SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Maaf


__ADS_3

Mata Naya terpejam meneteskan air mata, entah harus marah, kecewa, atau bersikap seperti apa dia tidak tahu. Sekarang dia mengerti kenapa waktu bangun tidur, Tristan terlihat bingung dan tidak percaya telah melakukannya dengannya.


Dia juga baru tahu kalau anak yang pernah ia kandung bukanlah anak Tristan seperti yang Tristan bilang kalau dirinya tidak merasa menyentuh Naya.


Marko mendongakkan wajahnya terpejam menahan emosi yang bergejolak di dalam dada atas apa yang telah menantunya lakukan namun ia bingung harus bersikap seperti apa karena itu semua sudah berlalu dan sudah terjadi.


Andrian menggenggam kedua tangan Naya duduk di hadapannya menatap lekat-lekat wajah kecewa, marah, wanita yang ia cintai.


"Maafkanku yang sudah menyakitimu, aku bersumpah tidak tahu kalau itu adalah kamu dan aku menyesal telah melakukan rencana itu padamu."


"Meskipun itu bukan diriku, kamu tidak sepantasnya berbuat seperti itu. Kamu pikir aku barang yang seenaknya kau permainkan sesuka hatimu dan kau lemparkan pada orang lain?" lirih Naya bergetar menahan tangis berusaha melepaskan genggaman Andrian.


"Aku tahu kalau ku salah, aku akui pada saat itu sangat jahat ingin membalaskan rasa sakit hatiku atas pengkhianatan Emily dan selingkuhannya kepada istri Tristan. Aku menyesal, benar-benar menyesal, maafkan aku, sayang." Andrian menghiba meminta maaf bersungguh-sungguh menundukan wajahnya bahkan air mata menetes di pelupuk matanya.


Marko terkejut melihat atasannya menangis, dan baru kali ini ia melihat Aldo seperti ini. "Apa kamu mencintai putriku?"


"Aku mencintai Naya Pah, sangat-sangat mencintainya."


"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu ingin membalaskan dendam sakit hati atas perlakuan Emily dan itu tandanya kamu mencintai Emily bukan Naya dan kamu hanya merasa bersalah atas apa yang telah kamu perbuat pada Naya."


"Tidak, aku tidak pernah mencintai Emily, aku hanya tidak suka pengkhianat dan aku tidak suka di bohongi. Aku membalaskan dendam semata-mata untuk menghukum mereka yang sudah berkhianat."


"Tapi bukan aku yang harus kamu jadikan korbannya!" pekik Naya menghempaskan genggaman Andrian.


"Apa yang kamu lakukan salah, kau sudah membuatku semakin sakit hati sakit pikiran sakit badan. Tristan semakin membenciku dan semakin semena-mena mencaci, memarahi, dan menuduhku menjebaknya. Dia bilang kalau aku murahan, ja*Lang yang sudah berusaha menyerahkan tubuhku padanya dan ternyata aku memang murahan, dia benar aku murahan, hiks hiks hiks" Lanjutnya menangis sesegukan.


Andrian menggelengkan kepalanya, hatinya sakit melihat istrinya menangis tersedu akibat ulahnya. Dia membawa Naya kepelukannya dan Naya berontak tak ingin di peluk dan memukul-mukul dada Andrian.


"Kamu jahat, Al. Kenapa kamu lakukan ini padaku? karena ulahmu, Tristan sering menamparku. Karena ulahmu aku mengandung anak dan harus kehilangannya sebelum dia lahir kedunia ini."


Marko dan Andrian mengepalkan tangannya mendengar Naya sering ditampar.


"Maafkan aku, sayang. Maaf, maaf." Hanya kata maaf yang terus terucap dari mulut Andrian sambil memeluk Istrinya menenangkan Naya yang sedang menangis memukul dadanya.


Dia ikut meneteskan air mata penyesalan telah merencanakan hal itu tapi hatinya tak urung bahagia kalau dialah orang yang sudah merenggut kehormatan Naya.


Pukulan Naya melemah mungkin karena tenaganya ikut melemah akibat menangis dan memukuli dada Andrian berusaha melepaskan pelukannya namun tak dapat terlepas.


"Aku mau pulang!" lirihnya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Kita akan pulang kerumah."


"Pah, aku mau pulang kerumah Papa," pinta Naya di sela tangisnya.


Deg...


"Sayang..." Andrian terkejut namun Marko segera menepuk pundak Andrian dan menggelengkan kepalanya untuk tidak memaksa Naya.


Andrian terpejam mengerti, mungkin Naya butuh menenangkan diri dan ia akan mengizinkan istrinya tinggal di rumah orang tuanya.


*********


Kediaman Marko


"Papa memang kecewa sama kamu, Al. Tapi, Papa tidak mungkin main hakim sendiri karena semuanya sudah terjadi. Mungkin dengan Naya tinggal bareng kita, dia bisa menenangkan dirinya dan berusaha untuk berdamai dengan masalalunya dan menerima kehadiran kamu yang secara mendadak dan secara tidak langsung telah menyakiti hatinya," ujar Marko duduk saling berhadapan.


"Al mengerti, Pah. Dan Al tidak akan memaksa Naya untuk tinggal bareng Al selama dia masih marah. Aku benar-benar minta maaf," ucapnya tulus.


"Sudahlah, toh semuanya sudah terjadi dan sekarang kalian sudah menikah. Hanya tinggal menunggu waktu dimana Naya akan kembali seperti semula."


"Papa, pergi dulu, ada urusan yang harus Papa urus." Marko berdiri dan menghampiri Andrian kemudian menepuk-nepuk pundak menantunya.


Andrian terenyuh mendengar tangisan pilu istrinya, dia tidak menyangka apa yang ia lakukan membuat Naya mendapat perlakuan buruk dari mantan suaminya.


**********


Marko memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Tristan. Amarah yang dari tadi ia pendam memuncak setelah sampai di kediaman Tristan.


"Tristan.... dimana kamu?" teriak Marko membuka kasar pintu rumahnya.


Tristan yang sedang bergumul mesra dengan Emily terkejut Papanya mampir kerumahnya. Sepulang dari kantor, Tristan melampiaskan kekesalannya kepada Emily tapi yang ada di bayangannya Emily adalah Naya.


Emily juga terkejut dan ia cepat-cepat beranjak dari ranjang dalam keadaan polos dan mengambil pakaian yang berserakan untuk di kenakannya kembali.


"Ada apa, Pah?"


Bugh.....


Bogeman melayang ke wajah Tristan dan itu membuat Tristan terlonjak kaget tanpa aba-aba Papanya memukul dan ini untuk pertama kalinya ia mendapat pukulan keras dari Marko.

__ADS_1


"Kurang ajar kau Tristan, Papa membesarkanmu dengan kasih sayang penuh perhatian dan Papa mengajarkanmu untuk tidak menyakiti wanita apalagi memukulnya. Tapi kau.." tunjuk Marko murka.


"Kau malah menyakiti Naya berkali-kali. Menyakiti hatinya menyakiti pisiknya dan menyakiti calon anaknya!" sentak Marko.


"Honey...!" Emily terkejut dan ia membantu Tristan berdiri.


"Aku tidak mengerti maksud Papa apa?" Tristan mengernyit bingung dan ia berdiri memegangi pipi yang terasa sakit.


"Kenapa Anda memukul suami saya? seharusnya Anda berpikir kenapa Tristan sampai menyakiti mantan menantumu itu karena wanita itu memang pantas di sakiti sebab dia pelakor murahan," pekik Emily menatap tidak suka pada Marko.


Tristan melotot tak percaya Emily akan berkata seperti itu pada Papanya. "Em, jaga mulutmu!"


Marko menatap tajam Emily, rahangnya mengeras, dan matanya menyala memerah memancarkan api amarah.


"Emang benar kok, mantan istrimu itu murahan, buktinya dia tidur dengan pria. Dia itu ja...."


Grep.... Marko mencekik leher Emily sampai membuat Tristan melotot terkejut.


"Pah lepaskan Emily..!!!"


"Diam..!! Tristan!!!" pekik Marko menatap murka Emily dan Tristan secara bergantian.


"Jangan sekalipun kau mengatai putriku ja*lang! Di sini yang ja*lang itu dirimu. Kamu yang menjebak Tristan supaya terperangkap dalam pelukanmu dan berpura-pura kalau Tristan mengambil kehormatanmu padahal kau adalah janda bercerai."


"Dirimu merayu Tristan di saat Tristan sudah menikah dengan melempar tubuh hina mu itu ke atas ranjang."


"Kaulah yang ja*lang sebenarnya..!!" teriaknya melepaskan tangan yang mencekik leher Emily.


Ukhuuk... ukhuuuk... ukhuuk...


Emily terbatuk-batuk memegang lehernya.


"Tak akan ku biarkan kau menyakiti putriku termasuk kau, Tristan..!!!" ucapnya tegas menyeramkan memperlihatkan sisi lain dari seorang Marko Delano.


Deg....


Duaarrr...


Bersambung....

__ADS_1


Duaarr duaarrr deerrrr dooorr gubrakkk.... 🤣🙏🙏 alamaaaakk... aku terjekutt... eh salah, terkejut maksudnya...!!!!


__ADS_2