
Kanaya terbaring di kasur, kamar yang telah di persiapkan untuk dirinya dan di desain sesuai warna kesukaannya hijau, dan putih.
Naya memikirkan kembali ucapan Marko yang bilang kalau dia adalah putrinya.
"Kamu adalah putriku yang hilang 25 tahun lalu dan pewaris perusahaan beauty care."
"Sejak Papa bertemu kamu, Papa merasa ada ikatan kuat di antara kita dan Papa mulai mencari tahu siapa kamu sebenarnya."
"Ternyata ikatan itu adalah ikatan ayah untuk anak kandungnya dan apa yang Papa rasa di perkuat oleh penjelasan Martin kalau dia menemukanmu di depan rumah nya yang dulu kemudian Martin pindah ke kota S daerah orang tuanya Martin."
"Papa ingin tahu lebih lanjut siapa kamu dengan cara tes DNA tanpa sepengetahuan kamu dan Jihan maupun yang lain. Hasilnya positif bahwa kamu adalah anak kandung Papa dan Mama."
"Untuk perusahan kosmetik, Papa sengaja membangunnya untuk putriku dan masa depannya karena Papa yakin kalau putri Papa akan kembali lagi."
"Papa sengaja tidak memberitahukan Mama ataupun Tristan karena Papa ingin memberitahu mereka di saat waktunya telah tiba dan mungkin sekaranglah waktu itu."
"Maafkan kita yang baru menemukanmu, mungkin kamu masih belum percaya namun inilah kenyataannya. Kamu dan Tristan bukan saudara kandung jadi Papa bersedia menikahkan kalian. Tapi Papa tidak tahu kalau Tristan akan menyakitimu sedalam ini."
Itulah yang Marko jelaskan kepada Naya dan juga Jihan. Naya sendiri tidak menyangka kalau orang tua kandungnya ialah orang yang selama ini menjadi mertuanya.
Naya bangun dari rebahannya membuka koper dan mengambil gelang serta baju bayi peninggalan Mamanya. Dia teringat kembali perkataan istri Martin sebelum meninggal.
"Nay, sebenarnya kamu bukanlah anak kandung kami. Kami menemukanmu di depan rumah dalam keadaan menangis. Ini adalah benda-benda milik kamu ketika kamu bayi dan benda ini juga akan menjadi bukti ketika kamu bertemu dengan kedua orangtuamu."
Naya menggenggam gelang dan baju bayi itu kemudian memeluknya. Ia sampai meneteskan air mata bahagia dan kesedihan. Bahagia karena kini ia bisa bertemu orang tuanya dan sedih karena ia harus kehilangan orang tua yang merawatnya penuh kasih sayang.
"Aku sudah bertemu dengan mereka, Mah, Pak. Kalian tidak perlu khawatirkan aku lagi," lirihnya.
Ya, kepindahan Naya dan Bapaknya ke kota A untuk mencari keberadaan orangtua kandung Naya. Selama empat tahun mereka mencari dan baru bertemu satu tahun yang lalu itupun tanpa sengaja saat mereka menolong mobil Marko yang sedang mogok di tengah jalan.
*********
Tristan terbangun dari tidurnya, ia melihat Emily masih berada di sampingnya memeluk tubuh kekarnya. Semalaman dia dan Emily menghabiskan malam panas tanpa memikirkan Kanaya yang baru saja di talak olehnya.
Tristan beranjak dari ranjang membersihkan diri. Setelahnya ia ke dapur, "Nay tolong masakkan telor ceplok dan nugget goreng!" pekik Tristan duduk di kursi makan.
Sepertinya ia melupakan kejadian semalam sehingga merasa kalau Naya masih berada di rumahnya. Tristan mengedarkan pandangan, membuka tudung saji yang tidak ada apapun.
"Kanaya..! Mana makanan untukku?" pekik Tristan. "Kemana dia? tumben jam segini belum masak?"
Tristan beranjak menghampiri kamar yang yang di tempati Kanaya. Ia membuka pintunya secara kasar.
__ADS_1
"Kanaya ba...ngun..!" ucapnya melemah di saat netra matanya tak mendapat keberadaan Naya.
Tristan buru-buru membuka lemari baju dan tidak ada satupun pakaian yang tersisa. "Kanaya pergi?! Astaga...!" Tristan terduduk lesu di tepi ranjang.
"Semalam aku sudah menalaknya." Dia kembali beranjak ke kamarnya membangunkan Emily.
"Em, bangun, Em!" Tristan menggoyang-goyang tubuh Emily.
"Hhmmmm apa sih honey? ganggu waktu tidurku saja."
"Buruan bangun! Masak untuk sarapan!"
"Suruh saja istrimu yang memasak. Aku males banget," gumamnya menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
"Dia sudah pergi. Apa kau lupa kalau semalam aku sudah menalaknya jadi sekarang kamu yang harus memasak makanan untuk makan kita!" ucap Tristan tegas.
Emily membuka selimutnya secara kasar. "Aku tidak mau, honey. Kamu kan tau kalau masakanku tidak seenak masakan Kanaya. Beli saja atau kamu sewa pembantu sajalah!"
"Kamu saja yang masak, kali ini saja, aku udah laper banget nih."
"Kamu saja yang masak! Aku kan sedang hamil dan kata dokter jangan banyak bergerak."
Tristan membuang nafasnya secara kasar, dia males berdebat dan akhirnya ia memesan makanan lewat go food.
*********
"Pagi, Mah, Pah." sapa Naya saat melihat orang tuanya memasuki area meja makan.
"Pagi juga, Nay." jawab mereka duduk dan sudah tersedia beberapa macam makanan di atas meja.
Jihan dan Marko saling lirik, semalam Naya berwajah sendu tapi hari ini mereka melihat keceriaan dan Naya sudah terlihat rapi.
"Aku sudah siapkan makanan buat kalian, aku pamit dulu mau kerja."
"Kamu tidak sarapan bareng kita di sini?" ucap Jihan.
"Nanti di sana saja, pasti majikanku sudah menunggu. Aku pamit dulu, Mah, Pah." Naya menyalami orangtuanya dan pergi.
"Sarapan dulu, Nay!" pekik Jihan.
"Mungkin Naya masih belum menerima kenyataan, Mah. Secara mendadak ia tahu kalau dia adalah putri kita dan Papa bisa mengerti itu. Naya juga membutuhkan waktu untuk berdamai dengan kehidupan."
__ADS_1
Jihan menatap sedih ke arah pintu.
*******
Setelah resmi bercerai dengan Tristan, Naya lebih fokus bekerja menjadi perawat Andrian sambil melakukan perawatan wajah serta tubuhnya.
Naya butuh waktu untuk memulai lagi kehidupannya dari awal sebagai janda dan dia harus lebih teliti lagi dalam memilih pasangan. Dan sudah dua bulan lebih Naya bekerja dan keadaannya sudah mulai membaik dan sudah bisa melupakan Tristan meski lukanya masih menganga.
Selama itu pula dia tidak pernah bertemu lagi dengan Tristan lebih tepatnya Naya sering mengingap atas permintaan Jenni sendiri sehingga tak bertemu Tristan jika sedang kerumah Marko.
Nayapun tiba di depan kediaman Andrian. Naya bertemu Jenni tepat di depan pintu masuk.
"Naya, untuk hari ini kamu libur kerja. Kakak ku sedang melakukan terapi."
"Lho, kok aku tidak tahu?"
Jenni tersenyum batinnya berkata, "Kakak sedang ada pertemuan dengan klien, kemungkinan nanti sore ia akan pulang."
"Aku lupa ngasih tahu kamu, dan Kakak juga di temenin dokter yang merawatnya. Mending kamu ikut aku ke mall sekalian kita belanja, nyalon, dan kita jalan-jalan sepuasnya."
"Tapi..." Naya sempat bingung kenapa Jenni tidak menemani Kakaknya namun ia percaya pada ucapan Jenni.
"Udahhh, ayo!" Jenni menarik tangan Naya mengajaknya melakukan perawatan lagi.
********
"Kamu pilih baju mana yang kamu suka nanti aku yang bayar! Aku mau lihat-lihat sepatu dulu." Jenni membawa Naya ke toko baju.
"Tapi aku tidak enak," jawab Naya tak enak hati.
"Gak pa pa, kamu jangan sungkan dan pilih baju yang kamu mau, ok! Nanti aku balik lagi." Jenni meninggalkan Naya ke toko sebelah yang jaraknya agak jauh.
"Duh, gimana ini? Jenni malah pergi lagi," Naya bingung sendiri tapi ia tak urung mencari baju-baju yang menurutnya suka.
"Honey, aku mau belanja baju di situ." Tunjuk Emily tak sengaja melihat Naya dan Jenni.
"Baiklah, ayo!"
Emily menggandeng tangan Tristan sambil memperhatikan sekitar. "Kamu pilihin di sini aku di sana!" ucapnya dan Tristan mengangguk tanpa banyak tanya.
Wanita itu melepaskan gelangnya dan menubruk Kanaya memasukkannya ke dalam tas Naya.
__ADS_1
Bersambung....