
Tristan melangkah membawa sebuket bunga lili kesukaan Claudia. Pria itu memutuskan untuk melamar kembali wanita yang dulu sempat ia sakiti sangat dalam. Kini, dirinya telah sadar bahwa perasaannya hatinya memang mencintai perempuan itu.
Untuk cintanya kepada Emily, dia sadar hanya sebatas kepuasan di atas ranjang. Untuk cintanya kepada Kanaya, dia sadar kalau itu hanya rasa bersalahnya karena sudah memperlakukan Naya tidak baik. Sedangkan perasaannya kepada Claudia, itu tulus dari dalam hatinya.
Bagaimana cara dirinya mendekati wanita jutek, sedingin itu, bagaimana perasaannya saat Claudia di dekati pria lain. Ia sakit melihat wanita itu menangis, ia bahagia melihat wanita itu bahagia. Namun, bodohnya dia menafsirkan perasaannya hanya sebatas ingin menaklukan saja sampai pada akhirnya dialah orang pertama yang merenggut apa yang seharusnya Claudia jaga. Dan untuk pertama kalinya dirinya juga melakukannya dan itupun bersama Claudia.
Tristan juga sudah mulai melakukan pengobatan supaya pusakanya kembali berdiri. Dan, dirinya berjanji kepada diri sendiri serta kepada orang tua yang menyayanginya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tidak akan pernah mengulang hal yang sama.
Dia sadar, jika hukuman Tuhan itu nyata. Dia sadar, jika yang menimpa padanya adalah sebuah teguran dari Tuhan agar dia kembali ke jalan-NYA. Dan dia sadar, kalau Tuhan masih menyayanginya dengan cara seperti ini.
Tristan tersenyum melihat Ibu dari anaknya sedang bersiap untuk pulang. Dia mendekatinya dan memberikan sebuket bunga yang ia bawa ke hadapan Claudia.
Claudia yang membelakangi Tristan terkejut ada bunga di hadapannya. Dia menoleh ingin tahu siapa yang memberikannya.
"Tristan...!"
"Bunga lili untukmu," ucap Tristan tersenyum manis.
Claudia menggeser tubuhnya kesamping karena tidak nyaman Tristan begitu dekat dengannya. Wanita itu menatap bunga lilinya.
"Dalam rangka apa kamu memberikan ku bunga?"
Tristan tiba-tiba berjongkok menumpukan salah satu lututnya ke lantai. Tangan kirinya memegang bunga, tangan kanannya memegang sebuah kotak perhiasan. Tristan membuka kotak itu dan nampaklah sebuah cincin yang indah.
Claudia tertegun dengan apa yang di lakukan Tristan.
"Claudia, aku bukanlah pria sempurna, aku juga pria pendosa. Jika berkenan, izinkanlah pria pendosa yang tak sempurna ini menjadikanmu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupku. Maukah kau menikah dengan ku?"
Deg....
Claudia mematung tak percaya di lamar di depan banyak orang. Dia menatap serius pria yang sedang berjongkok di hadapannya.
Hatinya seketika menjadi bimbang, jantungnya berdebar-debar. Dia bingung harus menjawab apa.
"Terima... terima..."
Sorak ramai para staf terdengar di telinga Claudia sampai ia mendongak mengedarkan pandangannya dan...
Deg....
Jantungnya kembali tertegun di saat bola matanya saling bertubrukan dengan manik mata enamel. Hatinya semakin tak menentu, pria yang ia harapkan ada di sana. Namun, ia tak berani berkata karena dia sadar siapalah dia yang hanya wanita murahan.
__ADS_1
"Mike... kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku? apa yang harus ku lakukan Mike? Tuhan tolong beri aku petunjuk untuk memilih di antara dua pilihan. Mike atau Tristan? jika Mike memiliki perasaan yang sama, aku akan memilihnya. Jika dia tidak memiliki perasaan itu, aku memilih Tristan demi Ariel." Batin Claudia menatap lekat-lekat pria yang tak jauh dari hadapannya.
"Claudia, bagaimana? maukah kau menikah denganku?" tanya Tristan kembali. Claudia tersadar dan ia menunduk lagi kemudian mendongak lagi. Namun, Mike sudah pergi dari sana.
Wanita itu memejamkan mata membuang nafasnya secara kasar.
"Tristan, beri aku waktu untuk berpikir sebelum menjawabnya. Maaf," lirih Claudia tak enak hati.
Tristan menunduk lesu. Dia mengerti dan dia tidak akan memaksa Claudia. Tristan memaksakan tersenyum sambil beranjak berdiri.
"Tak apa-apa. Aku tidak akan memaksa mu, dan aku akan menunggu jawaban darimu besok. Kita pulang yuk. Aku antar kamu pulang. Dan kamu ajak juga Ariel." Ajak Tristan dan Claudia mengangguk.
**************
Mike tak bisa bohong jika hatinya panas melihat Claudia di lamar pria lain. Selama lima bulan terakhir dekat dengan wanita itu membuat hatinya merasakan hal yang aneh. Ingin selalu dekat, ingin melihat dia tertawa, ada rasa ingin melindunginya.
Mike bukan pria polos yang tidak tahu arti perasaan aneh tersebut. Biarlah orang lain berkata dia mudah berpaling, biarlah orang lain berkata cinta kepada mantan istrinya hanya seujung kuku. Namun, kenyataannya perasaan tiada yang tahu.
"Apa kamu menerima lamaran Tristan? ku mohon jangan menerimanya? aku menyukaimu," batin Mike termenung memeluk tubuh mungil Ariel.
"Papa, Mama tuh." ucap balita itu menunjuk Claudia. Mike menoleh dan ternyata Claudia tidak sendiri melainkan dengan Tristan.
"Pak, saya mau mengambil Ariel, maaf merepotkan." Ucap Claudia tak enak hati.
Tristan mengernyit bingung. "Belum, Pak. Dia belum menjawab. Masih di gantung," jawab Tristan jujur.
Mike melirik ke arah Claudia yang juga tengah menatapnya. Hatinya merasa lega, dan ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Tak apalah di bilang egois asalkan dia tidak mati penasaran.
"Hmmm, kamu tolong hitung pemasukan 3 bulan ini dan segera berikan laporannya kepada Bos. Dia sedang menunggu laporan tersebut sekarang juga!"
"Lho, pak. Pak Andrian tidak memberitahukan masalah ini pada saya sebelumnya? itulah sebabnya saya pulang lebih awal."
"Itu dia, baru saja saya dapat kabarnya. Mending kamu segera urus daripada kau lembur."
"Hmmm baiklah. Claudia, aku minta maaf tidak bisa mengantarkanmu pulang." Ujar Tristan tak enak hati.
"Aku tidak apa-apa, pekerjaan jauh lebih penting. Kamu sudah di tunggu, pergilah! aku dan Ariel bisa pulang naik taksi."
Sebenarnya Tristan tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Dan diapun kembali keruangan kerjanya.
"Hmmm aku antar kamu pulang, sekalian ada yang ingin aku bicarakan," kata Mike menggandeng tangan Claudia.
__ADS_1
"Tapi, Pak...."
"Jangan menolak!"
***********
"Apa kamu masih mencintai Tristan? jawab yang jujur!" tanya Mike setelah berada di dalam mobil sambil menyetir.
"Kalau dulu iya, sekarang Tidak."
Jawaban Claudia bagaikan angin segar menerpa Mike.
"Lalu, siapa sekarang yang sedang dekat dengan kamu?"
"Bapak. Kita memang dekat. Nih, saling bersebelahan."
"Maksud saya pria yang sedang mendekati hatimu."
"Cuman Tristan. Tapi saya tidak suka karena hati saya sudah terpaut pada pria yang membuat putra saya bisa tertawa."
"Siapa pria itu? tidak bisa di biarkan, ternyata banyak yang mendekatinya," batin Mike.
"Claudia, saya... saya menyukaimu."
Deg...
Sontak Claudia menoleh ingin mendengar lagi ungkap itu.
"Maukah kamu menikah dengan ku? aku menerima kamu apa adanya terlebih siapa kamu dulu. Aku menyukaimu entah sejak kapan. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku jika aku menginginkanmu. Izinkan aku menjadi pelengkap setiap kekuranganmu dan izinkan kekuranganmu menjadi pengingat ku jika manusia tidak lah sempurna agar kelak kita sama-sama bisa saling melengkapi."
"Ka kamu..." Claudia tercekat berkaca-kaca.
"Apa kamu tidak akan malu memiliki wanita kotor sepertiku?"
"Itu hanya masa lalumu dan aku menerima masa lalu kamu. Aku tanya sekali lagi, maukah kamu menikah denganku?"
"A aku... bersedia."
"Hoyeee...." Ariel tiba-tiba berteriak bertepuk tangan.
Mike tersenyum, dia mengusap kepala balita itu dan tangannya terulur mengusap pipi Claudia. Dan itu membuat wanita itu bersemu merah.
__ADS_1
Hatinya memilih Mike, pria yang selalu ada di kala ia sedih. Pria yang membela dia di depan orang. Pria yang mampu membuat putranya tertawa lepas. Dan soal Tristan, dia akan bicara baik-baik padanya.
Bersambung.....