SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Setelah menjenguk Claudia, Naya dan Andrian menjenguk Tristan. Mereka masih memiliki hati dan rasa kemanusiaan meski Tristan pernah berbuat buruk.


Naya lebih dulu mengetuk pintu dan baru masuk setelah di persilahkan oleh orang yang ada di dalam.


Tristan menatap Kanaya yang kian semakin cantik. Dia juga memperhatikan bagaimana Andrian begitu posesif merangkul pinggang Naya dan mata dia dan Andrian saling bertubrukan.


Andrian tidak suka cara Tristan menatap istrinya penuh kagum dan terlihat terpesona. Dia sengaja merangkul pinggang Naya untuk menunjukan kalau Kanaya adalah miliknya.


"Mah, Pah. Maaf kami baru bisa menjenguk Tristan. Kemarin kami langsung pulang setelah menemui orang tua Ariel," ucap Naya sambil menyimpan bingkisan buah-buahan di atas meja samping brangkar.


"Tidak apa-apa, Nay. Mama mengerti, apalagi kamu sedang hamil pasti lebih sering lelah."


"Naya hamil? anaknya pebinor. Seharusnya aku yang menjadi suami Naya," gumam batin Tristan menatap tidak suka tangan Andrian yang masih merangkul Naya.


"Sayang, aku ada urusan dulu sama Papa. Kamu jangan macam-macam, jaga mata, maha hati, ingat, ada anak kita di sini," kata Andrian mengelus perut rata istrinya kemudian memeluk, mengecup mesra pucuk kepala istrinya.


Tristan membuang muka tak ingin melihat kemesraan itu. Hatinya terasa panas. Tristan tipekal pria playboy suka sana suka sini. Sifatnya menurun dari sang Ayah yang juga seorang playboy dan brengsekk.


"Iya, aku pasti ingat itu. Kamu tidak usah khawatir karena hatiku sudah kamu gembok dan kuncinya kamu buang ke tengah laut supaya tidak ada yang bisa membukanya," jawab Naya tersenyum manis.


"Kamu bisa saja, aku mencintaimu." Balas Andrian mencolek hidung mancung istrinya. Diapun meminta Papa Marko untuk keluar sebentar dan Marko mengangguk.


"Apa kabar?"


"Kurang baik setelah kepergianmu, Nay. Seandainya kamu masih menjadi istriku...."


"Cukup! Aku kesini berbaik hati mau menjengukmu bukan mau mendengarkan rayuan gombal busukmu. Jadi stop berandai-andai! Semuanya sudah berbeda," jawab Naya memotong ucapan Tristan dengan tegas.


"Mah, aku mau menjenguk Emily dulu. Aku males mendengarkan khayalan Tristan." Naya pergi begitu saja tanpa mendengarkan balasan Jihan.


Tristan diam seribu bahasa namun hatinya berkata, "Apa salah kalau aku mengharapkan mu kembali setelah apa yang ku lakukan? kamu berbeda dari yang lain Nay. Meski Claudia baik, Emily cantik dan sexy tapi kenapa hati kecilku tak bisa bohong kalau aku menginginkanmu."


"Mama harap kamu tidak berpikiran untuk merebut Naya dari Andrian. Kalau itu terjadi, jangan salahkan Mama jika Mama melaporkan kamu ke polisi atas kekerasan dalam rumah tangga yang telah kamu lakukan pada Kanaya! Dan seumur hidup, Mama akan membencimu dan tak ingin kenal denganu lagi!" ancam Jihan menatap tajam dengan raut wajah serius.


Deg...


Tristan mematung, ia mengenal Jihan yang tegas dan tak main-main dalam berkata.


**********

__ADS_1


Kantin rumah sakit.


"Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan?"


"Ini masalah Tristan, Pah."


"Tristan? ada apa lagi dengan anak itu? tidak habisnya tuh anak bikin masalah."


"Tristan menghamili seorang wanita, ia malah meninggalkan wanita itu demi Emily. Dan, Ariel adalah anak dari wanita yang di hamilinya." Andrian memberitahukan perihal anak Tristan sebab ia tidak ingin menyembunyikan hal apapun.


"Apa?! benar-benar kurang ajar si Tristan." Marko terkejut dan ia percaya ucapan Andrian. Marko memijat pelipisnya merasa pusing dan gagal mendidik anak sahabatnya.


"Ari, kenapa sifat bejat mu kau turunkan kepada anakmu. Dulu kau juga seorang playboy Casanova sampai menghancurkan wanita polos dan hasil kebejatanmu lahir Tristan. Sekarang anakmu," batin Marko.


"Lalu dimana wanita itu?"


"Dia ada di rumah sakit ini juga dan dia merupakan selingkuhan Tristan." Andrian menceritakan semuanya dari A sampai Z.


"Apa! Ya Tuhan...." Marko terhunyung menyenderkan lesu punggungnya ke penyangga kursi. Dia bingung harus berbuat apa dan harus berpihak pada siapa.


***********


"Ngapain kau kesini?" tanya Emily ketus.


"Aku hanya ingin menjengukmu saja. Apa salah?" jawab Naya santai menyimpan buah tangan di atas meja.


"Salah besar! Aku tidak mau di jenguk oleh pelakor pembawa sial sepertimu." Ternyata Emily masih belum kapok dan masih saja tidak suka pada Naya.


"Yakin jika saya pembawa sial? bukankah ini merupakan karma yang nyata? lalu kenapa kamu tidak sadar juga setelah apa yang terjadi padamu? aku jadi menyesal datang menjengukmu kalau pada akhirnya kau masih menyalahkan diriku. Sepicik, selicik, se egois, se serakah itukah dirimu." Jawab Naya dingin, tegas, penuh penekanan.


"Kau..."


"Satu lagi, tak tahu malu. Ngaca dong! punya kaca tidak di rumah? baru saja dapat musibah malah ngatain orang pelakor sedangkan dirimu sendiri pelakor. Bukannya taubat malah nyalahin orang." Pekik Naya kesal sendiri jadinya. Niat berbaik hati mau menjenguk malah dapat ocehan seperti itu.


Ceklek....


Pintu di buka seseorang, mereka menoleh.


"Andrian," ucap Emily mematung. Ia tersenyum melihat mantan suaminya yang tak pernah menyakitinya dan selalu memperlakukannya baik.

__ADS_1


Andrian melirik Emily sebentar kemudian melirik istrinya. Tapi, ia malah mengernyit bingung melihat raut wajah Naya yang sudah murung.


"Andrian, kamu pasti mau menjengukku kan? Aku tahu kamu pasti masih memperhatikanku dan juga mencintaiku. Aku senang kamu ada di sini, bawa aku pulang ya?" oceh Emily tak tahu malu dan kepedean.


"Kalau dengan Andrian, setidaknya hidupku terjamin meski tak memiliki anak," batin Emily.


Naya menoleh menatap tajam Emily.


"Siapa yang mau menjengukmu? kalau bukan Kanaya yang kesini, males sekali ku datang ke mari. Dan kita sudah berbeda, jangan kepedean bilang kalau aku masih memperhatikanmu atau berpikir mencintaimu. Nyatanya, aku tak merasakan hal itu."


"Sayang, ayo pulang. Aku males lama-lama di sini," ajak Andrian menggandeng tangan Naya membawanya pulang tanpa pamit ataupun berbasa basi dulu.


Emily mengepalkan tangannya memukul ranjangnya. Dia mengacak-acak rambutnya merasa prustasi tak bisa mendapatkan pria kaya.


"Aaakkkhhhh.... sialann? ingin mendapat pria kaya tapi justru malah sengsara. Aku memang mencintai Tristan ingin hidup enak, tapi sekarang dia menalakku. Lalu Andrian, aku meninggalkannya dan dia ternyata jauh lebih kaya dari Tristan."


************


Ruangan Claudia


Mike menyerahkan kembali Ariel setelah puas bermain barengnya.


"Maaf lama mengembalikannya." Mike membaringkan Ariel di samping Claudia.


"Maaf juga sudah merepotkanmu dengan mengasuhnya." Claudia memperhatikan cara Mike menaruh Ariel penuh ke hati-hatian dan Mike tersenyum.


"Tidak masalah, justru saya senang bisa bermain dengannya. Kalau gitu saya pulang dulu, semoga kalian mendapatkan kebahagiaan," ucap Mike menatap tulus.


Claudia tertegun, namun dalam hati mengaminkan. Mike pun pergi.


Di dalam perjalanan, Mike menelpon istrinya.


"Kamu dimana? aku mau membicarakan sesuatu sama kamu."


......................


"Baiklah, aku akan menemuimu di tempat pemotretan."


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2