
"Jenn, kapan James menikahimu? kalian tunangan sudah satu tahun tapi kenapa belum ada pembicaraan mengenai lebih lanjut tentang hubungan kalian?" Andrian menghampiri adiknya di ruangan kerja.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Dia belum membicarakan lagi masalah pernikahan kita. Aku sendiri jadi ragu mengenai keseriusannya padaku," jawab Jenni membereskan laboran klien nya.
"Kakak harap kalian cepat menikah, dan James pernah bilang akan menikahimu kalau kerjaannya di Amerika sudah selesai. Bahkan ia sampai tidak datang ke hari pernikahanku hanya untuk menyelesaikan urusannya dan diapun belum tahu siapa mantan istri pertamaku."
"Nanti ku bicarakan dengannya, aku pamit ke kantor dulu kak. Hari ini ada sidang perceraian dan aku harus segera ke kantor untuk mempelajari masalahnya." Jenni berdiri mengecup pipi kakak tersayangnya.
"Hati-hati, semoga persidangannya lancar," balas Andrian dan di angguki oleh Jenni.
"Kakak ipar, aku berangkat dulu." pekik Jenni hanya melihat Naya yang sedang menjemur pakaian.
"Iya, hati-hati Jenn." jawabnya tak kalah keras.
Andrian memperhatikan Istri kecilnya yang selalu rajin mengurus rumah. Perlahan ia mendekati Naya dan grep....
Naya terlonjak kaget ada seseorang memeluknya dari belakang. "Kami apaan sih, aku lagi jemur baju."
"Kamu yang apa-apaan masih mencuci, menjemur baju dan membereskan rumah padahal ada IRT paruh waktu yang suka membereskan semuanya."
"Karena terbiasa, dari kecil sampai sekarang selalu mengerjakan ini semua dan aku senang melakukannya."
Andrian melepaskan pelukannya dan menghadapkan tubuh Naya kehadapannya.
"Itu dulu, sekarang kamu tidak boleh melakukan pekerjaan apapun kecuali melayaniku sebagai suamimu."
"Tapi..."
"Sssttttt.... tidak ada tapi tapian! Kamu hanya boleh berdiam diri tanpa melakukan apapun."
"Tapi aku akan merasa bosan kalau tidak ada kegiatan. Meski hanya mencuci bajumu, dan memasakkan makanan untukmu setidaknya itu bisa membuatku memiliki kegiatan dan tidak membuatku bosan."
"Setidaknya ku bisa memasak makanan kesukaan suamiku, mencuci pakaiannya, menyiapkan segala keperluannya," lanjut Naya.
"Ada yang ketinggalan."
"Apa?"
"Menyenangkan suami di atas ranjang," bisiknya di telinga Naya.
Naya menunduk, masalah itu dia belum bisa menyenangkan suaminya dan ia tahu kalau itu salah. "Maaf."
__ADS_1
"Tidak usah di pikirkan, aku tak akan memaksamu kalau kamu memang belum siap. Mending sekarang kamu ikut aku!" Andrian menggandeng tangan Istrinya.
"Kamu ganti dulu bajunya! Pakai pakaian yang ku belikan untukmu!" perintahnya tegas.
Naya mengangguk, mulai sekarang dia akan melakukan apapun demi menjaga suaminya dari godaan sang pelakor.
*********
"Kenapa kamu membawaku kemari? ini rumah yang waktu itu kan?" Naya bingung belum mengetahui siapa sebenarnya Andrian.
Andrian tersenyum memarkirkan motor gedenya di garasi kemudian mematikan mesinnya. Naya turun duluan dan memperhatikan kembali rumah ini.
"Ini rumah ku yang sebenarnya."
"Apa?! kok bisa? terus rumah yang selama ini kalian tempati?"
"Rumah keduaku dan Jenni," jawabnya turun dari motor mengganggap tangan Naya menggandengnya.
"Siapa kamu yang sebenarnya? kenapa banyak sekali rahasianya?" tanya Naya mengintimidasi menatap curiga Andrian.
"Akan ku jelaskan semuanya. Tapi kita masuk dulu ya!"
"Den, Non," sapa bi Marni.
Naya tersenyum. "Bu, apa kabar? Naya kangen sekali sama masakan ibu dan juga kangen comelnya ibu." Naya melepaskan tangannya kemudian memeluk Bu Marni.
Marni tersenyum kikuk merasa sungkan di peluk oleh istri Tuannya. Dia sudah tahu sebab di beritahu lewat telpon.
Andrian juga tersenyum melihat keramahan istrinya. "Sayang, aku ke ruangan kerja dulu. Tak apa kan ku tinggal sebentar?"
Naya mengurai pelukannya. "Aku tidak apa-apa, kan ada Bu Marni yang nemenin aku."
"Kalau gitu aku kerja sebentar. Ruangan kerjaku ada di sana." tunjuknya ke arah kanan dan Naya mengangguk.
Andrian pergi, sedangkan Naya menggandeng lengan Marni membawanya duduk. Marni yang merasa tak enak hati langsung duduk di bawah.
"Lho, Bu! Kenapa di bawah?"
"Gak enak, Non. Sinon kan istri majikan saya," jawabnya sungkan.
__ADS_1
Naya membuang nafasnya secara kasar dan ia juga ikut duduk di bawah. "Meski aku istri Andrian, tapi di mata Tuhan derajat kita sama. Yang membedakan hanyalah keimanannya saja."
Marni tak bisa menjawab sebab yang di katakan Naya benar.
"Non mau minum apa?"
"Tidak usah, aku hanya ingin Ibu di sini menemaniku bercerita tentang Andrian. Aku ingin tahu mengenai dia," pinta Naya memohon.
"Non mau cerita apa?"
"Apa saja yang penting Andrian."
"Den Andrian, dia baik, pekerja keras, jujur, tidak banyak tingkah, dan orang tuanya meninggal karena tsunami yang menghancurkan kota A. Den Andrian harus bekerja mencari uang di saat usianya 15 tahun untuk menghidupi dia dan adiknya yang berusia 11 tahun."
"Hidupnya ia abdikan untuk mengurus sang adik dan bekerja sampai lupa mencari pasangan. Dia juga sederhana tak pernah memperlihatkan siapa mereka padahal Den Andrian adalah pemilik mall terbesar di kota A yang di namai AG TRADE CENTER yang artinya pusat perbelanjaan ANDRIAN GERALDO."
"Banyak wanita terang-terangan menyukainya namun Andrian tak pernah merespon karena pada saat itu tak ada yang menarik. Dia juga pernah jatuh cinta pad wanita berasal dari kota S tapi wanitanya katanya pindah ke kota A hilang tanpa jejak."
"Oh iya, Non. Den Andrian itu tampan, pengusaha sukses, dan macho. Pasti akan banyak yang naksir, bibi harap Non mampu menjaga milik non supaya tidak di rebut pelakor. Kan Non tahu sendiri kalau jaman sekarang pelakor merajalela."
"Meski bibi yakin Andrian orang yang setia tapi bibi tidak yakin perempuan di luaran saya yang akan menggoda."
Deg...
"Pelakor, menggoda, tidak, tidak akan ku biarkan itu terjadi lagi."
"Makanya Non bikin den Andrian klepek-klepek di dapur, sumur, dan kasur."
Di DAPUR, konon, banyak suami senang dimanjakan istri dengan masakan istimewa kesukaannya. Hendaknya ada hari-hari tertentu dimana istri memanjakan suami dengan memasak makanan kesukaan sang suami. Sediakan waktu khusus untuk menyenangkan cita rasa dan selera masakan suami. Jika istri melakukan dengan penuh cinta, masakan yang disiapkan dan dihidangkan untuk suami akan menjadi penyubur cinta serta kasih sayang di antara mereka. Masakan yang dihidangkan istri akan menjadi sarana kuatnya rasa persahabatan antara suami dan istri. Masakan yang disiapkan dengan penuh kesungguhan dan dedikasi dari istri akan menjadi lantaran terwujudnya suasana sakinah, mawadah wa rahmah.
Di SUMUR. Sumur adalah simbol kebersihan dan kebaikan. Para istri diharapkan suka menjaga kebersihan diri, pakaian, serta peralatan rumah tangga. Sumur juga menjadi simbol kesucian, karena air jernih itu digunakan untuk bersuci dari hadtas besar dan kecil. Para istri diharapkan memiliki selera kebersihan, kesucian dan kebaikan dalam segala hal. Para istri hendaknya bisa menjaga kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan tempat tinggal, kebersihan peralatan rumah tangga, serta kesuciannya.
Di KASUR. Kasur adalah simbol aktivitas ranjang suami istri. Hal ini mengajarkan, istri harus pandai melayani suami untuk urusan ranjang. Ini adalah tugas khusus istri yang tidak boleh diwakilkan kepada siapapun atau kepada alat apapun. Hanya istri yang boleh melakukannya.
Ketidakpuasan suami dalam urusan ranjang bisa berbuntut panjang. Keengganan istri dalam memberikan pelayanan optimal di ranjang bisa menyebabkan suami menjadi uring-uringan. Layani suami dengan sepenuh hati. Tanyakan kepada suami apa yang diinginkan darinya saat di ranjang. Jangan malu dan enggan melakukan demi menyenangkan suami, sepanjang keinginan suami tersebut tidak melanggar aturan agama dan etika kepatutan yang berlaku di masyarakat.
Urusan kasur ini harus menjadi hal yang bisa dinikmati bersama-sama antara suami dan istri. Jangan sampai menjadi agenda yang monoton dan membosankan, sehingga melakukan hubungan suami istri hanya semata-mata dalam konteks menunaikan kewajiban. Tanpa disertai dengan perasaan dan gairah saat melakukannya. Istri harus pandai menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggairahkan suami untuk urusan hubungan biologis ini, sehingga tercipta kenyamanan bersama.
Naya mendengarkan setiap nasehat dari Bi Marni dan hatinya mantap untuk mempertahankan suaminya supaya tidak tergoda lagi oleh sang pelakor.
Bersambung....
__ADS_1
Cieeee yang nungguin bab hareudang hareudang (MP)🤣🤣🤦🤦🤦🙏🙏
Canda maaf cuman canda..🤣