
Pagi-pagi sekali Naya sudah bangun, wanita yang berumur 25 tahun itu segera mandi, sedikit berdandan kemudian ke dapur menyiapkan makanan untuk sarapan.
Tristan yang baru bangun tidur juga keluar kamar menghampiri dapur. Keduanya tidur terpisah di karenakan Tristan sendiri yang menginginkan nya.
Tristan dan Kanaya menikah sejak delapan bulan yang lalu tanpa adanya cinta diantara keduanya. Mereka mendadak menikah di saat orangtua Naya sedang kritis. Orangtuanya Tristan tentu tidak keberatan mengenai pernikahan mendadak itu dan justru mereka malah senang Tristan menikah.
Meski mereka menikah secara mendadak, Naya berusaha untuk mencintai suaminya dan berusaha menjadi istri yang baik meski Tristan sering cuek.
Dua bulan awal pernikahan, keduanya terbilang baik tanpa ada cekcok atau masalah karena keduanya sama-sama saling berusaha untuk menerima dan sama-sama belajar mencintai.
Namun setelah memasuki bulan ketiga, Tristan mulai berubah menjadi cuek, jarang komunikasi, dan sering telat pulang. Tristan juga mulai mengurangi jatah bulanan dan mulai sering memarahi Naya. Dan ternyata, perubahannya berlangsung sampai enam bulan di karenakan adanya orang ketiga.
Tristan heran melihat Naya sudah rapi mengenakan baju hitam berkancing bintik-bintik putih dipadukan dengan rok rempel di bawah lutut berwarna pink.
"Kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" tanyanya sambil duduk di meja makan.
"Cari kerja," jawab Naya simpel.
"Cari kerja atau mau cari pria beruang?"
Naya malas berdebat, ia tak menjawab ucapan Tristan. Meski rumah tangganya bermasalah, Naya masih tetap melakukan pekerjaan rumah.
"Apa kamu mencintai pelakor itu?" ucap Naya menunduk mengaduk-aduk nasi goreng buatannya.
"Pelakor...? Oh, Emily maksudmu? aku memang mencintainya, lalu?"
__ADS_1
"Ceraikan aku!" balas Naya mendongak menatap serius wajah Tristan.
Tristan yang akan memasukan makanan pun terhenti. Ia menyimpan pelan sendok yang di pegang ya, meski hanya dua kata namun itu mampu membuat hati Tristan tidak karuan.
"Apa maksudmu?"
"Ceraikan aku kalau kau memang mencintainya, aku tidak ingin hidup bersama orang yang tidak menginginkan diriku. Soal orangtuamu, aku yakin mereka akan mengerti."
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu." Tristan menolak tegas permintaan Naya.
"Kenapa? bukankah kamu tidak mencintaiku? bukankah kamu mencintai sang pelakor itu? lalu kenapa kamu tidak akan menceraikan aku? aku tidak mau di madu dan tidak mau hidup dengan pria seperti dirimu. Bukan kebahagiaan yang ku dapat melainkan siksaan batin yang kudapat," Naya sedikit meninggikan suaranya.
Tristan sendiri bingung kenapa hatinya tidak ingin menceraikan Kanaya.
"Pokoknya aku tidak akan menceraikan mu karena perceraian di benci Tuhan, Nay. Lagian aku harus tetap menjadi suamimu dan menjagamu atas amanah yang orangtuamu berikan untukku." Monolog Tristan tak masuk di akal atau memang hanya sebuah alasan saja.
Prang...
"Aku bilang tidak, ya tidak, Kanaya. Kamu harus nurut sama aku dan jangan pernah coba-coba untuk minta cerai dariku!" sentak Tristan membanting gelas yang ia pegang.
"Kamu egois Tristan!" sentak Naya juga membanting sendok yang ia pegang. Dia berdiri kemudian masuk kedalam kamar mengambil tasnya kemudian keluar rumah.
"Nay, kamu mau kemana? Nay!" panggil Tristan tapi tak di hiraukan oleh Kanaya.
********
__ADS_1
Saat keluar dari rumah, Naya berlari sekencangnya untuk menghindari Tristan dan untungnya Tristan belum mandi dan harus bersiap kekantor sehingga membuat Naya berhasil menjauh dari rumahnya.
Setiap langkah perjalanan hati Naya terus mengumpat suaminya. "Dasar pria egois, brengsekkk, bajingaaan, tak punya hati. Baiklah, kalau itu maumu maka jangan salahkan aku kalau aku mencari kesenangan di luaran sana."
Naya menggerutu kesal, marah, benci menjadi satu, matanya tak terus menunduk dengan bibir yang terus komat Kamit bagaikan Mbah dukun baca mantra.
Dug... Naya tak sengaja menubruk seseorang saking cepatnya berjalan.
"Aduh, maaf, maaf, aku tak sengaja," kata Naya kepada seorang wanita cantik yang mungkin seumurannya.
"Tidak apa-apa, aku juga salah karena terus menunduk memperhatikan kertas-kertas ini," jawabnya menunjukan kertas lowongan kerja.
Naya melihatnya dan mengambil kertas itu kemudian membacanya. "Kamu sedang mencari perawat?"
"Iya, kalau ada sanak saudaramu yang berminat boleh datang ke alamat ini. Hanya membutuhkan satu orang saja dan untuk soal gajinya nanti bisa di bicarakan di rumah."
Naya menatap kertasnya. "Aku kan belum dapat kerjaan, kebetulan sekali ya," batinnya.
"Aku permisi dulu."
"Eh, tunggu!" Naya mencegahnya. "Aku mau daftar, apa boleh?"
Wanita tersenyum kemudian mengangguk. "Kalau gitu kamu ikut aku kerumah sekarang juga!" ujarnya penuh perintah.
Dengan antusiasme yang tinggi, Naya mengangguk. Kedua wanita yang baru bertemu itu berangkat barengan, meski Naya menolak tapi Jenni tetap memaksa dan alhasil Naya bersedia ikut bareng Jenni.
__ADS_1
Bersambung....