
Dalam perawatan gadis tersebut, Xiao Di memerlukan waktu sebulan untuk sadar. Setelah bangun dia yang sebelumnya gagah, menjadi lemah dan terpuruk. Dentian hancur, meredian terluka dan sisa petir dalam tubuh yang membuatnya tidak bisa memulihkan diri.
Lima bulan hidup dalam pembaringan, membuatnya putus asa. Tetapi semangat gadis tersebut menggugah hatinya. Apalagi, saat mengetahui kalau gadis itu dan dirinya tak jauh beda.
Dia terpuruk menjadi manusia biasa, sedang gadis tersebut sebenarnya elang putih dengan garis keturunan elang langit. Namun esensi darah murninya dirampas oleh raja ras elang langit.
Mereka berdua hidup didesa kecil ditepi hutan. Hingga suatu hari seorang pengelana lewat ditempatnya. Mengetahui kondisi mereka orang tersebut memberikan solusi buat keduanya.
Yaitu keduanya untuk turun kealam daratan dengan ketentuan yang harus dijalani. "gadis itu menjadi elang putih yang kuat, dia ada disampingmu" jelas Xiao Di.
"ohhhh,,, lalu apa ketentuan untuk paman Di" tanya Yun San penasaran.
"aku tidak bisa keluar dari formasi ini" ucap Xiao Di. Jika dia keluar maka tubuhnya akan hancur.
"apa tidak ada solusinya" tanya Yun San.
"dengan tubuh baru" ucap Xiao Di.
"adakah ketentuannya" tanya Yun San
"tak ada, tapi inti jiwaku belum sepenuhnya pulih" jawab Xiao Di
"adakah sumberdaya untuk itu" tanya Yun San lagi.
"ada padamu" balas Xiao Di. Yaitu mengijinkan dia untuk berkultivasi dilautan jiwanya. Dengan duduk diatas teratai ungu, akan mempercepatnya pulih.
Yun San terdiam, mendengar jawaban tersebut.
"tak perlu terburu buru" ucap Xiao Di. Lalu meminta Yun San untuk menyempurnakan inti petir surgawi putih yang tersembunyi ditulang dadanya. Inti petir tersebut akan membantu Yun San naik dua atau tiga tahap dalam kultivasi.
"baiklah, aku berkultivasi dulu" ucap Yun San.
"tunggu" sela Xiao Yu. Lalu dengan cakarnya dia memberikan barang barang Yun San.
"oh ,,, terima kasih" ucap Yun San sambil menerimanya.
Dengan memegang liontin ruang, Yun San mengeluarkan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"tuan,,," ucap Ciko dan Cici bersama sama.
"ohhh,,," lanjut kedua lalu berlari kebelakang Yun San. Keduanya takut keberadaan elang putih.
Yun San memberitahukan siapa kedua senior yang telah menolongnya. Juga menceritakan kronologi yang menyebabkan dia sampai ditempat ini, melalui pikiran.
"maafkan kami, senior" ucap Ciko pada kedua Xiao.
"tak apa apa" balas Xiao Yu.
Yun San terdiam, karena melihat Lin Bai masih berupa telur hitam.
"Yu'er,,, bawa telur itu ke telaga ungu" ucap Xiao Di
"baik tuan" balas Xiao Yu lalu mengambil telur hitam dan terbang.
"jangan mencuri ditempat ini" ucap Yun San pada dua sahabat kecilnya.
"baik tuan" ucap keduanya, yang sekarang terlihat lebih kecil dengan bulu halus berwarna abu abu cerah. Garis kecil keemasan dari kepala sampai ekor membuatnya terlihat menarik dan manis.
"sekarang kalian terlihat manis" ucap Yun San
"terima kasih tuan" balas Ciko
"kalian temani paman Xiao Di, aku berkultivasi dulu" ucap Yun San
"baik tuan" jawab keduanya.
Yun San mulai berkultivasi lagi. Qi spiritual berputar didalam tubuhnya. Dengan hati hati, dia mulai mengalirkan ketulang yang terbungkus energi petir. Meskipun dalam satu tubuh, tapi energi petir mulai liar saat qi spiritual mendekatinya.
Kedua energi, berusaha untuk saling menguasai. Menggabungkan kedua energi tidak sama dengan proses yang terjadi sebelumnya, membuat Yun San semakin waspada. Jika benih petir pecah, maka energi yang meluap bisa merusak organ dalam atau bahkan tubuhnya hancur karena luapan tersebut.
Sedikit demi sedikit energi petir yang menyelimuti tulangnya, dijinakkan lalu dialirkan kedentian untuk menggabungkannya. Proses yang sama dilakukan berulang ulang.
***
Xiao Di dan dua sahabat kecil Yun San saat ini sedang berkeliling melihat lihat tempat tersebut. Beberapa tanaman herbal langka diambil, atas persetujuan Xiao Di. Sampai senja datang, ketiganya menuju telaga ungu dan berkumpul dengan Xiao Yu.
__ADS_1
Keempatnya saling bercerita satu sama lain. Ciko dan Cici tak ketinggalan menceritakan Yun San. Saat keduanya ditemukan pemuda yang diakui menjadi tuan. Xiao Yu juga menganggap Xiao Di sebagai tuan. Tetapi Xiao Di memperlakukannya seperti anak.
Hari terus berjalan. Empat ekor kuda terlihat mendekati telaga ungu.
"siapa yang masuk tempat ini" ucap Xiao Di
"itu kuda milik tuan" jawab Ciko
"mungkinkah kultivasinya sudah selesai" ucap Xiao Di
"tuan belum memanggilku" ucap Ciko.
***
Yun San masih larut dalam kultivasinya. Energi petir yang menyelimuti tulang dan organnya sudah berhasil digabungkan dengan qi spiritual. Tersisa inti petir yang masih didalam tulang dadanya.
Dengan pikiran, dia mengalirkan qi yang cukup besar untuk membungkus posisi inti petir tersebut. Riak riak energi petir keluar dan segera dialirkan kedentian. Energi yang keluar dengan konstan, membuat qi didentiannya penuh. Sedang simpul meredian, juga penuh satu persatu.
"boommm,,," letupan didalam tubuh Yun San terdengar. Dentiannya sudah penuh dan tak bisa menunda terobosannya.
"achhhh,,," erangan Yun San terdengar. Rasa sakit karena dentian hancur seakan mengoyak tubuhnya.
Dengan konsentrasi yang tinggi, dia mengalirkan qi spiritual untuk membangun kembali dentiannya. Lama waktu yang diperlukan untuk itu, tapi dia tetap focus. Hingga dentian baru terbentuk dengan ukuran yang lebih besar dan kuat.
Karena senang, dia memasukkan qi spiritual yang sempat tersebar. Lalu kembali menyerap inti petir seperti sebelumnya. Riak riak energi petir liar, semakin lama mulai melemah. Sampai dentian barunya penuh kembali, semua energi petir menghilang.
Bersamaan dengan itu, hilang juga inti petir dari tulang dada Yun San. Tetapi dalam dentiannya muncul bentuk yang membuat Yun San penasaran. Wujud api ungu disertai kilat petir putih melayang didalamnya. Qi spiritual yang berwarna ungu keemasan kini berubah seakan transparan.
Sangat lembut namun mempunyai energi yang lebih besar berkali lipat dari sebelumnya. Dia memutar qi keseluruhan merediannya, untuk memurnikan qi yang sebelumnya tersimpan dititik simpul. Bahkan energi dalam lautan jiwanya juga tak ketinggalan.
Hari berganti hari. Lautan jiwanya yang sebelumnya seperti terselimuti kabut tipis keemasan kini menjadi cerah. Meski tak terlihat kabut energi, tapi kepadatan energinya sangat terasa. Selanjutnya, jiwa Yun San berkultivasi ditengah kelopak teratai ungu.
Api disertai petir muncul ditempat Yun San duduk bersila.
"tehnik api petir surgawi" tulisan berwarna keemasan muncul didepan Yun San. Penjelasan proses dan manfaatnya diuraikan semua. Bahkan dalam akhir penjelasan tertulis 'jika jiwanya telah ditempa dengan tehnik ini, maka jiwa tersebut akan abadi'. Meskipun tubuhnya hancur, maka jiwanya akan beringkarnasi atau mencari tubuh baru.
Proses yang menyakitkan terus ditahannya. Saat inti jiwanya hancur, dia merasa kalau kepalanya seakan meledak. Tapi dia terus berusaha untuk sadar. Hancur dan terbentuk lagi, seakan kejadian berulang tersebut membuat Yun San lupa bagaimana rasanya sakit.
__ADS_1
"saat rasa sakit sudah pada puncaknya berkali kali, kenapa rasa sakit itu menghilang" batin Yun San saat inti jiwanya sudah tak hancur lagi. Warnanya kini menjadi keemasan cerah dan bersinar.