SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Perubahan Naya Dan Tristan


__ADS_3

"Kamu..."


"Apaan sih," Andrian melepaskan tangan Naya yang ada di pipinya dan malah melajukan kursi rodanya dan itu semakin membuat Naya semakin curiga dan yakin.


"Andrian, kamu bisa melihat?" cegah Naya mengejar Andrian mendekati kolam renang yang berada di samping kolam ikan hias.


"Andrian jawab aku? kamu bohongin aku dengan berpura-pura buta?" cerca Naya memegang kursi rodanya.


"Aki tidak bisa lihat, mungkin mata kamu yang salah lihat." Andrian mengelak dengan memalingkan wajahnya.


"Jangan bohong, kalau kamu tidak bisa lihat mana mungkin tahu setiap jalan yang ada di rumah ini. Tunggu, waktu ke mall juga kamu yang nunjukin jalannya, berarti kamu tidak buta kan?" Naya menatap tajam suaminya.


"A-anu, a-aku memiliki feeling jadi bisa menebak jalannya."


"Bohong! Kamu berbohong, lihat mataku kalau kamu berkata jujur!" pekik Naya berdiri di hadapan Andrian.


Andrian tetap memalingkan wajahnya tak berani melihat Kanaya. Dia belum siap kalau harus jujur sekarang.


"Diam kamu menunjukan kalau kamu memang tidak buta," ucapnya memundurkan langkah dan ia merasa di bohongi sehingga membuat Naya mundur ke samping dan tak sengaja kakinya terpeleset ke ujung kolam.


Sreeeet..... "Aaaaaaa" byuurrrr....


"Kanaya...!!" pekik Andrian terlonjak kaget melototkan matanya.


"To-tolong aku...!" lirih Naya meminta tolong karena dirinya tak pandai berenang.


Tanpa banyak pikir, Andrian menyeburkan dirinya membantu Naya dan membawanya ketepi kolam renang kemudian mengangkat pinggangnya dan mendudukan Naya di atas pinggiran kolam renang.


"Ukhuk... ukhuk.. ukhuk..."


"Are you oke, sayang?" Andrian menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Naya.


Naya masih terbatuk-batuk dengan tangan menempel di dada dan menormalkan nafasnya. Andrian mengusap-usap punggung Naya.


Setelah merasa lebih baik Naya kembali tersadar dari keterkejutannya. "Andrian, kamu?" memperhatikan wajah Andrian dan ujung janggut yang di kenakannya sedikit copot.


Tangan Naya cepat-cepat menarik janggut palsu dan ia semakin terkejut, matanya terbelalak melotot sempurna. "Kamu..!"


Andrian pun sama-sama terkejut dan sekarang ia tidak bisa mengelak lagi ataupun mencari alasan. "Aku bisa jelasin, Nay. Jangan marah dulu ok," pintanya menggenggam tangan Naya yang berada di atas pangkuannya.

__ADS_1


Naya menepis genggaman tangan Andrian. "Jadi selama ini kamu sudah membohongiku dengan berpura-pura buta, berpura-pura tidak bisa berjalan bahkan menyamar? untuk apa? untuk mempermainkan ku? aku memang baru mengenalmu dua bulan tapi tidak harus di bohongi seperti ini juga kan?


"Aku pikir kamu itu beda, tapi ternyata sama, sama-sama tukang bohong!" ucapnya kecewa dan ingin berdiri namun malah di tarik tangannya sampai Naya kecebur kembali.


"Aaaaaa" jeritnya replek mengalungkan erat lengannya ke leher Andrian dan Andrian menyenderkan punggung Naya ke pinggiran kolam dan merangkul erat pinggang Naya sehingga membuat kaki Naya menggantung tak menapaki lantai kolam.


"A-aku takut, a-aku tidak bisa berenang," lirihnya gemetar memejamkan mata. Tinggi air mencapai bahu Andrian dan tinggi Naya hanya sebatas dadanya.


"Buka matamu dan lihat aku!" justru Andrian malah menikmati momen seperti ini.


Naya menggeleng-gelengkan kepalanya. "A-aku takut." Rasa marah dan kecewa seketika terganti oleh rasa takut yang luar biasa. Wajahnya sudah pucat, bibirnya sudah bergetar, bahkan air matanya meluncur meski mata terpejam.


"Naya, hei, kamu kenapa? ada aku di sini, jangan takut dan sekarang buka matamu!" Andrian menangkupkan sebelah tangannya dan satunya lagi menahan beban Naya.


Perlahan Naya membuka mata dan fokusnya hanya pada mata Andrian.


"Aku minta maaf karena sudah berbohong mengenai siapa aku dan keadaanku. Ada alasan mengapa ku sampai harus melakukan ini. Jangan marah apalagi membenciku, aku tidak mau kamu menjauhiku dengan alasan di bohongi."


"Nay maafkan aku, aku melakukan ini karenaku mencintaimu." ucapnya serius menatap lekat-lekat mata Naya. "Aku mulai mencintaimu sejak pertama kali melihatmu di panti asuhan," lanjutnya.


Deg....


Naya tertegun mendengar ungkapan cinta, tapi ia tidak percaya dan bisa saja Andrian membohonginya lagi supaya Naya tidak marah.


"Seriusan, Nay."


Naya enggan percaya dan ia berusaha melepaskan tangan Andrian yang ada di pinggangnya. "Lepasin!"


"Tidak akan sebelum kamu memaafkanku dan percaya padaku." Andrian semakin mengeratkan pelukannya membawa Naya ke dalam dekapannya.


"Al, lepasin. Atau aku teriak!" ancamnya berontak.


"Silahkan teriak yang kencang. Mungkin orang berpikir kalau kita sedang melakukan sesuatu..." balas Andrian semakin erat mendekap tubuh mungil Naya.


"Aldo, Andrian atau siapaun nama kamu tolong lepasin saya!" pekiknya berusaha mendorong tubuh Andrian.


"Kalau saya lepaskan yang ada kamu kelelep, Nay. Tinggi kamu saja hanya sebatas dada saya dan tinggi air pas di atas kepala kamu."


Naya tertegun, ia melihat airnya yang memang ternyata sebatas bahu Andrian. Merasa tidak ada pergerakan Andrian memperhatikan wajah Naya yang kebingungan serta ketakutan. Dia malah mengambil kesempatan itu dan cup.....

__ADS_1


Naya melotot saat sesuatu yang dingin menempel di bibirnya.


"Hei, kalau mau mesum jangan di kolam renang." pekik Jenni.


Andrian menjauhkan wajahnya menoleh kesal kepada adiknya. "Ganggu saja," umpatnya kesal.


Sedangkan Naya menunduk dengan wajah yang sudah merah semerah tomat.


**********


Kediaman Tristan


Emily melangkah riang membawa setumpuk tentengan belanjaan. Hatinya riang bisa menghasut para warga di sana.


"Aku yakin sekarang pelakor itu sedang di hakimi di caci maki dan di usir dari sana. Aku juga yakin kalau Andrian juga akan di usir, hahaha senangnya hatiku bisa membuat perhitungan dan hatiku gembira bisa menghabiskan uang Tristan," monolog batinnya.


"Darimana saja jam segini baru pulang?" suara bariton seseorang mengagetkan langkah Emily.


"Honey, sejak kapan kamu pulang? bukankan kamu pulangnya nanti malam?" Emily menghampiri Tristan yang sedang duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuannya dan mengecup pipi Tristan.


"Aku tanya darimana saja jam segini baru pulang?" tanyanya kembali dengan raut wajah dingin.


"Habis belanja, nih," tunjuk Emily memperlihatkan barang belanjaannya.


"Sebanyak ini? baru jasa Minggu lalu belanja banyak dan sekarang belanja lagi?" Tristan memutar matanya jengah dan merasa kesal dengan Emily.


"Kenapa, honey? aku belanja buat penampilan aku supaya aku selalu terlihat cantik di mata kamu."


"Tapi tidak setiap Minggu juga kamu menghabiskan uang hanya untuk keperluan pribadimu, Em. Kamu juga harus pikirkan isi dapur dan kalau bisa simpan sebagian uangnya untuk masa depan kita."


"Kamu ini kenapa sih marah-marah gak jelas? kamu keberatan aku belanjain uang kamu? ini juga kan buat kamu bukan buat orang lain."


"Aku tidak suka saja kamu terlalu boros. Naya saja tidak seboros ini."


"Naya? kamu bandingkan aku dengan pelakor itu? aku bukan Kanaya yang jelek dan tak modis itu. Aku dan dia jauuuuuh berbeda jadi jangan kamu banding-bandingkan ku dengannya!" sentak Emily kesal tidak suka di bandingkan.


"Setidaknya kamu bisa mengatur keuanganku, Em," sentak balik Tristan semakin kesal.


"Kamu membentakmu? kamu keterlaluan Tristan!" pekiknya berdiri menangis meninggalkan Tristan.

__ADS_1


Tristan mengacak-acak rambutnya prustasi dengan keadaan yang ia rasakan. Akibat melihat Naya dengan pria lain membuatnya semakin uring-uringan.


Bersambung.....


__ADS_2