
Sudah hampir dua bulan Naya bekerja mengurus Andrian dan di saat ini juga Andrian/Aldo akan memanjakan Naya dengan membawanya berbelanja sekalian makeover penampilan Naya di mall miliknya sendiri.
Dengan setia, Aldo menunggu Naya yang sedang melakukan perawatan di salah satu salon kecantikan yang ada di sana.
"Al, aku merasa tidak nyaman memakai pakaian seperti ini," lirih Naya sudah selesai di dandani dan mengganti pakaiannya atas suruhan Aldo.
Naya mengenakan dress seperti model kimono bertali di pinggang bagian samping kiri dengan bagian kiri paha terbelah. Dia juga membawa kacamata yang di siapkan Aldo dan tas yang ia dempet di ketiak.
Aldo menoleh, ia memperhatikan penampilan Naya yang terlihat cantik dan menggoda di bagian bawahnya yang terbelah memperlihatkan paha putih mulusnya.
Hanya untuk menelan saliva saja ia sampai kesusahan. Tubuhnya terasa panas dan kembali terbayang malam panas yang ia lakukan kepada Naya pada malam itu.
Tatapannya tersirat sebuah rasa yang mendalam. Rasa ingin memiliki terhadap diri Naya.
"Wooww, amazing! Kamu terlihat sangat cantik," ujarnya terpesona menghampiri Naya menatap lekat-lekat wajah cantik Naya yang sudah tidak berjerawat lagi.
Ternyata perawatan yang mahal dan bagus mampu membuat wajah Naya nampak jauh lebih bersih dan yang pasti dapat menghilangkan jerawat dalam kurun waktu dua bulan meski hanya tinggal sedikit bintik-bintik nya saja.
Secara cepat, Naya menutup bagian yang terbuka. "Jaga pandanganmu, Al! Kau berani sekali menatapku seperti itu." Naya bergidik ngeri melihat tatapan Aldo yang nakal.
"Ya, ya, sorry, aku hanya terpesona sama penampilan kamu yang semakin hari semakin mempesona. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, ayo!" Aldo menggenggam tangan Naya dan menariknya.
"Jangan seperti ini, Al. Aku tidak mau Jenni salah paham sama kita." Naya berusaha melepaskan cekalan Aldo.
"Jenni tidak akan tahu dan tidak akan marah. Jadi jangan bahas Jenni dulu, ok!" ucapnya tegas.
"Maaf, Al. Aku tidak mau ikut dengan mu, aku harus ke rumahnya Andrian. Kata Jenni dia akan pulang siang ini dan aku harus berada di sana sebagai perawatnya. Tolong biarkan aku pergi!" Naya memohon, ia tidak mau di cap sebagai pelakor dan tidak mau merusak hubungan Jenni dengan Aldo.
Aldo memberhentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Kau harus pergi sendiri karena ku tidak akan mengantarmu dan Jenni juga tadi berpamitan kepadaku sedang ada urusan."
Batinnya berkata, "Aku tidak mungkin membongkar siapa diriku yang sebenarnya sebelum tujuanku tercapai."
"Tidak masalah, aku bisa pulang naik taksi. Terima kasih, maaf aku pamit dulu," Naya segera berlalu menjauhi Aldo.
Aldo menatap punggung Naya dan ia juga pergi namun sebelumnya ia menelpon seseorang. "Jaga Naya! Jangan sampai ada mencelakainya!"
__ADS_1
*********
Naya memesan taksi online, dan ia sedang menunggu di jalan depan dekat mall.
Emily juga baru saja selesai bekerja dan ia juga sedang menunggu taksi. Namun ia tak sengaja melihat Naya masuk ke dalam taksi.
"Kanaya? kenapa penampilannya berubah? sebenarnya pacar dia siapa dan bekerja sebagai apa sampai bisa berubah seperti itu?" gumam Emily bertanya-tanya.
"Apa aku ikutin saja, ya?" Emily penasaran dan ia pun memutuskan untuk mengikuti Kanaya.
"Pak ikutin mobil yang di depan!" titahnya pada pak sopir.
"Baik, Non." dan pada akhirnya Emily mengikuti mobil yang di tumpangi Kanaya sampai mobil itu berhenti di depan rumah mantan suaminya.
"Lho! Ngapain dia berhenti di rumah Andrian?" jiwa keponya semakin meronta dan ingin tahu lebih lanjut mengenai hubungan keduanya dan Emily mengendap-endap untuk mencari tahu sendiri.
Naya mengetuk-ngetuk pintu, tak berselang lama nampaklah Andrian membukakan pintu duduk di kursi roda hanya menggunakan celananya saja.
Mendengar Naya akan kerumahnya, ia sampai pontang panting ngebut supaya sampai lebih dulu di rumah dan segera ingin mengganti pakaiannya. Namun, di saat semuanya sudah terbuka, Naya tiba dan terus mengetuk-ngetuk pintu rumahnya sehingga Andrian hanya mengenakan celana jeans nya saja tanpa mengenakan atasan.
"Andrian kamu...!" Naya terkejut sampai menutup wajahnya menggunakan tas. "Kenapa tidak pakai baju?" pekik Naya malu.
"Bantu carikanku pakaian!"
"I-iya," Naya gugup dan membantu mendorong kursi rodanya masih menunduk menutupi wajahnya dengan tas.
"OOO jadi kau bekerja di sini," gumam Emily menyeringai. Dia merencanakan sesuatu untuk membuat Naya malu dan di usir dari tempatnya. Emily masih dendam atas rasa malu yang tadi terjadi di mall.
"Kata Dokter, kakiku sudah mulai membaik tinggal rutin melakukan fisioterapi di rumah."
"Syukurlah, aku ikut senang mendengar kakimu sudah membaik."
"Kamu maukan membantuku memapah untuk memulihkan lagi dan supaya cepat berjalan?" tanya Andrian melancarkan modusnya supaya Naya percaya kalau dia beneran sedang melakukan terapi.
"Caranya?" Naya berpikir dan ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Kamu bantu aku berdiri!" Andrian sudah merentangkan kedua tangannya
"Ta-tapi kamu belum pakai baju," ujarnya menunduk.
__ADS_1
"Nanti juga kamu terbiasa dengan keadaanku yang seperti ini. Buruan bantu saya berdiri!"
Naya ragu-ragu, ia berdiri di samping Andrian dan membantu Andrian berdiri namun wajahnya menoleh ke samping.
"Kamu berdiri di dekat situ!" tunjuk Andrian ke dekat ranjang. "Saya akan berusaha berjalan dan kamu awasi saya dari sana!"
"I-iya.. tapi kamu apa bisa?" meski gugup dan malu, Naya mengikuti perintah Andrian.
"Aku sedang berusaha dan tolong kamu bantu saya, Ok!"
Naya melepaskan Andrian secara perlahan, dia khawatir Andrian terjatuh dan dia standby di depan Andrian tak jauh darinya.
Andrian berjalan tertatih seolah sedang belajar berjalan. "Lihat, Nay. aku bisa." ucapnya menyempurnakan aktingnya.
Andrian yang tengah luput dari pengawasan Naya hendak ambruk sehingga membuat Naya cepat menangkap tubuh kekar Andrian. Namun karena tubuh Naya kecil membuat ia tak dapat menahan bebannya sehingga menjadi oleng dan keduanya justru Ambruk ke atas kasur dengan posisi Naya berada di bawah Kungkungan Andrian.
"Apa yang kalian lakukan?" gertak seseorang.
Naya dan Andrian menoleh dan mereka terkejut banyak warga yang sudah berada di dekat pintu kamar Andrian.
**********
"Yang kalian lakukan sungguh memalukan dan tidak terpuji. Kalian berbuat zina dan kalian harus di hukum."
"Pak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan, saya hanya membantu majikan saya berjalan," jawab Naya membela. Dia panik dan tidak terima di tuduh macam-macam.
"Benar, Pak. Kami tidak melakukan apapun seperti yang kalian tuduhkan," timpan Andrian ikut membela.
"Halah, mana ada maling ngaku. Sudah Pak, mending kita nikahkan saja mereka sebelum wanita ini bunting!" usul yang lain.
"Betul."
"Betul."
"Kalau ini yang terbaik, saya bersedia menikahinya."
Deg...
Bersambung.....
__ADS_1