SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Ponsel


__ADS_3

"Tumben ngajak ketemuan, biasanya sering sibuk dengan pekerjaanmu," sindir Jenni beranjak duduk disebelah James.


"Aku kangen kamu, Jenn. Maaf kalau selama ini jarang hubungi kamu, jarang jalan bareng. Satu tahun belakangan ini ku sibuk dengan kerjaan baruku."


"Kamu tahukan kalau Pak Marko sedang meluncurkan produk-produk kosmetiknya ke seluruh kota dan aku di tugaskan untuk menghandle semuanya."


"Dan sebagai manager, aku harus siap dalam segala hal termasuk membuang waktu bersama kita sampai satu tahun ini baru bisa bertemu kamu sekarang," jelas James menggenggam tangan Jenni.


"Tapi aku janji akan segera menikahimu dalam kurun waktu satu bulan lagi," pungkasnya mantap.


Jenni menoleh terkejut. "Kamu seriusan?" tanya nya memastikan kembali.


"Aku serius dan juga sudah menyiapkan semuanya tinggal kita bicara sama kakak kamu untuk menjadi wali kamu," jawabnya tersenyum serius.


Jenni tersenyum kemudian memeluk tunangannya. Akhirnya setelah satu tahun lebih mereka bertunangan, kini keduanya akan melangsungkan pernikahan.


"Aku bahagia, James. Aku senang kamu sudah memutuskan hubungan kita. Akhirnya setelah sekian lama."


Jenni menguraikan pelukannya. "Aku harus kasih tahu Kak Al, dia pasti senang kalau aku akan menikah juga."


"Kita ke Kakakmu sekarang juga untuk memberitahukan semuanya." James berdiri menggandeng tangan Jenni lalu keduanya pergi menemui Andrian.


*********


"Sayang, aku pakai baju mana sedangkanku tidak bawa baju lagi dan bajuku sudah kamu rendam?" Ujar Andrian keluar dari kamar mandi sambil menggosok kepalanya menggunakan handuk menghampiri istrinya yang duduk di depan cermin sambil menyisir rambut.


Naya sempat melirik Andrian lewat cermin, matanya ia tundukkan malu melihat suaminya bertelanjang dada memperlihatkan perut kotak-kotak yang membuatnya ingin menyentuh perut tersebut.


Andrian pun sama melihat istrinya di balik cermin, dia menyunggingkan senyuman tipis melihat istrinya malu-malu bersemu kemerahan di pipinya.


Andrian mencondongkan wajahnya ke samping pipi sang istri. "Makasih ya sudah memberikan kepuasan di atas ranjang," bisiknya mengecup mesra pipi Naya.


Naya terbelalak mendongak sehingga kedua mata mereka saling bertubrukan lewat cermin masih dalam posisi Andrian mencium Naya.


Andrian sedikit menjauhkan wajahnya. "Aku harus pakai baju mana? kedinginan sayang." Tanyanya memeluk Naya menatap lekat-lekat wajah sang istri dari cermin.


"A-aku pi pinjam baju Papa dulu," lirihnya melepaskan pelukan Andrian beranjak pergi dengan rasa gugup dan malu yang luar biasa.


Andrian tersenyum menggeleng-geleng kepala. "Menggemaskan."


Naya celingukan mencari keberadaan Mama Jihan. "Mah," panggilannya setelah menemukan Jihan sedang berada menyirami tanaman.


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Hmmm aku boleh pinjam baju Papa gak?" tanyanya menunduk malu.

__ADS_1


Jihan mengernyit. "Untuk apa? "


"Untuk Al pakai, bajunya sudah ku rendam jadi dia belum ada pakaian ganti."


Jihan tersenyum, dia senang hubungan keduanya tidak runyam dam Naya sudah tidak sesedih kemarin lagi.


"Mama ambilkan dulu ya," Jihan mematikan keran air dan menyimpannya kemudian berjalan masuk ke kamar di ikuti oleh Naya dari belakang.


"Ini, semuanya masih baru dan Mama rasa ini cukup di suamimu." Jihan menyodorkan satu stel pakaian beserta dalamnya yang terlihat masih ada cap nya.


Naya menerima baju itu. "Makasih, Mah. Kalau gitu aku balik ke kamar dulu. Kasian Al sudah kedinginan."


"Iya, Mama senang kalian baik-baik saja. Jangan marah terlalu lama apalagi meninggalkan suamimu yang tampan dan kaya itu sendirian. Entar yang ada di dekati pelakor lho."


"Iihhh amit-amit, tidak akan ku biarkan pelakor itu merebut suamiku lagi," jawabnya mencebik cemberut sambil berjalan.


Naya memperhatikan suaminya dari dekat pintu. Andrian fokus pada benda persegi yang ada di tangannya sesekali tersenyum kecil.


"Apa yang sedang Andrian lihat sampai terlihat senang seperti itu?" gumam dalam hati resah.


"Ini bajunya," dia menyodorkan pakaiannya namun matanya mengintip handphone yang Andrian simpan dengan layar di bawah.


"Kenapa Andrian langsung membalikan ponselnya? apa dia tidak mau aku lihat sesuatu?" batinnya bertanya-tanya.


"Sayang, makasih ya." Andrian mengambil pakaian itu kemudian berjalan ke ruang ganti.


Tangannya terulur mengambil ponsel sang suami namun mata melihat ke arah ruang ganti. Naya menyalakan ponselnya tapi ternyata di kunci.


"Di kunci, kira-kira apa ya kata kuncinya?" gumamnya kecewa.


Otaknya berpikir mencoba membuka kunci angka, Naya mengetikan tanggal lahir Jenni namun salah. Dia mengetikkan tanggal lahir Andrian masih salah juga.


"Salah semua, kira-kira angka berapa yang di jadikan kuncinya?" gumamnya berpikir.


"Katanya dia mencintaiku, aku coba saja." Naya kembali mengetikan angka 26111995 dan brayyy....


Deg.... Naya sampai tertegun, ponselnya terbuka menyala dan itu tanggal bulan dan tahun lahir Naya.


"Kamu ngapain?"


Prang...


Naya terlonjak kaget tak sengaja menjatuhkan ponselnya Andrian.


"A-aku, a-aku..." bibirnya terasa kelu gugup, takut Andrian marah ketahuan membuka privasinya.

__ADS_1


Andrian mendekat memicingkan mata. "Kamu ngapain ngambil handphone ku?" tanyanya dingin.


Naya menunduk tak berani menatap suaminya. "Ma maaf."


Andrian mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dan untungnya tidak pecah. "Apa kamu tahu ini adalah hal privasi dan tidak semua orang boleh membuka ponselku. Tapi kamu..."


Naya semakin menunduk melihat kaki jempolnya, matanya berkaca-kaca takut kena matah. Sedangkan Andrian mengulum senyum melihat Istri mungilnya tak berkutik sedikitpun dia duduk di tepi ranjang.


"Tapi kamu boleh melihat dan membukanya," lanjutnya sambil menarik tangan Naya membawanya duduk di pangkuannya.


Naya yang tadinya menunduk mendongak menatap suaminya meski masih berkaca. "Maaf, aku hanya penasaran kenapa kamu sampai senyum-senyum saat melihat ponsel. Aku takut ada hal yang kamu sembunyikan dariku," jawabnya jujur merasa bersalah.


Andrian mengerti ketakutan apa yang di rasakan istrinya. "Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, percayalah kalau ku hanya mencintamu. Kalau kamu tidak percaya cek saja ponselnya!"


"Bukalah!"


Perlahan tangan Naya terulur mengambil ponsel itu mengetikan kembali tanggal lahirnya memeriksa semua yang ada di dalamnya.


Mulai dari chat wa, pesan biasa, panggilan keluar masuk, tak ada yang mencurigakan. Dia kembali membuka setiap galery photo dan terkejut.


"Ini..?!" Naya meng scroll kebawah. "Kamu dapat dari mana foto-foto ku waktu di kota S? banyak sekali."


"Kan aku pernah bilang, kalau aku sering memperhatikan mu dari jauh dan diam-diam mengambil gambarmu," jawabnya memeluk pinggang Naya dan menaruh dagunya di pundak Naya.


"Sebanyak ini?" Naya sungguh tak percaya, banyak sekaliii dan ia kembali melihat kontak ingin tahu no siapa saja yang ada di sana.


Lagi dan lagi isinya sedikit hanya ada nama Andrian, Adikku, Papa Marko, Mike, James, Bi Marni, Pak Dadang tukang kebun, pak Yanto satpam komplek, Jennifer 2, dan kesayanganku.


"Kok tidak ada no aku?" batin Naya kecewa.


"Kesayanganku siapanya kamu?" tanyanya cemberut tidak tahu siapa mereka.


"Kamu tidak tahu?" Andrian terkekeh.


Naya mendadak panas tidak menyukai Andrian menyimpan no wanita lain.


"Jangan cemburu dulu sayang, supaya kamu tahu siapa dia kamu telpon saja dia!" titahnya memeluk erat pinggang sang istri mencium mesra ceruk leher istrinya.


Meski geli, Naya tak menolak Andrian seperti itu. Dia penasaran dan akhirnya menelpon no tersebut. Telinganya mendengar dering dari ponselnya.


"Kok?!"


"Iya, itu no kamu. Masa no sendiri tidak tahu sih?"


Naya menunduk tersipu mengetahui no yang di beri nama kesayanganku adalah no ponselnya. Naya tak menyangka kalau Andrian sampai segitunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2