SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Surat Gugatan


__ADS_3

"Emily..!" Naya juga terkejut kalau SPG nya adalah Emily madunya.


"Kamu bekerja di sini? kok Mas Tristan membiarkan kamu bekerja sih? bukannya kamu sedang hamil muda ya?" cerca Naya.


"Bukan urusanmu! Kau tidak perlu repot-repot mengurusi kehidupanku, urus saja urusanmu sendiri!" balas Emily ketus.


"Sudah, Nay. Mending kita pergi saja dari sini!" lerai Andrian.


Emily menunduk dan baru menyadari mantan suaminya ada di sana. "Andrian."


"Kalian saling kenal?" Naya kebingungan.


"Dia mantan istri saya," jawab Andrian dingin. "Kita pergi dari sini, Nay!"


Naya terkejut Emily mantan istri Andrian dan ia bertanya-tanya apakah Andrian tahu kalau Emily menikah dengan suaminya.


"Rupanya kau murahan juga, Naya. Tadi pagi kau jalan bareng cowok yang mengaku sebagai pacar dan sekarang, kau jalan bareng pria lain, cacat lagi," sindir Emily menatap jijik Andrian.


Andrian mengepalkan tangannya. "Buruan Nay, kita pergi dari sini!" Andrian meninggikan suaranya enggan berdebat dan tidak mau Naya di perlakukan buruk oleh Emily.


"Kenapa buru-buru sekali Andrian? apa kau tidak ingin tahu kalau wanita yang sedang jalan denganmu masih memiliki suami dan dia juga memiliki pacar. Segitu tidak bisanya mencari wanita cantik sepertiku sampai wanita jelek macan dia kau dekati?"


"Jangan ikut campur urusanku, Emily! Mau saya sama Naya atau bukan itu bukan urusanmu!" ujar Andrian.


"Kasihan sekali kau ini, pria cacat dan buta sepertimu pasti sulit menemukan wanita cantik dan sempurna sehingga istri orang pun kau embat juga."


"Emily, Emily, kamu tidak ngaca ya, maduku!" Naya menekan kata maduku dan bicara agak meninggi.


"Kamu ngatain Andrian mengembat istri orang lalu kau sendiri apa, wanita yang mengembat suami orang bahkan menjadi istri sirinya," sindir Naya memelankan suaranya supaya tidak ada yang mendengar selain mereka bertiga.


Emily menggepalkan tangannya dan Andrian menyunggingkan sudut bibirnya.


"Kau..!" tunjuk Emily terhenti saat melihat Tristan berjalan bareng Marko dan para manager lainnya.


"Aaawwww, sakittt...!" teriak Emily langsung terduduk di lantai sampai mengundang perhatian orang dan rombongan Tristan menoleh.


"Emily...!"


Naya kebingungan dengan keadaan saat ini, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Emily dan ia terkejut mendengar suara Tristan.


"Kau kenapa Emily? apa yang sakit, honey?" Tristan menghampiri Emily yang terduduk mengaduh kesakitan memegang perut.

__ADS_1


"Mas, dia mendorongku." adunya menunjuk Naya yang berdiri tak jauh dari sana.


Naya bergetar takut terjadi sesuatu dan ia memegang erat pundak Andrian. Andrian mendongakkan wajahnya, ia melihat kekhawatiran dari sorot mata Naya dan ia menggenggam tangan Naya bahwa ada dia di sisinya.


Tristan, Marko, dan yang lainnya melihat ke arah telunjuk Naya. "Kanaya..!"


"Kau apakan istriku, hah? kalau sampai terjadi apa-apa sama kandungannya kau harus tanggung jawab!" sentak Tristan.


Naya memejamkan mata di saat suaminya menyebut istri sirinya di hadapan semua orang sedangkan dirinya tak pernah di akui di depan umum terkecuali di hadapan orang-orang terdekat saja.


"Saya tidak melakukan apapun kepada istri Anda Tuan. Dia menjatuhkan sendiri tubuhnya sehingga memekik kesakitan dan mengundang banyak orang," jawab Naya membela.


"Bohong, dia bohong sayang. Wanita itu mendorong saya karena saya tak memberikan harga murah minuman ini. Aduh sakit.. sayang."


"Kita cek cctv!" celetuk Marko tak percaya.


Emily gelagapan. "Sialaaan, gue lupa kalau di sini ada cctv."


"Ti-tidak perlu, Papa. Aku sudah memaafkannya dan tidak usah di perpanjang lagi." Emily mencegah Marko memeriksa cctv.


"Dia menantumu, Pak Marko? berarti dia istrinya Tristan dong?" tanya manager produksi.


Marko serba salah, Emily sudah mengaku istrinya Tristan dan mengaku sedang mengandung sedangkan belum banyak yang tahu siapa istri Tristan yang sah.


Andrian mengepalkan tangannya dan bisa melihat senyum kepuasan terbit di wajah Emily. Andrian memperhatikan mereka semua dan di saat itulah ia meminta Naya membawanya pergi pada saat semua orang sedang terfokus pada Tristan, Emily dan Marko yang sedang memberikan selamat.


"Kita pergi dari sini!" bisiknya. Naya menuruti karena ia sudah tidak tahan lagi berada di antara mereka yang tidak mengakuinya sebagai istri sah dan istri pertamanya.


********


Di dalam perjalanan, Naya hanya termenung dan tak banyak bicara. Tekadnya sekarang sudah bulat untuk bercerai dari Tristan. Dia tidak mau lagi hidup bersama suami yang tidak menghargainya, suami yang tidak menginginkannya.


Setiba di rumah Andrian, Naya menyibukkan dirinya dengan cara menjahit jemuran dan langsung menyetrikanya.


"Nay." Andrian menghampiri Naya yang ada di ruangan setrika baju.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedang bertanya kenapa nasib rumah tanggaku seperti ini? kesalahan apa yang pernah ku lakukan sehingga rumah tanggaku hancur karena orang ketiga?"


"Bukan hanya kamu yang bertanya seperti itu. Akupun sama, rumah tanggaku juga hancur karena orang ketiga dan ku baru tahu kalau orang itu adalah suamimu."


"Lebih tepatnya Emily yang mengkhianati ku sebelum menikah," lanjut batinnya.

__ADS_1


"Berarti Emily dan Tristan selingkuh di saat Emily masih menjadi istrimu?" tanya Naya sedikit tertarik mengenai cerita Andrian.


Dia sampai memberhentikan kegiatannya melihat Andrian.


"Iya, dan salah satu alasan aku bercerai dari Emily adalah itu."


"Kapan kamu bercerai darinya?"


"Dua setengah bulan yang lalu, dan sejak saat itu baru ketemu lagi tadi di mall."


"Berarti benar kalau anak yang di kandung Emily anaknya Tristan." gumam Naya melamun, tangannya mengambil setrikaan namun jutru malah bagian yang panasnya yang ia pegang.


"Aaawwww," pekik Naya.


"Naya..!" Andrian terkejut dan mengambil tangan Naya meniupinya. "Kalau kerja jangan melamun, jadi terluka kan?"


Naya memperhatikan cara Andrian meniupinya, memandang wajah Andrian yang berbewok memperhatikan mata yang ada di balik kacamata.


"Kenapa hatiku nyaman berada di dekatnya?" batin Naya.


"Kakak, Naya, kalian sedang apa?"


Naya terkejut dan ia melepaskan tangannya dari genggaman Andrian.


"Tangannya tak sengaja memegang setrika yang masih panas."


"Kok kamu tahu aku memegang setrika?" Naya mengernyit heran padahal ia belum menceritakannya.


"Hhmmm anu... saya tahu kalau ini tempat menyetrika baju, jadi saya juga pasti tahu kalau kamu menjerit pasti karena terkena panas," jelas Andrian.


"Nay, ini surat gugatan untuk Tristan." Jenni mengalihkan pembicaraan dengan memberikan amplop coklat yang ia ambil di dalam tas kerjanya.


"Secepat ini? biasanya butuh waktu lama untuk mendapatkan kertas gugatan cerai?" Naya bingun namun tangannya mengambil map itu.


"Kamu tidak usah perlu tahu yang penting kamu bisa secepatnya bercerai dari Tristan."


Naya membuka dan membaca setiap kata yang ada di kertas putih itu. Hanya tinggal menandatanganinya maka proses perceraian akan diproses.


Ada rasa sesak yang ia rasakan, cuman Naya harus melakukan ini demi kebahagiaannya sendiri.


"Terima kasih, Jenn." lirihnya meluncurkan air mata kesedihan kalau sebentar lagi ia akan resmi bercerai.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2