
Tristan baru saja pulang dan langsung di sambut oleh senyuman manis dari Claudia. Dia tidak pulang bareng istrinya di karenakan Emily harus lembur dan baru bisa pulang pukul 9 malam.
"Hai, pasti kamu lelah, aku sudah siapin kamu sarapan dan air hangat untuk kamu mandi supaya badan kamu lebih rileks," ucap Claudia merangkul lengan Tristan mengambil tas kerjanya.
"Tidak perlu sok perhatian, saya tidak butuh perhatian dari kamu," jawabnya sinis melepaskan rangkulan Claudia.
"Sayang, aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tapi kalau boleh jujur, aku masih mencintaimu sampai sekarang," balasnya membawa Tristan duduk melepaskan sepatunya dan Tristan tak menolak.
"Tak perlu mengingatkan masalalu kita, aku tidak punya perasaan padamu. Pertemuan kita di club itu murni tak sengaja sampai kita berakhir di atas ranjang."
Claudia menunduk bermuka masam, dia kembali tersenyum. "Ya aku tahu, dan aku senang bisa bertemu kamu lagi," ucapnya berdiri.
"Aku sudah memasak sesuatu, tunggu sebentar ya!" wanita itu beranjak kedapur mengambilkan makanan dan kembali lagi membawa puding kesukaannya Tristan.
"Taraaa, puding coklat kesukaan kamu. Ayo cobain!" ujarnya seraya menyodorkan piringnya ke Tristan.
Tristan mematung, Claudia masih mengetahui makanan kesukaannya sama seperti Naya yang tahu mengenai makanan yang ia sukai.
"Ayo makan! atau aku mau suapin?" Claudia menyuapi Tristan, awalnya Tristan menolak namun karena desakan dan wajah memelas Claudia membuat ia mau memakannya.
Claudia tersenyum, "Akan ku buat kau ketergantungan denganku, barulah di saat itu ku akan meninggalkanmu seperti dulu kau meninggalkanku demi Emily," gumam batinnya.
Wanita itu tersenyum menatap lekat-lekat wajah yang dulu pernah ia cintai. Sekarang, wajah ini membuatnya benci. Dia mendekatkan wajahnya mengecup, melu*mat bibir Tristan dengan lembut.
Tristan yang sedang mengunyah sambil memainkan handphone terkejut tapi, ia malah menikmati ciuman lembut tersebut sampai keduanya terlonjak kaget dengan pekikan Emily.
"Dasar kurang ajar, bisa-bisanya dia main pecat gue sembarangan," umpatnya membuka kasar pintu.
Claudia segera berdiri dan beranjak pergi ke dapur untuk menghindari Tristan. Tristan menatap kepergian Claudia, ia merasa kehilangan ciuman lembut yang tidak pernah di dapatkan dari Emily.
"Kenapa rasanya berbeda?" batin Tristan.
"Honey, kamu sudah pulang? kenapa tidak nungguin aku? hari ini aku kesal, Kepala HRD tiba-tiba saja memecatku tanpa sebab," adunya merangkul lengan Tristan duduk menyandarkan kepalanya ke dada Tristan.
"Kamu di pecat?! kok bisa? bukannya kerja kamu bagus ya?" Tristan mengernyit bingung.
"Aku juga tidak tahu, katanya aku sudah melakukan kesalahan dengan mengerjai istrinya bos. Kan aku tidak tahu siapa dia."
Tristan berpikir, semenjak kerja di sana, dia tidak pernah bertemu secara langsung dengan pemilik mall tersebut. Dia hanya tahu kalau Mike atasannya. Pernah sekali mereka melakukan meeting dan itupun pemiliknya terlihat seperti sudah tua dengan janggut dan kumis panjang serta tebal.
"Sudah, jangan di pikirkan lagi, mending kamu fokus ke kandungan kamu. Sekarang kita ke kamar saja!"
Emily tersenyum, dia merasa Tristan sekarang lembut tidak seperti kemarin-kemarin yang sering uring-uringan. Dia mencium bibir Tristan meraba setiap tubuh suaminya sampai keduanya beranjak menuju kamar melakukan hubungan intim.
Claudia yang dari tadi memperhatikan mengepal kuat tangannya. Tanpa sadar air matanya menetes dari mata. Dia pergi ke kamar dan menangis, lebih tepatnya menangis karena menyesal telah memberikan segalanya untuk Tristan namun pada akhirnya dia malah di buang.
__ADS_1
FLASHBACK
3 tahun yang lalu.
Seorang wanita berusia 24 tahun terduduk lesu melihat alat yang ia pegang menunjukan dua garis merah. Bibirnya bergetar menahan tangis, lebih tepatnya tangis penyesalan karena telah terbuai nafsu syetaaan.
"A-aku hamil! Anaknya Tristan," lirihnya berderai air mata.
"Aku harus kasih tahu dia, dia harus tanggung jawab, dia ayahnya dan hanya dia yang sudah menyentuhku. Iya, aku harus kasih tahu Tristan," gumamnya seraya berdiri keluar dari toilet mengambil handphone.
Kebetulan, Tristan memanggil dan ia segera cepat-cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, sayang." Claudia berusaha menormalkan suaranya supaya tidak di curigai kalau dia habis nangis.
"Halo, sayang. Kamu dimana? kita ketemuan yuk di tempat biasa," ajak pria di sebrang telpon.
"Aku di rumah, sekarang juga aku kesana, kamu tunggu saja di situ."
"Baiklah, ku tunggu kedatanganmu ada hal yang harus ku katakan padamu, ini penting! ujarnya serius.
"Iya, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu."
Diapun mematikan panggilannya. Dia terlebih dulu membasuh wajah, memoleskan sedikit makeup supaya tidak terlihat pucat dan sembab. Kemudian, ia langsung meluncur ketempat mereka sering bertemu.
********
"Hai," sapanya seceria mungkin.
Tristan menoleh dan tersenyum, "Hai, juga. Sini duduk!" ucapnya menepuk tempat yang kosong.
Claudia pun duduk di samping Tristan. Mereka berdua tak ada yang bersuara, mereka sama-sama gugup dan tak tahu harus berkata apa.
"Tristan."
"Claudia." ucap keduanya berbarengan.
"Kamu duluan yang bicara!"
"Kamu saja duluan!" sahut Tristan.
"Kamu saja!"
"Bagaimana kalau kita bicara secara bersamaan supaya kita sama-sama tahu apa yang ingin kita sampaikan?" usul Tristan dan Claudia mengangguk.
"Satu, dua, tiga!"
__ADS_1
"Aku ha..."
"Kita putus!"
Deg....
Claudia mematung, dia menoleh menatap Tristan meminta penjelasan. "Ma-maksud kamu?"
Tristan memejamkan mata menghirup dalam-dalam udara kemudian membuang nafasnya secara kasar.
"Aku mau kita putus, kita akhiri saja hubungan ini!" ucapnya serius menatap mata Claudia.
"Kenapa? bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja? kita sudah pacaran dua tahun, bahkan akhir-akhir ini kita sering melakukan making love, lalu kenapa tidak ada angin tidak ada hujan kamu minta kita putus?" cerca Claudia dan matanya berkaca-kaca.
"Aku tahu, tapi aku mau kita putus. Aku sadar kalau selama ini ku hanya ingin menaklukan wanita cuek seperti mu. Daripada kita saling menyakiti mending kita akhiri saja hubungan ini?" ujarnya tanpa merasa bersalah.
Claudia tersenyum getir, "Ternyata kau tidak mencintaiku setelah apa yang kita lakukan bersama? kau jahat Tristan!!" pekik nya kecewa sudah menangis menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Lalu bagaimana kalau seandainya aku hamil?" tanya di sela tangisnya.
"Itu tidak mungkin, karena kita melakukannya dengan pengaman."
Claudia menoleh, "Kau pernah sekali menyentuhku tanpa pengaman dan itu bisa saja terjadi."
"Maaf, tapi aku mau kita putus dan aku yakin kamu tidak akan hamil."
Claudia mengepalkan tangannya sampai kuku memutih. "Apa alasanmu memutuskanku?" tanyanya berusaha menahan emosi.
"Aku..."
"Jawab! Apa alasanmu memutuskan hubungan kita?" sentaknya teramat kecewa.
"Aku mencintai wanita lain."
Deg....
"Aku harap kamu terima keputusanku, ku sudah memiliki wanita yang ku cintai dan ku sadar kalau perasaanku padamu hanya sebatas ingin menaklukan. Dan hari ini juga ku akan pulang ke kota A sebab urusan kuliahku sudah selesai. Kamu baik-baik saja disini, maafkan aku," pamitnya berdiri meninggalkan Claudia tanpa rasa bersalah.
"Tristan, kamu tidak boleh seenaknya melakukan ini padaku! Tristan...!" pekiknya mengejar Tristan yang sudah pergi menggunakan mobilnya.
Claudia bersimpuh di tanah, menangisi apa yang barusan terjadi. "Akan ku cari tahu siapa dia."
FLASHBACK END
Dari sanalah ia mengikuti kemana Tristan pergi sampai dimana ia melihat Tristan bersama seorang wanita cantik, anggun saling bertautan di depan rumah yang entah milik siapa.
__ADS_1
"Jika ku harus hancur, maka kalian juga akan hancur dan kita harus hancur bersama-sama," batinnya mengusap air mata secara kasar.
Bersambung....