
Emily celingukan mencari keberadaan Tristan di tempat kerjanya dan di mall. Sudah tujuh hari ini Tristan tidak pulang kerumah, dia sudah mencari ke kediaman Marko pun tidak ada.
Setiap tempat yang pernah di kunjungi Tristan sudah Emily datangi hasilnya tidak ada. Setiap temannya sudah ia tanyai masih tidak ketemu juga. Tapi, kata orang, Tristan suka masuk kerja cuman ia tidak pernah ketemu dengan suaminya.
"Kemana Tristan pergi dan kenapa dia menghindari ku selama tujuh hari ini? ini semua gara-gara Marko sialan itu. Kalau dia tidak membongkar rahasiaku pasti Tristan tidak akan pergi begitu saja," gumam dalam hati.
Emily masih bekerja di mall sebagi SPG. Sambil bekerja, matanya sambil mencari-cari dan pencariannya tak sia-sia di kala netra matanya melihat Tristan berjalan memasuki area kantor yang berada di lantai atas.
"Tristan..." pekiknya sedikit berlari mengejar suaminya dan langsung memeluk Tristan dari belakang.
"Honey, kamu kemana saja? aku merindukanmu, aku tahu aku salah tapi aku mohon jangan diemin kayak gini. Kasian anak kita, honey."
Tristan memejamkan mata membuang nafasnya secara kasar. Dia melepaskan tangan Emily dari perutnya dan berbalik.
"Aku butuh waktu untuk menenangkan dan berdamai dengan keadaan meski ku masih kecewa sama kamu, Em. Semua sudah terjadi dan saat ini kaupun sedang mengandung jadi aku memaafkanmu. Aku pergi dulu, akan ada rapat penting, nanti ku pulang ke rumah." Tristan menjawab namun dengan nada dingin dan pergi begitu saja.
"Honey, aku tunggu kamu di rumah."
Emily sedikit lega meski hatinya bertanya kemana selama ini Tristan pergi. Namun ia senang Tristan akan pulang ke rumah dan dia akan menyiapkan sesuatu yang spesial buat suaminya.
"Tak akan ku biarkan kamu pergi dengan mudah dari jeratan ku, Tristan. Sebelum ku mendapatkan bagian dari sebagian hartamu dan orang tuamu. Untung aku sedang mengandung anaknya Tristan, jadi anak ini yang akan menjadi pewaris tunggal kekayaan Marko Delano," gumamnya dalam hati sambil mengusap perut buncitnya yang sudah memasuki usia lima bulan.
Emily kembali melanjutkan pekerjaannya, matanya melihat ke bawah dan tak sengaja melihat Naya sedang berada di toko kecantikan yang menjual berbagai macam kosmetik dan toko itu di namai BEAUTY CARE.
"Ngapain dia di mari?" gumamnya memperhatikan setiap pakaian dan aksesoris yang di kenakan Naya terlihat seperti mahal.
"Sial dia semakin terlihat cantik." Emily membandingkan penampilannya yang sedikit gemuk akibat hamil dan membandingkannya dengan penampilan Naya.
Dia ingin mencari tahu kenapa Naya bisa berubah se drastis itu. Perasaan dia sudah menghasut warga untuk mengusir Naya maupun Andrian. Tapi kenapa Naya masih berkeliaran? begitulah pikirannya.
"Sayang, apa sudah selesai?" tanya Andrian merangkul pinggang istrinya mengecup mesra kepala Naya.
"Baru aja selesai." Jawabnya tersenyum.
"Mbak, nanti kalau stoknya sudah mulai menipis hubungi kantor saja, nanti barang-barangnya akan di kirim langsung ke sini."
__ADS_1
"Baik, Bu."
"Meeting nya emang udah selesai, ya?"
"Sudah, hanya mengumumkan kalau Papa resmi mengundurkan diri dan akan ada sekertaris baru yang akan menggantikannya. Sekalian Papa berpamitan kepada karyawan lainnya."
"Berati kamu ketemu mereka dan mengetahui wajah kamu dong?" tanya Naya menggandeng lengan suaminya.
"Gak ada yang tahu sebab aku menggunakan wajah samaranku memakai janggut, kumis dan kacamata hitam sama seperti dulu saat menjalin hubungan dengan Emily dan kamu."
"Emily..." Naya manggut-manggut membuang muka merasa tak suka suaminya menyebut nama itu. Entahlah, Naya sendiri tidak tahu kenapa sekarang sering sensitif kalau suaminya membahas masalah dulu.
"Aku jarang menunjukan wajah asliku di depan karyawan dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Emily juga tidak tahu wajah asliku yang ia tahu wajah berbewok dengan kumis hitamku."
"Stop! Jangan bahas lagi dia didepanku, aku tidak suka. Kalau kamu mau bahas, bahas saja dengan yang lain jangan di depanku!" sergahnya kesal meninggalkan Andrian.
Andrian heran kenapa istrinya malah marah gak jelas. "Hei, sayang. Kok kamu marah, sih?"
"Pikir saja sendiri," jawabnya ketus berjalan cepat-cepat meninggalkan Andrian.
Dari lantai atas, Emily terus memperhatikan keduanya dari jauh. "Siapa dia sebenarnya? apa benar kalau mereka sudah melakukan hubungan badan? ah, bodo ah, yang penting sekarang wanita itu tidak mengganggu Tristan dan tidak tinggal dengan orang tuanya Tristan."
*********
"Jangan marah gak jelas, aku tidak mengerti sayang." Kata Andrian memeluk Naya dari belakang.
Keduanya berada di ruangan kerja dan Andrian mengunci pintu serta menutup tirai jendela otomatisnya supaya kegiatan keduanya tidak terlihat.
Naya bersedekap cemberut layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk. "Aku tahu kalau Emily MANTAN istri kamu. Tapi, bisa tidak jangan bahas dia di depanku!"
Andrian mengernyit namun sedetik kemudian tersenyum simpul. "Kamu cemburu?"
"Tidak, kok. Hanya tidak suka saja," jawabnya jujur.
Andrian menghadapkan Naya menyenderkan punggungnya ke dinding.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau ucapanku bikin kamu tidak suka. Percayalah hanya ada kamu, aku hanya menceritakan yang sebenarnya dan tidak ada maksud apapun, beneran." Jarinya menyusuri wajah Naya.
"Benarkah?"
"Ia sayang." Cup... Andrian mencium bibir Naya menjelajahi setiap rongga di mulutnya, menyesap mereguk manisnya memainkan lidah Naya.
Naya mulai membalas ciuman Andrian berusaha meneguk kenikmatan yang di suguhkan. Dia juga mengalungkan lengannya ke leher Andrian dan mereka berpagutan dalam gairah yang semakin menggelora.
Andrian memeluk tubuh Naya semakin menempelkannya dan tangannya bergerilya meraba punggung, bo*ko*ng, dan mere*mas dada Naya yang pas di genggamannya.
Dia juga menciumi leher Naya memberikan tanda merah dengan gairah yang semakin memuncak. Satu tangannya melepaskan satu persatu kancing kemejanya Naya kemudian keduanya tangannya mencari pengait bra dan melepaskan.
Andrian menaikan rok yang di kenakan Naya kemudian mengangkat tubuhnya seperti koala sehingga aset keduanya saling bersentuhan dan membaringkannya ke sofa.
Mulutnya melahap pa*yu*dara sedangkan tangannya menurunkan celana segitiga milik Naya. Kemudian beralih melepaskan sabuk, resleting yang ia kenakan dan menurunkan celananya sampai lutut.
Kedua lutut Naya ia tekuk dan dibuka secara lebar-lebar kemudian dengan sekali hentakan kejantanannya menghujam milik Naya.
"Ahh..." de*sa*han keluar dari bibir Naya dan itu semakin membuat Andrian bergelora.
Andrian mengerang-ngerang menikmati percintaan itu begitupun dengan Naya. Dia memaju mundurkan tubuhnya secara berirama.
Bibirnya menciumi kening, mata, hidung, pipi, dan bibir Naya secara lembut untuk memberikan rasa nyaman dan kepuasan pada Naya.
Setelah beberapa waktu berpacu, Andrian mulai diambang batas dan ia semakin cepat menggerakkan ping*gul nya dan me*lu*mat bibir Naya kuat-kuat sampai dia mendapatkan ******* mengerang nikmat.
"Aakkhhhh...." erangannya tajam menghunjam inti bumi mengeluarkan lahar panasnya.
Tubuh Andrian bergetar hebat ambruk di atas tubuh sang istri. Napas keduanya terengah-engah merasakan kenikmatan dunia yang tiada tara.
Kemudian ia mengecup kening sang istri. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."
Naya memeluk erat leher suaminya terharu merasa di hargai sebab setiap mereka selesai melakukannya, Andrian selalu berterima kasih dan itu membuat Naya perlahan mulai menyukai Andrian.
Bersambung....
__ADS_1