
"Bos, ada yang harus di tandatangani dan ini orang-orang yang melamar menjadi sekertarismu." Mike memberikan beberapa berkas ke hadapan Andrian dan juga memberikan CV orang yang melamar kerja lewat email.
Dia sampai berkunjung ke rumah utama milik Andrian di karenakan bosnya mengalami morning sickness dan tidak ingin jauh dari istrinya.
Andrian memeriksa terlebih dulu berkasnya baru kemudian menandatanganinya dan ia juga melihat CV orang.
"Aku ingin sekertaris pria, untuk wanita, tolak saja karena ku tidak suka. Tapi, ini boleh juga." Andrian membaca detail salah satu seorang pria bernama lengkap HARIS PRAYOGA. Dia memperhatikan lekat-lekat wajahnya dan ia ingat kalau pria itu merupakan pria yang hampir menabrak Ariel dan Naya.
"Baik, nanti akan ku interview."
"Sayang, hari ini kita jadi kan kerumah sakit?" ucap Naya tiba-tiba sudah terlihat rapi.
"Jadi, tapi Mike yang akan menjadi supirnya."
"Saya ikut, Bos?" ujar Mike menunjuk diri sendiri dan Andrian mengangguk.
Naya dan Andrian berencana untuk menjenguk, Claudia, Tristan, dan Emily sekalian mau memeriksa keadaan Andrian yang kian melemas akibat tidak memiliki selera makan.
************
Rumah sakit
Setelah melakukan pemeriksaan, Andrian di berikan beberapa obat pereda mual dan vitamin. Kemudian, mereka beranjak menjenguk Claudia dulu dan Mike tetap setia mengekor bosnya.
"Siang Claudia," sapa Naya membuka pintu masuk setelah di persilahkan. Claudia tersenyum ramah.
"Siang juga Nay, Andrian." Jawabnya dan matanya sempat melirik pada pria yang berada di belakang mereka.
Ariel yang berada di pangkuan pengasuhnya memberontak ingin turun dan pengasuh itu menurunkan Ariel. Naya yang melihatnya tersenyum berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ariel memeluk balita yang baru saja belajar berjalan.
"Harum sekali, pasti Ariel udah mandi ya?" dan Ariel mengangguk tersenyum memperlihatkan giginya.
"Udah makan?" dan Ariel menggeleng.
"Kenapa?" tanya Naya, Ariel malah menunduk sedih. Naya melirik Claudia begitupun dengan Andrian.
__ADS_1
"Aku sudah membujuknya, tapi dia tidak mau makan. Aku juga bingung kenapa dia seperti itu?" Claudia sendiri bingung.
Mike menatap iba pada bocah kecil yang hanya bisa menggeleng dan dan mengangguk. Dia repleks berjongkok di hadapan Ariel.
"Hai boy. Bolehkah kita kenalan?" tanya Mike mengulurkan tangan dan balita itu mendongak menatap lekat-lekat wajah Mike. Dia mengangguk menerima uluran tangan Mike. Mulutnya bergumam menyebutkan huruf abjad. Meski tak ada suaranya, namun Mike bisa mengerti.
"Aku Mike." Mike memangku bocah itu. Dia memang suka anak kecil dan ia ingin segera memiliki momongan namun tak kunjung di berikan padahal pernikahannya sudah berjalan lima tahun.
"Maaf, boleh aku membawa anakmu keluar? aku hanya ingin bermain dengannya, aku menyukai anak kecil. Kau tenang saja, tak akan ku culik dia." ujarnya meminta izin pada Claudia dan Claudia melirik Ariel dulu baru ia mengangguk.
"Bos, saya ke luar sebentar." Dan Andrian mengangguk.
Setelah kepergian Mike, Naya duduk di kursi dekat brangkar dan Andrian duduk di sofa sambil mengecek email masuk lewat handphone nya.
"Setelah dari sini, kalian mau kemana?"
"Aku tidak tahu, Nay. Kami baru saja di usir dari kontrakan karena suami pemilik kontrakan menuduhku menggodanya. Dan tujuanku sudah ku gapai menghancurkan pernikahan mereka. Aku tahu apa yang ku lakukan salah, tapi aku ingin mereka merasakan apa yang ku rasakan dulu meski ku harus menjadi pemuas nafsu Tristan," lirih Claudia menunduk miris.
"Apa kamu tidak memiliki tempat tinggal tetap?"
"Aku dan Ariel berpindah-pindah tempat. Semenjak ku mengandung Ariel, warga di sekitarku mengusirku bahkan mereka tega membakar satu-satunya harta peninggalan orang tuaku dikarenakan ku hamil di luar nikah. Dan begitupun di tempat baru, mereka selalu bilang kalau aku wanita hina tak punya suami dan kehadiranku bisa membuat suami mereka berpaling," tutur Claudia berkaca-kaca jika mengingat kembali perjuangannya dulu.
Sesak, itulah yang Claudia rasakan. Sakit, bila harus mengingat kembali masa-masa tersulitnya. Rapuh, ia tak ada tempat mengaduh.
Naya menggenggam tangan Claudia lalu berdiri memeluk wanita yang melahirkan keponakannya.
"Jika kamu berkenan, tinggallah di rumah peninggalan suamiku," ucap Naya menawarkan rumah yang dulu.
"Tidak, Nay. Aku tidak mungkin tinggal serumah dengan kalian. Aku tidak mau mereka berpikir negatif tentangku meski ku tahu aku salah pernah tinggal di rumah Tristan," jawab Claudia mengurai pelukannya.
"Kamu tidak akan tinggal bareng kita tapi kamu akan tinggal di rumah yang satunya. Daripada kosong mending kamu tinggali. Adikku sudah menikah dan ikut suaminya begitupun kami yang juga akan memiliki anak memutuskan tinggal di rumah utama jadi rumah yang satunya akan kosong," sahut Andrian.
Claudia mendongak menatap Naya menangis terharu di pertemukan dengan orang-orang baik. Naya mengangguk mengiakan dan Claudia pun mengangguk sambil menangis memeluk Naya. Pada dasarnya Claudia oran baik, namun ia terpaksa jahat demi membalas dendam terhadap Tristan dan Emily.
**************
__ADS_1
Sedangkan Mike, ia membawa Ariel ke kantin rumah sakit. Dia ingin mengetahui lebih dalam apa yang di rasakan balita itu.
"Kalau boleh tahu, kenapa Ariel tidak mau makan?" tanyanya sambil memangku Ariel dan menyuapinya.
Ariel menjawab dengan mengusap pipi seolah ada yang menangis.
"Ariel sedih?" Ariel mengangguk.
"Kenapa sedih?" Ariel mencari sesuatu dan tangan mungilnya menunjuk keluarga ada wanita, pria dan anak kecil. Mike memperhatikannya.
"Kamu ingin seperti mereka?" tanya Mike seraya kembali menyuapinya dan Ariel kembali mengangguk.
"Ingin punya Mama dan Papa?" lagi-lagi balita itu mengangguk.
"Papa kamu dimana?" dan Ariel menggeleng menunduk sedih. Mike tidak tega, ia memeluk balita itu memberikan sebuah kenyaman tapi, bocah itu malah terisak di pelukan Mike. Tangisnya begitu lirih seolah merasakan beban yang luar bisa.
"Apa yang terjadi pada balita ini? kenapa dia menangis sesegukan? apakah selama ini hidupnya tidak bahagia? lalu kemana Papanya?" gumam Mike mengusap kepalanya Ariel.
Sekarang ia mengerti kenapa Ariel tidak ingin makan. Balita itu ingin memiliki keluarga lengkap dan bahagia. Mungkin ini salah satu hal yang ada di pikiran balita itu sampai sulit untuk makan.
"Kalau kamu ingin punya Papa, kamu boleh panggil Om dengan sebutan Papa," celetuknya membuat keputusan. Saking inginnya punya anak, Mike sampai mengusulkan diri untuk di panggil Papa.
Tangan mungilnya merangkul leher Mike, wajahnya di sembunyikan ke ceruk leher Mike. Bibir mungilnya berusaha berkata namun sulit, tetapi balita itu ingin berucap kata Papa.
"Paaa..... pa...." lirihnya bergetar berusaha mengeluarkan suara. Ariel tak pantang semangat. Ia kembali berusaha.
"Paa..... paa..." lirihnya namun kali ini ada sedikit suara meski serak.
Mike sampai tertegun. Ia sedikit menjauhkan tubuh Ariel.
"Kamu bicara apa?"
"Paaa.... paaa..." ucapnya bersuara.
"Pa...pa..." ucap Ariel kembali tersenyum manis.
__ADS_1
Deg....
Bersambung.....