Sang Pengelana

Sang Pengelana
TIKUS PENGGALI


__ADS_3

Ketidak hadiran patriak sekte membuat posisi Yun Cafei hanya sebagai figur. Para tetua banyak yang menginginkan posisinya. Namun dia hanya bisa diam dalam dilemanya.


Berita dari Ciko dan Cici menghadirkan semangat yang telah lama hilang.


"ibu akan mencari waktu untuk berkunjung ketempat kakekmu" lanjutnya. Namun dia harus menghindari para tetua yang membayangkan dan sengaja mencari kesalahan. Selain itu, pihak patriak klan sekarang masih mencari celah agar dia bisa jatuh ketangannya.


Sebaiknya keberadaan Yun San tidak terekpos oleh klan hong. Sehingga ibunya dapat bertahan dengan berbagai alasan yang dibuatnya.


"jangan sampai kedua sahabat kecilmu, punya keinginan untuk menyusup ke klan hong" jelas Yun Cafei.


Empat penatua klan berada ditahap surgawi, sangat sulit untuk keduanya melarikan diri saat ditemukan keberadaannya. Sedang saat pelelangan, Yun Cafei akan datang. Namun demi kebaikan Yun San, ibunya dan keluarga besar desa lembah batu, mereka belum bisa bertemu.


"yakinlah, ibu sangat bahagia mendapat kabar tentangmu" ucap siluet ibunya seakan terlihat menangis. Dia juga menyampaikan kalau merasa bersalah karena tidak dapat mendampinginya.


"ibu sangat rindu padamu" ucapnya dan getaran siluet tersebut semakin keras dan akhirnya menghilang.


"ibu,,," ucap Yun San sambil berlinang airmata. Pikirannya sempat tenggelam dalam kemarahan. Dendam pada klan hong yang mulai terkikis, kini kembali bergelora.


"itu giok perekam" ucap Ciko setelah Yun San mulai tenang. Jadi hanya rekaman ibunya yang hadir dan menghilang saat energi dalam giok habis maka langsung menghilang.


"aku akan membalas perbuatan kalian" guman Yun San sambil menggenggam erat giok tersebut.


"prackkk" suara terdengar dari giok yang digenggamannya. Energi yang keluar saat dia tenggelam dalam kemarahan membuat giok tersebut hancur.


"tuan,,," ucap keduanya


"ohhh,,, aku tak apa apa" ucap Yun San kembali sadar.


"maaf, aku terbawa emosi" lanjutnya


"tak apa apa tuan, kami mengerti" ucap kedua sahabat kecilnya


"boleh kami membawa teman" tanya Cici


"apa,,," tanya Yun San terkejut mendengar keduanya mempunyai teman baru.


"mereka empat tikus penggali yang ditundukkan oleh kami" ucap Ciko


"terserah kalian, tetapi perlakuan mereka dengan baik" ucap Yun San


"terima kasih tuan" ucap Ciko sambil mengeluarkan keempatnya dari kantong binatang yang terikat ditubuh Cici.


Keempat binatang kecil diam saling berdimpitan dan ketakutan. Setelah suara Ciko terdengar, keempatnya mulai menatap Yun San sambil bercicit pelan.


"Ciko memberitahu kalau tuan menerima keberadaan mereka dan dibalas dengan ucapan terima kasih" ucap Cici

__ADS_1


"sudahlah, urus mereka dan perlakuan seperti yang lainnya" ucap Yun San


Cici segera memasukkan keempatnya kekantong binatang. Keduanya minta ijin untuk menyusuri kota Xuandau dan mencari berita tentang klan hong. Seperti biasa, Yun San tak melarang mereka dan berpesan bahwa hidup keduanya sangat berharga. Jadi keduanya harus berhati hati.


"jika terjadi sesuatu yang berbahaya maka bersembunyilah, aku akan mencari keberadaan kalian" ucap Yun San


"baik tuan" ucap keduanya.


Setelah memasukkan keduanya, Yun San lalu beranjak dari duduknya dan keluar kamar.


"tuan muda sudah keluar" teriak penjaga yang berdiri didepan kamar tamu paviliun.


"syukurlah tuan muda keluar" sapa manajer paviliun


"ada apa paman" tanya Yun San


"dua hari tidak keluar, dan hari ini pelelangan akan berlangsung" balas manajer paviliun


"ohhh" guman Yun San terkejut.


"terima kasih atas bantuannya" lanjut Yun San


"tuan muda bisa berangkat bersama kami" ucap manajer


"tak masalah" ucap manajer


Yun San, manajer paviliun dan beberapa pengawal, berjalan keluar paviliun pil. Yun San menuju sudut bangunan dan melepas kedua sahabat kecilnya. Saat kembali, manajer paviliun sedikit penasaran tapi tidak berani menanyakan tindakan tersebut.


Keduanya lalu masuk kereta kuda, sedang para pengawal membayangi tak jauh dari kereta. Didalam kereta, Yun San mengenakan jubah hitam dan memakai topeng hitam yang menutup sebagian wajahnya.


Manajer paviliun pil yang sudah mendapat informasi kalau Yun San mengenakan topeng tipis, hanya tersenyum melihat kelakuannya. Tanpa mengenakan topeng hitam, siapa yang akan mengetahui wajah asli dari pemuda didepannya.


"kenapa paman tersenyum" ucap Yun San


"hahaha,,,, tanpa topeng itu, siapa yang akan mengenalimu" ucap manajer


"hehehe,,, biar keren paman" balas Yun San sambil tersenyum.


"whahahaha,,," tawa manajer paviliun semakin keras.


Tak lama kemudian mereka sampai. Yun San dan manajer paviliun berpisah saat keduanya berbaur dengan antrian pengunjung yang akan masuk gedung tempat pelelangan.


Antusiasme yang cukup tinggi, mengakibatkan antrian panjang didepan pintu masuk. Ada sebuah pintu yang cukup sepi, tetapi penjaga yang ditempatkan cukup banyak.


"hei antri, jangan menerobos seenaknya" hardik pemuda yang melihat Yun San berjalan kedepan.

__ADS_1


Yun San tak menghiraukan seruan tersebut. Dia tetap berjalan menuju pintu masuk yang terlihat sepi.


"minggir,,, Tuan Muda Hong Bei lewat" teriak keras dari belakang Yun San.


"belum saatnya unjuk diri" ucap Xiao Di dalam pikiran Yun San.


Yun San yang sempat emosi sesaat mulai minggir memberi jalan pada rombongan tersebut.


"kau tak seharusnya masuk lewat jalur ini" hardik pemuda sambil menunjuk pada Yun San.


"biarkan saja tuan muda, ayo masuk" ucap pria tua mengajak pemuda itu.


"huh,,," gumannya sambil menatap Yun San.


Yun San hanya diam dan berjalan kembali saat rombongan tersebut sudah hilang masuk ketempat pelelangan.


"maaf tuan muda, tunjukkan kartu undangan" ucap penjaga sambil mengamati Yun San.


"ini,,," balas Yun San mengulurkan tiket ungu.


"oh,,, maaf tuan muda, biar aku yang mengantar sebagai permintaan maaf atas sikapku" ucap penjaga terkejut saat mengetahui Yun San mempunyai tiket ungu.


"tak perlu, tunjuk saja seorang pelayan karena aku baru pertama masuk tempat ini" ucap Yun San


"tidak, silahkan tuan muda,,, aku sendiri yang mengantarkan" ucapnya dengan hormat


Yun San masuk lalu menuju ruang vip yang telah disiapkan sesuai yang tertera pada tiket ungunya. Banyak pasang mata menatap heran saat Yun San melintas ditemani salah satu penjaga.


Keduanya tak menghiraukan pengunjung yang tengah bergunjing. Mereka terus melintas dan naik kelantai dua. Sampai diatas, Yun San diarahkan menuju ruang vip nomer lima dan memasukinya.


Dengan hormat, penjaga meninggalkan Yun San setelah seorang pelayan wanita masuk dengan membawa nampan yang berisi buah buahan.


"adakah yang tuan muda inginkan" tanya pelayan sopan, setelah menaruh bawaannya diatas meja.


"belum ada, terima kasih" balas Yun San.


Pelayan wanita hanya berdiri agak jauh disamping Yun San.


"ada apa" tanya Yun San penasaran


"kami ditugaskan untuk menemani tamu vip" balasnya


"jangan berdiri saja, duduklah dan bantu menghabiskan buah buahan ini" ucap Yun San sambil menggeser satu kursi kearah pelayan wanita.


"terima kasih" balasnya.

__ADS_1


__ADS_2