Sang Pengelana

Sang Pengelana
KEMBALI KE SEKTE YIN YANG


__ADS_3

Siang telah memaparkan teriknya. Kaisar Xuan Tian dan para pemimpin organisasi telah memutuskan agenda untuk menyikapi kejadian yang menimpa klan hong.


"boommmm,,,, bluurrrr,,,," suara ledakan dan runtuhan bukit kecil dibelakang wilayah klan hong terdengar.


"Hong Tan,,,, siapa yang menghancurkan segel jiwaku dipeti emas" suara menggema bahkan sampai diibukota. Dikejauhan sosok berjubah hitam melayang diatas wilayah klan hong.


"ayah,,,," suara Patriak Hong Tan terdengar, bersamaan itu dia dan dua penatua yang berada ditahap surgawi melesat menghampiri sosok tersebut.


Tak lama kemudian, keempat sosok tersebut turun dan menuju bangunan aula utama klan hong yang masih berdiri.


"maaf atas kecerobohan kami" ucap semua orang setelah sosok tua itu sampai diaula pertemuan.


"kalian,,," ucap pria tua menahan kemarahannya.


"bagaimanapun caranya, cari bajing** itu sampai ketemu" lanjutnya.


"baik tuan" ucap orang orang itu serempak


"hancurnya segel jiwa, aku rasakan diwilayah klan yun" ucap pria tua.


"bagaimana ciri ciri orang itu, ayah" tanya Patriak Hong Fan


"dia seorang ahli formasi dan mempunyai kekuatan petir" ucap pria tua, yang tak lain adalah patriak tua dan sekaligus pemimpin organisasi pembunuh.


"aku melepaskan jiwa untuk mengejar peti emas yang sedang dibuka paksa" lanjutnya lalu menjelaskan.


Saat itu dia merasa terombang ambing diruang hampa dengan suasana cukup gelap. Hanya terlihat sosok samar seorang pria berbaju hitam. Sebelum petir menghancurkan jiwa yang dilepaskan untuk itu, dia segera menariknya kembali.


Terakhir yang dilihatnya adalah sebuah kereta milik klan hong dan berada didekat sumber air.


"orang itu, pintar dan cerdik" ucap patriak tua.


"maksud ayah" tanya Patriak Hong Fan


"dia sepertinya mengetahui kalau aku mempelajari tehnik ruang, jadi saat membuka segel dia menjebakku dalam formasi ruang juga" jelas patriak tua


"jangan jangan,,, mereka,,," seseorang berguman pelan, tapi masih dapat didengar oleh yang lain.


"apa maksud tetua sepuluh" tanya Patriak Hong Fan.


"maaf patriak, saat itu empat pengawal serikat pekerja juga membawa kereta dalam pelariannya" ucap tetua sepuluh


"mereka pembunuh topeng emas, dengan kristal qi maka saat ini sudah setingkat dengan topeng hitam" lanjut tetua sepuluh


"dimana keluarganya" tanya patriak tua dengan marah


"mereka dikurung dalam tahanan organisasi" jawab patriak Hong Fan


"umumkan, jika dalam tiga bulan mereka tidak menyerahkan diri, maka keluarganya akan dihukum mati" ucap patriak tua tegas


"baik,,," seru semua yang hadir.

__ADS_1


Keesokan harinya, munculnya berita tersebut membuat warga kota sedikit tenang. Rupanya ada penghianatan dalam klan hong. Para petinggi kelompok diibukota kembali meminta anggotanya untuk beraktivitas seperti biasanya. Sedangkan pihak kerajaan tetap dalam keputusan awal mereka.


Diwilayah klan hong, pembenahan dilakukan dengan bantuan dari organisasi pembunuh. Tanpa ada yang menyadari kalau markas organisasi tidak berada diklan hong. Mereka menguasai satu dari tiga puncak pedang. Jadi dalam kesehariannya mereka adalah murid sekte pedang langit anggota puncak pedang suci.


Hal tersebut sulit untuk diketahui oleh pihak luar. Bahkan jika mereka tertangkap maka lebih baik bunuh diri daripada identitasnya terbongkar. Sebab jika diketahui berkhianat, akibatnya keluarga dari anggota tersebut juga dimusnahkan.


***


Senja yang cerah, seorang pemuda dengan santai memasuki gerbang sekte yin yang.


"tunjukkan identitas" ucap seorang penjaga.


"Yun San, murid paviliun langit" ucap Yun San sambil mengeluarkan token murid dan token misinya.


"ohhh,,, jadi kau yang bernama Yun San" tanya penjaga.


"benar senior" balas Yun San


"sudahlah jangan panggil senior, sebaiknya kau segera kembali kepaviliun langit" ucapnya


"baiklah, terima kasih" balas Yun San lalu melesat menuju puncak dimana murid paviliun langit berada.


Dalam perjalanannya, dia merasa penasaran kenapa penjaga tersebut menyuruhnya segera pergi.


"ahhhh,,, nanti aku juga tahu jawabannya" batin Yun San sambil terus menuju rumahnya.


"siapa kau,,," teriak salah satu pemuda dari tiga sahabatnya yang sedang bersantai diteras rumahnya.


"bajing**"


"sialan,,,"


"bangs**" umpatan terdengar dari ketiganya.


"ternyata kau masih hidup" ucap Han Joe


"sialan,,, kalian mendoakan aku mati yaa,,," balas Yun San


"whahahaha,,," tawa ketiganya pecah lalu bergegas memeluk Yun San.


"hahaha,,, sayang yang memelukku juga laki laki" ucap Yun San sambil tertawa.


"sialan,,,, bugh" umpatan Han Joe sambil melayangkan pukulan ringan ketubuh Yun San.


"wajahmu,,," tanya Mu An penasaran.


"ayo masuk dulu nanti aku jelaskan tentang wajahku" balas Yun San. Kemudian mereka masuk kedalam rumah.


Keributan kecil tersebut membuat keempat sahabat lainnya keluar dari kedua rumah disamping rumah Yun San. Mereka bergegas mendatangi rumah Yun San.


"kau,,,," ucap keempatnya setelah masuk dan melihat keberadaan Yun San.

__ADS_1


"hehehe,,, aku masih Yun San bukan hantu, jadi tak perlu menatapku seperti itu" ucap Yun San.


"sialan,,, hampir setahun kami cemas akan keselamatanmu" ucap Han Sau


"sudahlah, kalian semua duduk dulu" ucap Han Jie


"aku menyembunyikan wajahku untuk kebaikan keluarga dan sahabatku" jelas Yun San. Kemudian dia membuka penyamarannya selama ini.


"sial,,,,"


"kenapa kau lebih tampan dariku"


"hehehe" umpatan dan tawa kecil sahabatnya terdengar.


"sudahlah, kau pakai saja topengmu"


"iya,,, bagaimana kita bisa dilirik para gadis jika bersamamu"


"sialan ,,, bahkan aku merasa paling tampan diantara kita berdelapan" lanjut mereka berceloteh.


"hehehe,,, sudahlah, aku akan selalu pakai topeng tipis" ucap Yun San.


"ada kejadian apa selama aku pergi" lanjut Yun San


"oh ,, iya" ucap Han Jie


Selama hampir setahun, ketujuh sahabatnya berkultivasi dengan serius dan tanpa lelah. Saat ini mereka sudah ditahap langit tingkat sembilan dan sebulan yang lalu dipromosikan menjadi murid inti.


"begitu juga denganmu" lanjut Han Jie. Meskipun Yun San tidak ada disekte," Tetua Muda Huang Xian juga mengukuhkanmu menjadi murid inti. Dia berpesan, jika Yun San pulang, diminta untuk segera menemuinya.


"ahhh,,, besok saja" sahut Yun San


"iya,,, sebaiknya kau ceritakan pengalamanmu" ucap Han Joe


Kemudian Yun San dan ketujuh sahabatnya tenggelam dalam perbincangan hangat. Yun San menceritakan pengalamannya dan sesekali menjawab pertanyaan sahabatnya. Sedang yang lain menceritakan peristiwa yang terjadi dalam setahun ini.


***


Pagi yang cerah. Delapan pemuda terlihat berjalan beriringan menuju tempat murid inti paviliun langit. Canda riang mereka kadang terhenti karena menjawab sapa murid lain.


"masuklah, tetua muda sudah menunggu" ucap murid inti yang sedang berjaga.


"terima kasih senior" balas kedelapan pemuda itu. Lalu melangkah kehalaman rumah Tetua Xian,


"mari masuk" ucap Tetua Xian sambil tersenyum.


"terima kasih tetua" balas mereka sambil menangkupkan tangannya


"sudahlah, tak perlu begitu sopan" ucap Tetua Xian


"kapan kau pulang" lanjutnya bertanya pada Yun San, sambil memimpin Yun San dan sahabatnya masuk kerumahnya.

__ADS_1


"baru tadi malam" jawab Yun San.


__ADS_2