
Jihan menangis mengetahui pengkhianatan Tristan lebih tepatnya menangisi nasib putrinya. Putri yang selama ini mereka cari ternyata ada di dekatnya, putri yang dulu hilang diambil orang gila ternyata sudah ketemu dan menjadi menantunya.
Marko mengunci pintu kamarnya dan duduk di dekat Jihan. "Mah, Papa sudah memutuskan untuk menikahkan Tristan dan selingkuhannya secepatnya sebelum kandungannya semakin membesar."
"Mungkin ini akan semakin menyakiti Kanya tapi kita tidak punya pilihan lain selain menikahkan mereka," lanjut Marko mengusap kepala istrinya.
"Kenapa putri kita harus menderita seperti ini, Pah? seandainya Mama tahu kalau Kanaya putriku, Mama tidak akan menikahkan mereka. Mama ikut sakit dengan keadaan putriku yang mendapatkan pengkhianatan dari suaminya."
Jihan menangis sesenggukan di pelukan Marko lebih tepatnya menangisi keadaan Kanaya. "Kita juga tidak tahu dimana Naya sekarang. Pah, tolong cari putriku... tolong temukan dia... Mama rindu ingin memeluknya!" pinta Jihan mendongak memohon.
"Papa sudah mencari tapi Papa belum bisa menemukannya, Mah. Tapi, Papa akan berusaha mencarinya kalau perlu Papa akan meminta bantuan Bos Papa untuk membantu menemukan Kanaya."
Marko berkaca-kaca, ia juga rindu putri kandungnya.
Saat ke daerah S, Jihan dan Marko pergi ke rumah seseorang dimana mereka menemukan putrinya yang hilang 25 tahun yang lalu.
Mereka mendapatkan informasi dari detektif yang mereka sewa kalau Karin di temukan oleh sepasang suami istri dan dibawa ke daerah S.
Di sana Marko dan Jihan mengetahui bahwa orang yang menemukan Karin adalah Martin beserta Istrinya dan anak yang mereka rawat adalah Kanaya.
Sepulang dari sana, Marko dan Jihan berniat langsung menemui Kanaya di rumahnya tapi yang ada mereka kecewa sebab Naya tidak ada di rumah.
Sedangkan Tristan, seorang anak yatim piatu yang mereka adopsi. Orang tua Tristan meninggal akibat penyakit dunia, co ro na.
********
Kediaman Andrian
Jenni baru saja pulang dan langsung menemui Kakak yang sedang berada di dekat ruang Tv.
"Kak," panggilan duduk di samping Andrian.
"Hmmmmm," Andrian menjawab dengan deheman.
"Jadi orang itu Naya?" bisik Jenni memperhatikan Kanaya yang sedang berada di dapur.
"Iya, Kakak merasa bersalah terhadapnya, Jenn. Niat Kakak ingin membalaskan sakit hati tapi malah di kejutkan dengan kenyataan." Andrian ikut memperhatikan Kanaya yang terlihat sibuk memasak untuknya.
"Kakak, sih. Sudah ku katakan jangan balas dendam pada orang yang tidak tahu menahu akan hubungan Emily dan kekasihnya. Aku kasihan sama dia, kalau seandainya dia tahu orang yang mengambil kehormatannya bukan suaminya pasti dia akan merasa benci dan merasa terhina."
Andrian murung. "Kakak tidak yakin dia akan memaafkan ku."
Jenni mengangguk. "Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini?"
Andrian menoleh menatap keluarga satu-satunya yang ia miliki. "Sampai dimana Kakak menemukan orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya tanpa melihat siapa aku."
"Hmmmm kelamaan, aku ingin segera punya ponakan biar rumah kita ramai."
__ADS_1
"Kamu sudah memiliki keponakan, Jenn. Tapi dia sudah tiada," ucap Andrian sendu.
"What?! Kak, kau...." Jenni tercekat terkejut. Matanya tertuju kepada Naya.
"Iya, anakku dan Kanaya. Tristan mendorong Naya sampai terbentur dan anakku tiada karenanya." Andrian mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras tak terima.
"Jenni, kamu sudah pulang?" Naya menghampiri membawa nampan berisi makanan untuk Andrian.
Jenni dan Andrian kembali menormalkan sikapnya seperti biasa.
"Baru saja tiba. Oh, iya, apa tadi ada dokter kecantikan?" tanya Jenni.
"Ada, dia juga memeriksa kulit wajahku dan dia memberikan skincare yang cocok untuk kulit berjerawat. Kalau nanti gajian, aku bayar ke kamu ya." Naya menyimpan nampannya di atas meja dan menyodorkan minuman pesanan Andrian yaitu jus buah.
"Eh, tidak perlu. Itu sebagai salah satu hadiah dari kami supaya kamu betah kerja di sini."
"Hmmm tapi..."
"Tidak usah menolak rezeki, Nay. Mumpung Jenni baik sama kamu, kamu terima saja," sahut Andrian.
"Emangnya tidak apa-apa?"
"Tidak, aku malah senang uang ku ada yang membantu ngabisin." Jawab Jenni.
Naya tersenyum manis sampai memperlihatkan lesung pipi yang ada di sebelah kirinya dan itu membuat Andrian terpesona.
"Sama-sama."
Naya menunduk, ia gugup, dan ia memberanikan diri untuk meminta izin. "Hhmmmm Jenn, Andrian, apa aku boleh pulang ketemu mertuaku?" izin Naya menunduk.
Mereka berdua mengerutkan keningnya. "Kamu kangen mereka atau kangen suamimu?" tanya Andrian menyimpan gelas di meja.
"Aku kangen Mama Jihan, mereka sangat baik padaku dan aku ingin tahu kabar mereka. Tapi, kalau kalian tidak mengizinkan tidak apa-apa."
"Saya izinin kamu pulang, tapi tidak kerumah suamimu karena saya takut suamimu akan menyakitimu lagi!" ucap Andris memberikan izin penuh ketegasan dan peringatan.
"Terima kasih, Andrian." Naya senang akan bertemu kedua mertuanya.
**********
Kediaman DELANO
Hari ini akan di adakan pernikahan siri antara Tristan dan Emily. Kedua orangtuanya Tristan hanya mengundang orang-orang tertentu lebih tepatnya hanya ada sekitar beberapa orang saja mengingat ini adalah pernikahan siri antara mereka.
Bahkan rumahnya juga tertutup rapat supaya tidak ada tetangga yang curiga.
"Kenapa hanya nikah siri sih sayang? aku maunya nikah resmi." Emily menggerutu sudah bersiap memakai pakaian gaun tapi bukan gaun pernikahan.
__ADS_1
"Mau gimana lagi, kamu harus bersedia aku nikahi siri. Kamu juga kan yang minta cepat-cepat untuk di nikahi, jadi jangan menggerutu. Kau tahu kalau aku sudah memiliki istri dan sudah resmi tercatat di negara." Bisik Tristan berada di samping Emily yang sudah siap untuk melakukan pernikahan keduanya.
Emily cemberut memaksakan tersenyum di hadapan segelintir orang.
*********
Sesuai kesepakatan semalam, Naya akan pulang ke rumah mertuanya mumpung Jenni sedang libur kerja.
"Aku pamit pulang dulu, terima kasih sudah membantuku dan terima kasih sudah memberikan pekerjaan untukku." Naya berpamitan kepada dua orang yang sudah berada di halaman depan rumah mengantarkan Naya.
Naya merasa terharu di perlakukan baik oleh mereka. Dia bersyukur masih ada orang-orang baik di sekelilingnya.
"Kamu hati-hati dan jangan mudah di tindas oleh suamimu itu. Kalau kamu ingin cerai, aku siap membantumu di pengadilan," tutur Jenni.
"Iya, siap. Soal perceraian, untuk saat ini belum terpikir lagi. Aku ingin melihat dulu sejauh mana mereka bermain dan aku bertekad untuk membalas permainan mereka."
"Bagus itu, kalau kamu butuh bantuan, aku siap membantumu termasuk mencarikan calon pacar untuk di jadikan selingkuhanmu," ucap Jenni.
"Jenni..!" tegur Andrian tidak menyukai usul Jenni.
"Pasti." Naya pun masuk kedalam taksi setelah berpamitan kepada Andrian dan Jenni.
"Apa yang kamu katakan? kenapa kamu malah menawarinya calon pacar?" tanya Andrian setelah Naya pergi, ia membuka kacamata hitamnya menatap tajam Jennifer.
"Siapa tahu dia butuh seseorang untuk membantu membalas suaminya. Aku cuman ngusulin aja apa yang ada di pikirkan."
"Tapi tidak dengan mencari pacar juga!" Andria kesal pada adiknya.
"Ada apa dengan Kakak ku ini? kenapa kau kelihatan tidak suka Kanaya mencari pacar? oww, apa kau menyukainya?" Jenni menggerakan alisnya ke atas ke bawah.
"Iissss, tau ah... jangan rekomendasikan orang lain selain Aldo!" Andrian menekan tombol dan kursinya berjalan dengan sendirinya.
"Hahahaha Kakakku cemburu."
*********
Naya sudah sampai di depan rumah mertuanya. Dia membayar taksi kemudian turun dari mobil melangkah ringan.
Tapi ia bingung melihat banyak sendal di luar. "Kenapa banyak sendal, tapi pintunya tertutup rapat?" meski bingung, Naya tetap masuk.
Tristan sudah siap berjabat tangan, pak penghulu mulai melakukan ijabnya. Dan tak berselang lama kata sah terucap dan terdengar jelas di telinga yang baru saja membuka pintu rumah.
Naya mematung di dekat pintu menyaksikan suaminya sedang melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinnya. Dadanya sesak, hatinya teriris melihat suami yang mulai ia cintai benar-benar tega menghancurkan mahligai rumah tangga mereka.
"Kalian menikah tanpa sepengetahuan ku?" ucap Naya membuat mereka menoleh.
"Kanaya..!"
__ADS_1
Bersambung.....