Sang Pengelana

Sang Pengelana
MENEMUKAN AIR SUCI


__ADS_3

Hari berganti bulan. Setahun telah berlalu didalam tanah rahasia sekte yin yang. Satu persatu murid baru telah dikeluarkan. Entah karena luka dari binatang buas atau karena pertarungan antar murid. Mereka yang keluar langsung mendapat perawatan dari paviliun masing masing.


Dari tablet yang tertera tabel peringkat yang ada dilapangan sekte tercatat kurang dari empat ratus murid yang masih didalam. Di peringkat atas masih diisi oleh murid dari paviliun surgawi dan paviliun dewa. Selanjutnya paviliun cahaya dan paviliun langit diperingkat bawah. Yang membuat para tetua saat melihat tabel peringkat ada nama yang sejak lama berada dipaling bawah.


Lin Yun San, usia lima belas tahun, dari pavilun langit dengan empat poin.


"dimana anak ini, sudah setahun tidak terlihat pergerakannya"


"kalau pun takut, tak mungkin bersembunyi selama itu"


Perbincangan para tetua terdengar dengan asumsinya sendiri.


Sementara itu, didalam tanah rahasia. Para murid saling mengejar untuk merebut poin murid lain. Untuk murid dari paviliun langit hampir semuanya bersembunyi dan hanya bergerak saat benar benar aman. Mereka berburu dan berlatih diwilayah luar yang mana hanya terdapat binatang buas tingkat empat.


Meskipun hanya mengumpulkan satu demi satu poin dan saling berbagi. Namun dari lima puluh murid, terdapat dua puluh yang tidak puas dengan keadaan mereka. Sehingga kedua puluh murid tersebut, melangkah masuk kebagian dalam.


Dilain tempat, didalam sebuah gua. Yun San telah bangun dari kultivasinya.


"tuan sudah bangun" ucap cici


"selamat tuan" ucap ciko


"terima kasih kalian sudah menjagaku" ucap Yun San


"hehhh,,, kalian juga naik tingkat" lanjut Yun San


Keduanya sudah ditingkat tujuh awal, sedang Yun San juga naik ditahap suci tingkat dua.


"kalian tidak diserang petir surgawi" tanya Yun San


"semua binatang buas akan mendapat petir, saat menembus tingkat sepuluh" ucap ciko. Dan disebut binatang iblis surgawi, bahkan jika beruntung mereka bisa berevolusi.


"kenapa tempat ini, menjadi sejuk dan padat energi alam" tanya Yun San


"saat tuan berkultivasi,,,," jelas ciko. Keduanya telah memeriksa ruangan tersebut. Di ujung ruang, ada kolam yang berisi air suci dengan kandungan energi yang sangat padat. Selain itu kami melihat ada dua sosok manusia yang telah mati didalam kolam.


Yun San lalu mendekati kolam yang dimaksud. Dan memeriksa situasi yang ada ditempat tersebut.


"kita bisa mengambil air ini, tuan" ucap cici


"iya, air suci sangat bernilai untuk obat dan berguna bagi meningkatkan kultivasi" ucap ciko.

__ADS_1


"kita sudah mendapat manfaat ditempat ini, jadi tak baik mengganggu ketenangan mereka" ucap Yun San


"mereka sudah meninggal, tuan" ucap ciko


"sama saja keduanya beristirahat dalam keabadian, jadi tak baik mengganggunya" jelas Yun San.


"baiklah tuan, mari kita keluar" ucap cici


"ayo beri penghormatan dulu, untuk mengungkapkan rasa terima kasih kita" ajak Yun San


Tak menanggapi ucapan itu, keduanya menatap Yun San. Lalu Yun San menekuk satu kakinya dan menempelkan satu lututnya ditanah.


"terima kasih, dan maaf kami bertiga telah mengganggu istirahat senior berdua" ucap Yun San sambil membungkuk dalam. Terlihat juga dua sahabatnya sedang menempelkan kepalanya ditanah.


"hahaha,,,, kalian begitu baik dan menarik" terdengar suara kecil seperti wanita.


"maaf, jika kami telah mengganggu" ucap Yun San sambil mengangkat kepalanya.


"tak masalah, aku hanya ingin minta tolong" terdengar lagi suara itu, saat Yun San sedang menatap sinar kecil diatas batu yang menonjol.


"apa yang bisa kami bantu, dan siapa senior ini" ucap Yun San. Sementara kedua sahabatnya telah bersembunyi dibelakang kakinya.


"aku hanya jiwa yang tersisa dari seekor burung phoenix surgawi" lanjutnya memberi penjelasan.


Di dunia langit, terdapat banyak suku dan rasa dari semua jenis makhluk hidup. Salah satunya adalah suku phoenix. Dari tempat tersebut dia berasal. Awal mula kejadiannya, disebabkan oleh gelar jenius muda yang disandangnya.


Putri dari pemimpin suku merasa iri karena dia yang hanya anak seorang tetua malah terpilih dan bukan tuan putri. Segala cara dilakukan untuk mencelakainya. Sampai saat naasnya tiba. Dia terkena racun yang ganas, bahkan api phoenixnya tidak berhasil untuk menetralkan racun tersebut.


Dalam sekejap ketenarannya hilang, dan penderitaan itu belum berakhir. Dengan kondisi yang sangat parah, dirinya dibuang oleh seseorang melalui arai formasi. Sedangkan orang tuanya tidak mengetahui kejadian yang menimpa anak mereka.


Dia terlempar dihutan ini, dalam kondisi terluka parah. Saat itu ada seorang pemuda yang sedang menjalani pelatihan merasa iba dan menolongnya. Pemuda tersebut tidak melanjutkan pelatihannya.


"dia malah merawat dan menemaniku" suara yang mengaku dari suku phoenix, menceritakan tentang dirinya.


Berbilang bulan dan tahun mereka terus bersama, namun kondisinya semakin kritis. Dan pemuda terus merahasiakan kalau terkena racun saat merawatnya. Dihari hari terakhir, pemuda itu membuat dua lubang. Dia berharap, disaat mati pun masih tetap berdampingan.


Dia yang sakit dan kritis, tapi pemuda itu yang lebih dulu meninggal. Saat dia memeluk pemuda yang sudah dibawanya kedalam lubang, dia benar benar merasakan kehilangan dan kesedihan.


Energi besar keluar dari tubuhnya. Lubang yang tak begitu lebar seakan terhempas menjadi lebih lebar. Dengan tangis yang terus pecah, dia melepas semua energi dalam tubuhnya.


"jiwaku, keluar dan terus bertahan disini dengan harapan ada yang mau menaburkan abu kami" ucapnya.

__ADS_1


"kalau boleh tahu siapa nama senior" tanya Yun San


"biarlah nama kami terkubur dalam kematian" ucapnya.


"baiklah, kami akan melakukannya" balas Yun San lalu masuk kedalam kolam dan mengangkat keduanya. Tubuh mayat yang seharusnya kembung karena air, tapi tetap utuh dan terlihat seperti orang yang tertidur.


"tak perlu bingung, tubuh kami terbungkus oleh energi yang saat ini telah habis karena diserap oleh kalian bertiga" ucap jiwa phoenix.


"maaf atas kelancangan kami" ucap Yun San


"tak masalah, karena sudah takdir kita dipertemukan" balasnya


"terima kasih" ucap Yun San


Yun San mulai mengeluarkan api teratai ungu dan membungkus tubuh kedua mayat sepasang kekasih tersebut. Suasana panas yang tercipta, membuat kedua tikusnya pergi menjauh. Cukup lama prosesnya berlangsung. Dan beruntung Yun San sudah ditahap suci, serta api ungunya juga meningkat. Api ungu yang awalnya hanya ungu samar, kini menjadi ungu muda yang padat.


Bola api yang membungkus keduanya semakin lama makin memadat.


"bomm,,, bomm,," dua letupan teredam keluar dari bola api tersebut. Dan bola api terus mengecil dan lama kelamaan sebesar kepala anak kecil.


"aku sudah memperabukannya, sekalian menaburnya kami juga pamit" ucap Yun San


"ambillah air kolam tersebut" ucap jiwa phoenix.


"kami tidak mempunyai wadah untuk itu" ucap Yun San


"ini terakhir yang bisa aku berikan, dan terima kasih sudah menolong kami berdua" ucap jiwa phoenix dan terlihat cahaya melayang lalu cepat memudar.


"cici, ciko" teriak Yun San sambil tangannya menangkap sesuatu yang jatuh.


"iya tuan" balas keduanya sambil mendekat dan melihat Yun San sedang mengamati cincin ditangannya. Tak lama sebuah guci sebesar dua kepalan tangan orang dewasa ada digenggamannya.


"ambil air didalam kolam" ucap Yun San sambil mengulurkan guci tersebut.


"aku akan menabur abu yang terbungkus api, dan kalian aku tunggu diluar" lanjut Yun San


"serahkan yang disini pada kami" ucap ciko sambil memegang guci yang sedikit lebih besar dari tubuhnya.


Yun San segera melesat keluar dan menuju puncak untuk menaburkan abu yang masih terbungkus oleh api. Tanpa menunggu lama, bola api dilempar setinggi tinggi dan meledak dilangit tinggi. Sebelum pergi dari tempat tersebut, Yun San sempat membungkuk kearah bola api itu meledak. Sebagai ungkapan terima kasih atas pertemuan dan manfaat yang diterimanya.


Meskipun terlihat kecil tapi ciko adalah binatang buas tingkat tujuh. Jadi membawa guci itu, tidak menjadi masalah buatnya. Setelah ditepi kolam, ciko dan cici menghadapkan mulut guci ke air kolam.

__ADS_1


__ADS_2