
Yun San telah sampai dilantai kedua. Hamparan rerumputan dan tanaman perdu yang tak begitu tinggi terlihat. Dibanyak titik terlihat bekas pertempuran yang membuat tempat tersebut rusak.
"kalian keluarlah" ucap Yun San setelah memastikan kalau ditempat tersebut sudah ditinggalkan oleh peserta yang lain.
"salam tuan" ucap kelima sahabatnya yang baru keluar dari liontin dimensi.
"Lin Bai menjagaku disini, yang lain bisa mencoba keberuntungan ditempat ini" ucap Yun San lalu menjelaskan singkat tentang keberadaan mereka.
"baik tuan" jawab keempatnya lalu pergi untuk menyusuri tempat tersebut.
Yun San ditemani Lin Bai mulai duduk untuk bermeditasi. Semakin lama dia mulai terlihat seperti patung. Sementara jiwanya tengah duduk ditengah bunga teratai yang mempunyai kelopak dengan sembilan warna berbeda.
Yun San duduk tenang sambil terus memperhatikan tehnik dasar formasi yang terpampang didepannya. Tulisan keemasan terus bergerak seakan menari didepan Yun San. Namun dengan konsentrasi yang tinggi, dia mulai dapat mencerna sedikit demi sedikit.
Hari terus berganti bahkan tanpa disadari, dia sudah sebulan diam dan mematung ditempat tersebut. Sementara itu, semua sahabatnya telah selesai menyusuri tempat tersebut dan kini berkumpul didekat Yun San.
Meskipun belum sepenuhnya menguasai tehnik formasi, Yun San menyudahi meditasinya.
"kalian sudah berkumpul" tanya Yun San saat mendapati sahabat sahabatnya telah berada disekitarnya.
"tuan sudah sebulan bermeditasi ditempat ini" ucap Lin Wei
"apa,,,," tanya Yun San.
"iya tuan, apa kita tidak terlalu membuang waktu disini" balas Xiao Yu
"ohhh,,,, aku yang terlalu bernafsu mempelajari tehnik baru" ucap Yun San.
"lalu apa yang kalian dapatkan" tanya Yun San
"beberapa tanaman herbal yang dibawa Ciko dan Cici, serta kami menemukan sebuah portal" jawab Xiao Yu sambil memberikan sedikit penjelasan.
"baiklah, kalian masuk liontin dimensi dulu" ucap Yun San lalu memasukkan semua sahabatnya.
Yun San segera melesat menuju portal yang menghubungkan ketujuan selanjutnya. Saat tiba didepan portal, dia tak membuang waktu dan langsung masuk.
"ohhh,,," guman Yun San sambil mengamati tempat yang dimasukinya.
Hamparan padang pasir yang luas terbentang dihadapannya. Sunyi dan mencekam yang hadir dalam pikiran Yun San.
"tempat apa ini" guman Yun San pelan. Saat ini tak ada jejak kehidupan yang dapat dideteksi oleh kekuatan jiwanya.
Sebelum melanjutkan langkahnya, dia bermeditasi untuk mengamati keadaan ditempat tersebut. Dari angin panas yang menerpa, Yun San merasakan energi api yang tersembunyi dalam keruhnya energi ditempat itu.
Yun San bangun dari meditasi, lalu mulai melangkah maju.
__ADS_1
"tuan,,," suara Cici dalam pikiran Yun San membuatnya berhenti.
"ada apa" tanya Yun San yang telah mengeluarkan kedua sahabat kecilnya
"Tuan Xiao Di sudah bangun" ucap Cici
"baiklah" balas Yun San senang sambil mengeluarkan Xiao Di yang saat ini telah mendapatkan tubuh naga emas.
"terima kasih, tuan muda" ucap Xiao Di yang sedang melayang didepan Yun San
"bagaimana dengan tubuh paman sekarang" tanya Yun San
"hahahaha,,, tubuh yang bagus dan aku nyaman dengan ini" ucap Xiao Di sambil tertawa.
"ohhh ,,, dimana ini" lanjut Xiao Di menyadari
Yun San menjelaskan sekilas tentang keberadaan mereka saat ini.
"ada yang ingin paman sampaikan" ucap Yun San mengakhiri penjelasannya.
"energi api yang tersembunyi dibawah tanah" jelas Xiao Di. Jika menemukan pusatnya maka Xiao Yu dan sahabat Yun San lainnya dapat menyerap untuk meningkatkan kemampuan mereka, meskipun energi yang ada tidak begitu tebal. Namun Yun San tidak boleh berkultivasi karena dapat mengganggu.
"baiklah, bantu menemukan pusatnya" ucap Yun San lalu mengeluarkan semua sahabatnya.
"baik, tuan" jawab Xiao Di
"itu mereka" jawab Cici sambil mengeluarkan tikus penggali dari kantong binatang.
Yun San dan yang lain mulai mengikuti Xiao Di sebagai penunjuk arah. Rombongan tersebut terus menyusuri tempat tersebut tanpa hambatan dari peserta lain. Rupanya mereka segera meninggalkan tempat itu karena merasa tidak ada manfaat yang bisa didapatkan.
***
"hahahaha,,, serahkan cerry darah pada kami" hardik pemuda kekar pada Qin Fan
"kalian selalu merampas apa yang kami dapatkan" ucap Qin Fan
"hehehe,,, mau melawan" balas pemuda itu
"sudahlah, serang saja mereka" balas yang lain dan mulai menyerang Qin Fan dan kelompoknya.
Pertempuran kedua kelompok tak dapat dihindari. Karena mereka sudah bosan dengan penindasan yang diterima selama ini. Meskipun menang jumlah, tapi Qin Fan dan yang lain sudah terlihat kalah dengan murid paviliun surgawi yang hendak merampas temuan mereka.
"saudara Qin Fan,,, kami datang" teriakan terdengar saat Qin Fan mulai terdesak.
"kalian jangan ikut campur" teriak pemuda kekar pada rombongan yang baru datang.
__ADS_1
"hahahaha,,, jangan kira kami terus mengalah pada kalian" balas pemuda yang baru datang.
"He Gian,,," sapa Qin Fan setelah mengetahui siapa yang menolongnya. Pertempuran terus berlanjut, membuat satu persatu murid paviliun surgawi harus menghancurkan token mereka.
Setelah beberapa saat, kelompok kecil dari paviliun surgawi telah dikeluarkan dari ujian menara naga.
"terima kasih" ucap Qin Fan setelah mereka berkumpul
"sudahlah kita harus bersatu" ucap He Gian. Jika mereka terus tercerai berai maka murid paviliun surgawi dan paviliun dewa akan terus menindas.
"mana yang lain" lanjut He Gian.
"kami berkumpul disuatu tempat dan kelompok kecil ini sedang mencari bahan untuk membuat ramuan" ucap Qin Fan
"berapa murid paviliun cahaya yang tersisa" tanya He Gian
"sampai dilantai enam ini, kami masih tetap lima puluh murid" ucap Qin Fan
"kami tinggal tiga puluhan dua yang tersisa, itupun belum Yun San dan kelima sahabatnya" ucap He Gian
"untuk Yun San, kami tidak mengetahui keberadaannya, sedang lima sahabatnya sedang menjelajahi tempat ini" ucap Qin Fan
"kalian bertemu dengan mereka" tanya He Gian
"merekalah yang menjaga kami hingga sampai ditempat ini" jelas Qin Fan
Setelah meninggalkan Yun San dilantai satu, kelima sahabatnya terus menjaga murid paviliun cahaya. Bahkan hampir disemua lantai sebelumnya merekalah yang menghalau kelompok kelompok kecil dari paviliun surgawi.
Hingga saatnya mereka berpisah. Murid paviliun cahaya akan memperdalam tehnik pembuatan eleksir dan pil. Sedang mereka terus mengasah tehnik pertarungan dengan mendatangi kelompok kecil paviliun surgawi dan dewa yang bergerak terpisah.
"apakah mereka bisa bertahan" tanya He Gian penasaran
"kelimanya terlalu kompak dan tahu kapan harus maju atau mundur" jelas Qin Fan. Selain itu, masing masing membawa bekal obat yang cukup banyak. Bahkan tanaman herbal biasa mereka tidak mengambil, hanya herbal tertentu yang dipetik. Walaupun mereka tak mengetahui kegunaannya.
"apakah Yun San yang meminta mereka untuk itu" tanya He Gian
"tidak, mereka hanya ingin memberikan pada Yun San sebagai ganti pil yang diberikannya" ucap Qin Fan
"ohhh,,," guman He Gian
"sudahlah, mari berkumpul dengan yang lain" ajak Qin Fan.
"tapi anggota kami banyak yang terluka" ucap He Gian sedikit cemas
"nanti kita cari solusinya, asal kalian punya bahan herbal nanti kami buatkan obatnya" ucap Qin Fan
__ADS_1
"baik, kelompokku tak jauh dari tempat ini" ucap He Gian sambil mengajak kelompok Qin Fan untuk menemui He Jolie dan yang lain dipersembunyiannya.