
"Perutku?!" Emily meraba perutnya, dia melihat ke arah perut yang kini sudah rata seperti sedia kala. Matanya terbelalak terkejut.
"Anakku? kenapa perutku rata? kandunganku?" Emily panik meraba-raba perutnya.
"Dokteeer.... dimana anakku? dokter kenapa kandunganku tidak ada? dokter....." teriaknya panik berusaha turun melepaskan jarum infus yang ada di tangan kirinya.
"Emily, jangan banyak bergerak, Nak. Kamu baru saja siuman," ucap Jihan mencegah Emily turun dari ranjang dan ia memeluk Emily berusaha menenangkan.
"Aku tidak peduli, dimana anakku? dokteeer...." pekiknya berontak.
"Kita tunggu dokternya datang, ya. Kamu tenang dulu. Kami di sini, jangan panik, ok!" ucap Jihan menenangkan mengusap punggung Emily. Jihan tidak tega melihat Emily histeris menanyakan kandungannya. Ia seakan ikut sakit jika menyangkut soal anak.
"Pah, panggilkan dokter!"
Marko yang berdiri tak jauh dari mereka menekan tombol darurat, dan tak lama kemudian datang dokter wanita.
"Dokter, dimana anakku? kenapa kandunganku tidak ada? apa yang terjadi pada anakku? apa anakku baik-baik saja? jawab dokter!" cerca Emily setelah melihat dokter masuk keruangannya.
Dokter itu membuang nafasnya secara kasar. Dia memejamkan mata mengatur nafas.
"Begini Bu, Pak. Benturan keras yang Anda alami tepat mengenai perut bagian bawah Anda. Dan itu menyebabkan pendarahan berat sehingga mempengaruhi kandungan Anda."
"Dan pendarahan yang Anda alami keluar tepat di area inti Anda. Jika kami tidak segera memberhentikan pendarahan tersebut maka jika penghentian tidak dihentikan, pasien dapat mengalami syok. Dalam beberapa kasus, pasien juga dapat mengalami demam atau infeksi."
"Pendarahan juga dapat disebabkan oleh terancam atau terancamnya rintangan. Keguguran terjadi pada 20 minggu pertama kehamilan. Jika usia kehamilan telah melewati 20 minggu, maka kondisi ini lahir mati atau meninggal di dalam kandungan."
"Dan kami terpaksa harus mengangkat janin Anda karena janin tersebut sudah dalam kondisi tidak bernyawa saat masih di dalam kandungan Anda. Dan kami juga terpaksa harus melakukan pengangkatan rahim karena rahim Anda mengalami kerusakan dan itu juga menjadi satu-satunya jalan keluar sebab perdarahan berdampak pada kualitas hidup dan merupakan pilihan yang terbaik untuk memberhentikan periode pendarahan yang Anda alami." tutur sang Dokter panjang lebar menjelaskan dampak pendarahan yang terjadi dan akibat dari benturan serta pendarahan tersebut.
__ADS_1
Jihan membungkam mulutnya menggunakan tangan, dia syok mendengar jika cucunya tak bisa terselamatkan. Begitupun dengan Marko yang juga sama-sama syok.
Jangan di tanya mengenai Emily. Wanita itu mematung tak percaya, dia diam seribu bahasa mencerna apa yang di katakan dokter. Air matanya seketika mengalir deras dan ia menjerit histeris.
"Tidaaaaak... anakku belum mati... dia masih hidup... kau pasti berbohong padaku, kau bohong dokter! Kembalikan anakku! Aku tidak mungkin keguguran! Rahimku tidak mungkin di angkat!" Emily mencengkram erat jas dokternya seraya menahan sakit di perut. Dia menjerit histeris menangis meraung-raung.
Jihan memeluk tubuh Emily, ia ikut menangis harus kehilangan cucunya. "Em, kamu harus sabar, ini ujian buat kamu."
"Anakku tidak mungkin tiada hiks hiks hiks. Rahimku tidak mungkin di angkat hiks hiks hiks." Emily mendorong kasar tubuh Jihan.
"Ini semua gara-gara anakmu! Kalau dia tidak selingkuh aku tidak mungkin kehilangan anakku! Ini semua gara-gara Kanaya yang memberikan kesialannya kepadaku!" sentaknya menunjuk murka wajah Jihan.
"Emily, kau jangan menyalahkan Kanaya! mungkin ini semua karma untukmu karena kau sudah berbuat jahat pada Kanaya. Dulu, Kanaya harus kehilangan anaknya dan itu semua karena Tristan selingkuh denganmu. Sekarang, ini terjadi padamu karena Tristan juga selingkuh!" pekik Marko marah mendengar anaknya di salahkan.
Jihan mencengkram kedua bahu Emily menatap tajam matanya Emily. "Kau menyalahkan anakku memberikan kesialannya padamu? apa kau pernah berpikir sebelum bicara? kau menjadi pelakor di kehidupan Naya padahal kalian sudah mengakhiri hubungan, kau penyebab Naya keguguran, kau menjadi alasan utama putriku di siksa lahir batin oleh Tristan dan sekarang masih menyalahkan Kanaya?"
"Dan kau, kau merasakan karmanya! Ini karma, karma di bayar tunai, karma yang nyata yang Tuhan berikan untuk sang pelakor sepertimu!" tunjuk Jihan menatap benci. Ia yang tadinya iba menjadi marah saat Emily menyalahkan Putrinya. Diapun beranjak pergi meninggalkan Marko, Emily dan dokter yang dari tadi memperhatikan.
Marko menghelakan nafas. "Tuhan masih baik dengan membiarkan kamu hidup. Tuhan ingin kamu bertaubat, Tuhan merindukan kamu berdoa di setiap sujudmu di keheningan malam. Papa harap, kamu bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi padamu." tuturnya mengelus lembut pucuk kepala Emily.
Emily mendongak berderai air mata, mencerna setiap kata yang di ucapkan mertuanya.
"Istirahatlah, pikirkan baik-baik ucapan kita. Apa yang kita perbuat di masa lalu akan Tuhan balas di masa sekarang, apa yang di lakukan di masa sekarang, akan Tuhan balas di masa yang akan datang. Bertaubatlah sebelum ajal datang dan menyesal. Renungkan lah!" lanjutnya menepuk-nepuk pundak Emily meninggalkan tempat itu.
Emily menunduk merenungi semuanya, air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya. Apa yang dikatakan mereka berputar di kepala Emily.
***********
__ADS_1
Di ruangan yang berbeda.
Claudia sudah tersadar, dia tidak mengalami cedera apapun hanya kepalanya saja yang terbentur dan itu tidak terlalu parah.
Claudia memeluk erat putra semata wayangnya, ia terharu bisa kembali bertemu dengan anaknya.
"Terima kasih sudah menemukan putraku. Kalau terjadi apa-apa pada Ariel, saya tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
"Sama-sama, kami ikut senang bisa membantumu. Ariel anaknya baik dan juga mudah beradaptasi, jadi kami tidak kesulitan mendekatkan diri dengannya," jawab Naya tersenyum ramah.
"Cuman, kami kesulitan berkomunikasi," timpal Andrian sambil merangkul istrinya.
"Seja lahir Ariel memang sulit bersuara. Tapi kata dokter, dia baik-baik saja. Namun, sampai sekarang saya belum pernah mendengar dia bicara entah apa penyebabnya, dokterpun tidak mengetahui itu."
Naya dan Andrian mengangguk mengerti. Sedangkan Ariel mengusap kening Claudia yang terbalut kasa dan matanya berkaca-kaca.
"Mama tidak apa-apa, sayang. Kamu jangan nangis, mama kuat asalkan ada Ariel di samping Mama. Jangan tinggalkan Mama sendiri, Mama hanya punya kamu seorang." lirihnya mengecup pucuk kepala sang putra dan air matanya menetes begitu saja.
"Memangnya kemana Papanya Ariel?" tanya Naya hati-hati.
Deg...
Claudia tertegun, ia baru teringat kembali pada Tristan. Kecelakaan yang mereka alami membuat Tristan banting stir ke kanan dan mengakibatkan mobilnya membentur bangunan tepat sisi kanan.
"Tristan..."
"Tristan?!" ucap Naya dan Andrian saling menoleh.
__ADS_1
Bersambung.....