
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Jenni telah tiba. Perhelatan akbar pernikahan antara Jennifer dan James telah di depan mata. Grand ballroom hotel telah di hias sedemikian rupa untuk menjadi saksi tempat di adakannya akad nikah dua insan yang saling mencintai.
Di sebuah kamar presidential suite hotel, nampak calon pengantin perempuan yang sudah selesai di rias oleh MUA sedang duduk di depan meja rias. Senyuman nya tak pernah pudar, dan wajahnya nampak memperlihatkan raut bahagia. Ya, dia adalah Jennifer Geraldo, adik dari Andrian Geraldo.
Dengan tubuh di balut kebaya putih rancangan kakak iparnya menambah kesan elegan. Serta rambut di sanggul modern tersemat mahkota kecil di atas kepalanya membuat Jenni semakin menawan.
Begitupun di kamar lainnya, James telah siap menggunakan baju akad yang juga rancangan Kakak ipar dari calon Istrinya. Pria berusia 28 tahun itu juga tersenyum menatap pantulan dirinya di depan cermin. Hal yang selama ini ia impikan untuk bisa bersanding dengan wanita yang ia cintai selama belasan tahun kini akan terwujud.
Dirinya berjanji pada diri sendiri untuk menjadikan pernikahannya pernikahan pertama dan terakhir bersama cinta pertamanya sampai waktu di lekang usia.
Di sisi lain grand ballroom hotel nampak luas dan sudah di dekorasi sedemikian rupa bernuansa putih. Tak lupa di letakan meja dengan beberapa kursi untuk acara akadnya dan beberapa kursi lainnya untuk para tamu undangan sebagai saksi bisu akadnya.
Tak lama kemudian, satu persatu tamu undangan mulai berdatangan memasuki area tersebut dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Mike, gimana keadaan di bawah sana? tanya Andrian via telepon yang sudah standby dari semalam beserta yang lainnya.
Baik Jenni maupun James sudah tidak memiliki orang tua. Mereka berdua hanya tinggal bareng bersama kakaknya. Jenni bersama Kakak laki-lakinya sedangkan James bersama Kakak perempuannya.
"Semuanya aman terkendali, Bos. Para tamu undangan pun sudah memenuhi area dan penghulupun sudah standby di kursi yang di sediakan," jawab Mike memperhatikan suasa sekitar.
"Ok, baik. Kalau gitu, kita akan segera turun ke bawah." Balas Andrian lalu mematikan sambungan telponnya.
"Mereka semua sudah siap, penghulu juga sudah datang. Kita ke bawah sekarang juga. Apa kamu siap, Jenn?" tanya Andrian kepada adik perempuannya.
"Aku sudah siap, Kak." jawab Jenni tersenyum lebar.
__ADS_1
Andrian menangkupkan kedua tangannya, menatap lekat-lekat mata sang adik. Ada rasa tak rela bila harus melepaskan wanita yang selalu bersama dengan baik suka maupun duka. Dia ingin selalu bersama sang adik. Tapi, ia tak boleh egois, dia harus merelakan sang adik memilih jalan hidupnya bersama orang yang di cintainya.
"Jenn, jika kelak terjadi sesuatu padamu, kembalilah pada kakak, rumah Kakak dan tangan Kakak terbuka lebar untukmu. Meski Kakak tahu kalau James tidak akan menyakiti kamu karena dia teramat mencintaimu dan Kakak bisa lihat itu. Kakak hanya bisa berdoa semoga kamu di berikan kebahagiaan dan maafkan Kakak yang belum bisa membahagiakan kamu," tutur Andrian panjang lebar seraya berkaca-kaca.
Jenni tak dapat membendung air matanya, dia menghambur kepelukan sang Kakak. Untungnya riasan yang di kenakan Jenni anti luntur sehingga tidak mudah meleleh dengan air mata.
"Kau Kakak terhebatku, kau pelita hidupku, tanpamu aku tak akan menjadi Jenni yang sekarang. Perjuangmu menjagaku, mendidik ku, membesarkanmu tak lagi terhingga meski maut melanda. Kakak selalu membuatku bahagia, Kakak adalah pria terbaik yang ku miliki dan seharusnya akulah yang meminta maaf jika aku selalu merepotkanku. Maafkan aku, Kak." lirih Jenni berderai air mata.
Andrian tak dapat berkata, dia hanya memeluk tubuh adik satu-satunya penuh sayang. Dia juga mengecup kening Jenni kemudian beralih mengecup pucuk kepala sang adik.
"Jenni, jangan nangis! Makeup nya nanti luntur, itu mahal lho, Jenn." Celetuk Naya mengacaukan suasana haru tersebut.
Jenni terkekeh seraya melepaskan mengurai pelukannya. Dia mengambil tissue yang berada di atas meja rias menekan-nekan pelan tissue itu ke area wajah untuk menghapus air matanya.
"Ini makeup mahal, Nay. Anti luntur."
"Ya kali," jawan Andrian terkekeh melihat raut wajah polos Naya yang berpikir.
"Yuk, kita turun! James pasti sudah menunggu di bawah." Ajak Andrian menyodorkan kedua lengannya.
Jenni mengangguk antusias. Dia menggandeng lengan sebelah kanan sedangkan Naya menggandeng lengan sebelah kiri seraya menggendong balita kecil.
"Sayang, kamu jangan terlalu banyak beraktivitas ya, kamu duduk saja! Kamu harus ingat kata dokter!" ucap Andrian memperingati istrinya.
"Iya, Bee. Aku akan menuruti perintahmu demi anak kita." Jawab Naya dan mereka berjalan memasuki area akad.
Paska melakukan tes kehamilan menggunakan alat, Andrian segera membawa istrinya untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
__ADS_1
Dan ternyata, dokter bilang kalau Naya positif mengandung. Usia kandungannya berusia lima Minggu. Kehamilan Naya di sambut baik oleh keluarganya. Mereka semua begitu memanjakan Naya dan melarang Naya untuk melakukan pekerjaan mengingat ia pernah keguguran.
************
Jenni yang di dampingi Andrian dan Kanaya telah memasuki tempat di adakannya akad nikah. Dari jauh nampak James sudah duduk bersama penghulu dan yang lainnya.
Semua orang nampak sibuk menebak-nebak pria yang berada di sebelah kanan Jenni. Kini posisinya Jenni berada di tengah di antara Naya dan Andrian. Mereka menebak kalau pria itu adalah pemilik AG TRADE CENTER. Di tengah adalah adiknya dan di sampingnya adalah istri dari pemilik mall tersebut.
Andrian mengundang semua rekan-rekan bisnis dan para kolega di acara akad. Sedangkan di acara resepsi, semua tamu undangan bercampur berbaur. Tapi, ada sebagian karyawan yang akan hadir di acara resepsi.
Jenni telah duduk di samping James. James yang sejak dari tadi menunduk berdoa untuk ketenangan hatinya karena khawatir dan gugup yang melanda. Dia menoleh, ia sontak tertegun melihat wajah cantiknya Jenni sampai tak bisa mengontrol debaran jantungnya.
Tak lama kemudian, pak penghulu memberikan beberapa wejangan mengenai rumah tangga dan setelahnya ijab qobul pun di mulai.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA JENNIFER GERALDO BINTI ALMARHUM SUSENO GERALDO DENGAN MASKAWIN SATU SET PERHIASAN BERLIAN DAN SEBUAH RUMAH TUNAI." ucap James dengan lantang dan tegas dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana semuanya, sah?" seru pak penghulu kepada semua orang.
"SAH"
"SAH"
"SAAAAAAHHHHHH....." Pekik Andrian lantang.
Setelah dibkatakan sah, Jenni di mintai mengecup tangan James dan James pun mengecup kening istrinya. James memejamkan mata menikmati momen halal ini. Untuk pertama kalinya ia mengecup wanita yang teramat ia cintai.
Setelah rangkaian acara akad nikah selesai, kedua mempelai kembali ke kamar untuk istirahat sejenak dan berganti pakaian sebab akan di lanjutkan dengan resepsi.
__ADS_1
Bersambung....