
"Benar-benar sudah gila tuh Emily. Mana mungkin gue menghancurkan pernikahan Kanaya yang jelas-jelas anak kandung orang tua gue. Yang ada gue di tembak mati sama Papa dan di pecat jadi anak." Tristan menggerutu tak habis pikir dengan pikiran Emily.
Meskipun dirinya brengsekkk tukang selingkuh, tapi dia tidak memiliki pemikiran untuk menghancurkan rumah tangga orang. Ya, walaupun dirinya memang menyukai dan berharap kembali pada Kanaya.
Pria itu melajukan mobil mencari keberadaan seseorang dan berharap dapat menemukannya. Keberuntungan pun seakan memihak padanya, ia tak sengaja melihat wanita yang ia cari keluar dari minimarket menenteng satu plastik besar sambil menuntun anak pria.
"Claudia," gumamnya dan matanya terus memperhatikan sampai menoleh kesamping karena melewati tempat itu.
Pria bertindik di kuping itu menepikan mobilnya tak jauh dari minimarket tersebut. Dia segera turun menghampiri wanita yang ia cari.
"Claudia," pekiknya sambil melangkah cepat.
Claudia yang sedang berdiri menunggu angkutan umum menoleh. Seketika matanya melebar tak percaya ada Tristan. Dia segera memangku Ariel dan berusaha menghindari Tristan dengan berjalan menjauh.
"Anak siapa itu?" batin bertanya sambil Tristan mengejar.
"Claudia, tunggu! Aku mau bicara sama kamu." Pekiknya memegang pangkal lengan Claudia.
"Mau apa lagi? kita sudah tidak punya urusan. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!" tolaknya menepis kasar tangan Tristan dan terus melangkah.
Tristan tak tinggal diam, dia mencegatnya dengan berdiri di depan Claudia sampai wanita itu memberhentikan langkahnya.
"Sebentar saja, aku ingin meminta maaf padamu," ucapnya tak pantang menyerah.
Claudia menatap tajam mata Tristan penuh kebencian.
"Aku memaafkanmu, biarkan aku pergi! Minggir!" jawabnya tegas.
"Tidak, kau belum sepenuhnya memaafkanku terlihat dari caramu menghindari ku."
"Kau sudah tahu jawabannya, tidak mudah bagiku memaafkan dirimu. Semakin kau berusaha mendekatiku semakin besar pula rasa benciku terhadapmu. Minggir!" jawabnya tajam.
Tristan menggeleng tak ingin pergi. Dia yakin kalau wanita di hadapannya ini belum memaafkan terlihat dari caranya memandang dirinya. Namun, ada yang membuat ia penasaran yaitu anak yang berada di gendongan Claudia. Mata dia dan balita itu beradu sampai membuat hatinya seketika bergetar.
"Siapa anak ini?" celetuknya tiba-tiba tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Claudia tersenyum sinis, hatinya tercubit Tristan tak bisa mengenali anaknya sendiri.
"Kau ingin tahu siapa anak ini?" tanya Claudia memicingkan mata setajam elang dan Tristan mengangguk.
"Dia anakmu yang tidak pernah kau ketahui, puas!" pekiknya lantang membuat Tristan terkejut.
__ADS_1
Deg....
"A anak? ti tidak mungkin? ka kau tidak mungkin mengandung anakku?" Tristan menggeleng tak percaya ucapan Claudia.
Claudia tertawa sumbang, namun tawanya terlihat terpaksa. Raut wajahnya sedih, matanya berkaca-kaca.
"Lihat, kau sendiri tidak percaya. Tapi pada kenyataannya ini adalah anakmu. Anak yang kau tanamkan di rahimku dan kau malah memutuskan hubungan kita demi wanita itu."
"Ini yang membuatku sulit memaafkanmu, kau datang tiba-tiba lalu meminta maaf? kau pikir aku mudah memaafkan orang yang telah menghancurkan kehidupanku. Dan bodohnya aku yang tergoda oleh bujuk rayumu sampai ku terbuai menyerahkan segalanya. Tapi kau.... kau malah membuang ku di saat ku hamil. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu, aku membencimu, dan aku puas melihat rumah tanggamu dengan Emily hancur. Aku puas!" pekiknya mendorong tubuh Tristan ke samping dan ia segera berjalan cepat meninggalkan Tristan yang mematung dengan sejuta pikiran.
"A..anakku...! di..dia anakku..! ja..jadi ucapannya kala itu terjadi..!" Tristan mematung, percakapan mereka kembali terngiang dan berputar di benaknya bagaikan kaset yang di play kembali.
"Bagaimana kalau seandainya aku hamil?"
"Itu tidak mungkin, karena kita melakukannya dengan pengaman."
"Kau pernah sekali menyentuhku tanpa pengaman dan itu bisa saja terjadi."
"Maaf, tapi aku mau kita putus dan aku yakin kamu tidak akan hamil."
"Aku tidak mencintaimu, aku hanya ingin menaklukan mu dan aku mencintai wanita lain."
Deg....
Dadanya berdebar hebat, tubuhnya seketika bergetar penuh keterkejutan. Keringat dingin mulai membasahi area wajah dan tubuhnya. Kakinya terasa lemas tak bisa menahan beban tubuhnya dan ia ambruk terduduk di tanah.
"Ya Tuhan..! Apa yang telah ku perbuat?" lirihnya menunduk menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan. Lalu, ia menjambak rambutnya prustasi dengan apa yang telah ia lakukan kepada Claudia.
************
Kediaman Andrian
"Sayang, aku pulang. Kamu dimana, sayang?" baru saja membuka pintu rumah sudah berteriak memanggil istrinya.
Andrian melonggarkan dasinya melepaskannya, menyimpan tas kerja di atas sofa ruang tamu lalu membuka jas yang ia kenakan dan di simpan di atas tas kerja.
"Kanaya sayang," panggilnya kembali berteriak.
"Iya, sayang." Jawab Naya dari atas tangga dan turun menghampiri suaminya.
Andrian mendongak tersenyum melihat istrinya. Rindunya tidak bisa ia tahan dan memutuskan pulang lebih awal ingin memeluk, mencium sang istri.
__ADS_1
Andrian melangkah cepat menghampiri dan tiba-tiba dia mengangkat Naya memeluk pinggulnya.
"Aakkkhhh.... Bee! apa yang kamu lakukan?" pekiknya terkejut Andrian mengangkat tubuhnya dan di putar-putar.
"Aku bahagia bisa mendapatkanmu, sayang. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu." Andrian menurunkan pelan tubuh Naya tapi ia tahan saat wajahnya sejajar lalu Andrian mengecup singkat bibir istrinya.
Mata Naya membola, ia mengedarkan pandangannya takut ada yang melihat.
"Sayang, bagaimana kalau ada yang lihat?"
"Biarin, mereka pasti mengerti kok," Jawab Andrian tersenyum menatap lekat-lekat wajah istrinya. Dia tidak melepaskan Kanaya dari pelukannya.
Naya yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah. Dia meraba wajahnya takut ada yang aneh.
"Ka kamu kenapa menatapku seperti itu? ada yang aneh ya, dengan wajahku?" tanyanya menghindari tatapan Andrian yang terlihat berbeda. Andrian menggeleng, Naya mengernyit.
"Kamu cantik, aku bahagia dan beruntung bisa memilikimu."
Wajah Kanaya bersemu merah, ia menunduk malu. Andrian membawa Naya kedalam pelukannya menenggelamkan wajahnya di dada dia. Dia mencium pucuk kepala sang istri begitu bersyukur bisa bersanding dengan wanita yang ia inginkan.
"Sayang, aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Naya membalas pelukan suaminya.
"Apapun itu, jika ku mampu akan ku berikan untukmu."
"Janji ya kamu mau memberikannya?"
"Iya, sayang. Memangnya apa yang kamu mau?"
"Hmmmm aku... aku mau Mike..." belum juga selesai, Andrian sudah memekik duluan.
"Apa?!" pekik Andrian melonggarkan pelukannya terkejut dengan permintaan Naya.
"Tidak, aku tidak akan mengabulkan permintaanmu. Enak saja kamu minta Mike." Andrian melepaskan pelukannya cemberut marah.
"Iiihhhh dengerin dulu, aku belum selesai bicaranya, sayang." Naya memeluk Andrian dari belakang.
"Aku ingin Mike menari...." belum juga selesai bicara Andrian sudah kembali memekik.
"Apa?!"
Bersambung.....
__ADS_1