Sang Pengelana

Sang Pengelana
TUBUH NAGA UNTUK XIAO DI


__ADS_3

Keluar dari tempat pelelangan, Yun San melangkah santai menuju arah luar kota. Tiba tiba dia berbelok disebuah gang sepi. Sampai dua puluh langkah dia berhenti.


"keluarlah,,," teriak Yun San


"wuss,,, wuss" hembusan angin terdengar bersamaan dengan kemunculan dua pengawal dari paviliun pil.


"kami ditugaskan untuk menjaga keselamatan tuan muda" ucap seorang pengawal


"ohhh kalian,,, mari kembali kepaviliun dulu" ucap Yun San.


Ketiganya segera melesat pergi kearah paviliun pil. Sementara ditempat ketiganya berhenti muncul empat orang.


"siapa sebenarnya anak itu" tanya seorang pria pada tiga temannya.


"entahlah, Tetua Hong hanya menyuruh kita meringkusnya"


"sial,,, kali ini kita gagal" balas pria yang lain. Lalu segera pergi dari lokasi tersebut.


Sementara itu, Yun San dan kedua pengawal dari paviliun pil telah sampai ditujuan.


"maaf tuan muda" ucap pelayan menghampirinya.


"ada apa" tanya Yun San


"dari kemarin, Nona Muda Mei mencarimu" balas pelayan


"maaf, aku tak punya banyak kenalan dikota ini" ucap Yun San lalu berjalan menuju kamar tamu.


Didalam kamar tamu, Yun San segera mengedarkan kekuatan spiritualnya. Dia berusaha merasakan keberadaan kedua sahabat kecilnya.


"kenapa kalian" ucap Yun San melalui pikirannya. Dia dapat merasakan keberadaan keduanya tak jauh dari paviliun pil.


"seseorang dengan tahap kultivasi yang tinggi mencium aksi kami" ucap Cici dalam pikiran Yun San.


Dia hanya merasakan keberadaan keduanya, namun belum mengetahui secara pasti. Saat ini, dia ada didalam restoran mewah yang berjarak tiga bangunan dari paviliun pil. Sedang Cici bersembunyi dibagian belakang restoran tersebut.


"tetaplah disekitar tempat itu" balas Yun San.


Yun San segera keluar kamar dan berpamitan pada kedua pengawal paviliun. Dia lalu meninggalkan paviliun dengan tergesa gesa. Sedangkan kedua pengawal terus mengawasi dari kejauhan.

__ADS_1


Sampai didepan restoran, Yun San tidak memasukinya. Dia melesat kesamping dan menuju belakang restoran.


"keluarlah" teriak Yun San dalam pikirannya saat merasakan keberadaan Cici sudah dekat. Cici yang melompat dari persembunyiannya, segera disambar oleh Yun San dan dimasukkan kedalam liontin dimensi.


"dimana Ciko dan yang lain" tanya Yun San sambil merubah arahnya menuju gerbang keluar ibukota. Saat mendekati gerbang, dia berjalan santai melewati prajurit jaga. Setelah diluar ibukota, Dia mengeluarkan pedang terbang dan melesat cepat kearah hutan kecil diluar ibukota.


Kedua pengawal paviliun hanya melihat kepergian Yun San dari jauh.


"Tuan Muda Yun San sebenarnya tidak memerlukan pengawasan kita" ucap seorang pengawal.


"caranya pergi serta tindakannya aneh dan sedikit mencurigakan" ucap temannya


"iya, tapi kita hanya perlu mengawasinya saat diibukota"


"ayo kembali dan menunggu manajer pulang dari pelelangan". Setelah berbincang sebentar, keduanya melesat kembali kepaviliun pil.


Tanpa disadari oleh kedua pengawal paviliun, Yun San telah merubah arah dan menuju wilayah klan yun. Dia turun dari pedang terbang dan berjalan menuju penginapan yang pernah disinggahinya. Setelah membayar biaya, dia langsung menuju kamarnya dan mengunci dari dalam.


Merasa kondisinya aman, Yun San lalu masuk keliontin dimensi.


"tuan,,," sapa sahabat sahabatnya.


"tak apa apa tuan, kondisi kami saat ini memang belum sepenuhnya pulih" ucap Xiao Yu.


"apa yang kalian dapatkan" tanya Yun San sambil memandang Ciko, Cici dan empat tikus penggali.


"ini tuan" jawab Ciko dan Cici hampir bersamaan. Keduanya mengeluarkan barang yang telah didapat dari menyatroni klan hong.


Puluhan peti besar dan kecil muncul dari cincin penyimpanan Ciko dan kantong binatang Cici. Mereka menyaksikan Yun San memeriksa isi peti peti tersebut. Ratusan botol obat, koin emas, batu roh dan barang berharga lain ada didalam peti peti tersebut.


"jangan kau sentuh" teriak Xiao Di yang siluetnya tiba tiba muncul saat Yun San hampir memegang peti emas yang hanya sebesar tiga kepalan tangan orang dewasa.


"ada apa paman" tanya Yun San.


"ada segel jiwa dari pemilik sebelumnya" ucap Xiao Di sambil menggerakkan kedua tangannya. Jari jari tangannya membentuk sebuah formasi rumit menggunakan kekuatan spiritualnya.


"ini formasi ruang hampa, suntikan api petir surgawi pada titik merah itu" ucap Xiao Di


"ruang hampa" guman Yun San.

__ADS_1


"api petir surgawi tidak akan padam didalamnya" jelas Xiao Di. Setelah itu, kendalikan api petir untuk menghancurkan kekuatan jiwa yang menyegel peti emas tersebut. Dengan membakar didalam formasi, maka orang itu tak bisa mencari tahu kejadian atas hilangnya koneksi dengan peti itu.


Yun San melakukan seperti yang dijelaskan Xiao Di. Dengan hati hati dia mengontrol api petir yang telah dimasukkan dan kini membungkus peti emas tersebut. Merasa ada perlawanan, Yun San menambah energi qi spiritualnya.


"tak perlu panik" ucap Xiao Di melihat reaksi Yun San dan dijawab dengan anggukan. Yun San kembali serius dengan pengendaliannya. Hingga tak terasa satu jam telah berlalu.


Asap hitam yang keluar dari proses tersebut menyebar didalam formasi. Namun perlahan menghilang karena terus terurai oleh api petir dan menjadi ketiadaan.


Pada dua jam selanjutnya, peti emas meleleh dan menjadi cairan yang melayang didalam api petir. Selain itu ada dua cincin hitam dan fosil naga yang melingkar sebesar dua ibu jari.


Tanpa diduga, cairan emas kemudian bergerak kearah naga kecil. Seperti sedang terhisap, semua cairan menempel, larut dan merubah tubuh naga kecil menjadi keemasan.


"tahan apimu, aku akan menghilangkan formasinya" ucap Xiao Di.


"baik paman" balas Yun San.


Formasi bergetar sebentar lalu pecah dan menyisakan api petir yang membungkus ketiga barang tersebut.


"keluarkan kedua cincin terlebih dahulu" ucap Xiao Di, yang dijawab Yun San dengan aksinya.


Menggunakan kekuatan spiritualnya, dia mengeluarkan cincin dari lingkaran api petir. Keduanya melayang kearah Yun San dan segera ditangkapnya.


"bolehkah aku memiliki fosil naga itu" tanya Xiao Di


"maksud paman" tanya Yun San


"tubuh naga itu belum sepenuhnya mati" jelas Xiao Di. Jadi sebelum ada roh atau jiwa yang memasukinya, maka Xiao Di ingin memiliki tubuh itu. Tapi sebelum mengambil alih tubuh naga, dia meminta Yun San menghilangkan api petir dan meneteskan darahnya.


Kare ingin membalas bantuan Xiao Di sebelumnya, Yun San melakukan apa yang Xiao Di minta. Dia mendekatkan lingkaran api petir lalu menarik api petir kedalam tubuh. Sehingga terpampang jelas, naga emas kecil yang melingkar.


Dengan melukai jarinya, Yun San meneteskan darah dikening naga. Bersamaan itu, siluet Xiao Di berubah menjadi titik cahaya yang masuk ketempat darah Yun San menetes.


Kejadian tak terduga tiba tiba muncul. Dari luka dijari Yun San darah mulai mengalir dan tersedot oleh naga itu. Yun San yang tak bisa menghentikan, hanya diam terpaku atas kejadian tersebut.


Tubuh naga kecil yang sebelumnya hanya berwarna keemasan, kini bagian kepalanya muncul garis darah. Kemudian turun kebagian tubuhnya dan membentuk pola sisik naga. Sampai beberapa waktu, pola itu telah sampai diekornya.


Bersamaan dengan garis darah memenuhi seluruh tubuh naga, maka aliran darah dari jari Yun San berhenti. Dia akhirnya merasa lega, meski tubuhnya merasa lemas. Sedikit terhuyung, Yun San lalu duduk untuk menenangkan diri.


"tuan" teriak semua sahabatnya.

__ADS_1


"aku tak apa apa, hanya lelah dan sedikit kehilangan darah" ucap Yun San dengan senyum yang terlihat aneh bagi sahabat sahabatnya.


__ADS_2