Sang Pengelana

Sang Pengelana
ARAI ILUSI


__ADS_3

"hentikan kultivasinya""


"kultivasinya mengganggu murid lain"


"kita paksa saja dia berhenti"


"serang saja biar tahu akibat dari mengganggu kita"


Teriakan dari kemarahan para murid terdengar. Wajah bengis dan geram terbiasa nyata. Sedang Han Joe dan lainnya tak berkutik saat negoisasi mulai menghadapi jalan buntu. Meskipun semakin panas, namun belum ada yang mulai menyerang.


Saat semua murid sedang berbantahan, dua ekor tikus telah berada disamping Yun San. Keributan dan kedatangan kedua sahabatnya membuat Yun San bangun dari kultivasinya.


"tuan, kabut tersebut adalah formasi dari arai ilusi, kami bisa membantu didalamnya" ucap ciko yang telah naik dipundak Yun San


"kalian masuk kantong dulu" ucap Yun San pelan, lalu memasukkan keduanya dikantong binatang.


"ada apa ini" tanya Yun San pada kelima pemuda didepannya. Ada juga murid lain dari paviliun cahaya dan langit.


"kultivasi mereka terganggu oleh kultivasimu" jawab Han Joe


"ohhh,,," guman Yun San sambil melihat semua murid sekte yang berkumpul ditempat tersebut.


Murid paviliun surgawi dan dewa terlihat lebih banyak dengan wajah tak bersahabat.


"maaf, tanpa aku sadari telah mengganggu kalian" ucap Yun San


"kau sudah membuat kami terganggu, jadi berikan kompensasi untuk iru" ucap murid paviliun surgawi.


"kalian jangan keterlaluan" teriak He Gian


"tolong kalian berkultivasi ditempat ini dan jangan mengikutiku" ucap Yun San pada Han Joe agak pelan. Lalu melesat cepat menuju daerah berkabut.


"siallll,,,, jangan kabur"


"awas kalau tertangkap"


"bajingan tak tahu diri" teriak murid paviliun surgawi dan dewa.


"kalian jangan ikut campur" lanjut seorang pemuda sambil menunjuk murid paviliun cahaya dan langit. Lalu, satu persatu mereka melesat kearah Yun San menghilang.


"kita tak perlu khawatir tentang saudara Yun San, ayo lanjut berkultivasi" teriak Han Joe. Membuat temannya bingung, sebab mereka mengkhawatirkan keselamatan Yun San.


"kita tak tahu tentang tempat berkabut, sebaiknya menunggu ditempat ini" ucap Qin Fan. Dan diikuti yang lain mencari tempat untuk berkultivasi


Sementara itu, murid sekte yang mengejar Yun San, mulai berkeliling ditempat yang sama. Sedang yang dikejar, tengah menelusuri tempat berkabut dengan bantuan dua ekor tikus yang duduk dipundaknya.


Yun San telah melewati tempat berkabut. Dia dihadapkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Kebun obat yang tak begitu luas, dengan rumah mungil berada ditengahnya. Yang membuat Yun San terpana adalah, jenis tanaman yang dikebun tersebut.

__ADS_1


Beberapa jenis tanaman langka, tumbuh subur dan tertata rapi. Jalan setapak menuju tengah kebun juga terlihat bersih. Yun San akhirnya melangkah menuju rumah tersebut.


"permisi,,,," ucap Yun San didepan pintu yang terbuka.


Cukup lama Yun San menunggu dan memberi salam. Akhirnya dia memasuki rumah tersebut dengan hati hati. Sesosok pria duduk bersila diatas balok kayu.


"senior, maaf telah mengganggu meditasinya" ucap Yun San sambil membungkuk hormat.


'Ambillah sesuai dengan keperluanmu dan ambil juga buah yang telah masak' coretan yang tertulis dibagian depan dari dipan kayu tempat sosok pria duduk.


"terima kasih atas ijinnya untuk kami" ucap Yun San kembali membungkuk hormat.


"ambillah dan setelah itu lekas tinggalkan tempat ini" terdengar suara dan sebuah buntalan kain hitam kecil melayang kearah Yun San.


"terima kasih" ucap Yun San sambil menangkap buntalan tersebut dan perlahan mundur, lalu melangkah keluar rumah tersebut.


Seorang pemuda dan dua ekor tikus, mengambil buah langka dan beberapa tanaman obat yang telah masak dan siap petik. Cukup lama ketiganya berkeliling dikebun tersebut, dan akhirnya menyudahi tindakan mereka serta beranjak pergi.


"terima kasih atas semua bantuan yang senior berikan" ucap Yun San sambil membungkuk hormat kearah rumah ditengah kebun.


"terima kasih atas kemurahan hatinya" suara kecil ciko dan cici terdengar hampir bersamaan.


Ketiga sosok beda ras tersebut berjalan pergi dan kembali menembus arai ilusi yang berupa tempat berkabut.


"darimana kalian bisa mengetahui cara menembus arai formasi" tanya Yun San


"selain arai ilusi, kami juga bisa menembus farmasi pertahanan kecil" ucap cici


"maksudnya" tanya Yun San


Untuk formasi pertahanan besar, seperti pertahanan sekte, kota atau klan maka keduanya akan terluka atau bahkan mati jika menerobosnya. Namun jika formasi tersebut belum diaktifkan, keduanya bisa mencari pusatnya meskipun sulit dan memerlukan waktu lama.


"bisakah kalian mengajariku" ucap Yun San yang penasaran dengan penjelasan dari dua sahabatnya.


"tuanku bisa mempelajari tehnik tersebut disekte" ucap cici


"yakinlah, kekuatan jiwa dan kemampuan tuan akan mudah untuk mempelajarinya" tambah ciko


"baiklah, ayo keluar dari tempat ini" ucap Yun San setelah mendapat jawaban dari keduanya.


Ketiganya lalu melanjutkan langkahnya. Kadang terhenti karena menghindari murid yang terjebak di formasi ilusi. Yun San tak berkeinginan membantu mereka. Dan akhirnya Yun San berhasil keluar serta kedua sahabatnya kembali ke liontin ruang.


"saudara Yun San" teriak seorang pemuda yang melihat Yun San keluar dari daerah berkabut.


"bagaimana dengan yang lain" tanya Qin Fan


"aku tak berinteraksi dengan mereka" jawab Yun San

__ADS_1


"padahal mereka menyusulmu" ucap He Gian


"kabut itu adalah formasi ilusi, mungkin mereka terjebak didalam" balas Yun San


"haahhhhhh,,,"


"berapa sisa waktu ditanah rahasia ini" tanya Yun San


"sekitar empat bulan lagi" jawab Han Joe


"energi disini sudah menipis, jadi tak ada manfaatnya berkultivasi ditempat ini" ucap Yun San


"lalu apa yang kita lakukan sekarang" tanya Qin Fan


"keluar terlebih dahulu mungkin pilihan yang tepat" balas Yun San


Mendengar saran Yun San, semua murid paviliun langit menyetujuinya. Namun ada beberapa murid paviliun cahaya yang merasa keberatan dan ingin menyelidiki apa yang disembunyikan oleh tempat berkabut.


"tak ada manfaat buat kita jika masuk kedalamnya" ucap Yun San sambil menatap Han Joe dan He Gian.


"baik, kami percaya padamu" ucap He Gian dan mengajak kelompoknya menghancurkan token.


"apapun keputusanmu, kami akan mengikutinya" ucap Han Joe


"baiklah" balas Yun San lalu mengeluarkan token dan menghancurkannya.


"wuss,,, wuss,,, wuss" hembusan angin kecil muncul bersamaan dengan menghilangnya para murid paviliun langit.


##


Ditanah lapang sekte, terdapat beberapa tetua dan banyak murid sekte yang menunggu. Keributan segera pecah saat para murid paviliun langit mulai muncul satu persatu.


"hahahaha ,,,, lihat murid paviliun langit sudah menyerah" teriak lantang seorang tetua paviliun surgawi.


"mereka belum waktunya untuk keluar"


"lihat, kondisi mereka terlihat baik baik saja"


"kenapa mereka memutuskan untuk keluar"


Percakapan yang lain juga terdengar. Semua orang ditempat itu, bingung dengan keputusan murid paviliun langit. Namun belum lama keterkejutan mereka reda, muncullah murid lain ditempat itu.


"whahahaha .... paviliun cahaya juga menerima murid yang lemah" teriak keras tetua lainnya.


Para tetua paviliun langit dan paviliun cahaya mendatangi murid murid yang keluar dari tanah rahasia sekte. Setelah mendengar penjelasan dan penuturan situasi didalam, para tetua menyadari keputusan muridnya, Mereka malah tersenyum puas saat mendengar para murid paviliun lain sedang terjebak di arai ilusi.


Para tetua kedua paviliun segera mengajak muridnya ketempat mereka berkumpul bersama kelompoknya. Namun tak lama setelah itu, tetua kedua paviliun menyuruh seluruh muridnya untuk mundur dan masuk ketempat tinggal murid kedua paviliun tersebut. Para senior kedua paviliun mengarahkan juniornya.

__ADS_1


Sementara itu, kasak kusuk tetap terdengar ditempat itu. Sedang ditempat para tetua berkumpul tawa kepuasan dan kemenangan mengiringi ejekan yang muncul dari para tetua paviliun surgawi dan dewa. Namun tetua dua paviliun lainnya diam dan tersenyum menanggapi hal tersebut.


__ADS_2