
Naya melihat Jenni yang sudah siap dengan pakaian kerjanya yaitu sebagai pengacara.
"Jenni, boleh aku bicara sebentar?" Naya mendekati sebelum Jenni pergi.
"Iya, silahkan. Jangan sungkan gitu, kita kan saudara." Jenni menjawab namun tangannya memeriksa kembali berkas klien nya.
"Tolong bantu aku menggugat cerai Tristan, aku pasti bayar kok tapi, nyicil ya," tutur Naya merendah tersenyum.
Jenni mendongak. "Aku pasti membantumu tanpa perlu membayar ku. Apa yang Tristan lakukan akan mempermudah proses perceraian kalian dan kamu bisa mengajukan harta gono-gini."
"Aku tak ingin hartanya, yang aku inginkan secepatnya berpisah dari Tristan." Naya duduk di bawah dekat meja membantu Jenni memasukan berkas ke dalam tas.
"Jujur, aku tidak kuat jika harus tinggal satu atas dengannya. Meski jiwaku tegar namun batinku rapuh. Aku ingin mencari kebahagiaan ku sendiri meski ku tahu tak akan mudah menjadi janda."
Jenni menghelakan nafas kemudian ikut duduk di hadapan Naya. "Langkahmu sudah benar, Nay. Aku pasti akan membantumu dan jangan pernah merasa sendiri karena aku dan Kakak ku akan selalu ada untukmu."
Naya terharu sampai berkaca-kaca. "Terima kasih, Jenn."
Jenni tersenyum mengusap punggung tangan Naya kemudian memeluknya. Batinnya berkata, "Aku akan melakukan apapun demi kakak ku termasuk membuat orang yang Kak Andrian sukai bahagia dan nyaman. Kau berbeda dengan Emily dan aku menyukai sikap serta sifatmu."
*******
AG TRADE CENTER
Tristan sampai tak pokus dalam melakukan pekerjaan. Pikirannya terganggu oleh Naya beserta pacarnya yang terus berseliweran di benaknya.
Tristan mengacak-acak rambutnya menggerutu kesal. "Siaaal... dimana Naya bisa mengenal pria itu? kapan mereka pacaran? kenapa gue tidak terima Naya di pegang-pegang?"
"Kalau gini terus gue tidak bisa fokus kerja, pikiran gue Naya Naya Naya terus. Gue harus cari tahu siapa pria itu, iya, harus!" monolog Tristan manggut-manggut.
Dering telepon kantor berbunyi kemudian Tristan mengangkatnya.
☎️ Keruangan saya sekarang juga!
📞 Baik, Pak.
Tristan mengernyit heran. "Ada apa ya, tumben Pak Mike memanggilku ke ruangannya?"
Tristan pun langsung beranjak ke lantai paling atas di mana para petinggi perusahan berkumpul seperti CEO, Asisten CEO dan Sekertaris CEO.
Tok tok tok
"Masuk!" pekik seseorang dari dalam.
Tristan melangkah masuk dan berdiri di hadapan pria tampan berahang kokoh berbewok yang memiliki mata hazel.
__ADS_1
"Ada apa Bapak memanggil saya?"
Bruuuk...
Pria di hadapan Tristan melempar berkas di atas meja. "Apa saja yang kau kerjakan selama menjadi manager keuangan di AG TRADE CENTER?" tanyanya dingin mendongak menatap tajam Tristan.
"Seperti biasanya, Pak. Mengelola kas dan piutang, berusaha mencari dana yang dibutuhkan dan mengelolanya secara efektif dan efisiesn."
"Menjalankan investasi dalam bentuk modal kerja."
"Membuat laporan keuangan dalam bentuk neraca, laporan kas, laporan laba rugi dan laporan keuangan lainnya dalam periode yang ditentukan."
"Mengevaluasi kinerja perusahaan melalui analisis keuangan dari laporan yang telah disusun." tutur Tristan menyebutkan tugasnya.
"Kalau kau tahu kenapa laporannya tidak sesuai terutama di bagian uang untuk modal?" Mike meminta penjelasan Tristan.
Tristan menunduk taku, bulir keringat mulai membasahi area wajah, ia tak berani mengangkat kepalanya.
"Di situ tertulis jumlah pengeluaran cukup besar namun nyatanya pemasukan barang-barang tidak sesuai dengan jumlah uang yang keluar. Saya sudah mengecek semuanya dan laporan yang kau buat semuanya jauh dari fakta. Apa kau korupsi?" Mike menatap curiga dan mengintimidasi Tristan.
"Ti-tidak Pak, saya tidak berani korupsi karena saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya akan perbaiki semuanya sekarang juga, saya berani bersumpah kalau saya tidak korupsi Pak." Meski gugup dan takut, Tristan menatap Mike dan akan memeriksa ulang laporannya.
"Ya, harus itu. Buat laporan baru yang benar dan simpan dulu urusan bribadimu! Jangan sampai bos besar tahu masalah ini kalau tidak, kau akan di pecat." Mike melanjutkan lagi pekerjaannya meneliti setiap berkas dari yang lain.
"Ba-baik Pak, akan saya kerjakan sekarang juga." Tristan mengambil berkas itu dan pamit pergi dari ruangan asisten CEO.
*********
Kediaman Andrian
"Nay, saya bosan di sini dan kalau kamu tidak keberatan kita jalan-jalan ke mall ya." ajak Andrian memperhatikan Naya yang sedang memotong kuku kakinya.
"Anda yakin mau jalan-jalan ke mall?"
"Saya yakin, kenapa emangnya? apa kau malu jalan bareng pria cacat seperti saya?"
Naya mendongak. "Maaf, saya tidak ada niatan untuk menyinggung fisik kamu. Tapi, saya tidak mau kamu merasa minder dan malu ketika berada di kerumunan banyak orang. Saya juga tidak mau orang-orang mencemooh kamu sehingga membuat kamu tak nyaman."
"Kalau kamu merasa yakin aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau asalkan itu tidak membuat dirimu tidak nyaman," lanjut Naya menatap teduh wajah Andrian.
Mata Andrian yang berada di balik kacamata bisa melihat ketulusan dan kekhawatiran yang Naya rasakan.
"Percaya sama saya kalau saya tidak selemah itu. Saya tidak peduli mereka mau bilang apa asalkan karena ini hidup saya."
Naya tersenyum dan mengangguk. "Kalau Anda yakin, aku akan antar ke sana." Naya berdiri karena sudah selesai kemudian mendorong kursi rodanya kedepan rumah.
__ADS_1
"Eh, mau ganti baju dulu tidak?" tanya Naya.
"Tidak perlu, begini saja sudah cukup lebih baik." Jawab Andrian dan Naya kembali melanjutkan perjalanan dan membantu Andrian naik mobil.
Naya mengunci pintu rumahnya kemudian naik ke depan pengemudi dan menjalankan mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan, mereka sampai di Mall AG TRADE CENTER. Naya sampai terkagum melihat bangunan megah menjulang tinggi dan untuk pertama kalinya ia memasuki mall terbesar ini.
"Kita gak salah jalan-jalan ke mall ini?" tanya Naya mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
"Tidak, Nay. Kamu lurus saja kita parkir di situ!" Andrian menunjuk tempat parkir khusus para petinggi perusahan.
"Baik, Pak. Sepertinya kamu mengetahui banyak mall ini?"
"Pasti tahu karena saya dan Jenni sering jalan ke sini jika ada waktu libur."
Naya manggut-manggut dan memarkirkan kendaraannya lalu membantu kembali Andrian untuk turun.
"Kita nonton yuk, sudah lama tidak nonton bioskop!"
"Aku sih hayu saja, tapi saya tidak tahu jalannya." Jawab Naya sambil mendorong kursi rodanya.
Dan Andrian menunjukan jalan kemana mereka harus berjalan. Naya terkejut karena Andrian mengajak lewat lift.
"Ini, kenapa lewat sini? setahuku biasanya lift di gunakan khusus para pekerja kantor semacam petinggi perusahan?!"
Dalam hati Andrian merutuk diri sendiri. "Bodoh kau Andrian, Naya kan tidak tahu kalau kau pemiliknya dan sering lewat sini."
"Hhhhmmm, saya mengenal bosnya jadi dia mempersilahkan saya untuk memakai lift ini. Udah, jangan banyak tanya yang penting kita sampai dan tidak berdesakan!"
"Oohh gitu."
Sebelum nonton, Andrian mengajak Naya untuk makan. Sambil berjalan, mereka berbincang-bincang saling bertukar cerita dan Naya tak sedikitpun malu mendorong Andrian meski banyak pasang mata yang memperhatikan dan mencibir.
"Kamu haus, gak? kalau haus aku beliin minuman dulu di mbak-mbak SPG itu," tanya Naya.
"Boleh."
Naya mendekati wanita yang bekerja sebagai SPG dan wanita itu sedang melayani pembeli.
"Minumannya dua, Mbak." kata Naya.
"Boleh mbak, ini..." dia yang tadi menunduk mengambil minuman mendongak terbelalak melihat istri pertamanya Tristan.
"Kau..!"
__ADS_1
"Emily..!"
Bersambung....