
"Mike, sebarkan undangan ini pada mereka semua!" Andrian menaruh setumpuk undangan di meja kerja Mike.
"Waw, jadi kau akan mengumumkan siapa dirimu dan Jenni di depan khalayak umum?" ucap Mike seraya melihat-lihat undangan tersebut lalu tangannya beralih mengambil cangkir menyeruput kopi.
"Ini saatnya ku menunjukan diri di depan mereka, dan mungkin di pernikahan Jenni pula ku akan mengumumkan siapa istriku," ucap Andrian menatap istrinya. Mike manggut-manggut saja.
"Bee, aku mau kopi." Celetuk Naya secara tiba-tiba merasa ngiler melihat Mike meminum kopi.
"Kopi? tumben? kamu kan paling tidak suka dengan kopi." Andrian heran, tidak biasanya Naya meminta minuman yang paling tidak di sukainya.
"Melihat kopi itu, aku jadi ingin. Kita beli ya? aku pengen banget serasa ada di ujung lidah," ujar Naya menunjuk cangkir berisi kopi.
"Kalau kamu mau bisa pesan. Ini salah satu kopi terbaik di cafe sini," kata Mike.
"Aku mau, Bee. Boleh ya? tapi, aku ingin kamu yang meraciknya!" pinta Naya memelas.
"Kamu yakin ingin minum kopi?" tanya Andrian memastikan.
"Iya, ingin banget, please!" jawab Naya mengangguk antusias seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah. Mike, jangan lupa kau bagikan undangan ini sekarang juga!" titahnya berdiri.
"Siap, Bos."
Andrian dan Naya pun pergi mencari cafe kopi yang di maksud oleh Mike. Naya terlihat sangat antusias dan duduk di dekat pembuatan kopi.
"Kamu bikinin ya, Bee." ucapnya sambil menopang dagu memperhatikan para barista yang sedang meracik kopi.
"Aku tidak bisa buatnya sayang. Nanti rasanya akan berbeda. Mas barista saja ya, yang buatkan?"
"Aku mau kamu yang bikinin, titik!" jawab Naya cemberut berkaca-kaca.
Andrian menunduk lesu, ia jadi tidak tega melihat wajah sedih istrinya. Dan, akhirnya diapun mengikuti keinginannya Naya.
"Ya udah, aku bikinin ya. Jangan nangis, ok!" tangannya mengusap kepala Naya dan seketika wajah sang istri kembali tersenyum manis semanisnya.
Andrian pun meminta izin kepada pekerja di sana untuk membuat kopi dan mereka mempersilahkan. Pria itu pun meracik setiap kopi, gula, susu, penuh perasaan sesekali tersenyum melirik istrinya yang juga tersenyum ke arahnya.
"Kopi buatan Andrian telah selesai, silahkan Nona!" Andrian memberikan secangkir kopi kepada istrinya. Naya menerimanya.
"Terima kasih suamiku sayang," ucap Naya tersenyum. Dia pun mulai menyeruput kopi tersebut dan benar saja, Naya sampai menghabiskannya tak tersisa.
"Sayang, itukan panas." Andrian heran, dia merasa ada yang aneh.
__ADS_1
"Ini hangat tidak panas, buktinya udah habis ku minum, nih kosong." Naya membalikkan cangkirnya seolah menunjukan kalau air di dalam cangkir tersebut tandas.
"Bee, boleh ku minta lagi?" pintanya cengengesan.
"Kalau kamu suka aku bikinin lagi ya!" Andrian pun kembali meracik kopinya.
Emily yang baru saja selesai makan tak sengaja melihat Naya duduk di tempat barista. "Itukan Naya?" gumamnya dan dia melangkah mendekatinya.
"Rupanya ada pelakor tukang selingkuh di sini," celetuk Emily melipat kedua tangannya di dada menatap sinis pada wanita di hadapannya. Naya menoleh.
"Maaf, yang Anda sebut pelakor tukang selingkuh siapa ya?" tanya Naya menatap polos Emily.
"Jangan sok polos loe, loe itu kan emang pelakor tukang selingkuh. Bahkan di saat menjadi istri pun kau menjalin kasih dengan suami orang. Apa namanya kalau itu bukan selingkuh dan pelakor?"
Entahlah, Emily merasa tidak begitu menyukai Naya. Emily merasa kalau hidup Naya seperti tidak punya beban, terlihat baik-baik saja, dan terlihat bahagia tidak seperti dirinya yang akhir-akhir ini sering bertengkar dengan Tristan.
"Kamu ngatain saya? terus kamu sendiri apa? pelakor kok teriak pelakor."
Andrian melihat keributan langsung menghampiri merangkul pinggang Naya untuk menenangkan istrinya.
"Sudah sayang, jangan kamu ladeni wanita ular ini. Dia sepertinya iri sama kamu," celetuk Andrian sinis.
"Jaga tuh mata! Pelihara tuh penglihatan untuk suamimu sendiri dan jangan melirik suami orang lain," sahut Naya tegas menutupi wajah suaminya menggunakan tas. Ia tidak rela Emily menatap penuh kagum.
"Ayo Bee, kita pergi dari sini!" ajaknya ketus menarik tangan Andrian.
"Sialan, kenapa semakin hari Andrian semakin mempesona saja," umpat Emily juga meninggalkan tempat itu.
********
Di dalam mobil, Naya terus cemberut sambil melipatkan tangannya di dada.
"Udah dong sayang, jangan marah gitu. Lagian dia tidak ngapa-ngapain kamu, kan?"
"Enggak ngapa-ngapain gimana, matanya melotot kagum melihat kamu dan aku tidak suka itu!" ujarnya sewot.
"Mau gimana lagi, dong. Wajahku kan emang tampan pasti mereka terpesona dengan ketampanan ku, termasuk Emily," kata Andrian membanggakan diri.
"Ooohhh, jadi kamu senang di perhatikan oleh cewek ular itu? jadi kamu ingin terus di tatap dia? huaaaa, kamu jahat, Bee." Naya tiba-tiba saja menangis.
"Lho, kok, nangis? hei, sayang!" Andrian panik dan bingung melihat Naya menangis tiba-tiba. Dia menepikan dulu mobilnya di tepi jalan melepaskan seat belt menghadap Naya.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa nangis, kok kamu aneh hanya gara-gara wajahku di lihat Emily kamu malah nangis?"
"Huauaaaaa, kamu bilang aku aneh. Kamu yang aneh, kamu jahat tidak ngertiin perasaanku."
Andrian menggaruk kepalanya bingung harus apa? dia memeluk Naya.
"Aku minta maaf deh, maaf ya." ucapnya mengalah entah apa kesalahannya namun, Andrian tetap minta maaf.
"Aku tidak mau maafin kamu." jawab Naya ketus seraya memeluk erat tubuh suaminya.
Andrian mengernyit. "Katanya tidak maafin aku, kenapa meluknya erat begini?"
"Karena pelukanmu nyaman."
Andrian semakin bingung. "Ada apa dengan istriku? aneh sekali?" batinnya.
Naya masih sesegukan, wajahnya menghadap depan dan matanya melihat pedagang ice.
"Bee, aku mau itu." tunjuknya ke depan. Andrian mengurai pelukannya mengikuti arah tunjuk Naya.
"Itu kan ice potong."
"Aku mau, ayo turun! Aku mau itu." Naya sudah membuka pintu mobil dan keluar duluan.
"Sayang, itu tidak baik untuk kesehatan," pekik Andrian ikut turun mencegah istrinya.
"Kita beli di minimarket saja ya, ini seperti tidak sehat. Kita ke minimarket sekarang ya!" ajaknya menarik tangan Naya.
"Aku maunya ini Bee, enggak mau yang lain," sergahnya melepaskan cekalan Andrian.
Andrian menghelakan nafas secara kasar. Dia tak bisa mencegah keinginan Naya dan pada akhirnya ia mengalah saking sayang dan cintanya pada sang istri.
"Kamu mau?" Naya menyodorkan ice yang ia makan, Andrian menggeleng.
"Jangan banyak-banyak, nanti perut kamu sakit." Ucap Andrian duduk di samping Naya memperhatikan istrinya lahap memakan ice.
Saking menikmati makanannya, ia sampai tak menjawab ucapan Andrian. Matanya memperhatikan sekitar dan seketika netra matanya fokus memperhatikan anak kecil di sebrang jalan.
Anak kecil itu riang kesana kemari. Namun, Naya tidak melihat orang tuanya. Dia melirik kiri kanan, dan seketika dia terkejut ada mobil mendekati balita itu dan anak itu ingin menyebrang.
"Awaaassss...."
Bersambung....
__ADS_1