SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Ariel


__ADS_3

"Awaaassss...." Naya berteriak berdiri cepat-cepat berlari.


"Nayaaaa....!!"


Ckiiiittttt.....


Andrian mematung, ia bernafas lega mobil itu tidak menghantam tubuh istrinya. Tinggal sedikit lagi, dan untungnya mobil itu segera mengerem.


Naya berjongkok memeluk tubuh mungil anak laki-laki yang sedang menangis. Andrian pun berlari memeluk Naya bersyukur istrinya baik-baik saja.


"Kamu tidak apa-apa, sayang? apa ada yang terluka? mana yang sakit?" Andrian khawatir, meneliti setiap tubuh istrinya.


"Aku tidak apa-apa, Bee." jawabnya menggeleng seraya mengusap punggung anak kecil itu.


Blugg...


Orang yang ada di dalam mobil keluar menutup pintu mobi secara kasar.


"Kalau nyebrang lihat-lihat! kalian punya mata tidak sih? nyebrang sembarangan, untung saya cepat mengerem kalau tidak, mobil saya sudah lecet gara-gara kalian." pekiknya bertolak pinggang memarahi mereka.


"Heeiii, seharusnya kau yang lihat-lihat! Ini jalanan umum, banyak orang berlalu lalang di sini dan kau malah seenaknya menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku kau akan ku seret ke jeruji besi!" sentak Andrian tak kalah keras tidak terima istrinya di marahi.


Naya berdiri sambil menggendong anak kecil itu. "Maafkan saya karena saya sudah membuat anda hampir celaka."


Mata pria itu menoleh melihat wajah Naya. "Kau memang hampir membuat saya masuk penjara," ucapnya ketus melangkah pergi masuk mobil lagi dan beranjak meninggalkan tempat itu.


"Sayang, kenapa kamu yang minta maaf sama dia, kamu tidak salah."


"Aku salah karena sudah menyebrang sembarangan. Sudah, jangan bahas ini dulu. Kasian anak ini."


"Orang tuamu dimana sayang?" tanya Naya lembut menghapus air mata yang membasahi pipi chubby nya.


Balita itu menggelengkan kepalanya, air matanya kembali menetes.


"Sayang, rumahmu di mana?" tanya Naya kembali. Dan, anak itu menggeleng lagi. Naya melihat Andrian.


"Apa kamu punya orang tua?" kali ini Andrian yang bertanya dan anak itu mengangguk.


"Dia mengangguk, berarti mempunyai orang tua. Apa anak ini terpisah dengan orang tuanya, Bee?"


"Sepertinya begitu. Di tanya rumahnya dimana anak ini menggeleng, itu tandanya dia tidak hapal jalan rumahnya."


"Sayang, aku kasihan sama anak ini. Kita bawa saja ya, kalau di simpan di sini takut kenapa-kenapa. Nanti, kalau ada yang mencari, kita bisa mengembalikannya."

__ADS_1


Andrian berpikir, apa yang di katanya Naya ada benarnya juga.


"Tunggu sebentar!" Andrian bertanya kepada orang-orang yang ada di sana mengenai siapa anak kecil itu dan mereka tidak ada yang tahu.


"Nay, mereka tidak ada yang mengenali anak ini. Kita bawa saja ke rumah. Apa kamu mau ikut kami?" tanya Andrian pada balita itu, dan dia mengangguk.


Mereka pun membawanya karena tak tega meninggalkan anak kecil sendirian di jalan.


*********


Kediaman Tristan


"Apa!! kenapa bisa Ariel hilang?"


"Sekarang juga aku kesana!" pekik Claudia terkejut anaknya hilang.


Claudia segera mematikan sambungan panggilannya, mengambil tas dan bergegas pergi menemui pengasuh anaknya.


Hatinya gelisah, pikirannya kacau, tangannya gemetar takut terjadi sesuatu pada orang yang ia sayangi. Hanya Ariel yang ia punya, hanya Ariel satu-satunya orang yang membuat dia semangat menjalani hidupnya.


"Tuhan, tolong kau jaga anakku dimanapun dia berada. Jangan sampai orang jahat menyakitinya. Kalaupun dia bertemu orang, tolong kau pertemukan dia dengan orang baik," doanya dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Claudia sampai ke tempat dimana pengasuhnya berada.


"Anu, non. Tadi kami bermain di sini, Ariel berlari mengejar tukang dagang ice potong. Bibi kehilangan jejaknya karena dia hilang di kerumunan banyak orang," jelas pengasuh Ariel menunduk merasa bersalah.


"Astaga!" Claudia menunduk risau.


"Kita cari lagi, siapa tahu dia belum jauh dan ada orang baik yang menemukannya." Dan, mereka berdua mencari-cari keberadaan Ariel.


"Maaf Bu, apa Anda pernah melihat anak ini?" tanya Claudia menunjukan foto anaknya ke salah satu pengunjung taman tersebut.


"Tidak Nak. Saya tidak melihatnya."


Claudia menunduk sedih. "Terima kasih Bu." Tak hentinya dia mencari keberadaan sang anak.


Dia terus menyusuri area sekitar sampai ia menemukan orang yang jualan ice potong.


"Bibi bilang Ariel ingin jajan ice potong, siapa tahu bapak itu tahu." gumamnya menghampiri penjual itu.


"Pak, boleh bertanya?"


"Iya, silahkan neng!"

__ADS_1


"Apa bapak pernah lihat anak ini?"


Bapak itu terlihat memperhatikan foto yang ada di handphone Claudia.


"Ohh, anak ini. Tadi dia hampir ketabrak mobil."


"Apa! Lalu, bagaimana keadaan anak saya? dimana dia sekarang?" cercanya panik.


"Dia baik-baik saja. Ada pasangan suami istri yang menolongnya. Mereka juga sempat bertanya mengenai siapa anak itu, kami tidak tahu dan mereka membawanya pergi."


Apa yang di ceritakan penjual ice itu membuat Claudia lesu. Dia harus kemana lagi mencari anaknya sedangkan sang anak belum bisa bicara padahal usianya sudah dua tahun dan itu akan menyulitkan mereka untuk mencari tahu tempat tinggal dan nama orang tuanya.


"Non, bibi tidak menemukannya. Mereka tidak melihat Ariel." ucap pengasuh Ariel terpogoh-pogoh menghampiri Claudia.


"Ada yang menyelamatkan Ariel, bi. Tapi, aku tidak tahu siapa dia? kemana lagi ku harus mencari anakku?" lirihnya tak terasa air matanya menetes khawatir akan keadaan sang anak.


"Maafkan bibi, non. Bibi telah lalai menjaga Ariel."


********


Sedangkan di kediaman Andrian, Naya sangat antusias mengajak balita itu bermain.


"Anak siapa dia, Al? kelihatannya Naya sangat senang bisa bermain dengan anak itu begitupun dengan anaknya." tanya Marko yang kebetulan mampir kerumah Andrian sehabis pulang dari kantor.


"Al juga tidak tahu, Pah. Kami menemukannya sendirian di jalan dan Naya merasa kasihan kemudian, kami membawa dia kemari. Ketika kami tanya, anak itu hanya bisa menjawab mengangguk dan menggeleng," jawab Andrian memperhatikan istrinya sedang mengajari balita itu memajukan mobil remot yang di belinya saat di jalan.


"Kita harus melaporkan ini kepada polisi, takutnya nanti kalian malah di tuduh menculik anak kecil."


"Kalau lapor ke polisi, yang ada anak itu malah di tahan sama pihak polisi sampai orangtuanya menjemput dan itu akan membuat spikis anak itu terganggu."


"Tapi setidaknya kalian akan aman dari tuduhan penculikan. Dan, kalau sudah laporan, kalian bisa mengusulkan diri untuk merawatnya sementara waktu atas izin dari pihak berwajib."


Andrian diam memikirkan ucapan Marko yang ada benarnya juga. "Nanti Al urus semuanya," ujarnya.


Naya membawa anak itu ke pangkuannya.


"Kalau boleh Tante tahu, nama kamu siapa?" tanyanya seraya memainkan remot mobil.


Anak itu mengangkat tangannya membentuk satu persatu huruf abjad dan Naya memperhatikannya.


"A...R...I...E...L"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2