SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )

SANG PELAKOR ( Kau Selingkuh, Aku Mendua )
Perawatan


__ADS_3

"Halo, Jenn. Ada apa?" tanya Naya di sebrang telpon masih berada di danau bareng Aldo.


"Kamu dimana? bisa kesini tidak, di salon kecantikan?"


"Sedang di luar rumah, nanti aku kesana, kamu kirimkan alamatnya!"


"Ok, aku tunggu kamu di sini karena di sini ada Kakakku juga."


"Iya, siap" Naya mematikan panggilannya.


"Ada apa?" tanya Aldo.


"Jenni menyuruhku untuk menemuinya dan di sana juga ada Andrian. Aku harus kesana dan aku juga harus bekerja kembali. Bisa tolong kamu antarkan ku ke sana?" pinta Naya memohon.


"Andrian ada di sana?" batin Aldo.


"Baiklah, ayo!" Aldo berdiri menggenggam tangan Naya dan membawanya ke dekat motor.


*********


"Sepertinya ini salon yang di maksud Jenni," gumam Naya melihat alamatnya.


"Nay, aku pulang saja ya." Aldo siap menjalankan motornya tapi malah di cegah oleh Naya dengan memegang tangan Aldo.


"Ehh, jangan pulang dulu, kamu ikut saja ke dalam. Kan di sana ada pacar kamu beserta Kakaknya."


"Pacar?" Aldo mengernyit heran, ia tidak punya pacar.


"Iya, Jenni kan pacar kamu. Ayo ikut masuk!" Naya menarik tangan Aldo.


"Tapi, Nay. Aku aku tidak bisa, aku pulang saja ya.!" pinta Aldo gelagapan.


"Ayolah, Al. Ketemu mereka dulu di sini, ya. Aku mohon!"


Entah mengapa Aldo tak bisa menolak dan ia malah terhipnotis oleh tatapan memohon Naya. "Baiklah." jawabnya pasrah.


Mereka masuk ke dalam, Naya mengedarkan pandangannya mencari Jenni.


"Nay," panggil Jenni dan Naya tersenyum menghampiri Jenni yang sedang duduk.


Jenni melihat Aldo dan Aldopun sama menatap Jenni memelas.


"Kalian kok bisa datang barengan?" tanya Jenni memicingkan mata curiga.


Naya menunduk tak enak hati. "Maaf Jenn, tadi kita tak sengaja ketemu di jalan. Kamu jangan marah ya pacar kamu bantuin aku?"


Jenni mengulum senyum melihat ketidaktahuan Kanaya. "Pantesan Aldo tidak bisa di hubungi dan ternyata, lagi bareng cewek ya," sindir Jenni menatap tajam Aldo.


Aldo menunduk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Naya semakin bersalah saja.


"Sudahlah, oh, iya, aku sudah mendaftarkan kamu untuk melakukan perawatan di sini. Tinggal nunggu panggilannya saja." kata Jenni memainkan handphone nya mengetik sesuatu.


"lho, kok aku? bukannya kamu yang mau perawatan?" Naya heran.

__ADS_1


"Aku sudah, tinggal kamu. Kak Andrian mana sih? lama banget?"


Naya baru ngeh tidak melihat Andrian dan dia melihat sekitar. "Kenapa dia tidak ada di sini, bukannya tadi kamu bilang dia ikut?"


"Lagi ketoilet, tapi kok lama ya?"


"Aku susul ke toilet deh," usul Naya.


"Jangan...!" cegah Jenni dan Aldo membuat Naya kebingungan.


"Kenapa jangan? aku tidak mau dia kenapa-kenapa, kalian kan tahu kalau dia..." Naya tak melanjutkan ucapannya karena merasa tak enak hati.


"Itu, anu, itu toilet cowok, jadi kamu tidak bisa kesana." Jelas Jenni.


"Iya, aku saja yang ke toiletnya." Aldo langsung buru-buru ke toilet dan setelah beberapa saat kemudian Andrian muncul.


"Jenn, sudah belum?" Naya yang melihat Andrian langsung menghampiri mendorong kursi rodanya.


"Kalau aku udah, Naya yang belum Kak."


Naya berpikir merasa ada yang aneh. "Aldonya mana, ya? bukan kah tadi ke toilet mau menjemput Kakak kamu, Jen? tapi kok Andrian datang sendirian?" tanya Naya bingung.


"Ah, iya, Aldo lagi buang air besar dulu katanya." jawab Andrian.


"Oh," Naya manggut-manggut mengerti.


"Sekarang giliran kamu yang melakukan perawatan, Nay. Tuh mbak nya sudah datang." tunjuk Jenni lewat sorot matanya melihat seorang dokter kecantikan menghampiri.


"Ini beneran aku?" Naya masih tak percaya akan melakukan perawatan di tempat mahal.


Naya semakin bingung tak mengerti. "Ini apa?"


"Baju untukmu, setelah perawatan, kamu pakai baju ini ya!" pinta Jenni berharap Naya mau memakainya.


Naya ragu menerima pemberian Jenni, ia hanya memperhatikan paper bag nya tanpa mau mengambil.


"Udah, ambil saja!" Jenni mengambil tangan Naya dan memberikan paper bag nya ke tangan Naya.


"Silahkan mbak..!" ucap dokter kecantikan. Dan mau tak mau Naya menerima pemberian Jenni kemudian masuk kedalam.


Andrian menatap Naya dan ia membuang nafasnya secara kasar sambil mengusap dada. "Syukurlah."


"Ck, modus," sindir Jenni.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? untung kau memberikan alasan ke toilet dan untungnya juga kursi roda sudah ada di toilet."


"Kakak sendiri yang tidak mengangkat telpon ku. Soal kursi roda memang aku yang menyiapkannya sebelum kalian kesini." Jenni duduk kembali memainkan handphone.


Sedangkan di dalam sana, Naya melakukan perawatan mulai dari perawatan wajah sampai perawatan kulit. Semuanya tak sedikitpun terlewatkan.


"Jenn, berapa lama lagi kita menunggu Naya selesai perawatan?" Andrian sudah mulai bosan menunggu satu jam lebih.


"Mungkin sebentar lagi, biasanya semua perawatan membutuhkan waktu cukup lama."

__ADS_1


"Jenni," panggil Naya menunduk.


Jenni dan Andrian menoleh, mereka cukup terkejut melihat perubahan Naya. Naya mengenakan dress warna biru kerah V dengan kancing di depan dan bagian lengan yang mengembang.


Wajahnya di rias tipis sehingga menyembunyikan jerawat-jerawat kecil dan bekasnya serta rambutnya di gerai dan kacamata bulatnya di lepas. Naya menyelipkan rambut yang menghalangi wajahnya ke telinga.



Andrian tak bisa berpaling dari Naya. Di matanya, Naya terlihat cantik meski ada jerawat-jerawat yang menempel di wajahnya.


Jenni tersenyum melihat penampilan baru Naya. Dia mendekat kemudian merangkul lengan Naya.


"Kamu terlihat cantik, Nay. Kamu harus mulai merawat diri kamu dan setiap Minggu datanglah ke salon kecantikan ini bareng aku."


"Tapi, aku merasa kurang nyaman kalau harus memakai makeup tebal untuk menyamarkan jerawatku." Naya mengeluh mengenai riasan yang terasa berat.


Jenni memperhatikan riasan wajah Naya. "Riasannya tidak tebal, malahan tipis. Meski dari dekat masih kelihatan jerawatnya namun dari jauh kamu terlihat cantik. Lama-lama jerawat dan bekasnya akan hilang kalau kamu rutin melakukan perawan di sini dan rutin memakai skincare untuk jerawat yang di berikan dokternya."


"Naya cantik, ya, Kak?" tanya Jenni.


"Hah, iya, cantik." Andrian tersadar dari keterpesonaannya. "Tapi Kakak tidak bisa melihatnya," lanjutnya menunduk padahal mata di balik kacamata hitam menatap wajah Naya.


********


Seperti yang Naya bilang kalau Naya akan pulang sore kerumah yang di tinggali Tristan bareng Emily.


Naya menekan-nekan bel rumah dan membelakangi pintu.


Tristan yang sedang melakukan hubungan badan pun merasa terganggu. "Siapa sih? ganggu saja." umpatnya kesal.


"Hiraukan saja, sayang. Kita lanjutkan dulu kegiatan kita, tanggung, baru saja masuk," ucap Emily memeluk tubuh Tristan yang ada di atasnya.


Tristan ingin melanjutkan kegiatannya namun kembali terganggu dengan bel yang semakin cepat berbunyi.


"Aku mau lihat dulu siapa yang menekan bel berkali-kali. Kita lanjutkan lagi nanti, ya, honey." Tristan bangkit dan mengambil handuk melilitkan ke bagian inti tubuhnya.


Emily mengerucut kesal. "Tamu tak di undang, ganggu saja."


Tristan membukakan pintu rumahnya memperhatikan orang yang ada di hadapan karena wanita itu membelakangi.


"Cari siapa ya?"


Naya menoleh tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya. Tristan terbelalak melihat Naya. Ia memperhatikan penampilan Naya dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai atas.


"Cantik." ucap Tristan tanpa sadar.


Begitupun dengan Naya yang juga memperhatikan Tristan, ia tahu apa yang sedang suaminya lakukan karena ada bekas merah di dada dan di leher serta rambut yang acak-acakan.


"Aku, pulang, Mas." ucap Naya mengecup pipi dan memeluk Tristan.


Tristan mematung akan perlakukan Naya yang di luar dugaannya.


"Hei, jangan kau peluk-peluk suamiku!" pekik Emily marah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2