Sang Pengelana

Sang Pengelana
AKHIR DARI TUGAS SEKTE


__ADS_3

Lin Yun San telah sampai dipuncak bukit. Dengan kekuatan jiwa, dia mendapati kedua sahabat kecilnya dapat dideteksi keberadaannya.


"kalian ambil herbal yang berkualitas saja dan teruslah masuk ke wilayah dalam dengan hati hati" ucap Yun San dengan kekuatan jiwanya.


"baik tuan" jawab keduanya didalam pikiran Yun San.


Setelah berganti pakaian hitam dan menggunakan topeng, dia kemudian melesat.


"hahahaha ,,, serahkan pada kami"


"kalian tak akan bisa lari"


"hahaha,,,," suara hardikan terdengar telinga Yun San.


Empat gadis cantik terlihat dikelilingi sepuluh pemuda. Keempatnya terlihat sangat ketakutan diantara tawa dan tatapan buas dari pemuda yang mengelilinginya.


"serahkan token kami" ucap seorang wanita


"hahaha,,, serahkan herbal langka yang kalian dapat" ucap pemuda sambil tersenyum sinis


"juga puaskan kami dulu" balas yang lain sambil memainkan empat token ditangannya.


"kami murid sekte teratai putih, kalian jangan macam macam" ucap wanita yang lain memberanikan diri.


"hahaha,,, " tawa para pemuda terdengar lantang.


"achhh"


"uuhhh"


"aarrgggh"


"gruuukkk" suara sembilan pemuda setelah tawanya terhenti karena pisau kecil menancap dileher dan titik vitalnya.


"organisasi pembunuh bayangan" guman pemuda yang selamat.


"keluarlah,,, kenapa membunuh orang sendiri" lanjutnya.


"kau dari kelompok mana" tanya Yun San setelah keluar dari persembunyiannya


"sekte pedang surgawi" jawab pemuda tersebut


"berapa orang orang kalian" tanya Yun San


"dua puluh"


"hancurkan tokenmu" ucap Yun San


"siapa kau, sebenarnya"

__ADS_1


"ini urusan organisasi dan klan hong, kau tak perlu tahu"


"baiklah" balas murid pedang surgawi lalu menghancurkan tokennya.


"terima kasih, senior" ucap seorang gadis mewakili teman temannya.


"ambil token kalian dan abaikan kejadian ini" ucap Yun San


"kalau boleh tahu, siapakah senior" ucap gadis lainnya


"aku hanya pengelana biasa yang menerobos masuk" ucap Yun San


"ohhh yaa, salam untuk Tetua Meilin" lanjut Yun San sambil menarik pisau pisaunya dan segera melesat pergi meninggalkan keempat gadis tersebut.


"Tetua Meilin"


"dia kenal dengan tetua"


"kali ini kita beruntung"


"ayo bergabung dengan yang lain"


"kita harus lebih berhati hati" percakapan keempatnya setelah kepergian Yun San. Tak lama kemudian, mereka juga pergi dan meninggalkan sembilan mayat yang tergeletak tak beraturan.


"menghancurkan dominasi dan keangkuhan kalian adalah tujuanku" guman Yun San setelah cukup jauh. Pikiran masih terpaku pada peristiwa yang menimpa kedua orangtuanya. Meskipun pembawaannya tenang, tapi pikirannya terus bekerja untuk balas dendam.


Mendekati akhir waktu didalam tanah terlarang, Lin Yun San tengah berkultivasi diwilayah terdalam. Setelah banyak membunuh peserta lain, dia merasakan ada kelainan dalam jiwanya.


Saat memasuki ruang jiwanya, dia mendapati banyak awan hitam yang mengambang. Terlihat juga aliran awan yang mendekati teratai didalam ruang jiwanya.


"apa yang terjadi" batin Yun San


"semoga tidak berdampak buruk padaku" lanjutnya, kemudian jiwanya mengecil dan duduk dibersila ditengah teratai lalu berkultivasi dengan gila gilaan.


"wuss,,, wusss" terdengar hembusan dua sinar yang memasuki ruang jiwa dan berputar mengelilingi teratai. Keduanya adalah inti api teratai dan inti petir, yang berputar semakin cepat. Seakan membungkus bunga teratai dan Yun San yang ada ditengahnya.


Semakin lama, putaran keduanya mulai menyedot awan awan hitam. Kemudian terciptalah lapisan hitam yang menyelimuti bola api dan petir. Sedangkan Yun San yang ada didalamnya, merasakan aliran energi murni yang tersebar disekitarnya.


"ohhh,,, ternyata awan hitam itu telah dimurnikan" batin Yun San.


"bangunlah anak muda,,,," sapa seseorang membuat Yun San terkejut. Lalu menyudahi kultivasinya.


"maaf jika aktivitasku mengganggu kedamaian senior" ucap Yun San dengan nada menghormati.


"hahaha,,,, anak muda yang menarik" ucap sosok pria tua didepan Yun San.


"maaf,,, siapakah senior ini" tanya Yun San


"aku adalah jiwa yang menyegel tempat ini" jelasnya.

__ADS_1


"kultivasimu dapat merubah aura pembunuh menjadi aura surgawi. Tetaplah rendah hati dan sembunyikan kemampuan itu. Sebab, jika diketahui kelompok yang lebih kuat maka kedamaianmu akan terancam"


"kedua teman kecilmu sedang menuju ketempat ini. Ambillah herbal yang mereka dapat untuk memasuki peringkat lima puluh, namun jangan terlalu menonjolkan diri. Sedang sisanya biarkan tetap dibawa oleh keduanya" lanjutnya.


"siapakah sebenarnya senior ini" tanya Yun San semakin penasaran


"jiwa ini hanya bisa muncul di pusat tanah terlarang, jadi tak perlu untuk memperkenalkan diri" balasnya


"tapi saat kau dapat menggapai puncak dibenua ini, bukalah segel yang menghubungkan alam ini dengan alam atas. Jika beruntung maka kau akan menemukan pusat segel tersebut dibenua tengah. Berhati hatilah dan selamat tinggal anak muda" lanjutnya, kemudian sosok tersebut menghilang.


"ohhh,,, siapa dia sebenarnya" batin Yun San. Rasa penasaran tetap terpendam tanpa ada penjelasan.


"terima kasih senior" ucap Yun San setelah berdiri dan membungkuk hormat kearah sosok tersebut menghilang.


Setelah itu, Yun San segera merubah penampilannya. Lalu duduk santai ditempat tersebut.


"tuan,,,,"


"tuan,,,," sapaan terdengar bersamaan dengan munculnya kedua sahabatnya.


"hehehe,,, kalian sudah selesai" tanya Yun San.


"sebenarnya, masih banyak yang kami tinggalkan" ucap Cici


"iya,,, sebab kami merasakan keberadaan tuan yang cukup jauh dari tempat kami" tambah Ciko


"tak apalah, mana hasil yang kalian dapat" tanya Yun San.


"ini,,,," balas keduanya sambil mengeluarkan tumpukan tanaman herbal.


Sambil memegang token dan mengamati peringkatnya, Yun San kemudian mengambil herbal satu persatu. Setelah puluhan herbal diambil dan dimasukkan kecincin penyimpanan, muncullah namanya diperingkat seratus.


Tak berhenti diperingkat tersebut, Yun San terus mengambil herbal sampai mencapai peringkat empat puluh dua.


"seharusnya, ini sudah cukup aman" guman Yun San.


"sisanya simpan kembali dan budidayakan diliontin ruang" ucap Yun San


"baik" ucap keduanya lalu menyimpan sisa herbal.


"pulihkan diri kalian di liontin ruang, gunakan pil yang ada dengan sebaik baiknya" ucap Yun San


"terima kasih tuan" balas keduanya sebelum dimasukkan kedalam liontin ruang.


"akhirnya tugasku selesai, lima murid inti dari sekte yin yang masuk diperingkat lima puluh besar" guman Yun San saat mengintip peringkat ditokennya.


"saatnya mengawasi kepergian mereka dari tanah terlarang ini" batinnya lalu melesat pergi.


Tak sedetikpun waktu berhenti. Dengan panduan peta yang dipegangnya, sesosok pemuda melesat menuju titik berkumpul peserta lain ditanah terlarang. Meski ada beberapa titik yang dijadikan tempat berkumpul, namun ada tanda khusus bagi kelompoknya.

__ADS_1


__ADS_2