Sang Pengelana

Sang Pengelana
LANTAI DELAPAN


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat.


"selamat untuk kalian berlima" ucap Yun pada sahabat sahabatnya.


"kau,,,," ucap Han Joe terkejut


"sudahlah,,, setelah menerobos, energi didalam tubuh perlu distabikan" balas Yun San


"sialan,,, sebenarnya kami ingin menyembunyikannya" ucap Mu An


"hahahaha,,," terdengar tawa ketiga teman Yun San yang lain.


"bukan kami tak mau memberitahumu" jelas Han Joe. Ternyata rencana mereka untuk menyembunyikan terobosannya karena tak mau Yun San merasa berkecil hati. Mereka tidak mengetahui tahap kultivasi Yun San yang sebenarnya.


"tak masalah, aku bangga dengan pencapaian kalian" ucap Yun San. Selain itu, dia berencana untuk berkultivasi didalam pusaran dan sekaligus mencoba menemukan pintu kelantai delapan.


"baguslah,,, untuk teman teman yang ada disini, serahkan pada kami" ucap Mu An


"baik,,," ucap Yun San lalu berpesan pada kelimanya. Mereka harus menstabilkan kondisinya. Juga memberitahukan apa yang mereka lakukan pada dua belas murid yang baru bergabung dengan kelompok mereka.


Jika nanti keberadaannya menghilang dipusaran, maka murid paviliun surgawi dan dewa pasti akan curiga. Saat mereka bergerak, kalian jangan menghalanginya. Selama mereka tak mengusik, maka biarkan apapun yang dilakukannya.


Setelah meninggalkan pesan, Yun San melesat menuju pusaran dengan pedang ditangannya.


***


Kelima sahabatnya, mulai mengumpulkan keduanya belas anggota baru. Mereka diminta untuk berjaga saat kelimanya berkultivasi. Selain itu, memberi pengarahan tentang yang dilakukannya saat didalam pusaran. Walaupun murid yang lain tidak berani mencoba karena kehabisan bekal obat obatan, tapi Yun San telah meninggalkan pil obat untuk merawat mereka.


Ditempat lain, para murid paviliun dewa terus melihat apa yang dilakukan Yun San dan kelompoknya. Hal sama yang mereka lakukan adalah berkultivasi secara bergantian.


***


Yun San telah memasuki pusaran angin. Kini dia melayang mengikuti arus angin yang membawanya berputar putar. Tubuhnya diselimuti energi qi, sambil terus mengolah tehnik pedang.


Garis garis energi angin yang menyerupai sabetan pedang, dapat dihindari dan sebagian dipecahkan oleh sabetan pedang Yun San. Tak ada satu goresan yang membekas ditubuhnya.


"sudahi latihanmu" ucap Xiao Di yang terus bersembunyi dikantong bajunya.

__ADS_1


"baiklah, kalau begitu aku berkultivasi dipusat pusaran" balas Yun San


"tak perlu" jelas Xiao Di.


Jika Yun San berkultivasi maka pusaran angin menjadi tidak stabil. Sebab pusaran tersebut tercipta dari arai formasi. Jika formasi rusak dan pusaran menghilang maka kesempatan Yun San menyerap energi dilantai berikutnya akan terganggu.


Mendengar penjelasan tersebut, Yun San lalu bergegas mencari moment untuk melesat keluar dari pusaran menuju sisi lain dari tempat peserta berkumpul.


"ohhhh,,,," guman Yun San


Ternyata pusat pusaran tersebut adalah portal untuk memasuki lantai selanjutnya.


***


"dia telah menghilang" teriak murid paviliun surgawi.


"kita harus mengikutinya, jangan sampai anak itu menikmati semua keberuntungan dilantai delapan" ucap yang lain.


"sebaiknya kita bergabung dengan paviliun dewa agar murid paviliun langit dan cahaya tidak bergerak saat kita memasuki pusaran" saran lainnya.


Hong Chen mewakili murid paviliun surgawi menghampiri murid paviliun dewa. Dia membicarakan tentang kepergian Yun San kelantai selanjutnya. Kedua kelompok mulai merundingkan kerjasama mereka. Hingga disepakati bahwa kelompok tersebut tidak akan saling berebut atas harta yang akan didapat dilantai selanjutnya.


"ada apa kalian kesini" ucap Qin Fan pada kelompok yang datang


"kami bukan ingin bertarung, tetapi kelompok kami ingin melanjutkan kelantai selanjutnya" ucap murid paviliun dewa, berusaha tidak memancing keributan.


"ohhh,,, silahkan" ucap Han Joe menengahi ketegangan murid paviliun cahaya dan langit yang masih terlihat kesal dengan murid paviliun surgawi. Saat Han Joe berbicara, para murid paviliun cahaya mundur dan kembali keaktifitasnya. Sedangkan He Gian dan yang lain tetap siaga dibelakang Han Joe.


Tak mau menimbulkan keributan, kelompok murid paviliun surgawi dan dewa mulai menuju pusaran angin. Hingga sampai didepan pusaran, mereka bergegas memasukinya.


Didalam pusaran, mereka berusaha melawan keganasan energi angin yang menimpa. Namun, semakin kuat perlawanannya, semakin berat pula beban yang mereka terima. Tindakan ceroboh tersebut membuat mereka terpaksa keluar dari pusaran.


Tak ada setengah hari, pertahanan mereka telah runtuh. Tak ada senyum yang terlihat saat mereka keluar dari pusaran. Banyak diantara mereka yang mendapat luka cukup parah.


Seorang murid paviliun surgawi berjalan kearah Qin Fan.


"aku Hong Chen, putra Tetua Hong dari paviliun surgawi" ucapnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


"ada apa saudara Chen, mendatangi kami" balas Qin Fan tanpa memperkenalkan diri.


"bisakah kalian memberi beberapa pil penyembuh pada kami" ucap Hong Chen


"maaf,,, kami tidak mempunyai banyak persediaan untuk itu" jawab Qin Fan


"kami melihat kalian mengeluarkan pil dengan mudah" ucap pemuda disamping Hong Chen sedikit lebih keras


"apa maksudmu" ucap Han Joe sedikit membentak, lalu berjalan mendekati Qin Fan dan diikuti oleh yang lainnya.


"maaf kami tidak menerima kelompok kalian" ucap He Gian


"kami semua sedang terluka" ucap Hong Chen sambil menahan emosinya. Selama ini dia tak pernah ditolak oleh murid lain.


"sebelumnya, kelompok kalian telah menyerang dan merampas barang kami. jika kalian tidak segera pergi, maka jangan salahkan kami jika bertindak kasar" hardik Han Joe


"huhhhh" guman Hong Chen


"ayo pergi" lanjutnya, mengajak kelompok paviliun surgawi dan dewa meninggalkan tempat tersebut. Dia menyadari jika memaksa maka pertempuran tak bisa dihindari. Namun saat ini mereka dalam kondisi terluka dan jumlah anggota kelompok yang jauh berbeda.


Meskipun Hong Chen dan beberapa murid lain telah mencapai tahap langit. Namun dipihak lain juga banyak yang telah menerobos ditahap tersebut. Maka kerugian kelompok Hong Chen akan lebih besar.


***


Dilantai delapan, Yun San tengah tenggelam dalam meditasinya. Suasana tempat itu, diselimuti udara panas yang menyengat. Namun tak memerlukan waktu lama, dia menyadari bahwa udara panas tersebut tidak membahayakan dirinya. Bahkan tubuhnya merasa desakan energi yang akan masuk.


Selain itu, api teratai ditubuh Yun San seakan bergolak dan akan menerobos keluar.


"wuss,,," terdengar nyala api teratai yang membungkus tubuhnya. Bersamaan dengan itu, dia mulai berkultivasi dan menyerap energi yang dimurnikan oleh api teratai.


"ohhhh,,,," batin Yun San. Meskipun telah menerapkan tehnik kultivasinya, namun tubuhnya tidak dapat menyerap banyak energi murni. Tekanan energi yang dirasakan tetap berada diluar tubuhnya.


"ini,,," batin Yun San saat menyadari kalau udara panas tersebut diserap oleh api teratai dan petir yang menggeliat seperti ular petir yang merayap ditubuhnya. Mengetahui keadaan tersebut, dia menyudahi kultivasinya. Namun api teratai dan ular petir dipertahankan untuk menyelimuti tubuhnya.


"energi ditempat ini, sepertinya baik untuk kedua burung itu" terdengar suara Xiao Di


"ohhh,, baik" balas Yun San lalu mengeluarkan Xiao Yu dan Lin Wei.

__ADS_1


"kalian serap energi ditempat ini, sambil mencari portal kelantai selanjutnya" ucap Yun San pada keduanya


"baik tuan" jawab keduanya, lalu melayang pergi.


__ADS_2