
Rangkaian acara pernikahan telah selesai di gelar. Semua orang sudah membubarkan diri dan pasangan pengantin pun tengah istirahat di kamarnya begitupula dengan yang lainnya.
Andrian merebahkan tubuhnya menghilangkan rasa lelah dan penat yang ia rasakan. Naya sendiri duduk di depan meja rias menghapus makeup yang tertera di wajahnya.
Andrian menyampingkan tubuhnya menompang kepala memperhatikan sang istri.
"Sayang, sini deh!" panggilnya menepuk-nepuk tempat di samping dia. Naya menoleh membuang tissue bekas mengelap wajahnya ke tong sampah seraya beranjak menghampiri suaminya dan duduk.
Andrian menarik tangan Naya sampai istrinya jatuh terlentang. Lalu dia memeluk perut istrinya menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Naya.
"Maafkan aku." Lirih Andrian memeluk istrinya.
"Maaf untuk apa? Kamu tidak memiliki kesalahan apapun terhadapku." jawab Naya bingung.
"Aku tidak memberikan pesta pernikahan mewah untukmu. Nikah saja kita di grebek warga, memalukan."
Tangan Naya mengusap tangan Andrian yang ada di atas perutnya. "Aku tidak menginginkan pesta pernikahan mewah, yang ku inginkan kita akan selalu bersama sampai umur termakan usia. Dan bahagia selalu bersama kamu selamanya."
"Buat apa ada pesta yang mewah kalau pada akhirnya rumah tangga kita tidak bahagia. Buat apa ngabisin uang hanya untuk di pakai sehari dua hari saja. Mending uangnya di tabung atau di gunakan lagi untuk membantu mereka yang membutuhkan."
"Bahagia itu bukan dari seberapa besar dan mewah resepsi nya. Tapi, seberapa kita mampu menjalankan rumah tangga, seberapa kita mampu menyelesaikan masalah yang menerpa, seberapa kuat kita bisa menghadapi cobaan di dalam rumah tangga."
"Aku tidak masalah tidak menggelar pernikahan atau resepsi mewah cukup cinta dan kasih sayangmu saja yang mewah karena aku menginginkan hatimu bukan yang lainnya." Ucap Naya panjang lebar memandangi wajah tampan suaminya.
"Kamu tidak usah khawatir sebab hatiku sudah terpaut padamu. Jiwa ragaku milikmu, semuanya milikmu, tak akan ada yang lain selain dirimu sang pemilik hati tertinggi." Andrian tersenyum sambil mengusap pipi putih kemerah-merahan. Dia mendekatkan wajahnya mengecup kening sang istri. Turun ke mata, hidung, pipi, dan terakhir bibirnya.
"Aku mencintaimu, Kanaya."
"Aku juga mencintaimu, Andrian." Andrian tersenyum memeluk tubuh istrinya.
"Sayang, apa kamu sudah menemukan siapa orang tua Ariel?" celetuk Naya teringat balita kecil yang sedang bersama Marko dan Jihan.
"Belum, sayang. Tapi orang suruhanku tengah mencarinya bermodalkan foto Ariel."
Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Andrian mengambil ponselnya dan menggeser tombol warna hijau.
"Informasi apa yang kau dapatkan?"
"Kami mendapatkan informasi kalau orangtuanya juga mencarinya. Ini, saya lagi bersama baby sitter nya balita itu."
Andrian bangun mendudukan bokongnya. "Ajak dia bertemu denganku."
__ADS_1
"Tapi, bos, barusan baby sitter nya Ariel mendapatkan kabar kalau Ibunya Ariel kecelakaan."
"Kecelakaan?! baik, saya ke situ sekarang juga. Kamu kirimkan alamat rumah sakitnya!" Andrian mematikan panggilannya.
"Siapa yang kecelakaan?" tanya Naya yang sudah duduk memperhatikan penuh penasaran.
"Orang tuanya Ariel."
"Yaudah, tunggu apa lagi? kita kesana sekarang untuk melihat dan sekalian kita bawa Ariel juga." Naya beranjak dari ranjang dan keduanya bersiap-siap.
Tok.. tok.. tok...
"Andrian, Kanaya.."
Andrian membuka pintunya. "Ada apa, Mah. Pah?"
"Al, barusan kita dapat kabar kalau Tristan dan Emily kecelakaan. Mereka berada di rumah sakit xxxx." tutur Jihan panik.
"Kita bareng saja, Pah, Mah. Kita juga mau kesana untuk menemui orang tuanya Ariel."
"Yaudah, Papa siapkan mobilnya dulu."
Dan mereka pun beranjak pergi ke rumah sakit yang di tuju.
***********
Jihan, Marko, Andrian, dan Naya sudah berada di rumah sakit. Mereka terlebih dulu bertanya ke resepsionis dimana ruangan Tristan dan Emily berada. Mereka tergesa-gesa menuju ruangan dimana Tristan di rawat.
Mata Jihan tertuju pada sang anak yang terbaring lemah.
Marko dan Jihan masuk ke dalam sedangkan Andrian dan Naya berada di luar melihat dari kaca.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Jihan khawatir melihat pasien yang terbaring di atas brangkar.
"Anda orangtuanya?" tanya Dokter.
"Iya, dok. Saya Ibunya dan ini Papanya," jawab Jihan melirik Marko.
"Begini, Bu, Pak. Kecelakaan hebat yang di alami anak kalian menyebabkan putus urat syaraf di bagian pen*is atau di sebut difungsi ereksi. Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, baik sifat,fisik ataupun psikologis. Pada penyebab fisik diantaranya akibat adanya cedera atau trauma atau benturan yang terjadi pada tulang belakang yang dapat menimbulkan gangguan saraf."
"Mungkin istilah awam disebut putus urat saraf tetapi mungkin yang dimaksud adalah kerusakan saraf sehingga menimbulkan disfungsi ereksi, kemungkinan pasien mengalami impoten," jelas dokter.
"Apa! Impoten!" Marko dan Jihan terkejut. Tubuh Jihan terhunyung kebelakang dan Marko menahannya.
__ADS_1
"Kiranya apa yang sedang mereka bicarakan ya? kenapa Mama dan Papa begitu terkejut setelah dokter bicara?" tanya Naya memperhatikan namun tak dapat mendengar apa yang di bicarakan.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Sepertinya ini sangat serius," jawab Andrian yang juga memperhatikan.
"Bos," panggil seseorang dan Andrian menoleh.
"Ini pengasuhnya Ariel." lanjutnya memperkenalkan wanita paruh baya. Ariel yang berada di pangkuan Naya berontak merentangkan tangannya.
"Ariel, syukurlah kamu ketemu dan baik-baik saja, Nak. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu." Ucapnya penuh syukur memeluk tubuh balita itu penuh sayang.
"Tuan, nyonya, terima kasih sudah menemukan majikan kecil saya. Saya tidak tahu harus berkata apa kalau sampai Ariel kenapa-kenapa," lanjutnya menatap haru bahagia.
"Sama-sama. Oh, iya, kita ingin menjenguk orangtuanya Ariel. Bolehkah?" tanya Naya.
"Boleh, nyonya. Mari ikut saya!" ajak pengasuh Ariel. Dan mereka berdua mengangguk.
Sedangkan di dalam. "Pah, cucu kita?!" Jihan tiba-tiba teringat Emily dan anaknya.
"Kita ke ruangannya Emily," ajak Marko dan Jihan mengangguk. Selama Tristan belum sadar, mereka berkunjung ke ruangan Emily dulu.
***********
Emily tersadar dari pingsannya, ia memegang kepala yang terasa sakit.
"Ssstttt, aku dimana ini?" Emily mengedarkan pandangannya meneliti sekitar.
Ceklek....
Dia menoleh ke arah pintu dan nampaklah Jihan dan Marko.
"Emily, kamu sudah sadar?" Jihan sedikit berlari mendekati brangkar Emily.
"Ka kalian ke kenapa ada di sini?" tanya Emily gugup, bingung, bertanya-tanya.
"Kami dapat kabar kalau kamu kecelakaan. Bagaimana keadaanmu sekarang? apa yang sakit? bagaimana dengan kandunganmu?" cerca Jihan nampak khawatir dengan keadaan Emily. Raut wajahnya terlihat gurat kecemasan.
Emily malah berkaca-kaca mendapat perhatian seperti itu. Dia malah menangis menatap sedih wajah mertuanya.
"Jangan menangis, sayang. Kami di sini ada untukmu." Jihan mengusap air mata Emily lalu beralih ke perutnya. Namun, Jihan tertegun.
"Em, perut kamu?!"
Emily ikut merabanya. Dia terbelalak melihat ke arah perutnya.
__ADS_1
"Perutku?!"
Bersambung.....