
Lima hari Yun San terus berlatih tehnik pedangnya. Hari ini dia mendatangi paviliun tempa untuk mengambil pedangnya. Sampai ditempat tujuan, Yun San langsung menemui pelayan dan menyampaikan maksud kedatangannya.
Tetua Wang mendapat laporan kedatangan Yun San segera menemuinya dan mengajak keruang pribadi. Keduanya memasuki ruangan tersebut tanpa pelayan yang ikut didalamnya.
"maaf, membawamu keruangan ini, sebab ada hal penting yang ingin aku sampaikan" ucap Tetua Wang.
"ada masalah dengan pedangku" tanya Yun San
"darimana kau mendapat pedang itu" balas Tetua Wang
"dari lembah diantara dua puncak gunung dan menancap pada sebuah batu, saat perjalanan menuju sekte" ucap Yun San
"apa kau mengerti asal usulnya" tanya Tetua Wang
"ada pesan yang tertulis dibatu tersebut" jelas Yun San, pemiliknya berharap pedang tersebut tidak digunakan seperti dirinya.
"pedang pembantai milik dewa pembunuh" jelas Tetua Wang
Banyak tokoh dan tetua dari beberapa sekte serta klan terbunuh olehnya. Bahkan sampai hari ini masih banyak tokoh dan klan yang memupuk dendam pada dewa pembunuh. Juga informasi yang beredar, mengenai klan hong serta organisasi pembunuh menyiapkan hadiah besar bagi yang memberitahu keberadaannya.
Setelah pencarian panjang yang melelahkan tidak membuahkan hasil. Maka klan hong menyebarkan para generasinya untuk memata matai semua sekte yang mereka curigai. Beberapa kota kecil dapat mereka kuasai dengan bantuan organisasi pembunuh.
Kejadian tersebut membuat rumor tentang klan hong yang berkualisi dengan organisasi pembunuh, terjawab pada akhirnya. Namun pihak kerajaan yuan tidak dapat berbuat banyak. Karena banyak pejabat yang menggunakan jasa organisasi tersebut. Serta beberapa komandan diindikasi terlibat dengan organisasi pembunuh.
Sekte yin yang juga tak lepas dari pengaruh klan hong dan organisasinya. Saat ini hanya paviliun langit, tempa dan alkemis yang masih bersih dari pengaruh mereka. Sehingga Tetua Wang terpaksa merubah tampilan pedang Yun San.
Pedang pembantai mempunyai satu sisi tajam, dengan ukiran burung phoenix dengan ukiran kepala phoenix sebagai pegangan. Kini menjadi pedang dengan dua sisi tajam. Serta kedua sisi bilah pedang terdapat ukiran burung phoenix yang berbeda dari sebelumnya. Bagian sisi tajam menggunakan bahan asli pedang tersebut. Sementara bagian tengah terbuat dari baja api yang ditambahkan oleh Tetua Wang.
"pedang ini aku beri nama pedang phoenix" ucap Tetua Wang sambil menjelaskan kekuatan dan kemampuan pedang tersebut. Sarung pedangnya juga terbuat dari campuran bahan langka. Ada bijih berlian, batu bintang, baja api dan baja hitam yang ditempa tipis dan kuat.
"untuk sarung pedangnya, lebih mahal daripada harga bahan tambahan dan perbaikan pedangmu" ucap Tetua Wang.
"berapa biaya perbaikan dan bahannya" tanya Yun San
__ADS_1
"biaya perbaikan total dua ribu koin emas, sedang bahannya aku beli dipelelangan seharga dua puluh ribu" ucap Tetua Wang.
"untuk sarung pedang itu" tanya Yun San
"tiga ratus ribu" jawab Tetua Wang
"ohhhhh,,,," guman Yun San terkejut
"ini sarung pedang dengan kwalitas terbaik yang pernah dibuat oleh guruku" jelas Tetua Wang. Sambil menceritakan asal usul sarung pedang tersebut. Tetua Wang sebenarnya enggan untuk melepaskannya. Tetapi ada getaran yang mengisyaratkan kecocokan pada keduanya maka Tetua Wang tidak keberatan untuk itu.
"baiklah, aku ambil sarungnya dan terima kasih atas penjelasan Tetua Wang tentang sejarah pedang itu dan kekhawatiran akan keselamatanku" ucap Yun San sambil mengeluarkan kantong penyimpanan.
"ini terlalu banyak" ucap Tetua Wang yang telah memeriksa isi kantong penyimpanan yang diletakkan Yun San diatas meja. Didalam kantong tersebut terdapat lima ratus koin emas.
"biarlah untuk tetua" ucap Yun San
"baiklah, tetapi terima juga hadiah dariku" ucap Tetua Wang, sambil memberikan pedang dan kitab tipis.
"itu pedang terbang dan tehniknya" lanjut Tetua Wang
"nanti teteskan darahmu dikedua pedang itu dan jangan terlalu sering mengeluarkan pedang phoenix dari sarungnya" pesan Tetua Wang
"terima kasih tetua dan mohon pamit" ucap Yun San
"selalu berhati hati dan waspada saat keluar sekte" pesan Tetua Wang.
Setelah menjura hormat, Yun San lalu keluar dari paviliun tempa. Dia dengan santai menuju balai misi untuk melihat, adakah misi yang mungkin bisa diambilnya. Memasuki balai tersebut Yun San merasa ada banyak pasang mata yang sedang mengawasinya.
Tetua balai misi mengeluarkan misi yang tersisa dan belum ada yang mengambilnya. Misi kelas satu, A dan S adalah sisa misi yang belum diambil oleh murid lainnya.
"misi kelas S, memburu sepasang iblis topeng darah" batin Yun San membaca salah satu uraian dari buku misi yang dibukanya.
Kedua penjahat tersebut dijuluki seperti itu karena setiap melakukan aksinya, memakai pakaian seperti sepasang suami istri. Serta memakai topeng berwarna merah. Keduanya berada ditahap langit sempurna, mempunyai tehnik bertarung yang tinggi dan tehnik gerakan kilat yang membuatnya selalu dapat melarikan diri saat terdesak.
__ADS_1
Keduanya selalu membunuh korban yang diculiknya setelah dijadikan pemuas nafsu. Batas waktu misi satu tahun dan hadiah seratus ribu koin emas. Informasi terakhir, keduanya beraksi di desa sekitar kota huangdu. Wilayah yang menjadi kekuasaan klan huang.
"misi itu sangat berbahaya untukmu" ucap tetua balai misi
"bagaimana kemungkinannya" tanya Yun San
"lima persen berhasil" jelas tetua tersebut. Kalau Yun San mau bekerjasama dengan seorang tetua dari sekte teratai putih. Beberapa bulan yang lalu, ada murid sekte tersebut yang menjadi korban.
"apakah bekerjasama dengan pihak lain diperbolehkan" tanya Yun San
"tak ada larangan untuk itu atau membentuk kelompok sendiri" jelas tetua. Jika Yun San ingin membentuk kelompok dengan murid sekte, maka tak ada larangan. Tetapi hadiah yang diberikan nilainya tetap. Sedang pembagian hadiah tergantung kelompoknya dan pihak sekte tidak ikut campur.
"adakah yang pernah mengambil misi ini" tanya Yun San
"tahun lalu, murid dari paviliun langit" jelas tetua balai misi. Satu kelompok murid yang beranggotakan lima orang. Namun sampai batas misi habis, mereka belum kembali.
"kenapa keduanya sulit diatasi" ucap Yun San
"keduanya selalu berpindah tempat setelah melakukan aksinya dua atau tiga kali diwilayah yang sama" balas tetua balai misi.
"adakah hukuman saat gagal dalam menjalankan misi" tanya Yun San
"kami tidak menjatuhkan hukuman dari kegagalan misi yang diambil" ucap tetua.
Tetapi tetua balai misi menyarankan agar Yun San tidak mengambil misi tersebut. Karena melihat tahap kultivasinya maka dipastikan menemui kegagalan. Selain itu juga resiko terbunuh juga tinggi.
"kapan murid sekte akan berkembang jika takut kegagalan" terdengar suara dari belakang Yun San.
"murid inti Hong Ye" ucap tetua balai misi, setelah mengetahui siapa yang menyela percakapan mereka.
"baiklah aku ambil" ucap Yun San mengabaikan murid yang berbicara itu.
"kau,,,,," ucap tetua balai misi terhenti lalu mengambil kertas untuk ditandatangani oleh Yun San. Didalamnya tertulis kalau pihak balai misi sudah menjelaskan segala resiko yang akan terjadi. Sehingga jika meninggal saat menjalankan misi maka pihak keluarga tidak bisa menuntut pada sekte.
__ADS_1
Setelah menandatangani perjanjian tersebut, Yun San menerima token giok dan lembar kertas yang menandakan bahwa dia sedang menjalankan misi dari sekte.