
Yun San terus bermeditasi. Saat ini jiwanya sedang duduk dikelopak teratai ungu yang ada dilautan jiwa. Dia sema tenggelam dalam bermeditasi dan terus mencerna kondisi dan keadaannya. Rasa sakit dari tekanan gravitasi seribu tangga batu mulai menghilang. Tubuh dan tulangnya seakan mulai sembuh tanpa disadari.
"Yun San" suara panggilan terdengar. Yun San yang duduk dikelopak teratai dengan pikiran yang tenggelam dengan kondisinya, kini menyadari ada jiwa lain yang menatapnya.
"guru,,," ucap Yun San terkejut.
"langkah yang kau jalani tidak salah" jelas sosok Xiao Tian yang muncul. Saat ini tulangnya ada ditingkat serigala raja.
Tingkat kwalitas tulang adalah, tulang serigala muda, bumi, langit dan raja. Diatasnya, tulang harimau muda, bumi, langit dan suci. Dan yang tertinggi, tulang naga air, langit, surgawi dan dewa.
Dengan menggunakan api teratai ungu yang diputar disetiap ruas tulang, akan meningkatkan kualitas tulang Yun San. Jika dialirkan didalam tulang akan membersihkan sumsum.
Kalau diedarkan dimerediannya, maka akan memurnikan qi nya. Sedang kalau dialirkan dalam setiap jaringan diseluruh tubuh dan organnya, maka akan membersihkan darah dan menguatkan organ dalamnya.
"untuk melakukan semua itu, gunakan eleksir atau pil yang resepnya ada dikitab ilmu pengobatan" ucap Xiao Tian menyudahi penjelasannya.
"terima kasih guru, telah memberi pencerahan padaku" balas Yun San.
"aku senang mengikuti perkembanganmu" balas Xiao Tian.
Seutas jiwa ditinggalkan guru Xiao Tian, dilautan jiwa Yun San. Saat dewa pembunuh memberikan sisa kekuatan jiwanya, Xiao Tian juga senang akan keberuntungan muridnya. Saat ini kekuatan jiwa Yun San berada ditingkat suci.
Sebelum meningkatkan kekuatan jiwa, Yun San diminta untuk mempelajari beberapa ilmu atau tehnik beladiri agar dapat menjaga diri sendiri.
"untuk melengkapi ilmu bayangan, pelajari tehnik pedang sunyi, pedang cahaya atau pedang angin" jelas Xiao Tian
"jika kau beruntung, maka akan menemukan salah satunya disekte yin yang" lanjut Xiao Tian.
"baik guru" ucap Yun San
"jadilah semakin kuat, semoga kita bertemu lagi" ucap Xiao Tian
"dimana tempat guru berada" tanya Yun San
__ADS_1
"belum saatnya untuk mencariku sebab jika ada yang tahu tehnik kultivasi yang aku berikan padamu, maka kau akan menjadi incaran para kultivator" balas Xiao Tian.
"setelah pelatihan ini, pelajari tehnik menyembunyikan kultivasi tingkat langit yang aku tinggalkan dan tetaplah berada ditahap bumi untuk menghindari masalah karena usiamu" jelas Xiao Tian lalu sosoknya memudar dan muncullah tulisan yang melayang dilautan jiwa Yun San.
Tulisan yang berisi uraian tentang tehnik yang dimaksud oleh gurunya, Dengan serius Yun San mempelajari teknik tersebut. Sampai akhirnya dia memahami dan mampu menyembunyi tahap kultivasinya dengan lebih baik dari sebelumnya. Bahkan energinya tidak bocor sesuai tahapan yang diinginkannya.
terima kasih guru" ucap Yun San sambil menghormat kearah sosok gurunya menghilang.
Setelah bangun dari meditasinya, Yun San melihat kelima sahabatnya masih menunggu. Mereka menjaga Yun San selama tenggelam dalam bermeditasi.
"kalian,,,," ucap Yun San
"hehehe,,, kami berusaha menyusul dan mendapati saudara Yun San sedang bermeditasi" balas Han Joe
"berapa lama kita berhenti disini" tanya Yun San
"sekitar tujuh hari" ucap Mu An
"meskipun dengan bersusah payah, telah banyak yang sampai puncak" ucap Han Joe
"baiklah, ayo kita susul mereka" ucap Yun San
Enam pemuda mulai menapaki tangga batu dengan beriringan. Para murid tidak memancing perselisihan saat ini. Mereka sibuk akan kondisi masing masing. Keenamnya secara perlahan naik sambil terus menjaga kondisi tubuhnya. Saat mendapati ada yang kelelahan maka yang lain akan berhenti untuk menunggu kondisinya stabil.
Semakin tinggi maka tekanan yang didapat semakin kuat. Bahkan untuk naik satu tangga ditingkat sembilan ratus perlu banyak waktu untuk menyelaraskan kekuatan tubuh dengan tekanan yang diterimanya.
Dari keenamnya, ada yang perlu beberapa jam agar tubuhnya selaras dengan kondisi tekanan ditangga batu tersebut. Hal itu, membuat Yun San dan kelompoknya perlu berhari hari untuk sampai dipuncak.
Han Suan, Mu An dan Mu Wei langsung terkapar saat tiba dipuncak.
"heh, jangan tiduran disini" ucap Yun San
"sial, siapa yang tiduran, mereka sudah hampir pingsan" ucap Han Joe
__ADS_1
"mari kita bantu mereka menuju kesana" ucap Yun San sambil menunjuk tanah lapang yang tak seberapa luas. Dibagian tepi terdapat pohon pohon besar yang berjajar rapi. Di tempat itu ada banyak murid yang berkultivasi untuk memulihkan diri.
"energi disini sangat baik untuk berkultivasi, mari kita memilih tempat untuk memulihkan diri dan mungkin dari kita bisa naik tingkat" ucap Yun San saat mereka telah sampai dibawah pohon besar.
"baik" jawab kelimanya dengan semangat.
Kelimanya berkultivasi seperti murid lain yang lebih dulu sampai ditempat tersebut. Yun San masih mematung sambil mengedarkan kekuatan jiwanya.
"ada yang aneh dan menarik ditempat ini" batin Yun San sembil menarik kekuatan jiwanya.
Dia kemudian berjalan menuju pohon besar lainnya yang cukup jauh dari murid lain.
"ciko, cici kalian keluarlah" batin Yun San memanggil keduanya
"ahhhh, akhirnya tuan muda memangil kami" ucap ciko setelah keduanya keluar dari liontin ruang.
"tuan, aku bosan didalam liontin terus" protes cici.
"sudahlah, ada yang aneh dengan tempat ini, kalian berdua pergilah untuk mengamatinya" ucap Yun San
"baik, serahkan pada kami" ucap ciko lalu mengajak cici pergi dari hadapan Yun San.
Yun San lalu berkultivasi ditempat itu. Dia mulai mengedarkan tehnik kultivasi sembilan nadi dewanya. Energi alam mulai mengalir memasuki tubuhnya. Karena dia jauh dari murid lain, maka tindakannya menyerap banyak energi alam belum mengganggu yang lain.
Energi alam yang masuk ditubuhnya, lalu dimurnikan dengan api teratai ungu. Tak lama qi terkumpul didentiannya, sebelum mengalirkan didelapan titik pengumpulan qi yang lain. Titik pengumpul Qi, selain dentiannya lebih fleksibel dalam menyimpan qi. Bahkan seakan tidak pernah penuh. Saat akan penuh, maka qi murninya akan mengalir untuk membuka jalur meredian kecil dalam tubuhnya.
Semakin tenggelam dia berkultivasi, tanpa disadari energi alam yang memasuki tubuhnya makin besar. Sebelumnya, murid lain tidak ada yang terganggu. Tetapi saat ini, satu persatu mulai bangun dalam meditasinya. Mereka merasa energi alam semakin menipis.
Setelah bangun ada kemarahan dalam hati mereka. Energi alam seakan mengalir pada satu pohon yang cukup jauh dari tempatnya. Bahkan limanya sahabatnya juga telah bangun dan mengamati keadaan tersebut.
"Yun San,,," guman kelimanya saling pandang. Lalu mereka melesat menuju tempat Yun San berkultivasi. Mereka mengelilinginya untuk menjaga dari kemarahan murid lain.
Kekhawatiran kelimanya menjadi kenyataan. Beberapa murid mulai mendekati tempat tersebut.
__ADS_1