
Mereka mengajak Yun San untuk memenuhi undangan walikota yang sekaligus ayah dari gadis yang baru ditolongnya. Yun San menolak ajakan tersebut dan menjelaskan kalau ada pihak tertentu yang sedang memburunya.
Setelah basa basi sebentar, mereka akhirnya berpamitan untuk mendatangi undangan dan kembali ke sekte setelahnya.
"semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Tetua Meilin
"baik tetua,,, kalian berhati hatilah dijalan" balas Yun San
Tetua Meilin dan yang lain keluar dari penginapan. Sedang Yun San kembali kekamar bersama Lin Bai. Dia termenung saat duduk dikursi kamarnya. Keberuntungan yang datang bertubi tubi. Bahkan setahun yang menjadi batas waktu misi, kini selesai dalam waktu kurang dari sebulan.
Kamar yang telah dikunci, membuat Yun San langsung memeriksa isi cincin ruangnya. Dari kantong penyimpanan yang baru didapat, dia mendapatkan ratusan koin emas dan sebuah kitab yang terlihat lusuh.
Yun San mengambil kitab itu dan mulai mempelajari isinya.
"sial,,, tehnik kultivasi sialan" batin Yun San yang mulai membaca beberapa halaman. Dijelaskan dalam kitab tersebut, bagi yang mempelajarinya maka mereka harus menyerap energi hidup dari lawan jenisnya.
Untuk awalnya mereka hanya melakukan tiga bulan sekali. Karena untuk menstabilkan dan menyembunyikan aura pembunuh perlu waktu selama itu. Semakin meningkat maka mereka bisa melakukannya sebulan dua kali. Bahkan saat mereka ketagihan, maka akan melakukan sesuai keinginan tanpa perduli energi pembunuh yang terkumpul.
"tehnik segel jiwa" batin Yun San saat membaca beberapa lembar terakhir. Segel yang terpasang akan membuat orang tunduk tanpa syarat. Meskipun bisa bermasyarakat dan hidup normal, tapi jika mendapat perintah maka mereka tak bisa untuk menolak. Namun saat yang memasang segel meninggal, secara otomatis segel tersebut hilang.
Selesai mempelajari tehnik yang terakhir, Yun San membakar kitab tersebut dengan api ungu. Kemudian dia ingin melihat isi cincin yang telah lama dilupakannya. Cincin ruang yang didapat saat memasuki tanah rahasia sekte yin yang.
"ini,,,,, gila,,,," teriak kecil Yun San terkejut setelah mengeluarkan isinya. Kristal yang mengandung energi qi, berbagai macam pil, bahan obat langka terlihat menumpuk. Beberapa pedang dan kitab langka juga ditemukannya.
"apa lagi ini,,,," ucap Yun San masih tenggelam dalam keterkejutannya. Sebuah giok putih terlihat cukup mencolok dan diambilnya. Aura padat dan kental sangat dirasakan oleh Yun San.
"esensi darah dari binatang surgawi" ucap Lin Bai terdengar.
"apa,,,," ucap Yun San
"esensi darah bisa membantu memurnikan darah" ucap Lin Bai. Untuk binatang buas juga bermanfaat bagi peningkatan kekuatannya.
"baiklah,,, aku simpan dulu" ucap Yun San.
__ADS_1
Setelah memeriksa semua penyimpanannya, Yun San lalu duduk berkultivasi.
***
Dibalai kota terdapat orang orang penting berkumpul. Patriak klan huang, klan qin, klan su dan walikota yang juga tetua diklan huang sedang berbincang dengan santai. Suasana ceria, kebersamaan terjalin erat diantara mereka.
Memang, ketiga klan itulah yang telah membangun kota Huangdu. Awalnya hanya klan huang yang tinggal saat masih termasuk kota kecil. Kedua klan lain datang untuk meminta perlindungan saat keduanya terlibat pertikaian dan terancam pembunuhan dari salah satu sekte hitam.
Klan huang yang mendapat perlindungan dari sekte yin yang menerima keduanya. Sampai akhirnya terjalin hubungan pernikahan generasi muda mereka. Tahun berganti tahun, kota kecil huangdu berubah menjadi kota besar yang terbilang cukup aman.
Penataan wilayah ketiga klan juga diatur dengan baik. Untuk pedagang besar dari klan lain hanya diperbo berdagang dengan menyewa bangunan yang telah disiapkan penguasa kota. Ada juga yang diberi hak khusus, sehingga bisa membeli bangunan dikota. Itupun hanya paviliun pil, guild pemburu dan serikat pekerja.
Serta para pendatang baru atau warga desa tinggal diluar kota huangdu, dengan jaminan prajurit kota yang selalu siaga digerbang kota dan pos pos yang sudah ditentukan. Jadi teror yang terjadi dalam beberapa bulan tidak terlalu memengaruhi aktivitas warga.
Saat ini, para petinggi kota huangdu tengah berkumpul. Kedua mayat yang sebelumnya dibawa kebalai kota, kini sudah disingkirkan. Identifikasi sepasang iblis topeng darah sudah selesai. Keduanya ternyata laki laki semua, dan murid dari sekte pedang iblis. Salah satu sekte aliran hitam dari kerajaan yanwu.
Kerajaan xuan dan kerajaan yanwu tidak mempunyai hubungan yang harmonis. Karena pergerakan organisasi pembunuh cukup meresahkan pihak kerajaan xuan. Sedang kerajaan yanwu tengah sibuk untuk menanggulangi perkembangan sekte aliran hitam yang kian meresahkan.
"tetua dan murid sekte teratai putih telah tiba" ucap seorang prajurit melapor pada walikota.
"baik tuan" ucap prajurit kemudian berlalu dari tempat tersebut.
"salam tuan tuan yang terhormat" sapa Tetua Meilin yang telah memasuki balai kota.
"Tetua Meilin dan murid sekte teratai putih, silahkan duduk" balas walikota.
"apa Yun San tidak bersama tetua" tanya Tetua Xian sopan, setelah mereka duduk ditempat yang telah disediakan.
"Yun San siapa,,, tetua" tanya Tetua Meilin
"apakah anak desa itu, yang tetua maksudkan" tanya seorang murid sekte teratai putih
"Sin,,," tegur Tetua Meilin
__ADS_1
"kenapa tetua,,, membelanya" lanjut murid itu
"apa yang telah dilakukannya" tanya Tetua Xian penasaran
"tak ada,,, hanya sikapnya yang membuat kami tidak suka" jawab murid yang terlihat masih kesal.
"maafkan sikap murid kami, nona" ucap Tetua Xian sambil berdiri dan menangkupkan tangannya
"apa,,,,," teriak para murid sekte teratai putih
"bukankah dia murid sekte kecil yang baru berdiri itu" ucap dua murid hampir bersamaan.
"hahahaha,,,, bisa iya, bisa tidak" jawab Tetua Xian sambil tersenyum.
"maksudnya" ucap Tetua Meilin
"dia bernama Lin Yun San" jelas Tetua Xian
Murid dalam sekte yin yang, juga salah satu penggagas lahirnya sekte lembah batu. Awal masuk sekte yin yang, dia sudah ditahap bumi. Tetapi dia selalu menekan tahap kultivasinya, baik didalam maupun diluar sekte. Jadi Tetua Xian tak begitu pasti dengan tahap kultivasinya saat ini.
"pemuda yang menarik" ucap walikota
"maaf atas sikap murid kami" ucap Tetua Meilin
"hahaha,,,, tak masalah tetua, bahkan anak itu tak akan perduli tentang hal itu" ucap Tetua Xian
Selanjutnya mereka membicarakan tentang kedua buronan yang terbunuh. Pihak kota huangdu dan walikota secara pribadi memberikan hadiah kepada Tetua Meilin. Dia menolak karena misi mengejar keduanya disebabkan dendam. Tapi atas desakan walikota dan patriak klan, akhirnya Tetua Meilin menerima pemberian tersebut. Sementara untuk Yun San akan disampaikan oleh Tetua Xian.
Pertemuan tersebut diakhiri oleh pejamuan yang disiapkan oleh walikota.
***
Yun San tetap tenggelam dalam kultivasi sampai sore hari. Saat malam mulai datang, dia keluar kamar untuk menikmati keindahan malam didesa. Sambil duduk diteras penginapan dia teringat akan desa lembah batu.
__ADS_1
Kakek, nenek dan semua orang tanpa terkecuali. Suasana desa, kebersamaan, kekeluargaan dan perlindungan yang mereka berikan. Tak terasa butir airmata menetes, karena kerinduan yang datang menyapa.