Sang Pengelana

Sang Pengelana
MENJALANKAN MISI


__ADS_3

Sampai ditempat tinggalnya, Yun San tidak menemui sahabatnya. Dia langsung menuju belakang rumahnya dan mulai berlatih tehnik pedang terbang. Seakan tak kenal waktu, dia terus berlatih dan bermeditasi untuk memahami tehnik tersebut.


Seharian Yun San melatih tehnik yang baru didapatnya. Pencerahan tentang niat pedang yang didapat dari Tetua Huang membuatnya mudah untuk melatih tehnik pedang itu.


Sepuluh hari berlalu. Yun San yang tenggelam dalam latihan dan berkultivasi masih belum bergerak untuk menjalankan misi yang telah diambilnya. Malam hari yang sepi, kedua sahabat kecilnya telah kembali.


"bagaimana hasilnya" tanya Yun San setelah kedua sahabatnya berdiri dengan bangga diatas meja.


"sukses besar tuan" ucap cici lalu disambung ciko memberikan penjelasan.


Keempat tetua yang mereka awasi saat ini sedang sibuk memantau pergerakan Yun San. Ada juga kelompok yang sedang mengawasi setiap hari di gerbang paviliun langit. Dua kelompok yang beranggotakan sepuluh murid terus bergantian mengawasi jalur keluar masuk tersebut.


Siapapun yang beruntung untuk mengikuti dan membunuh Yun San, maka tetua paviliun surgawi akan memberikan koin emas sebagai hadiahnya. Sedangkan dari kediaman para tetua tersebut, keduanya mendapatkan bahan herbal dan beberapa jenis pil yang cukup banyak.


Tetapi yang membuat keduanya heran adalah pisau kecil sebesar ibu jari dengan jumlah yang sangat banyak. Dari ruang penyimpanan keempat tetua paviliun surgawi, keduanya mengambil lebih dari seribu pisau kecil.


"ini hasil yang kami dapatkan" ucap ciko sambil mengeluarkan barang seperti yang dimaksudkan.


"hahaha,,, kalian memang gila kalau diminta untuk menyatroni rumah orang" ucap Yun San sambil tertawa.


"topeng,,,,," lanjut Yun San terkejut saat membuka kotak kecil yang membuatnya penasaran.


Ada sepuluh topeng kulit yang tipis seperti miliknya. Serta satu topeng hitam yang menutup hampir seperti wajah Yun San saat mencobanya.


"tuan semakin beda saat menggunakan topeng" ucap cici setelah Yun San mencoba topeng hitam.


"baiklah, besok pagi kita berangkat untuk menjalankan misi" ucap Yun San sambil menjelaskan misi yang diambilnya. Saat mulai larut, ketiganya lalu tidur dan cepat terlelap.


Pagi yang sejuk. Sang mentari juga belum sepenuhnya menampakkan diri. Seorang pemuda telah memasuki balai misi sekte yin yang.


"ada lagi yang bisa dibantu" tanya tetua yang berjaga.


"aku Yun San telah mempelajari misi kemarin, dan hari ini mau berangkat" ucap Yun San

__ADS_1


"ohhh,,, kau tidak membentuk kelompok" tanya tetua


"aku akan membentuk kelompok dengan orang luar, itupun juga untuk meningkatkan kemampuan negoisasinku" balas Yun San


"baiklah, jangan memakai seragam sekte, untuk identitasmu boleh kau tunjukkan saat memasuki kota atau saat bertemu murid dari sekte golongan putih" jelas tetua tersebut


"siap tetua, murid berangkat" ucap Yun San sambil menangkupkan kedua tangannya


"ini peta menuju kota huangdu, hati hatilah dan jangan lengah selama diperjalanan" ucap tetua itu sambil tersenyum pada Yun San


"terima kasih" balas Yun San sambil menerima peta tersebut.


Keluar dari balai misi, Yun San segera melesat menuju jembatan rantai yang menghubungkan dengan pelataran luar sekte yin yang. Empat murid yang sedang berjaga melepaskannya setelah mengkonfirmasi token dari balai misi.


"bomm,,, bomm,,, bomm" terdengar letusan keras setelah Yun San meninggalkan pelataran luar sekte yin yang.


"bajing***, siapa yang telah berani menjarah rumahku" teriak menggelegar dan menimbulkan gempa kecil.


"mungkinkah mereka" batin Yun San yang menyadari kalau ada yang mengikutinya. Mulai dari balai misi, dia terus mengedarkan kekuatan jiwanya untuk mengawasi keadaan disekitarnya.


"dua tahap langit dan delapan tahap bumi" gumannya sambil menyunggingkan senyum dibibirnya.


"segerombolan serigala angin ada didepan, lima ekor ada ditingkat empat sisanya ditingkat tiga" batin Yun San.


"seharusnya ada yang ditingkat lima sebagai pemimpin gerombolan serigala itu" lanjut Yun San sambil terus menuju tempat tersebut.


Dia melesat lebih cepat dari sebelumnya. Kemudian dia melakukan zig zag yaitu gerakan yang terdapat dalam tehnik langkah bayangan. Serta pada saat yang tepat, dia menyembunyikan aura dengan tehnik tubuh tanpa kultivasi yang baru dipelajarinya.


Karena Yun San mempercepat lesatannya, maka sekelompok orang yang mengejar juga melakukan hal yang sama. Sehingga tanpa mereka sadari, segerombolan serigala sudah menghadang.


"sial,, ini jebakan"


"bajing*** itu ternyata licin juga"

__ADS_1


"auwww,,,,," auman serigala terdengar


"hilangkan kekesalan kalian, mari kita bertarung sambil berpikir bagaimana melarikan diri dari serigala ini" ucap orang yang ditahap langit.


"sial,,,, hiattttt" lanjutnya sambil bergerak mengeluarkan jurus pedangnya.


Terjadilah pertarungan yang berat sebelah. Juga lebih terlihat seperti pembantaian. Puluhan serigala melawan sepuluh orang dengan tahap kultivasinya dibawah tingkatan para serigala tersebut.


Tak butuh waktu lama, sepuluh orang yang menguntit Yun San tersisa satu orang yang berada ditahap langit. Yun San segera menyambar orang tersebut dan membawa pergi dari tempat itu.


Sampai ditempat yang jauh, dia berhenti dan menurunkan orang yang ternyata sudah pingsan karena banyaknya darah yang keluar dari luka lukanya. Yun San membuka penutup wajah orang itu dan segera membantu dengan mengalirkan qi. Tak lama dia terbangun tetapi masih terlihat lemah.


"kau,,,," ucap orang itu.


"siapa yang menyuruhmu" tanya Yun San, namun tak ada jawaban yang diterimanya. Yun San segera menggeledah orang tersebut. Dari kantong penyimpanan yang dibawanya, dia mendapatkan identitas murid paviliun surgawi.


"baiklah kalau tak mau menjawab" ucap Yun San lalu mengangkat pedangnya.


"aku,,," karena takut dia akan menjawab tapi pedang Yun San sudah memenggal kepalanya. Setelah peristiwa itu Yun San segera melesat melanjutkan perjalanannya.


***


Desa lembah batu kini terus berbenah diri. Bangunan didalam desa saat ini sudah ditata dengan rapi dan teratur. Sedang diluar batas desa terdapat bangunan kecil yang ditempati warga desa lain yang bekerja dikebun obat milik desa lembah batu.


Lin Dong menerima pekerja dari luar desa, karena para pemuda desa disuruh focus melatih anak anak dari desa lain. Selain itu, mereka juga meningkatkan tahap kultivasinya.


Pagi yang cerah dan damai, kini dipecahkan oleh kedatangan rombongan berkuda. Keramahan para tamu dan pihak paviliun pil juga ada diantara mereka, membuat Lin Dong dan warga desa menerima dengan baik.


Didalam rumah Lin Dong, para tamunya menyampaikan maksud dari kunjungan mereka. Surat dari Yun San diserahkan pada Lin Dong. Setelah membaca dan raut wajah Lin Dong pulih dari kegelisahan, pihak paviliun berjanji untuk membantu keamanan desa lembah batu.


Mereka yang berkunjung adalah Tetua Muda Xian. Selain menyampaikan surat dari Yun San, dia juga mengutarakan pandangan pribadinya. Tetua Muda Xian dan Tetua Huang Yan akhir akhir ini mengamati Yun San. Keduanya berasumsi bahwa ada rahasia yang masih disimpan oleh anak itu. Maka keluarganya tak perlu terlalu risau dan mengkhawatirkannya.


Sedang untuk keselamatan desa lembah batu, pihak paviliun pil akan membantu dalam hal keamanan. Bahkan mereka juga merencanakan untuk membangun tempat pembuatan pil di tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2