SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Ucapan Marko


__ADS_3

"Pah, apa Tristan akan menceraikan Naya?"


"Papa juga tidak tahu, Mah. Tapi kata Nak Jenni surat gugatan cerai sudah di berikan kepada Naya dan tinggal Naya memberikan kepada Tristan untuk di tandatanganinya. Kalau sudah di tandatangani tinggal nunggu akta cerai," jelas Marko.


"Mama harap Tristan mau menceraikan Naya, Mama tidak mau Naya terus di sakitnya dan tidak mau tinggal bareng mereka."


"Papa juga berharap seperti itu. Mah, tadi di mall Papa bertemu Naya dan juga bos Papa." lanjut Marko menyeruput kopi dan menyimpannya kembali.


"Mereka jalan bersama?" Jihan penasaran kenapa Naya bisa kenal dengan bos suaminya.


"Papa tidak tahu pasti dan Papa mengakui Emily sebagai istrinya Tristan dan juga atas suruhan bis Papa."


"Tunggu, tunggu, Mama belum mengerti duduk perkaranya seperti apa. Tolong jelaskan yang sedetail-detailnya!" Jihan bingung.


"Bos Papa ANDRIAN GERALDO pemilik AG TRADE CENTER. Dia mengalami kecelakaan dua hari sebelum hari H sampai menyebabkan kakinya cidera. Namun, kecelakaan itu malah membuat ia untuk berpura-pura lumpuh dan buta."


"Kenapa seperti itu?" tanya Jihan bingung.


"Papa tidak tahu apa yang dia rencanakan tapi setahu Papa kalau Nak Aldo tidak mempublikasikan istrinya sampai sekarang."


"Di saat menikah juga hanya orang-orang intinya saja termasuk Papa yang juga ikut menjadi saksi pernikahan Aldo. Dan apa Mama tahu siapa istri pertamanya?"


"Siapa?"


"Emily...."


"Apa?! apa jangan-jangan Aldo menceraikan Emily karena ia tahu kalau Emily selingkuh dengan Tristan?"


"Bisa jadi, Mah. Dan yang membuat Papa bingung ialah, kenapa Aldo memperkerjakan Naya sebagai perawatnya dan menyuruh Papa untuk tidak mempublikasikan Naya sebagai istri Tristan?" kata Marko bertanya-tanya.


"Lho, kok Papa hampir tahu segalanya, sih?"


"Nak Aldo sering curhat mengenai hidupnya dan ia percaya kalau Papa dapat menyimpan rahasia dia. Sekarang Papa baru menceritakan kepada Mama dan Papa juga minta, jangan sampai rahasia ini bocor kesiapapun!" ucap Marko penuh peringatan.


"Mama orangnya tidak ember dan pandai menjaga rahasia, jadi aman-aman saja!"


Marko tersenyum mengusap tangan istrinya. "Sebelum Naya menggugat cerai Tristan, Papa sudah mengajukan duluan perceraian mereka ke pengadilan. Jadi, saat Naya berkata ingin cerai suratnya sudah siap dan Papa juga yang membayar semuanya."


"Mah, Papa mau ke rumah Tristan untuk memastikan keadaan Kanaya." Marko berdiri.


"Mama ikut!" Jihan juga berdiri dan Marko mengangguk.


*******


Naya bingung mau pergi kemana, ini sudah malam dan akan sulit kendaraan di daerah sini. Wanita berdagu belah itu duduk di pinggir jalan memegang gagang koper yang ada di depannya.

__ADS_1


Dia menunduk sambil terisak kecil. "Kenapa rasanya sesakit ini? aku mencintaimu tapi kamu malah memilih dia."


"Kanaya," panggil seseorang.


Naya mendongak. "Jenni." Naya langsung berdiri kemudian Jenni menghampiri dan memeluk Naya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tristan menalakku, kita sudah bercerai," ucap Naya menangis di pelukan Jenni.


Jenni mengusap punggung Kanaya. "Jangan tangisi pria seperti nya, kamu harus tunjukan kepada mereka dan kepada dunia kalau kamu wanita kuat dan bisa hidup tanpanya."


"Biarkan mereka berbahagia dengan caranya dan kamu juga harus bahagia dengan cara kamu sendiri. Fokuslah pada diri kamu sendiri dan jangan hiraukan mereka yang menyakitimu!" nasehat Jenni serius.


Naya mengurai pelukannya dan menghapus air matanya secara kasar. "Kamu benar, aku tidak boleh menangisi pria macam Tristan, dia tidak pantas ku cintai. Aku akan bangkit demi masa depanku."


Jenni tersenyum. "Harus semangat!"


"Semangat..." balas Naya tersenyum. Mereka silau dengan lampu mobil yang menyoroti ke arahnya.


********


Jihan sudah tidak sabar ingin ketemu Naya dan membawanya ke rumah dia. "Pah, itu Naya kan?" tunjuk Jihan.


"Buruan kita samperin, Pah!" titah Jihan dan Marko menepikan mobilnya kemudian keluar.


"Kanaya, kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Jihan langsung memeluk Naya.


"Aku tidak apa-apa, kenapa kalian ada di sini?" tanya Naya kembali dan membalas pelukan Jihan yang terasa nyaman.


Jihan melepaskan pelukannya. "Kami ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kami khawatir dengan kamu."


Naya menunduk sedih.


"Kenapa, Nay? apa yang terjadi dan kenapa kamu membawa koper?" kali ini Marko yang bertanya.


"Aku dan Tristan sudah bercerai," jawabnya jujur masih menunduk takut dan sedih.


"Syukurlah, kami senang kamu berpisah darinya." Ucap keduanya membuat Naya mendongak bingung.


"Kamu ikut pulang ke rumah kami, ya? ayo!" ajak Jihan.


"Tidak, Mah. Aku..."


"Kamu ikut mereka saja, Nay. Mereka juga orang tua kamu dan akan lebih aman tinggal bareng mereka," sahut Jenni.

__ADS_1


"Nak Jenni benar, ayo!" ajak Marko membawa koper dan memasukkan ke dalam bagasi.


"Naya Mama mohon, Nak!" Jihan memohon dan membuat Naya tak enak hati kemudian mengangguk.


Jihan tersenyum kemudian memeluk Naya hatinya berkata, "Tak akan lagi kita terpisahkan, anakku."


"Nak Jenni mau ikut juga?" tanya Marko.


"Ah, tidak pak. Saya harus melanjutkan perjalanan, kasian Kakak saya sendirian." Tolak Jenni.


"Oh gitu, saya ucapkan terima kasih sudah membantu mengurus surat perceraian Naya dan titip salam buat kakakmu Pak Aldo," ucap Marko dan Jenni melotot.


"Eh maksud saya Nak Andrian." ralat Marko melirik Naya yang terlihat kebingungan.


"Sama-sama, Pak. Nanti saya sampaikan salam Anda, kalau gitu saya pamit dulu. Mari Pak Marko, Tante Jihan." Pamit Jenni sopan.


"Nay aku duluan ya!" ujar Jenni dan Naya mengangguk.


*********


Setibanya di depan kediaman Marko, Naya mematung enggan masuk meski dirinya sering keluar masuk. Kali ini statusnya berbeda dan Naya bukan lagi bagian dari keluarga Marko Delano.


"Kenapa berhenti di sini? ayo masuk!" ajak Jihan terheran.


"Iya, ayo masuk! Kamu bukan lagi menantu kita tapi kamu adalah putri kita. Jadi, tidak perlu sungkan untuk masuk ke rumah ini karena ini rumah kamu juga." timpal Marko.


"Ada yang harus Papa bicarakan sama kalian," lanjutnya.


Karena penasaran, Naya masuk dan mereka sudah duduk. Jihan berada di samping Naya dan Marko berada di hadapan mereka.


"Papa minta maaf soal yang terjadi di mall. Papa punya alasan belum mempublish mu sebagai istri Tristan. Papa akan mempublikasikan kamu bukan sebagai menantu tapi sebagai anak dari Marko Delano dan Jihan Alexa sebagai pewaris tunggal perusahaan BEAUTY CARE."


Deg...


Naya dan Jihan sampai terkejut dengan kata beauty care.


"Pah, maksudnya gimana?" tanya Jihan dan Naya bersamaan.


"Nay, kamu adalah putri kandungku yang hilang 25 tahun yang lalu dan BEAUTY CARE Papa bangun 5 tahun yang lalu untuk kamu."


"Apa?!" Jihan dan Naya terkejut. Naya terkejut mengenai anak kandung sedangkan Jihan terkejut mengenai perusahaan beauty care yang ia tahu perusahaan kosmetik yang sedang terkenal di negaranya.


Bersambung......


Nah, lho, bingung kan? ada lagi kejutan-kejutan yang bikin aneh dan penasaran? 🤣🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2