam menatap makanan di depannya.


"Ayo makan! Saya tahu kamu juga lapar. Enggak usah sungkan, semuanya saya yang bayar."


"Kamu serius?"


"Saya serius, kalau mau nambah tinggal bilang sama Mas penjualnya!"

__ADS_1


Naya tersenyum memperlihatkan sedikit lesung pipi di sebelah kiri membuat Aldo sempat mematung. Menurutnya Naya cantik.


********


"Terima kasih sudah mengantarkan saya pulang," ucap Naya tulus.


"Sama-sama, nanti saya bantu kamu mencarikan pekerjaan." Jawab Aldo sebab tadi mereka berbincang-bincang sehingga Aldo tahu kalau Naya sedang mencari pekerjaan.


"Sekali lagi terima kasih." Naya membalikkan badan kemudian masuk ke dalam rumah sedangkan Aldo sudah langsung pergi setelah Naya masuk.


"Pulang dengan siapa kamu?" sentak seseorang duduk di kursi tamu.


Naya menoleh. "Bukan urusanmu," jawabnya simpel melanjutkan langkahnya ke kamar.


Tristan berdiri menarik tangan Naya dan menatap tajam matanya. "Jadi gini kelakuan kamu di belakangku? kamu selingkuh dengan pria lain bahkan kalian jalan bareng dan pulangpun di anterinnya."


Naya menghempaskan tangan Tristan secara kasar. "Apa urusanmu sampai kamu mencerca pertanyaan kepadaku? mau aku selingkuh ataupun tidak itu urusanku," sentaknya.


"Kau...!" Tristan mengangkat tangannya.


"Ayo tampar! Pukul aku semaumu! Aku sudah tidak peduli lagi dengan hubungan ini. Kamu selingkuh aku mendua. Kamu bersama yang lama dan aku bersama yang baru. Jadi jangan pernah ikut campur urusanku, Tristan!" sentak Naya mendorong dada Suaminya.


"Kau itu istriku dan kau tidak boleh selingkuh dengan siapapun!" sentak Tristan tak terima ada pria lain yang mendekati Naya.


Naya menoleh tersenyum sinis, "Kamu juga suamiku, tapi kamu selingkuh bahkan kalian melakukan hubungan intim tanpa adanya tali pernikahan. Jadi jangan pernah salahkan aku selingkuh sebab kaulah yang memberikan contohnya!" tunjuk Naya tak lagi hormat dan santun kepada suaminya.


Naya berjalan kemudian masuk kedalam kamarnya dan, blug.... Naya membanting pintu kamar secara kasar.


Tristan mematung melihat sikap Kanaya yang berubah. Dia mengacak-acak rambutnya tak terima Naya berubah apalagi selingkuh darinya.


*********


Kediaman Andrian


"Jenni, sekarang Kakak sudah tidak punya istri, Kakak ingin kamu mencarikan Kakak perawat untuk membantu Kakak dalam beraktivitas. Sedangkan kamu sedang sibuk mengurusi pekerjaan kamu kan jarang pulang."


"Nanti aku ambil perawat berpengalaman dari yayasan. Tapi ngomong-ngomong, aku senang kak Andrian sudah terbebas dari dia," balas Jenni menyiapkan makan malam mereka berdua.


"Kakak tidak mau perawat dari yayasan, Kakak ingin dari kalangan biasa saja. Kakak sudah dapat calon perawat yang akan merawat Kakak."


"Siapa?" Jenni mengernyit heran.


Andrian tersenyum simpul. "Kenalannya Aldo." Sedangkan Jenni semakin bingung saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2