
Tristan termenung memikirkan ucapan Mamanya. Dia teringat peristiwa satu tahun lalu dimana Emily menolak ajakannya dan lebih memilih pria yang jauh lebih kaya darinya.
FLASHBACK
"Em, aku ingin serius sama kamu dan orang tuaku menyuruhku mengajakmu kerumah untuk membicarakan hubungan kita." Tristan menggenggam lembut kedua tangan Emily yang ada di atas meja.
Emily melepaskan genggamannya. "Aku tidak bisa, Tristan."
"Kenapa? bukankah kamu juga selalu bilang ingin serius tapi kenapa malah menolak ajakanku?" tanya Tristan kecewa.
"Aku tidak mau menikah dengan karyawan biasa sepertimu, Tristan. Keperluanku sangat banyak dan aku akan menikah dengan orang kaya seorang sekertaris keuangan AG TRADE CENTER.
"Me-menikah? kita sudah pacaran sekitar satu tahun lalu dan sekarang kamu malah mau menikah dengan orang lain? hahaha kau lucu Emily, bahkan kita juga sudah melakukan hubungan badan dan aku yang mengambil kehormatanmu." Tristan tertawa sinis.
Emily berkata dalam hati, "Bukan kamu tapi suamiku yang pertama sebelum bertemu denganmu. Aku hanya menjebakmu supaya kau menjadi milikku karena ku tak mau hidup miskin terus dengan tukang kuli bangunan."
"Lupakan yang terjadi, aku sudah mendapatkan orang yang jauh lebih segalanya dari kamu. Seminggu lagi aku akan menikah dengannya dan dia adalah orang pilihan orang tuaku sebelum meninggal. Jadi lupakanlah aku!" Emily berdiri.
"Tidak semudah itu ku melupakanmu, Em. Aku mencintaimu aku serius denganmu," Tristan mencegah Emily pergi.
"Setidaknya sebelum kita beneran berpisah, aku ingin menghabiskan waktuku denganmu," lanjut Tristan.
FLASHBACK END
Tristan menghelakan nafasnya mengusap kasar wajahnya. "Dulu dia menolakku demi pria kaya dan sekarang dia kembali lagi di saat suaminya cacat dan tak bekerja lagi."
Tristan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya kemudian pergi lagi ke tempat dimana Emily tinggal lebih tepatnya rumah yang ia beli tanpa sepengetahuan orangtuanya dan Kanaya.
*************
"Sedang masak apa, Bu?" Kanaya menghampiri Bi Marni di dapur.
"Eh, non Naya. Bibi sedang masak gurame saus tiram kesukaan den Aldo. Non mau request sesuatu?" tanya Marni membersihkan ikan gurame besar.
"Tidak, Bu. Aku bosan di atas terus, aku bantuin ya?" Naya mendekat mengambil pisau dan ikan yang satunya.
__ADS_1
"Eh, jangan Non. Ini pekerjaan bibi. Non duduk saja di sana, ya!" Marni melarang Naya lebih tepatnya takut tuannya marah membiarkan Kanaya bekerja.
"Enggak pa pa, bu. Aku sudah biasa memasak, aku bantuin Ibu dan kali ini Ibu duduk manis di kursi, aku yang masak." Naya merangkul wanita paruh baya itu dan mendudukkannya di kursi kemudian ia melanjutkan kegiatannya.
"Aduh, non. Ini pekerjaan bibi."
"Please...! Aku yang masak ya!" pinta Naya memohon.
Bi Marni luluh juga dan ia pun mengangguk. Naya memasak ikan gurame saur tiram ala dia, dan setelah beberapa saat masakannya pun telah jadi.
"Oh, iya, yang tinggal di sini ada berapa orang?" tanya Naya sambil menyiapkan makanan ke atas meja.
"Kalau tidak salah lima orang. Den Aldo, non Jennifer, bibi, tukang kebun, dan supir."
Naya mengangguk. "Lalu orang tua Aldo kemana? kok aku tidak melihatnya?
"Den Aldo sudah tidak punya orang tua, dia tinggal hanya dengan..."
"Bi, tolong buatkan aku lemon tea!" pekik seorang wanita menghampiri.
Jeniffer juga kaget melihat Naya ada di rumahnya. "Nay, kok kamu juga ada di sini? lalu kakak?"
Naya menunduk bahkan matanya berkaca-kaca merasa bersalah. "A-aku minta maaf, a-aku meninggalkan Kakakmu sendirian di Cafe. Tapi aku tidak sengaja, Jen. Sungguh." Naya mendongak dan air matanya sudah meluncur.
"Jadi kamu meninggalkan dia?" Naya mengangguk bersalah.
"Kau... Kau tahu kalau Kakak ku itu tidak bisa berjalan dan tidak bisa melihat, Nay. Lalu siapa yang akan mengantarkannya pulang?"
"Ada apa ini, Jen? kenapa kamu marah-marah sama dia?" tanya Aldo menghampiri dapur sebab ia mendengar suara ribut-ribut.
Jenni menoleh, ia mengedip-ngedikan matanya menatap Aldo. "Dia sudah meninggalkan kakakku sendiri, Kak. Dia tidak bertanggungjawab atas pekerjaannya."
"Nay, kenapa kamu meninggalkan Andrian sendirian?" tanya Aldo ingin tahu alasan Kanaya yang sebenarnya.
"Aku minta maaf, Jenni. Tristan menyeret ku pulang dan menyangka kalau aku sama Andrian punya hubungan. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf telah meninggalkan Andrian. Aku tak bisa melawan Tristan, cekalannya sungguh kuat." Naya menunduk menangis.
__ADS_1
Jenni melihat pergelangan tangan Naya dan ada bekas merah di sana bahkan ada cakaran di lengan Naya.
Bi Marni merasa bingun dengan situasi yang ada. "Den, Andrian itu kan..."
"Bi...." Aldo dan Jenni menggelengkan kepalanya sehingga membuat Marni terdiam tak melanjutkan ucapannya.
"Kamu duduk dulu dan jelaskan masalah kamu! Soal Andrian, pasti ada orang baik yang mengantarkannya." Aldo, Jenni, dan Naya duduk di meja makan.
Naya enggan membeberkan masalah rumah tangganya kepada orang lain.
"Ada apa yang sebenarnya, Nay?" tanya Jenni.
"Hanya masalah rumah tangga saja."
"Tidak mungkin kan kalau hanya masalah sepele sedangkan tangan kamu sampai merah dan memar seperti itu?" cerca Jenni.
Aldo melihat tangan Naya sontak ia melotot baru melihatnya. "Jadi dia melukaimu?"
Naya cepat-cepat menurunkan tangan yang ada di atas meja ke kolong meja.
"Dia suamimu yang kau pergoki berselingkuh kan?" tanya Aldo.
Naya mengangguk meneteskan air mata. Bi Marni yang ada di samping Naya mengusap pundaknya.
"Kenapa kamu mau menikah sama pria itu kalau hanya untuk menyakitimu?" tanya Jenni.
"Aku hanya melaksanakan permintaan terakhir bapak untuk menikah di hadapannya sebelum Bapak pergi. Dan kebetulan orang tua Tristan teman Bapak dan menyuruh anaknya menikahiku."
"Mending kau tinggalkan dia."
"Aku sudah minta Tristan menceraikanku tapi ia tidak mau. Untuk masalah tadi, aku minta maaf Jenni. Tolong jangan pecat aku karena ku membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya kehidupanku. Maafkan atas kecerobohan ku, Jenn." Naya memohon untuk tidak di pecat.
Jeniffer menoleh ke arah Aldo dan Aldo mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan memecatmu asalkan kamu tinggal di rumah ku."
Naya berpikir dulu dan iapun mengangguk karena di sana tidak berdua. Ada Jenni dan bi Ratna. Naya juga tidak mau kembali kerumah Tristan takut Tristan semakin menyakitinya.
__ADS_1
Bersambung....