Sang Pengelana

Sang Pengelana
MENEMUKAN SEBUAH GUA


__ADS_3

Murid murid baru yang masuk ditanah rahasia, mereka terlempar secara acak. Yun San terlempar dihutan yang lebat, serta pepohonan yang tinggi. Dengan kekuatan jiwanya, dia mengamati sItuasi tempatnya mendarat.


Yun San mendapati murid yang lain tersebar cukup jauh dari tempatnya. Ada juga binatang buas tingkat tiga kebawah yang sedang bersembunyi. Mengetahui kalau situasinya cukup aman, Yun San mengeluarkan kedua sahabatnya.


"dimana ini, tuan" tanya ciko setelah keluar.


"kita ditanah rahasia sekte yin yang" ucap Yun San.


"hahaha,,, tuan" tawa cici terdengar, membuat Yun San terkejut


"selamat, kau telah ditingkat lima" ucap Yun San


"terima kasih, tuan" ucap cici


"kau belum menerobos lagi" ucap Yun San pada ciko


"untuk naik lagi cukup sulit" balas ciko.


Sebab jika hendak menerobos lagi, keduanya perlu tanaman langka atau buah langka untuk memurnikan darahnya. Bisa juga menggunakan darah dari binatang tingkat enam keatas. Selain itu ada satu cara lagi yaitu sumber energi yang sangat padat tapi hal itu seakan mustahil.


"baiklah, kita tidak tahu keberuntungan apa yang akan kita dapatkan" ucap Yun San dan mengajak keduanya menyusuri hutan. Tetapi dia minta agar mereka tetap bersama.


Meskipun kedua tikus, binatang buas yang kecil dan lemah. Tapi aura kecil dari tingkat limanya, membuat binatang tingkat tiga kebawah menjauhi mereka. Sehingga ketiganya cukup aman menyusuri hutan. Selain itu, atas bantuan kedua sahabat kecilnya. Yun San dengan mudah menemukan banyak tanaman obat.


Semua tanaman obat yang ditemukan, tidak hanya dicabut sembarangan. Tapi Yun San dengan hati hati mengambilnya beserta sedikit tanah diakarnya. Lalu memasukkan pada liontin ruang. Dia berencana untuk menanam didalamnya dan menjadikannya sebagai dunia binatang.


Sudah sepuluh hari Yun San menelusuri hutan tersebut. Banyak murid sekte yang dihindarinya. Bukan karena takut, tapi lebih disebabkan oleh tanaman obat yang lebih menarik baginya. Selama ini, ketiganya hanya membunuh tiga binatang buas tingkat empat dan memberi tiga tambahan poin.


"srink, srink,,,,," dari jauh terdengar senjata saling beradu setelah cukup lama dia berjalan.


"sebentar lagi gelap, siapa yang bertarung diwaktu seperti ini" batin Yun San sambil menyambar kedua sahabatnya dan memasukan kedalam kantong binatang. Kemudian melesat menuju arah suara tersebut.


"achhh,,," teriak kesakitan terdengar dan suara pertarungannya jadi menghilang.

__ADS_1


"hahaha,,,, sudah dari awal aku katakan, kalau paviliun langit hanyalah pundi bagi paviliun surgawi kami" teriak seseorang mengenalkan dirinya dari paviliun surgawi.


"kenapa kalian menyakiti kami, padahal semua koin sudah kami berikan" suara wanita terdengar.


Yun San yang telah mendekat, dapat melihat dua wanita dan seorang pemuda yang dibahunya terluka oleh tusukan pedang. Didepan ketiga ada lima pemuda memakai seragam paviliun surgawi dengan senyum sinis diwajahnya.


"pemuda dari klan wang" batin Yun San


"selalu membuat masalah, tapi aku masih ingin menyembunyikan diri" pikir Yun San


"aku beri luka yang cukup parah, biar dia dan temannya bingung" batin Yun San sambil mengenakan jubah hitam lalu mengeluarkan pedang dan segera mengeksekusi langkah bayangan.


"wuss,,,,," lesatan Yun San yang cepat seperti bayangan yang melintas.


"achhhh,,,," teriak kesakitan terdengar setelah Yun San menghilang


"apa itu,,,"


"Tuan Muda Wang" teriakan terdengar


"wuss,,, takk,,," terdengar desiran dan benda jatuh.


"telan pil tersebut dan istirahatlah sebentar" teriakan Yun San dari jauh dan terus berlalu dari tempatnya.


"siapa dia"


"sepertinya, sengaja ingin menolong"


"sayang tidak menemui kita"


"kalau muncul pasti aku ajak bergabung" percakapan kedua wanita itu, saat pemuda yang terluka sedang menyerap khasiat pil.


"maksudmu"

__ADS_1


"kalau dia bersama dengan kita maka tak perlu bersembunyi"


"apa kau kira dia itu lemah"


"kalau kuat kenapa bersembunyi"


"sial,,, kalau dia bersama kita, maka kita yang akan menghambatnya"


"ohhhh,,," keduanya terus membicarakan orang yang telah menolong mereka.


Ditempat lain, Yun San melanjutkan aktivitasnya. Saat ini, ketiganya berada dikaki bukit. Tak lama ditempat itu, mereka menemukan sebuah gua. Itupun jasa kedua pelacak handal. Karena sangat tersembunyi dan mulut gua ditutupi oleh rumput liar. Dengan hati hati Yun San masuk kedalam gua serta mengembalikan posisi rumput liar dan menutupi mulut gua seperti sebelumnya.


Setelah memasuki gua, ketiga memeriksa keadaannya. Menggunakan api untuk menerangi gua, mereka terus memasuki lorong panjang yang berliku liku. Tak ada yang ditemukan dari penelusuran pada gua tersebut. Namun mereka terus maju dan tak menyerah karena rasa penasarannya semakin besar.


Cukup lama ketiganya menyusuri lorong didalam gua tersebut. Saat ini, ketiganya telah sampai diujung lorong. Didepan mereka terbentang ruangan yang luasnya sebanding dengan rumah besar.


"apa ini ujung dari gua" ucap cici


"iya, tapi panas ditempat ini cukup menarik" balas ciko


"didepan ada sesuatu yang membuat api ditanganku seakan menari nari" ucap Yun San yang menyadari perubahan pada api teratai ungu.


Ketiganya mulai melangkah, masuk ruangan itu. Tetapi belum sepuluh langkah Yun San berhenti.


"kenapa bulu kalian" ucap Yun San


"udara panas ini, membuat bulu dan kulit kami seakan rakus untuk menyerapnya" jawab ciko.


Mengetahui keanehan tersebut Yun San mengambil keputusan untuk berkultivasi dulu. Dan mereka mengambil jarak untuk berkultivasi dulu sebelum memeriksa lebih lanjut ruangan itu. Kedua sahabatnya memisahkan diri dan mulai merebahkan tubuhnya.


"sial, keduanya tak perlu repot untuk berkultivasi" batin Yun San dan mulai berkultivasi. Saat mulai menyerap energi panas, dia mulai menyadari ada perubahan dari warna api ungu. Sebelumnya hanya berwarna ungu muda, namun saat ini sedikit lebih bersinar.


Mengetahui hal tersebut Yun San segera mengalirkan api teratai ungu untuk menyelimuti tubuhnya. Dia juga mengatur suhu api ungu agar pakaiannya tidak terbakar.

__ADS_1


Energi jiwa juga dikeluarkan untuk memantau sekelilingnya. Diluar tubuhnya, dia melihat ada tiga aliran yang menuju mereka bertiga. Dua larik kecil menuju kearah dua sahabatnya, sedang yang lebih besar kearah tubuhnya. Dia juga merasakan kalau energi tersebut disempurnakan oleh api teratai ungu. Sehingga energi yang masuk kedalam tubuhnya Yun San telah menjadi energi yang murni.


Semakin tenggelam dalam kultivasi, jiwa Yun San telah duduk ditengah kelopak bunga teratai ungu. Sudah lama dia tidak berkultivasi seperti itu. Sebab, beberapa kali dia memasuki lautan jiwanya, kelopak bunga masih tertutup karena menyerap sisa kekuatan jiwa gurunya. Saat ini kelopaknya sudah terbuka lagi.


__ADS_2