
Seorang pemuda melesat pelan menyusuri hutan yang cukup lebat. Sambil mengedarkan kekuatan jiwanya, dia kadang sedikit memutar untuk mengambil tanaman obat yang masuk dalam jangkauan pengindraannya.
Binatang buas tingkat empat kebawah juga dihindarinya, karena tak memberi tantangan yang berarti. Sedang dia tidak mau mengganggu stabilitas dihutan tersebut.
Senja mulai turun. Pemuda itu, mendapati sebuah gua yang terbuat dari dua batu besar yang berdimpitan. Merasa kalau tempat tersebut aman, dia lalu masuk.
"oh,,, tempat apa ini" guman Yun San.
Setelah enam langkah didalam tempat itu, dia baru tahu bahwa lorong tersebut menuju kebawah. Dengan api ungu ditangan kanan, dia terus melangkah. Tak terasa sudah seratus meter lorong tersebut dijelajahinya. Hingga sampai disebuah ruangan selebar sepuluh meter dengan panjang yang sama.
Seperti sebuah ruang tamu yang kosong tanpa perabot. Dia semakin membesarkan api ungu dan menerangi ruangan itu.
"apa itu" batinnya. Disalah satu sudut, dia mendapati sesosok duduk bermeditasi.
Aura kehidupan dirasakan saat didalam ruangan, namun tak dirasakan aura kultivasinya.
"maaf mengganggu senior yang sedang mengasingkan diri" sapanya sambil membungkuk hormat, lalu mundur sedikit menjauh. Tak ada respon dari sosok tersebut.
Tak lama kesunyian terjadi, sosok tersebut bangun dan menjentikkan jarinya. Empat lentera yang menempel didinding menyala. Ruangan menjadi semakin terang meskipun pemuda tersebut menarik api ungunya.
"siapa kau" tanya sosok yang ternyata seorang pria paruh baya.
"Yun San dari sekte yin yang" ucap pemuda itu memperkenalkan diri.
Yun San yang telah meninggalkan tempat para penguntitnya. Kini malah menyusuri hutan lebat dan sampai ditempat tersebut. Tanpa disadarinya, sebuah energi menuju kearahnya.
"wussh brakk" hembusan energi menimpa dan dia terhempas menghantam dinding.
"achhh,,,," teriak Yun San kesakitan. Meskipun sempat mengerahkan qi nya, tapi tetap menderita luka dalam.
Dia kemudian memutar qi didalam tubuhnya, untuk meredakan rasa sakit dan memulihkan luka yang dideritanya. Tetapi kewaspadaan tetap mengarah pada sosok didepannya.
"apakah murid sekte yin yang semakin lemah" ucap sosok itu sambil menyerigai.
"kenapa senior menyerangku" tanya Yun San
"kau telah mengganggu ketenanganku" ucapnya.
"maaf senior, biarkan aku pergi dari sini" balas Yun San.
"hahahaha,,," tawanya terdengar sambil menyiapkan serangan lanjutan.
__ADS_1
Yun San yang menyadari hal itu, mulai mengeluarkan pedang yang didapat dari murid yang dibunuhnya.
"wusss" hembusan energi didengarnya.
"hiattt" teriak Yun San sambil mengeluarkan tehnik pedang yang dikuasainya. Langkah bayangan juga dikeluarkan untuk menghindari serangan tersebut.
Pertarungan tak terhindarkan. Pria itu terlihat senang mendapat perlawanan yang diberikan Yun San. Dan semakin lama gerakannya kian cepat. Yun San terus memberikan perlawanan yang sengit.
"brakkkk" terdengar benturan tubuh Yun San dengan dinding gua.
"achhh" erangan Yun San karena tubuhnya terasa remuk.
"lemah,,, lemah,,,, kenapa murid sekte selemah ini" ucap sosok pria itu, lalu dia melompat kembali ketempatnya bermeditasi.
Yun San hendak melepas gelangnya, tapi diurungkan karena pria itu kembali ke posisi semula. Meskipun luka parah yang dideritanya, Yun San masih bingung dengan keadaan yang dialami saat ini. Serangan kuat yang diterimanya tidak mengandung niat membunuh.
"apa yang diinginkannya" batin Yun San, kemudian duduk bermeditasi untuk memulihkan kondisinya. Dua pil penyembuh dan pemulih qi langsung ditelannya. Energi yang keluar dari kedua pil diedarkan keseluruhan tubuhnya. Qi didalam dentian dan titik simpulnya ikut mendorong efek dari pil tersebut.
"uhuk,,," terdengar batuk kecil dan darah kotor dimuntahkannya. Melihat pria itu masih tetap bermeditasi, Yun San melanjutkan berkultivasi ditempat tersebut.
Waktu terus berlalu. Yun San masih tenggelam dalam kultivasinya. Energi alam ditempat itu seakan tersedot masuk kedalam tubuhnya.
"huhhh,,," guman Yun San sambil menghembuskan udara keruh dari mulutnya. Dia kemudian berdiam diri sebentar untuk mengamati keadaan tubuhnya.
"hehehe,,, luka tubuhku sembuh dan ada manfaat lain yang aku dapatkan" batin Yun San lalu bangkit dan menghadap pada sosok pria didepannya.
"terima kasih atas bantuan dan latihan yang senior berikan" ucap Yun San sambil membungkuk hormat.
"hehehe ,,, anak yang menarik" ucap pria itu.
"jangan tergesa gesa untuk meningkatkan tahap kultivasi agar tak mengalami luka tersembunyi yang tak kau sadari" lanjutnya
"terima kasih, kalau boleh tahu siapa senior ini" ucap Yun San dengan nada hormat
"yang tua ini hanya ingin hidup tenang, nanti kalau ada jodoh maka kita akan bertemu lagi" jawabnya
"maaf telah mengusik ketenangan senior" ucap Yun San
"tak apa, kita bertemu sudah digariskan dewa tapi sayang, tak ada yang bisa aku berikan padamu" balasnya.
"terima kasih atas pertemuan kali ini, aku permisi senior" ucap Yun San sambil menangkupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"baiklah, berhati hati dalam menjalankan misi dari sektemu" balasnya
"siap senior" ucap Yun San sambil berjalan keluar dari tempat tersebut.
Yun San lalu menyusuri lorong dan terus mengedarkan kekuatan jiwanya. Dia lebih berhati hati agar tidak kecolongan seperti kejadian yang baru dialaminya.
"pria tua yang misterius, untung dia tidak bermaksud jahat" batin Yun San.
Saat keluar dari tempat itu, Yun San terkejut melihat hari sudah mulai terang.
"ohhh,,, berapa lama aku berkultivasi" batinnya. Penerangan didalam menggunakan lentera, sehingga dia tidak menyadari waktu yang dihabiskan untuk berkultivasi.
Dengan bantuan munculnya sang mentari, dia lalu menentukan arah perjalanannya.
"tuan,,," ucap cici dan ciko bersamaan, saat Yun San mengeluarkan dua sahabat kecilnya.
"mari kita berkelana sambil menjalankan misi dari sekte" ucap Yun San
"hahaha,,, siap tuan" ucap cici senang.
"tapi tuan" ucap ciko tertahan
"ada apa,,,," tanya Yun San penasaran
"teteskan darah tuan pada kami" ucap ciko lalu menjelaskan. Dengan ikatan darah, mereka akan bisa tetap terhubung meskipun berjauhan. Itupun dalam jangkauan tertentu sesuai dengan kekuatan jiwa Yun San. Tapi ada resiko pada keduanya, yaitu jika Yun San terbunuh maka sahabat kecilnya juga akan mati. Namun tidak terjadi kembalikannya.
"kalian,,," ucap Yun San terkejut akan permintaan itu.
"kami sudah memutuskan hal itu, tuan" sambung cici.
"baiklah jika itu mau kalian" ucap Yun San sambil melukai pergelangannya.
Cici dan ciko lalu turun dan mengangkat kepalanya. Tiya tetes darah jatuh dikening keduanya secara bergantian. Selanjutnya Yun San menutup luka dengan qi, sedang kedua sahabatnya terdiam karena ada energi yang sedang menyelimutinya.
Tak tahu apa yang terjadi, membuat Yun San segera memasukkan mereka keliontin ruangannya. Dia lalu melanjutkan perjalanan sesuai arah yang diambilnya.
"""
"brakkkk,,,,," suara barang pecah terdengar dirumah Tetua Hong.
"sudah sehari mereka tak memberi kabar" teriak Tetua Hong didepan tiga tetua dan beberapa murid intinya.
__ADS_1