SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Pengakuan Emily


__ADS_3

"Sayang kapan kamu akan menikahi ku dan menceraikan istrimu? aku tidak mau ya, lama-lama di sembunyikan terus." Tanya Emily menyender di dada Tristan.


"Secepatnya, kamu sabar dulu, honey. Aku pasti akan menikahi mu kalau Naya sudah ketemu." Balas Tristan matanya fokus memainkan game yang ada di ponselnya.


"Kanaya hilang?" Emily sampai kaget mendengar Istri kekasihnya hilang. Tapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum.


"Iya, lebih tepatnya pergi ketika ku paksa untuk melayaniku," jawab Tristan tanpa sadar.


"Apa? jadi kamu menyentuhnya?" pekik Emily terkejut.


"Hah..!" Tristan terlonjak kaget, bibirnya keceplosan mengungkapkan apa yang telah ia lakukan. "Ti-tidak, bukan seperti itu, Em."


"Kamu tega khianati aku, kamu sudah janji tidak akan menyentuh istrimu selama aku memberikan kepuasan dan pelayanan terbaikku di atas ranjang. Kamu ingkar janji Tristan." Emily memukul dada Tristan meluapkan kekesalan dan tindakan Tristan.


Tristan mencekal tangan Emily. "Wajar kalau aku memintanya, Naya istriku dan aku berhak atas dirinya, Em."


"Aku tahu Naya istrimu, tapi aku tidak mau kau menyentuh wanita selain aku. Kamu milikku dan sampai kapanpun akan menjadi milikku." Emily sampai menangis tak terima Tristan bersenggama dengan wanita lain.


"Apa kau lupa, kalau kau juga pernah di sentuh oleh suami cacatmu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku juga menyentuh istriku," jawab Tristan kesal sendiri jadinya.


Emily mematung, matanya menatap tajam dan wajahnya memerah. "Selama ku menikah dengan Andrian dia tidak pernah menyentuhku. Aku tidak mau berbuhungan dengan pria yang tidak bisa melakukan apapun. Dia sendiri tidak pernah memintaku untuk melayaninya."


"Asal kamu tahu, hanya kamu pria yang sering tidur denganku meski ku sudah memiliki suami. Dan sekarang kau mau mengkhianati perjanjian kita? aku tidak akan membiarkan kamu dan Naya bersatu." Emily berdiri berjalan ke kamar mengambil tas.


"Aku dan Naya sudah bersatu, bahkan dia keguguran karena aku, Em." Tristan menunduk sedih.


"Jadi kamu beneran melakukannya?" Amarah Emily semakin nemuncak. Dia yakin akan mengambil Tristan dari Naya.


"Iya, kamu mau kemana, Em?" Tristan mencegah Emily pergi.


Emily menatap tajam Tristan dan cepat-pergi pergi.


Tristan mengacak-acak rambutnya, ia mengambil kunci motor mengejar Emily.


*********


Emily nekat datang kerumah Jihan pada malam hari. Dia terus mengetuk pintu berkali-kali sampai Jihan membukakan pintunya.


"Mau cari siapa?" Jihan menatap heran gadis berambut sepundak itu sebab Emily sudah menangis.

__ADS_1


"Apa ini rumah orangtuanya Tristan Delano?"


"Iya, ada yang bisa kami bantu? masuk dulu, Nak." Jihan mempersilahkan Emily masuk mengingat di luar sudah malam.


Jihan sudah duduk saling berhadapan dengan Emily. Ini pertama kalinya Emily datang ke rumah orangtuanya Tristan dan pertama kalinya bertemu dengan Mama Jihan.


Emily duduk bersimpuh di bawah kaki Jihan membuat Jihan terkejut. "Nak, apa yang kau lakukan? bangunlah!"


"Tidak, Tante. Aku tidak akan bangun sebelum mengungkapkan semuanya."


"Bangun dulu, jangan seperti ini!" Jihan memegang pundak Emily membangunkan tapi Emily kekeh dengan pendiriannya.


"Tante, saya kesini memohon untuk meminta pertanggungjawaban Tristan dan meminta restu dari kalian."


"Maksud kamu?" Jihan mengernyit heran dan pikiran aneh-aneh datang menghampiri kepalanya.


"Aku hamil anak Tristan, Tante. Tolong bujuk Tristan untuk mau menikahiku." bujuk Emily menangis sesegukan untuk mengambil hati Mama Jihan.


Deg.....


"Ka-kau...?! Jadi kamu selingkuhan Tristan? jadi kamu sang pelakor itu? jadi kamu yang sudah membuat menantu saya tersakiti dan akibat kamu juga, Tristan membuat menantuku keguguran?" sentak Jihan menggema berdiri dari duduknya.


"Ada apa ini?" Marko terheran melihat seorang wanita muda menangis di kaki istrinya.


"Dia, dia pelakor itu, Pah."


"Aku bukan pelakor, Tante. Aku dan Tristan saling mencintai tapi keadaan memisahkan kami. Apa salah kalau kami saling mencintai? Nayalah yang menjadi pelakor di dalam hubungan kami." Jawab Emily membela dirinya.


"Lalu apa tujuanmu datang kerumah kami?" tanya Marko.


Emily mendongak menatap silih berganti kedua orangtuanya Tristan dengan sorot mata memohon.


"Tolong buat Tristan menikahiku karena saat ini aku sedang mengandung anaknya Tristan!" pinta Emily.


"Apa?" pekik Marko dan Tristan yang berada tak jauh dari sofa.


"Kamu hamil? kau jangan bohong Emily?" Tristan tak percaya Emily bisa hamil.


Emily berdiri menatap wajah Tristan. "Aku tidak bohong, Tristan. Aku hamil anak kamu dan saat ini usia kandunganku satu bulan. Apa kamu lupa kalau hampir setiap hari kita selalu melakukan hubungan badan tanpa pengaman? bahkan kita sering melakukan sejak 6 bulan yang lalu."

__ADS_1


Tanpa malu dan bersalah, Emily membeberkan apa yang terjadi di antara mereka kepada orangtuanya Tristan.


Deg....


Tristan mematung, apa yang ia lakukan membuahkan hasil. Tapi, entah mengapa hatinya tidak senang Emily hamil yang ada ia malah menyesal telah melakukannya dan malah teringat kepada Kanaya.


Marko mengepalkan tangannya marah terhadap sang anak.


Bugh...


Satu pukulan Marko layangkan kewajah Tristan. "Kau, kau sudah keterlaluan, Tristan. Kau sudah melakukan dosa besar dan kau sudah sangat menyakiti Kanaya," sentak Marko.


"Mama belum percaya, apa buktinya kalau kamu hamil anak Tristan?" tanya Jihan enggan percaya.


Emily mengambil kertas yang ada di dalam tas dan memberikannya ke Jihan. Jihan membaca catatan dari dokter tersebut, tubuhnya mendadak lemas. Ia tak mampu lagi menopang tubuhnya sampai terduduk lesu di kursi.


Marko penasaran dan ia mengambil kertas itu yang menunjukan bahwa Emily beneran hamil.


Mata Jihan berkaca-kaca merasa bersalah tak mampu mendidik anaknya. "Mama gagal mendidik Tristan, Pah. Mama gagal. Ini salah Mama yang tidak bisa mendidik Tristan, ini salah Mama "


Tristan semakin bersalah dan duduk di hadapan Jihan menggenggam tangan Mamanya.


"Mah, jangan salahkan Mama. Akulah yang salah, aku yang tidak pernah mendengar setiap didikan Mama. Aku khilaf, Mah. Aku minta maaf." Tristan sakit melihat wanita yang sudah merawatnya dengan tulus menangis karena dirinya.


Untuk pertama kalinya Tristan melihat air mata kesedihan di wajah sang Mama. Jihan melepaskan genggaman Tristan. Dan pergi dari sana dalam keadaan kecewa.


"Mah, mah." panggil Tristan.


Marko bingung harus gimana? dia memikirkan Kanaya tapi juga memikirkan nasib anak yang di kandung Emily. Mau tidak mau ia harus memutuskan semuanya meski ia tak rela Kanaya di khianati.


"Kalian secepatnya menikah demi janin yang ada di kandungan selingkuhan mu, Tristan." Tutur Marko meninggalkan Tristan dan Emily.


Dalam hati, Emily tersenyum senang Tristan akan menikah dengannya. Emily duduk di dekat Tristan dan memeluknya.


"Kita akan punya anak, sayang. Kita juga akan menikah secepatnya. Aku senang kamu akan menjadi milikku."


Batin Emily berkata. "Tak sia-sia ku tak memakai pengaman. Aku memang mencintaimu, Tristan dan juga aku mencintai hartamu."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2