
Tristan menyematkan earphone ke telinga menekannya menelpon seseorang. Tangannya menyetir mobil dan matanya fokus melihat jalan. Sudah beberapa kali, orang yang ia hubungi tidak mengangkat panggilannya.
"Angkat Claudia! Angkat... aku membutuhkanmu," gumamnya seraya jari telunjuknya di ketuk-ketuk ke stir.
Saat ini hanya dia yang bisa membuat Tristan nyaman. Claudia yang selalu lembut, selalu perhatian, selalu bisa membuatnya tenang, selalu mengerti dirinya sama seperti Naya membuat ia nyaman dengan wanita itu.
"Apa aku harus ke rumahnya? tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana?"
Sedangkan Emily, ia terus mengikuti Tristan penasaran kemana suaminya pergi. "Aku yakin kau akan menemui selingkuhanmu, Tristan. Tak akan ku biarkan sang pelakor itu menang dariku," batinnya geram.
"Pak, ikuti terus mobil itu kemanapun pergi!" titahnya pada supir taksi.
"Siap, Bu."
************
Lain halnya di tempat lain, Claudia sudah kesana-kemari mencari keberadaan anaknya. Dia duduk di salah satu bangku menangkupkan kedua telapak tangannya menangis sesak, bingung harus kemana lagi mencari keberadaan Ariel.
"Kamu dimana, Nak. Mama kangen kamu, maafkan Mama tidak bisa menjagamu. Pulanglah, Mama rindu." lirih Claudia terisak kecil.
Dering ponsel terus menyala, Claudia enggan menjawabnya sebab ia tidak mau di ganggu. Fokusnya hanya pada sang anak. Semakin di diamkan semakin sering sering itu berbunyi.
Dia melihat siapa yang menelpon kemudian mengangkatnya setelah menghapus air matanya dan menormalkan suaranya.
"Claudia, kamu dimana? kenapa baru di angkat? aku membutuhkanmu, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Claudia, kita bertemu di tempat biasa ya! aku tunggu kedatanganmu sekarang juga!"
"Iya, aku kesana."
Tut...
Panggilan pun ia matikan. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu di buang. Dia pun menelpon seseorang untuk membantu mencari keberadaan anaknya.
"Tolong kalian cari anakku sampai ketemu, nanti aku bayar kalian dengan mahal!"
"Baik, kami akan mencarinya."
Dan diapun beranjak pergi menemui Tristan. Dia sampai rela melupakan pencariannya hanya demi membalaskan dendam terhadap Tristan dan Emily.
***********
__ADS_1
"Hanya bersama Claudia dan Naya ku merasakan kenyamanan. Naya.... semakin sulit saja ku mendapatkanmu kembali. Aku menyesal telah melepaskan mu, andai aku bisa menahan diri tidak tergoda oleh Emily pasti saat ini kita sedang berbahagia." Lirih Tristan termenung menyesali tindakannya yang lebih memilih Emily.
Tristan memarkirkan mobilnya di salah satu hotel yang sering ia kunjungi bareng Claudia. Dia menunggu di parkiran yang berada di bawah tanah menyenderkan punggungnya ke jok seraya memejamkan mata.
Bayangan Naya yang berjalan anggun penuh pesona seraya tersenyum berkeliaran di pikirannya. Naya yang sekarang sangat-sangat cantik mempesona. Naya yang dulu ia hina karena penampilannya yang kedodoran dan berjerawat kini menjelma bagaikan seorang putri raja.
Sedangkan Emily juga berhenti di sana. Ia membayar dulu taksinya kemudian mencari keberadaan mobil Tristan.
"Ini tepat yang waktu itu. Semoga kali ini aku bisa menemukan siapa wanita itu."
Emily mengedarkan pandangannya, dan tak berselang lama ia melihat mobil Tristan. "Itu dia mobilnya. Aku harus sembunyi dulu."
Emily mencari tempat untuk bersembunyi, dan netra matanya memilih mobil yang tidak jauh dari Tristan. Dia berjongkok membenarkan tali sepatunya yang copot dan pada saat itu, wanita yang di tunggu Tristan datang. Emily tidak sempat melihat wajahnya padahal dia berjalan di dekatnya.
Claudia langsung masuk ke dalam dan duduk di samping Tristan. "Ada apa menghubungiku?"
Tristan yang terpejam membuka mata langsung menoleh. Dia malah langsung meraih tengkuk Claudia dan melu mat bibirnya, meng hisapnya kasar
Ada rasa kesal, marah, dan cemburu. Tristan malah melampiaskan kekesalannya dengan sebuah ciuman. Saat ini pikirannya sangat kacau.
"Kau itu kenapa? tidak biasanya terlihat kesal dan kasar." Tanya Claudia melepaskan tautan keduanya.
Mata Tristan ia pejamkan membayangkan kalau itu adalah Naya. Dan seketika ciuman kasar itu menjadi lembut tak sekasar tadi.
Kecupannya beralih ke leher Claudia seraya menikmatinya membayangkan kau wanita yang ada di hadapannya adalah Kanaya.
Claudia terbuai. Kecupan lembut dari Tristan sungguh berbeda seperti biasanya. Tristan meraba paha Claudia dan memasukkan tangannya ke balik rok yang di kenakan Claudia sambil menyingkapnya dan mengelus-elus p*ha Claudia.
Gairah keduanya mulai naik. Tristan bahkan sudah memundurkan jok sampai Claudia sedikit terlentang dan ia pindah posisi berada di atas Claudia.
Emily yang dari tadi menunggu terheran melihat mobil suaminya bergoyang. Dia penasaran dan mendekati mobil itu. Dadanya berdegup kencang takut sesuatu terjadi. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi.
Dia mengintip di balik jendela kaca bagian belakang. Dadanya terasa sesak, jantungnya bergemuruh bertalu-talu semakin cepat. Dia membekap mulutnya syok mendapatkan surprise yang luar biasa dari sang suami.
Amarahnya memuncak tak dapat lagi tertahankan. Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan kencang dan keras sampai mengganggu aktivitas kedua insan yang sedang berhubungan intim.
Tristan yang siap menancapkan miliknya merasa terganggu dan mendongak ingin melihat sia yang telah mengganggunya. Namun, matanya terbelalak terkejut. Dia segera bangkit sampai kepalanya ke jedot atap mobil.
Claudia pun sama terkejut ada Emily di sana.
__ADS_1
"Tristan buka! Brengsek... bajingan... buka!" pekik Emily semakin keras.
"Tristan, gimana ini? Kenapa Emily bisa mengetahui ada kita di sini? aku harus apa?" Tanya Claudia panik membenahi pakaiannya yang berantakan.
"Kamu tenang, ya. Kamu jangan keluar, tetap di sini!"
"Tristan..... keluar...!" Emily semakin murka, dia ingin menghajar kedua orang itu dan tanpa mau menunggu lagi, ia melepas high heels nya kemudian ia pukulkan ke kaca mobil Tristan sampai pecah.
"Aaaaaa," jerit Claudia terkejut kacanya mengenai kepala dia
"Claudia..!" Tristan menatap tajam Emily dan keluar mobil.
"Apa yang kau lakukan hah? kau merusak mobil ku sampai mengenai Claudia."
Plak.... plak....
Emily menampar keras wajah Tristan bolak balik. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat.
"Brengsekk...! Bajingaaan...! kurang ajar...! Beraninya kau selingkuh di belakangku dengan pembantu sialaan ini!" sentak Emily meneteskan air mata seraya membentak mengumpati Tristan.
Matanya menoleh ke arah wanita yang sedang menunduk takut. Tangan Emily menarik rambut Claudia dari kaca.
"Aaaaaaa," jerit Claudia kesakitan sebab jambakan Emily sungguh keras.
"Pelakor kurang ajar, beraninya kau merusak rumah tanggaku, beraninya kau menggoda suamiku!" ucapnya murka.
"Em, lepaskan Claudia! Dia kesakitan. Kasihan dia, Em." Tristan mencoba melepaskan jambakan Emily. Semakin Tristan melerai semakin murka Emily dan semakin kuat ia menjambak ya.
"Kau membelanya? kau ingin dia lepas dariku? tidak semudah itu Tristan! Kalian sama-sama brengsekkk... kalian sama-sama kurang ajar... kalian sama-sama hina... pria kurang ajar, pelakor sialaaan... murahan...!" Sentak Emily menatap tajam wajah Tristan menghempaskan kepala Claudia secara kasar sampai terbentur jok pengebudi dan Bugh...
Emily memukul dada Tristan menggunakan sepatutnya sampai Tristan memekik kesakitan.
"Diaaaam! Aku muak dengan kalian. Aku memang hina, aku memang kurang ajar, aku memang brengsekkk. Tapi, aku tidak seperti kalian yang sama-sama tidak punya hati," pekik Claudia keluar mobil.
"Kau Emily. Kau sama saja dengan ku yang juga menjadi selingkuhan Tristan dan kau berhasil merebut Tristan dari istri sahnya Dan dariku. Dan kau Tristan, kau adalah pria yang egois yang lebih mengutamakan nafsu. Kau menjalin kasih dengan Emily di saat masih menjadi kekasihku dan menjalin kasih saat menjadi suami seseorang dan kau meninggalkanku di saat aku hamil. Kalian berdua adalah yang paling hina di antara mereka yang hina. Kalian lah yang biadab tak memiliki perasaan."
Duar...
Tristan dan Emily mematung terkejut.
__ADS_1
Bersambung.....