SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
EXTRA PART : Menuju Persalinan


__ADS_3

Setelah melewati beberapa tikungan, tanjakan, lika liku dalam rumah tangga, karier, kini usia kehamilan Kanaya telah memasuki sembilan bulan.


"Sayang, apa kamu yakin akan hadir di acara pernikahannya Mike dan Claudia? mending kita tidak usah datang ya? kata dokter, besok kan perkiraan HPL kamu." tanya Andrian sudah siap mengenakan pakaian rapi. Dia menuntun istrinya yang sedang hamil besar berjalan ke arah mobil.


"Aku yakin, sayang. Lagian, aku belum merasakan kontraksi. Kalau kita datang, tidak enak sama mereka. Mike sahabat kamu, Claudia juga keluarga aku." Naya tersenyum meyakinkan padahal dirinya sudah mulai merasakan keram di area perut. Namun, demi kedua orang yang ia sayangi dan ingin menghadiri pernikahan keduanya, dia tidak memberitahukan Andrian.


"Tapi..."


"Udah, aku tidak apa-apa. Kalau nanti aku merasakan kontraksi pasti akan ku beritahukan sama kamu. Kamu tidak usah khawatir, sayang." Tutur Naya tersenyum sembari memasang seat belt.


Andrian menatap istrinya untuk meyakinkan, ia takut jika nanti malah membuat sang istri kelelahan. Tapi, setelah Naya meyakinkan, dia merasa jika istrinya akan kuat dan dia berpikir kalau mungkin dedek bayi belum ingin keluar dulu.


*****************


"Saya terima nikah dan kawinnya Claudia Amora binti Almarhum Suyanto dengan maskawin uang sebesar satu milyar dan sebuah rumah di bayar tunai..." ucap Mike dengan lantang hanya dengan satu kalia tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? sah?" tanya penghulu kepada para saksi yang mejadi saksi pernikahan mereka.


"Sah..."


"Sah..."


"Saaaaaaaaah..."


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.


Senyum mengembang sempurna dari bibir kedua mempelai setelah di katakan sah. Claudia mencium punggung tangan Mike penuh khidmat, dan Mike mencium kening Istrinya penuh perasaan.


Mereka terpejam merasakan perasaan lega berselimut bahagia di penuhi ketulusan di kala bibir merah alami Mike yang tak pernah tersentuh nikotin menempel di kening Claudia.


Kedua pengantin tersebut meminta doa restu kepada para orang tua yang ada di sana. Di susul oleh para sahabat, para rekan bisnis yang mengucapkan selamat kepada mereka.


"Selamat Mike, semoga pernikahan kalian langgeng dan segera di berikan momongan," ucap Andrian memeluk sahabatnya. Di susul oleh Kanaya.


"Selamat ya, Clau. Aku sangat bahagia atas pernikahan kalian. Doa terbaik ku panjatkan demi keutuhan rumah tangga kalian berdua," ujar Naya menahan sakit. Lalu di susul oleh pasangan Jenni dan James, lalu Tristan.


Tristan menyodorkan tangannya memberikan ucapan selamat untuk Mike dan juga Claudia sambil menggendong Ariel. Tapi, balita itu justru merentangkan tangannya meminta di gendong oleh Mike.

__ADS_1


Mike tersenyum tulus dan dengan senang hati mengambil alih Ariel dari Tristan lalu menerima uluran tangan Tristan.


"Ku ucapakan selamat untuk kalian berdua. Semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan. Mike, aku titipkan Claudia padamu dan tolong kau jaga dia baik-baik! Jangan sakiti dia apalagi menduakannya. Jika itu terjadi, jangan salahkan aku merebut istrimu!" ujar Tristan serius.


Tristan sudah merelakan Claudia bersama pilihannya. Dia tidak ingin lagi memaksakan hati seseorang untuk tetap bersamanya. Biarlah dia mengorbankan cintanya demi kebahagiaan orang yang ia cintai. Tristan sadar, kalau cinta tak harus memiliki.


"Aku tidak bisa janji soal itu. Tapi akan ku usahakan untuk tidak menyakitinya dan menjadikan dia wanita satu-satunya yang bertahta di hatiku dan menjadi ratu di rumah kita," jawab Mike tak kalah tegas dan yakin.


Claudia tersenyum menatap suaminya. Dia merasa bahagia bisa di cintai oleh Mike yang tak pernah sedikitpun mengungkit masalalunya dan menerima dia dengan segala kekurangannya.


Tak lama kemudian, mantan istri Mike datang.


"Mas, selamat ya." Ucap Lintang memaksakan tersenyum di tengah hati yang terluka karena orang yang ia pilih ternyata tak setia.


"Sama-sama. Suamimu mana? tidak ikut kah?" tanya Mike yang tak melihat suami sekaligus atasan Lintang di dunia permodelan.


"Dia lagi bekerja. Claudia, tolong jaga Mike! Aku percaya kamu akan membahagiakannya lebih dari aku," Kata Lintang memeluk Claudia.


"Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga hati dan membahagiakan Mike."


*************


"Sayang, apa yang kamu lakukan? aku tidak apa-apa." Naya terkejut Andrian sampai melakukan itu di hadapan tamu undangan.


Dia merasakan kembali rasa mules seperti ingin buang air besar dan dia duduk sejenak mencengkram kuat meja di sampingnya. Bibir bawahnya ia gigit sedikit menetralisirkan rasa sakit yang kian lama kian semakin sering.


"Tidak apa-apa, sayang." Andrian belum ngeh dengan apa yang terjadi pada istrinya sebab ia menunduk memijat kaki sang istri.


"Sayang," lirih Naya di kala rasa sakit itu kembali datang. Andrian mendongak, dia terkejut melihat wajah istrinya seperti menahan sakit.


"Sayang! Kamu kenapa?!" Andrian panik, ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Naya.


"Perutku..." Naya seolah tak bisa berkata. Dia beralih mencengkram tangan Suaminya.


"Nay, apa perut kamu merasakan sakit? kita kerumah sakit ya, sayang. Tidak ada penolakan!" Andrian mengerti, dia segera membopong Naya sebab Istrinya sudah mengaduh kesakitan. Dia berpikir jika kemungkinan istrinya akan melahirkan ketika mengingat ucapan dokter kalau HPL akan bisa baju bisa juga mundur.


"Kak, kalian mau kemana? Kanaya kenapa?" cegah Jenni melihat Kakaknya membopong Naya.


"Perut Naya mules katanya. Kakak akan kerumah sakit. Kakak pergi dulu, ya!" Andrian sedikit tergesa membawa istrinya.

__ADS_1


"Kak, aku ikut..." Jenni pun ikut berlari menyusul Andrian. James meminta izin kepada kedua mempelai pengantin untuk lebih dulu meninggalkan acara.


Mama Jihan, Marko dan Tristan yang melihat Andrian tergesa membawa Naya juga ikutan mengejar setelah di beritahukan oleh James kalau Kanaya sepertinya akan melahirkan.


Namun, di saat Tristan sedikit berlari, dia tidak sengaja menabrak seseorang wanita sampai makanannya yang di bawa wanita itu tumpah.


Prang...


"Sorry, sorry, saya tidak sengaja. Saya lagi terburu-buru, adik saya mau melahirkan," ucap Tristan meminta maaf karena tak enak hati telah menabraknya.


"Tidak apa-apa saya juga salah tidak hati-hati karena saya berjalan tanpa melihat depan," jawab Lintang. Ya, wanita yang di tabrak Tristan adalah Lintang. ( Adakah yang ingat dengan Lintang yang Marko kenalkan sebagai asisten Naya? )


"Tristan ayo!" pekik Jihan dan Tristan menoleh.


"Iya, Mah. Sekali lagi saya minta maaf. Maaf, saya permisi dulu," Tristan pergi meninggalkan Lintang lalu menghampiri Jihan.


**********


"Kita periksa dulu ya sudah pembukaan berapa." ucap Dokter kandungan yang menangani Kanaya selama melakukan pemeriksaan.


Andrian dan Jihan ikut masuk ke ruangan persalinan yang dimana telah Andrian siapkan untuk persalinan istrinya.


"Ayo buka kakinya, Bu. Kita semua perempuan kecuali suami ibu yang sering lihat jadi tidak usah malu!" lanjut Dokter Vera tersenyum manis.


"Harus di buka?" tanya Naya memastikan. Dia enggan membuka kakinya karena merasa malu. Meski di ada perempuan semuanya terkecuali Andrian, tapi dia tetep malu.


"Benar, Bu. Harus di periksa sejauh mana pembukaannya biar kita tahu berapa lama lagi kita menunggu."


"Gap pa pa, sayang. Ayo!" kata Jihan.


Naya kembali mencengkram genggaman tangan Andrian di saat kontraksi kembali datang. Kali ini kontraksinya berlangsung cukup lama sampai membuat Naya putus asa. Dibawah sana bayinya sepertinya mendesak ingin segera keluar.


Di saat itu pula Naya repleks membuka kakinya lebar-lebar dan dokter Vera pun bersiap memasukan tangannya ke inti Naya menggunakan sarung tangan sekali pakai untuk memeriksa pembukaannya sudah berapa.


"Pembukaannya sudah lengkap," ucap Vera. Dan, tim medispun sudah siap dengan tugas-tugasnya.


Andrian panik, wajahnya memucat, ia terus membisikan doa-doa di telinga istrinya sambil mengelus pucuk rambut sang istri. Matanya berkaca-kaca tak tega melihat istrinya kesakitan.


"Kamu kuat, sayang. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2