Sang Pengelana

Sang Pengelana
SUMPAH LIN BAI


__ADS_3

Energi kemerahan yang telah berubah menjadi selaput tipis dan juga menghitam, kini mulai retak. Gerakan pelan tubuh panther didalamnya, membuat retakan semakin banyak.


"greerrrrrr,,,, bumm" geraman panther menimbulkan letupan kecil dari selaput tipis yang pecah. Perlahan dia mulai bangkit dan terlihat sembuh dari luka yang alaminya.


"terima kasih atas pertolonganmu" ucap panther


"sudahlah, aku juga mendapat manfaat" balas Yun San


"bolehkah aku mengikutimu" tanya panther


"dengan ukuran sebesar ini, akan menimbulkan masalah buatmu" jawab Yun San tidak bermaksud menolaknya


"ohhhh,,," guman Yun San saat melihat tubuh panther mulai menyusut dan menjadi setinggi lututnya.


"kau berada di tingkat berapa" tanya Yun San


"tingkat sembilan, tapi energi dalam tubuhku belum stabil" jawabnya


"kenapa ingin mengikutiku" tanya Yun San


"hidup keduaku diberikan olehmu" jelasnya


Pasangannya dibunuh oleh segerombolan serigala saat membela anaknya. Kemudian dia dan anaknya meninggalkan hutan belantara dibenua tengah. Keduanya ingin membesarkan anaknya dengan tenang dihutan ini.


Namun beberapa bulan yang lalu, anaknya ditelan ular terbang tersebut. Selama ini, dia menunggu ular itu keluar dari sarangnya. Hingga kemarin malam dia merasa keberadaan pembunuh anaknya, dan siap untuk balas dendam. Dalam pertarungan itu, dia siap mati asal ular itu terbunuh juga.


Luka parah dan racun yang ada ditubuhnya bisa membuat tewas. Tindakan cepat Yun San telah menyelamatkan hidupnya.


"jadilah tuanku dengan melakukan kontrak darah" ucapnya setelah selesai bercerita.


"siapa namamu" tanya Yun San


"aku dipanggil bai" jawabnya


"tuan,,," panggilan menggema dipikiran Yun San,


"keluarlah" ucap Yun San dan muncul dua sahabat kecilnya.


"greerrrrrr,,,," geraman panther terdengar saat melihat dua binatang buas tingkat tujuh. Kedua jatuh karena terkejut atas intimidasi dari panther.


"mereka adalah sahabat kecilku" ucap Yun San membuat panther kembali tenang.


"aku Lin Yun San, jadilah saudaraku dan namamu menjadi Lin Bai" ucap Yun San sambil menatap panther didepannya.


"terima kasih, aku juga suka dengan nama yang tuan berikan" ucap panther yang kini bernama Lin bai,


"aku Lin Bai bersumpah menjadi saudara seumur hidup dengan Tuan Lin Yun San, jika aku berkhianat maka tubuhku akan hancur oleh petir surgawi" ucap tegas Lin Bai dengan tubuh besar seperti sebelumnya.


Hari yang cerah kini berubah. Awan hitam tiba tiba berarak dan berkumpul diatas langit. Membuat tempat itu menjadi gelap.


"jderrrrr"


"jderrrrr"


"jderrrrr" tiga sambaran kilat dengan jeda yang tak begitu lama, menimpa tubuh Lin Bai.


"greerrrrrr,,,,," geraman panjang Lin Bai terdengar saat menahan energi petir yang tersisa ditubuhnya. Dikeningnya juga muncul simbol petir yang bersinar.


"teteskan darah tuan disimbol yang ada dikeningku" ucap Lin Bai sambil menahan sakit.


Yun San segera melukai jarinya dan meneteskan darah disimbol tersebut. Setelah terkena tetesan darah Yun San, simbol yang menyala menjadi redup dan akhirnya menghilang.


"kau bisa memulihkan diri diliontin ruang dan Cici yang akan merawatmu" ucap Yun San tergesa gesa memasukkan Lin Bai dan Cici kedalam liontin ruang.


"Ciko,,,, ayo pergi" teriak Yun San, membuat Ciko segera melompat kepundaknya.

__ADS_1


Yun San segera mengeksekusi tehnik bayangan dan melesat cepat meninggalkan tempat itu. Setelah Yun San pergi untuk waktu yang lama, kini banyak orang yang hadir ditempat tersebut.


"tetua klan huang"


"hahaha,,,, tetua sekte teratai putih juga hadir"


"topeng hitam ternyata cepat juga" terlihat wakil organisasi pembunuh beserta tiga pembunuh topeng emas yang mengawalnya.


"patriak sekte kelabang hitam, lama tak berjumpa"


Orang orang itu, saling sapa satu dengan yang lain. Kemudian mereka mengamati tempat tersebut. Tak lama, satu persatu mulai melesat pergi. Sehingga tersisa orang dari organisasi pembunuh.


"kalian telusuri daerah ini" ucap topeng hitam


"baik" jawab tiga orang bertopeng emas, dan melesat menuju arah yang berbeda.


"siapa yang telah datang lebih awal" batinnya sambil terus menyusuri lagi tempat itu.


"seseorang telah mengambil keuntungan dari dua binatang yang bertarung" guman topeng hitam.


"tapi siapa yang menyulut fenomena petir surgawi" lanjutnya masih kebingungan.


Setelah ketiga topeng emas kembali dengan tangan kosong, maka topeng hitam segera mengajak ketiganya pergi.


***


Yun San yang telah keluar dari hutan, saat ini sedang duduk santai diruang makan dari penginapan kecil yang ada dipinggiran kota. Dua rombongan pedagang dan pengawalnya juga berada diruang makan yang sama.


"berapa lama kita di huangdu"


"setelah dagangan habis, sebaiknya segera pergi" percakapan mereka mulai terjadi. Sedang Yun San asyik menyantap hidangannya sambil mencuri dengar.


"sepasang iblis sudah beraksi dua kali dalam sebulan ini"


"jadi suasana kota masih belum kondusif"


"dua sekte membantu keamanan kota" batin Yun San yang mendengar percakapan mereka. Namun dia tetap diam tanpa mengajukan pertanyaan kepada mereka. Dia terus mendengar percakapan orang orang itu.


Tak terasa malam mulai larut. Yun San memilih masuk kamar terlebih dahulu untuk menghindari kesalahan pahaman dengan mereka. Didalam kamar Yun San menguraikan percakapan yang baru didengarnya.


"keduanya melakukan aksi pada waktu tertentu, sedang wanita yang ditargetkan belum diketahui kualifikasinya" batin Yun San


"apa wanita yang mereka culik hanya acak saja" lanjut Yun San dalam pikirannya.


Merasa tak menemukan jawabannya, Yun San mulai tidur.


"tuan,,,," panggilan menggema dipikirannya.


"ohhh,,, ada apa" tanya Yun San saat kedua sahabat kecilnya sudah keluar dari liontin ruang.


"bolehkah kami bermain diluar" tanya Cici.


"iya, tapi bagaimana keadaan Lin Bai" tanya Yun San


"dia sudah pulih tapi energinya belum stabil" jawab Ciko


"kalian boleh bermain diluar dan bantu mencari informasi" ucap Yun San


"baik" jawab keduanya dan segera keluar melalui jendela, sedang Yun San melanjutkan tidur.


Pagi yang cerah, warga desa mulai menggeliat melakukan aktivitas masing masing. Diruang santai penginapan, Yun San duduk dengan pandangan menghadap jalan. Diatas meja terdapat ayam bakar utuh dan hidangan lain. Lin Bai yang merubah tubuhnya menjadi seukuran kucing pada umumnya. Terlihat duduk diatas meja menghadap ayam bakar yang memang dipesankan Yun San untuknya.


Lama Yun San melihat lalu lalang didepan penginapan kecil. Enam wanita melintas, menuju arah kekota.


"apakah mereka murid sekte teratai putih" guman Yun San sambil terus memandang rombongan wanita berpakaian putih.

__ADS_1


Seorang wanita menoleh kearah Yun San.


"ada apa tetua" tanya wanita yang lain


"pandangan pemuda itu tajam kearah kita" jawab wanita yang dipanggil tetua.


"jangan jangan, salah satu bajinga** yang sedang kita cari" ucap seorang yang lain dengan emosi


"jangan berprasangka dulu, sebaiknya kita datangi saja" ucap tetua itu


"baik" jawab yang lain serempak.


Mereka akhirnya berbalik dan mendatangi tempat penginapan. Sedang Yun San , baru menyadari kalau tatapannya telah menimbulkan prasangka yang kurang baik.


"ohhhh,,,, kenapa mereka kesini" batin Yun San.


"selamat datang nona, ada yang bisa dibantu" tanya pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


"bisakah sekedar makan pagi disini" tanya tetua itu


"silahkan nona, diruang dalam atau depan" tanya pelayan lagi.


"diluar saja" balasnya.


Para pelayan lalu menyiapkan tempat untuk mereka. Dua meja disatukan agar enam wanita dapat duduk saling berhadapan. Pemimpin wanita itu meminta untuk duduk disebelah meja Yun San.


"permisi ya" ucap wanita itu pada Yun San


"silahkan nona" balas Yun San lalu kembali memandang kejalan.


"sial,,," guman seorang wanita.


"kenapa tidak langsung bertanya"


"baru kali ini kita dicuekin"


"iya,,, tadi menatap penuh nafsu"


"sudahlah, kita makan dulu" ucap pemimpin wanita, karena percakapan pelan mereka dapat menyinggung pemuda didekatnya.


"kelihatannya, kau bukan pemuda desa ini" tanya wanita itu pada Yun San


"iya nona, aku baru kemaren tiba disini" jawab Yun San.


"aku Tetua Meilin dari sekte teratai putih" ucapnya memperkenalkan diri


"maaf tetua, aku Lin San dari desa lembah batu" ucap Yun San


"lembah batu,,," guman wanita yang lain.


"apa kau dari sekte lembah batu yang baru berdiri itu" tanya Meilin


"iya" jawab Yun San bingung, dia belum tahu kalau sekte nya sudah resmi berdiri


"kenapa wajahmu" tanya Meilin curiga.


"ehh,,, maaf, aku sudah enam bulan tidak pulang kedesa jadi belum tahu kalau sekte kami sudah diresmikan" jawab Yun San


"kemana tujuanmu" ucapnya penasaran


"aku hanya berkelana untuk menambah pengalaman" balas Yun San mulai terlihat santai


"siapa kau,,, sebenarnya" seorang wanita meneriaki Yun San dengan emosi


"greerrrrrr,,,,," erangan kecil Lin Bai terdengar, membuat keenamnya terkejut. Cara mereka menatap Lin Bai menyiratkan rasa penasaran.

__ADS_1


"Bai,,,, kau makan saja" ucap Yun San sambil mengelus leher Lin Bai.


__ADS_2