
Siang berganti malam, selama sepuluh hari Naya fokus mengerjakan tugasnya membuatkan gaun pengantin untuk adik iparnya. Meski ia sering sibuk mengurusi perusahaannya, namun ia tak pernah lupa akan tugasnya sebagai seorang Istri.
Usia pernikahan Naya dan Andrian pun sudah memasuki satu bulan setengah. Selama itu pula, wanita berusia 26 tahun itu berusaha membuka hati untuk suaminya dan lahan perlahan, dia menyadari kalau dirinya mulai mencintai sang suami.
"Bee, bangun, ini udah jam 8 pagi. Kamu enggak ke kantor, sayang?" ucap Naya seraya duduk di tepi ranjang mengusap pipi suaminya.
Bukannya bangun, usapan Naya malah membuat Andrian semakin nyaman. Pria berusia 30 tahun itu malah menarik tubuh istrinya sampai Naya jatuh menimpa Andrian.
"Bee!"
"Begini lebih baik, sayang. Aku malas bangun, pengennya bobo bareng kamu saja," gumamnya masih dengan mata terpejam memeluk Naya yang ada di atasnya.
"Ini udah siang, Bee. Bukannya kamu akan membagikan undangan kepada seluruh karyawan kamu dan kepada staf-stafnya?" Naya berusaha melepaskan tangan suaminya. Semakin ia berontak, semakin erat pula pelukan Andrian.
Akhirnya Naya mengalah, ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami. Tangannya tanpa sadar bergerak menuliskan sesuatu i love you.
Andrian tersenyum, "I love you too, sayang."
"Hah!" Naya mendongak. "Kenapa bilang i love you too?" tanyanya mengernyit heran.
"Barusan kamu menulis i love you di dadaku jadi ku balas i love you too."
"Masa sih? kok aku tidak merasa ya?" Naya berpikir seolah tidak melakukan apapun.
"Sudahlah, tinggal jujur saja kalau kamu juga mencintaiku. Tidak usah repot-repot sok sok'an berpikir, deh."
"Enggak," jawabnya mengalihkan penglihatannya.
"Masa sih?" Andrian tersenyum senyum simpul menggelitik pinggang Naya.
"Hahaha geli, bee." Naya meronta ingin lepas dari pelukan suaminya geli dengan gelitikan yang di berikan Andrian.
"Ngaku dulu, kamu sudah mencintaiku, kan? kalau kamu tidak menjawab, aku akan terus menggelitik kamu."
Naya menggeliat-geliatkan tubuhnya geli, "Bee sudah, aku geli, hahaha ampun."
"Ngaku dulu!"
"Iya, iya, aku ngaku, tolong berhenti! aku geli." Nafas Naya memburu lelah tertawa akibat gelitikan Andrian.
Andrian memberhentikan gelitikannya lalu menggulingkan Naya ke samping. Tangan kanannya menopang kepala, kaki kirinya melingkar di atas kaki Naya.
__ADS_1
Naya terpejam menormalkan nafasnya. Andrian menatap lekat-lekat wajah sang istri, jari telunjuknya menyusuri wajah Naya. Dan Naya, menikmati sentuhan tersebut.
"Nay, apa kamu mencintaiku?" tanya Andrian mengusap bibir Naya dengan ibu jarinya.
Jantung Naya berpacu lebih kencang, dia memang tidak pernah mengucapkan kata itu, namun hati kecilnya selalu bilang kata itu. Naya membuka matanya menatap netra mata sang suami.
Tubuhnya ia sampingkan sehingga keduanya saling berhadapan. Tangannya terulur mengusap lembut pipi suaminya.
"Banyak orang mengatakan bahwa setelah menikah, romantisme akan berakhir. Namun, tidak dengan hubungan kita karena tidak ada hari yang berlalu tanpa kita saling mengisi dengan kata-kata kebaikan dan cinta. Terima kasih telah menjadi dirimu."
"Setiap detak jantungku adalah milikmu, setiap sinar matahari datang darimu, dan setiap hembusan udara yang aku hirup, aku hirup untukmu."
"Tahukah kamu apa arti kebahagiaan bagiku? Kebahagiaanku adalah menunggu kamu setelah seharian bekerja keras, memasak makan malam yang lezat, merawat kamu ketika sakit dan mendukungmu di saat-saat kemenangan. Mulai sekarang, kita memiliki takdir yang sama dan satu hati untuk dua orang. Andrian Geraldo, aku mencintaimu."
Ucap Naya serius kemudian memberanikan diri mengecup kening suaminya dan beralih ke bibirnya. Bibir Andrian menyunggingkan senyuman seraya membalas kecupan sang istri penuh perasaan.
Naya menjauhkan wajahnya menunduk malu dan memeluk Andrian menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Kenapa sembunyi, hmmm?" goda Andrian.
"Aku maluu," lirih Naya. Andrian terkekeh, ia memeluk istrinya, mengecup mesra pucuk kepala sang istri. Hatinya berbunga-bunga, cintanya tak bertepuk sebelah tangan, dia berjanji akan berusaha keras menjaga wanita yang Tuhan kirimkan untuknya.
"Jenn, kamu undang seluruh teman-teman kamu dan James?" tanya Andrian ketika semuanya berada di ruang keluarga berkutat dengan kartu undangan.
"Iya Kak, tak apa kan?" jawab Jenni menuliskan nama-nama yang masuk daftar tamu undangan.
"Tidak mengapa, Kakak juga akan mengundang seluruh karyawan dan staf kantor. Ini hari spesial untukmu dan Kakak ingin mereka tahu kalau kamu adik dari Andrian Geraldo pemilik AG TRADE CENTER," ucapnya membanggakan diri.
"Terserah Kakak saja, aku ngikut apa kata kamu dan James saja."
"Jenn, aku ingin menunjukan baju pengantin kamu dan James," sahut Naya.
"Emangnya sudah selesai ya?" Jenni bingung, setahunya kemarin bajunya masih 70%
"Sudah, tunggu sebentar." Naya beranjak keluar rumah. Mereka berada di rumah utama.
Tak berselang lama, orang suruhan Naya membopong patung manekin. Jenni membekap mulutnya terpesona dengan hasil yang jauh dari ekspetasi.
"Naya ini..!" Jenni sungguh terpukau begitupun dengan Andrian.
__ADS_1
"Baju sesuai yang kamu inginkan," ucap Naya tersenyum.
"Ini indah sekali, aku tidak menyangka kamu pandai membuatnya," ucap Jenni memegang, meneliti baju tersebut.
"Bukan cuman aku yang bekerja, tapi ada ibu-ibu yang tinggal di sana juga membantuku. Maaf kalau hasilnya tidak sebagus desainer kondang."
"Tidak, Nay. Ini sungguh sangat, sangat, bagus. Aku suka dengan hasilnya," Jenni bahagia dan ia memeluk Naya mengucapkan kata terima kasih.
"Jadi ini alasan kamu meminta tinggal di rumah utama supaya Jenni tidak bisa melihat hasilnya?" tanya Andrian.
"Iya, Bee. Ya, supaya surprise gitu," jawabnya cengengesan.
"Aku juga punya hadiah untuk kamu, Pak tolong bawa masuk barangnya!" pekik Naya. Dan, mereka membawakan satu gaun lagi yang akan di gunakan di hari resepsi Jenni.
"Naya! Ini?!" Jenni tak dapat berkata, dia sungguh menyukai bajunya.
Jenni sampai melongo tak berkedip melihat gaun tersebut.
"Ini hadiah dariku untuk kalian pakai di hari resepsi kalian. Maaf bajunya sederhana," lirih Naya merasa kurang puas dengan hasil karyanya.
"Ini sungguh luar biasa, Nay. Aku menyukainya. Tapi, bagaimana dengan gaun yang ku sewa?" Jenni sempat bingung, untuk acara akad, dia ingin baju dari desainer. Dan, untuk resepsinya, ia sudah menyewa baju lain.
"Kan bisa bergantian, lagian acaranya pasti lama dan kamu bisa berganti-ganti untuk memakainya," timpal Andrian.
"Benar juga, ya. Aaaaaaa makasih ya, kakak iparku yang baik hati," pekik Jenni memeluk Naya.
"Sama-sama, syukurlah kalau kamu suka mah. Eh, bukannya kamu akan membagikan undangan ya, bee?"
"Oh, iya, kalau gitu kita berangkat sekarang. Kamu ikut denganku, sayang."
"Jenn, tak apa kan ku tinggal?" tanya Naya.
"Tak apa, kalian jalan saja duluan. Di sini kan ada bi Marni dan yang lainnya, aku tidak kesepian kok." Jenni mengerti kalau Kakaknya ingin jalan berdua, dia emang tahu apa yang di inginkan sang Kakak.
Andrian dan Naya pun langsung meluncur ke kantor membagikan surat undangan untuk para karyawan Andrian.
Bersambung...
__ADS_1