SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Perlakuan Andrian


__ADS_3

Naya terbangun dari tidurnya, ia mengucek mata, bahkan menguap. Naya merasa ada beban menghimpit pinggangnya dan ia tersadar kalau semalaman Andrian tak sedikitpun melepaskan pelukannya dari tubuh Kanaya.


Andrian begitu erat memeluk tubuhnya sampai tak ada jarak sedikitpun. Perlahan Naya melepaskan tangan kekar yang melingkar di pinggang.


Bukannya mengendur, justru pelukan itu semakin mengerat. "Jangan pergi dulu, sayang. Aku masih ingin seperti ini dulu," gumam Andrian masih terpejam.


Jantung Naya berdebar kencang berada di dalam dekapan suami keduanya. "Oh jantung, ku mohon tenanglah, aku tidak ingin dia mendengar deguppanmu!" batinnya mengatur nafas.


"A-Al, aku harus masak buat sarapan kita. Ku mohon lepaskan aku!" lirihnya.


"Hmmm nanti saja sarapannya, aku ingin terus memeluk kamu."


"Aldo, Andrian, please lepaskan aku! aku mau masak buat sarapan," pinta Naya beralasan.


Andrian mengendurkan pelukannya membuka mata menatap wajah wanita yang ada di dekapannya.


"Good morning my little wife, Cup..." Andrian mengecup kening istrinya dan itu membuat wajah Naya bersemu merah.


Andrian menggeser tubuh Naya sehingga terlentang dan mencekal pergelangan tangannya kemudian di taruh di dekat kepala Naya.


"Aku ingin sarapan kamu," ucapnya kembali mencium dan melu mat bibir Naya.



"Al, apa yang kamu lakukan?! Kamu menciumku pada saat bangun tidur, jorok banget sih kamu!" pekik Naya mendorong pelan dada bidang.


"Sekarang kamu harus terbiasa mendapat serangan dadakan dariku karena mungkin setiap saat, setiap menit, setiap waktu jiwa mesumku meronta-ronta jika di dekatmu," ucapnya sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi sebagian wajah Naya.


Naya tersipu dan bergidik ngeri, ia mendorong keras tubuh Andrian sampai terjatuh ke samping kemudian beranjak dari ranjang berjalan ke kamar mandi.


"Kanaya," panggilnya dan Naya menoleh.



"Terima kasih sudah memaafkanku." ucap Andrian tersenyum mengerlingkan mata menggoda istri mungilnya.


Naya tak menjawab, ia membuang mukanya sebab wajahnya sudah semakin memerah kemudian iapun lanjut ke kamar mandi.


Sedangkan Andrian senyum-senyum menatap langit-langit kamar tidur. "My little wife." ucapnya beranjak keluar kamar numpang mandi di kamar mandi yang ada di dapur untuk mempercepat waktu.


**********


"Pagi, Jenn. Maaf aku kesiangan," sapa Naya melihat Jenni berada di dapur sedang berkutat dengan alat-alat memasak.


"Pagi juga kakak ipar, kau tenang saja, aku mengerti kok. Pasti kakak ku tidak memperbolehkan kamu keluar kan?"


Naya menunduk malu, "Apa yang harus ku bantu?" tanyanya menghilangkan rasa malu.


"Kamu urus saja dulu kakakku, dia emang manja pada orang-orang tertentu. Pasti sebentar lagi dia akan memanggilmu." Kata Jenni membuat susu dan roti panggang.


Ceklek.....

__ADS_1


"Naya sayang, tolong siapkan pakaian ku!" pinta Andrian keluar dari kamar mandi dapur.


Naya menoleh, matanya tak berkedip melihat Andrian yang habis mandi. Air yang membasahi rambutnya menetes menambah kesan cool. Dada bidang kotak-kotak membuatnya semakin panas dingin ingin menyentuhnya.


Andrian menggosok-gosok rambutnya memakai handuk kecil dan mengelap bagian tubuhnya yang masih terasa basah. Dia yang sedang menunduk mengeringkan rambut memiringkan sedikit kepalanya dan mendongak menatap Naya yang masih tak bergeming.



"Aku tahu kalau aku tampan, jadi kamu tidak usah terpesona seperti itu."


"Hah, apaan sih?" Naya tersadar dan mengedarkan pandangannya memalingkan wajah yang sudah memerah malu ketahuan menatap kagum suaminya.


"Siapin bajuku!"


"Su-sudah." jawab Naya menunduk gugup. Jenni menggelengkan kepalanya melihat keisengan sang kakak dan kegugupan Naya.


"Tapi aku mau kamu yang pakein!"


"Hah! a-aku?"


"Iya kamu, ingat, seorang istri harus nurut sama suami selama suami tidak menyuruhnya dalam kemaksiatan dan surganya seorang istri ada di suami jadi kamu harus...."


"Iya, iya, aku tahu kok," jawab Naya cemberut memberenggut kesal dan melangkah duluan meninggalkan Andrian dan Jenni.


"Kakak, kau iseng sekali. Lihat wajah Naya sungguh merah dan lucu," ujar Jenni terkekeh.


"Tapi aku suka," jawab Andrian menyunggingkan senyum tipis.


*********


"Ekheemmmm."


Naya melotot menutup mulutnya sesekali memukul kecil tuh mulut. "Mulut lemes, apa jangan-jangan di denger aku ya? aduuuhh, gimana kalau dia denger?" batinnya.


"Tadi kamu ngatain aku apa?"


"A-aku tidak nga-ngatain apa-apa."


"Kalau bicara madep sini, tatap wajah orangnya! masa suami bicara istri membelakanginya."


Perlahan Naya membalikkan badannya .asih menunduk takut dan malu. "Ma-maaf."


"Kamu saya hukum!"


"Hah?!" Naya mendongak terkejut. "Kok di hukum? aku salah apa?"


"Kamu mengumpati saya dan bilang saya sialan kamu harus saya hukum se berat-beratnya, kasu sudah tidak sopan terhadap suamimu sendiri," ucap Andrian melipatkan tangan di dada.


"Lalu aku harus apa?" Naya pasrah, mengelak pun percuma sebab Andrian mendengarnya.


"Cium saya!"

__ADS_1


"Hah?! aku tidak mau!" tolaknya tegas memalingkan wajah.


"Eeiitttsss, istri harus nurut apa kata suami! Kamu mau Tuhan marah sama kamu karena menolak perintah suami? nanti kena azab lho, azab istri tidak nurut suami," ujarnya mengulum senyum.


Naya bergidik. "Enggak, amit-amit kena azab."


"Makanya buruan cium saya sebagai hukuman karena kamu sudah mengumpat suami sendiri di belakangnya!"


Naya menghelakan nafasnya kasar. Dia memejamkan mata dan cup.... secepat kilat ia mencium pipi Andrian. Wajah Naya semakin memerah menunduk tak berani melihat Andrian.


"Aku tidak menyuruhmu menciumnya di pipi, ulangi lagi!" titahnya sudah mengulum tawa. Ia suka menjahili istri kecilnya apalagi melihat wajah merah meronanya.


"Isshh, tadi kamu bilang suruh cium dan aku mengikutinya sekarang suruh ulang lagi, mau kamu itu apa sih?" ucap Naya cemberut.


Andrian menarik pinggang istrinya sampai tak ada jarak sedikitpun. Tangan kanannya ia sematkan ke tengkuk kemudian mengecup bibir yang sudah menjadi candu untuknya.


Perlahan ia mulai melepaskan. "Manis seperti kamu," ucapnya memeluk tubuh mungil Naya.


*********


Kediaman Tristan


"Emily, siapkan baju untukku!" pekik Tristan dari dalam kamar mandi.


Emily tak mendengar sebab di telinganya tersemat headset mendengarkan musik sambil mengecat jari kukunya.


Tristan keluar kamar mandi melihat ke arah ranjang yang kosong tak ada baju yang siap untuk di kenakan.


Dan dia melihat ke arah sofa dimana Emily sedang asik dengan can kukunya. Tristan menarik headset dari telinga Emily.


"Honey, kamu apa-apaan sih?!"


"Emily, aku menyuruhmu untuk menyiapkan baju kerjaku tapi kau malah asik sendiri."


"Ketimbang baju doang harus aku yang nyiapin? kan kamu bisa ngambil sendiri tanpa harus di siapkan. Aku lagi sibuk," jawabnya kesal.


"Kamu itu seorang istri, tugasnya istri melayani suami, menyiapkan segala keperluan suami dan menyiapkan makanan untuk suaminya."


"Honey, aku bukan pembantu yang harus melayanimu setiap saat, lagian aku itu lagi hamil empat bulan dan kata dokter, aku tidak boleh terlalu banyak bergerak."


"Justru dengan banyak bergerak Kandunganmu akan semakin kuat. Bergerak dalam artian melakukan aktifitas yang membuat suami senang. Bukan hanya bermalas-malasan, Naya saja tidak pernah pernah mengeluh jika ku suruh ini itu."


Emily menoleh. "Kamu kenapa selalu membandingkan aku dengan istri jelekmu itu? aku bukan dia yang seenaknya kamu suruh-suruh. Kalau kamu mau nyuruh-nyuruh ya kamu cari pembantu saja jangan aku!"


"Ya setidaknya kamu masakin aku apa kek buat sarapan kita! Jangan cuman bisanya ngabisin uang ku doang." Ucap Tristan melengos pergi ke ruang ganti pakaian.


"Naya lagi, Naya lagi, kenapa sih Nayaaaa Mulu yang harus jadi sainganku? padahal sudah bercerai tapi malah masih mengingat si cupu berjerawat itu," gumam Emily kesal.


"Aku harus buat dia perhitungan supaya tidak meracuni pikiran Tristan."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2