SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Di Pecat


__ADS_3

"Sayang, apa tidak lelah seharian mengerjakan ini semua?" tanya Andrian memperhatikan gerakan tangan dan kaki yang sedang menjahit baju.


"Sebenarnya lelah, Bee. Tapi aku harus mengerjakan semuanya supaya cepat selesai."


"Bee?" Andrian salpok sama itu. "Siapa Bee?"


"Gak papa kan kalau aku manggil kamu Bee? Bee itu panggilan kata sayang buat kamu kalau artinya sih lebah. Lebah yang sudah menyengat ku," lirihnya pelan menunduk malu.


Andrian pun sama tersipu mendengar panggilan sayang pemberian istrinya.


"Hmmm cukup bagus, aku suka dengan panggilannya. Apa kamu sudah mencintaiku?"


"Aku tidak tahu apakah ku sudah mencintaimu atau belum. Tapi, hatiku tidak menolak keberadaanmu dan aku bukan tipe orang yang suka berlarut dalam kesedihan sehingga ku memutuskan untuk membuka hatiku untuk menerimamu seperti rahimku menerima benih darimu. Ya, macam lebah yang telah menyengatku," ucapnya menunduk malu.


Andrian menyunggingkan senyum indah di bibirnya. Saking gemasnya, dia langsung mengangkat dagu istrinya dan mengecup bibir tipis nan manis itu.


"Sekarang sudah pandai ngegombal ya, aku suka itu."


"Kita cari makan yuk!"


"Di rumah saja, biar aku yang masakin kamu."


"Aku maunya kita makan di luar jalan-jalan seperti orang pacaran pada umumnya. Ayo!" Andrian merangkul pundak Naya me bawanya berdiri.


"Tapi, ini?"


"Masih ada hari esok, sayang. Sekarang kamu istirahat dulu banyakin gerak supaya tidak pegal. Seharian ini kamu kan terus duduk di satu sekarang waktunya kita jalan keluar."


Naya hanya pasrah dan dia berganti pakaian dulu kebudian barulah jalan.


********


Andrian membawa Istrinya ke salah satu bendungan yang ada di negaranya.


"Bee, apa boleh aku membuka sweater ku?" tanya Naya berada di dalam mobil.


"Kenapa di buka? di sini cukup dingin, sayang."


"Tapi aku kegerahan, Bee. Nanti kalau di luar kedinginan kan ada jaket kamu yang ngangetin aku atau... pelukanmu juga boleh," ucapnya pelan menunduk.


Andrian menoleh, ia sedikit merasa aneh dengan istrinya. Sekarang Naya malah sering ngegombal. Tapi ia sendiri malah menikmati itu.


"Boleh, asal jangan jauh dariku supaya orang lain tidak memperhatikan tubuhmu," ucap Andrian mengacak rambut Naya.


Naya tersenyum, ia pun membuka sweater rajutnya hingga menyisakan tank top crop berwarna hitam memperlihatkan kulit putih nan mulus.


Keduanya keluar dan menikmati indahnya pemandangan malam di bendungan. Andrian tidak pernah jauh dari Naya begitupun dengan Naya yang selalu merangkul lengan suaminya.


Naya melepaskan rangkulannya menatap bendungan tersebut. Kedua tangannya memegang pembatasnya, matanya terpejam menikmati suasana sejuk yang alam suguhkan.

__ADS_1


Andrian menatap lekat-lekat memperhatikan istri mungilnya. Dia juga memegang pembatas bendungan namun menghadap jalan.



Seperti biasanya, dia akan mengambil handphone untuk mengabadikan setiap momen sang istri.


"Sayang," panggilnya mempersiapkan kamera.


Naya menoleh dan... cekrek...



"Kamu kebiasaan deh," kata Naya.


"Cantik alami, aku memang suka memotret mu. Itung-itung menambah koleksi foto kamu," ucapnya seraya memasukan kembali ponselnya.


"Iya, sih. Terbukti dari galeri foto yang kebanyakan hanya fotoku dari jaman dulu," balas Naya memeluk pundaknya merasa dingin.


Andrian yang melihatnya melepaskan jaket kemudian memakannya di depan lalu tangannya ia lingkarkan ke perut sang istri memeluk tubuhnya dari belakang.


"Sesuai yang kamu inginkan. Kalau nanti kamu kedinginan ada jaketku dan pelukanku yang menghangatkan."


Naya tersenyum, dia mengusap lembut tangan kekar yang melingkar di perutnya. "Makasih, kamu tau aja apa yang ku butuhkan."


"Sama-sama sayang," balasnya mengecup kepala Naya.


"Kenapa kita ke mall kamu lagi sih jalannya? ke tempat lain ke, jangan ke sini mulu," ujar Naya setelah tahu kemana suaminya membawa dia makan.


"Hanya ini tempat teramai dan tempat terindah yang menjadi primadona orang-orang. Semuanya sudah ada di sini tanpa perlu lagi mencari kemana-mana. Lagian, aku ke sini bukan tanpa alasan, ada berkas yang harus ku ambil di kantor."


"Oh," Naya hanya ber oh ria.


Sepanjang jalan, keduanya saling bergandengan tangan. Namun, saat di tengah jalan, ponsel Andrian menyala kemudian mengangkat nya.


"Halo, Pah. Kami tidak sedang di rumah, kalau Jenni pasti ada di rumah utama," Andrian sempat berhenti melangkah menelpon sebentar.


Naya juga ikut berhenti menunggu suaminya selesai. Namun dari atas, nampak seseorang memperhatikannya dengan amarah mengingat suaminya selalu menyebut nama Kanaya.


Dia mengedarkan pandangannya mencari sesuatu dan netra matanya menemukan ember berisi air yang sedang OB pakai pel.


"Gara-gara dirimu, Tristan berubah, dia sering menyebut Namamu bahkan dalan bercintapun yang ia sebut dirimu," gumamnya kesal melangkah mengambil ember.


Andrian berbicara seraya matanya mendongak keatas dan ia melihat Emily berjalan tergesa-gesa. Matanya mengikuti langkah Emily dan berhenti di tempat Naya berdiri siap menumpahkan air ke bawah.


"Naya..." secepat kilat Andrian melepaskan jaketnya dan menutupi kepala Naya.


Byuurrrr.....


Air bekas pellan jatuh tepat ke jaket Andrian dan melindungi kepala keduanya.

__ADS_1


"Bee...!" Naya terkejut ada air menimpa mereka.


Sedangkan Emily menghentakkan kesal kakinya dan segera pergi dari sana sebelum orang-orang tahu.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, tapi baju kamu..." lirihnya menatap mata Andrian.


"Jangan hiraukan bajuku yang penting kamu baik-baik saja."


Naya tersenyum memeluk Andrian. "Kita seperti sedang melakukan adegan romantis ya, dimana pemeran prianya melindungi pemeran wanita dari air akibat kejahilan seseorang."


"Sayangnya kita tidak sedang melakukan sandiwara di depan kamera melainkan ini nyata dan memang ada yang niat menjahili kamu," ujar nya menurunkan jaket yang di gunakan melindungi Naya.


"Siapa?" Naya mendongak mengernyit bingung.


Andrian tak menjawab, ia mengepalkan tangannya dan tekadnya sudah bulat untuk memecat Emily.


"Halo, Mike. Pecat SPG yang bernama Emilyana sekarang juga!"


"Emily?!" lirih Naya dan Andrian mengangguk.


**********


"Si Aldo kebiasaan, belum juga di jawab sudah di matikan."


Mike menekan telpon kantor dan meminta pihak HRD memecat Emily.


"Pecat SPG yang bernama Emilyana sekarang juga karena dia sudah melakukan kesalahan-kesalahan terhadap istri Bos besar."


**********


"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Emily sudah sampai di ruangan kerja HRD.


"Ini adalah surat pemecatan untukmu," ucap kepala HRD.


"Apa?! maksud Bapak saya di pecat?" Emily melotot tak percaya.


"Benar, kami tidak bisa memperkerjakan seseorang yang berusaha mencelakai istri bos kami dan Bos sendiri yang meminta kami untuk memecatmu. Lagian, kinerja kamu semakin hari semakin menurun."


"Istri bos? aku tidak pernah mengusiknya, kenal pun tidak. Jangan pecat saya, Pak."


"Itu sudah keputusan bos jadi silahkan Anda keluar dari ruangan saya!" ujarnya tegas.


"Kurang ajar... siapa istri pemilik mall ini sampai aku yang di jadikan kambing hitamnya? kenal saja tidak bagaimana bisa ku kerjai. Kalaupun tahu bos nya akan ku gaet dia dan ku tinggalkan Tristan," gumam dalam hati seraya melangkah keluar membanting keras pintu masuk.


Bluuug....


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2